
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
"Dee," panggil orang tersebut kepada Dee.
Dee menoleh ketika seseorang memanggilnya. "Kak Kevin," ucap Dee ketika melihat Kevin yang memanggilnya.
"Bisa kita bicara sebentar Dee?" ucap Kevin
"Bicara saja, Kak."
"Aku mendengar pembicaraanmu dengan Naina."
Dee menghentikan pergerakannya dari membuat kopi ketika mendengar ucapan Kevin. "Semuanya?" tanya Dee memastikan lagi.
"Ya, semuanya," jawab Kevin mantap.
"Apa Kak Kevin marah karena Dee sudah menuduh Naina?"
Kevin menggeleng mendengar pertanyaan Dee. "Aku tidak marah. Karena semua yang kau tuduhkan kepada Naina adalah benar, Dee." ucap Kevin.
Dee terkejut dan melebarkan matanya mendengar ucapan Kevin. "Jadi Kak Kevin mengetahuinya? Apa benar jika Naina juga yang membuat luka-luka itu di tubuh Al?" tanya Dee dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya. Naina yang melakukan itu semua."
"Astagfirullahalazim, jadi selama ini Al tidak baik-baik saja. Selama setahun anakku menanggung penderitaan karena aku di penjara. Kak, apa Mas Ibra mengetahui ini? Dan darimana Kak Kevin mengetahui semuanya?" tanya Dee beruntun.
Kevin menggeleng, "tidak, Dee. Ibra tidak mengetahuinya. Al sendiri yang menceritakannya kepada ku dan Agam waktu kami menginap di rumah kalian. Aku sudah mencurigai Naina dari setiap interaksinya dengan Al. Dan untuk mencari tahu kebenarannya aku dan Agam meminta Al untuk mengatakan semuanya," ucap Kevin menjelaskan kepada Dee.
"Kenapa Mas Ibra tidak di beritahu, Kak Kevin? Mas Ibra harus mengetahui semua ini!"
Kevin menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Dee. "Al menyuruh aku dan Agam untuk menyembunyikan semua ini darimu dan juga Ibra. Karena dia tidak ingin Abinya kecewa oleh sahabatnya sendiri. Anakmu itu sangat luar biasa, Dee," jawab Kevin.
Dee tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh besar pengorbanan anaknya untuk dia dan Ibra.
"Dan tadi aku dengar kau membahas obat dengan Naina. Obat apa Dee?" tanya Kevin kembali mengingat percakapan Dee dan Naina.
Apakah tidak apa-apa jika aku meminta bantuan kepada Kak Kevin? Tapi Mas Ibra berhak mengetahui semuanya. Ucap Dee bingung dalam hati.
__ADS_1
"Dee," panggil Kevin karena Dee hanya diam.
"Eem... sewaktu Mas Ibra dan Al sakit, Naina datang untuk menjenguk Al. Dia meminta agar dirinya sendiri yang merawat Al. Saat Dee masuk ke kamar Al, Dee melihat Naina memaksa Al memakan obat ini, Kak," ucap Dee memperlihatkan obat yang ditangannya kepada Kevin.
"Bolehkan aku memeriksa obat ini?" tanya Kevin.
Dee mengangguk, "boleh, Kak. Kak, apa tidak sebaiknya kita beritahu Mas Ibra tentang semua ini?"
"Jangan dulu, Dee. Aku dan Agam sedang mengumpulkan bukti untuk membuka semua kejahatan Naina. Bersabarlah sebentar lagi, kita akan segera membuktikannya," ucap Kevin.
Dee mengangguk, "Baiklah, Kak. Dee percayakan semua kepada Kak Kevin dan Kak Agam. Terimakasih sudah berusaha melindungi Al, Kak"
"Sama-sama, Dee. Aku akan melindungi Al. Al sudah seperti anak sendiri untukku."
"Kalau begitu Dee kembali ke ruangan Mas Ibra dulu, Kak," ucap Dee sambil mengambil nampan yang berisi susu coklat dan teh untuk Ibra.
Kevin mengangguk, "silahkan, Dee," ucap Kevin menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi Dee jalan.
Dee berjalan meninggalkan dapur dan menuju ruangan Ibra. Kevin yang melihat Dee sudah pergi langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo," jawab seseorang di seberang sana saat panggilan telepon sudah tersambung.
"Gam, gue ada tugas buat Lo. Nanti malam ke apartemen gue!" ucap Kevin memberitahu Agam.
"Gue juga ada yang mau dibicarain sama Lo," jawab Agam.
"Yoi," jawab Agam memutus panggilannya. Setelah panggilannya dan Agam berakhir, Kevin keluar dari dapur dan menuju ruangannya.
Dee yang baru memasuki ruangan Ibra tidak menemukan keberadaan anak dan suaminya. Dee meletakkan nampan di atas meja dan berjalan menuju kamar pribadi yang ada diruangan Ibra. Karena biasanya Ibra akan menggunakan ruangan ini untuk beristirahat.
Ceklek, suara pintu terbuka.
"Sayang," ucap Ibra ketika Dee yang masuk kedalam.
"Al tidur, Mas?"
"Iya, Sayang. Kekenyangan, jadi ngantuk dia."
"Kenapa lama sekali buat susu dan tehnya, Sayang?" sambung Ibra kepada Dee. Karena sejak tadi dia dan Al menunggu Dee tapi Dee tidak kunjung datang hingga Al sudah tertidur.
Aku kasih tahu Mas Ibra tidak, ya? Mas Ibra harus tahu ini. Ini menyangkut Al. Tapi tadi Kak Kevin meminta ku untuk merahasiakannya terlebih dahulu. Aku harus bagaimana Ya Allah? Ucap Dee dalam hati bingung.
"Eem, itu Mas. Tadi Adek ngobrol sebentar sama Naina di depan," alibi Dee kepada Ibra.
"Benar, Sayang?" ucap Ibra memastikan. Ibra memandang lekat mata istrinya.
__ADS_1
Dee yang dipandang seperti itu mengalihkan pandangannya dari Ibra. "Benar, Mas," ucap Dee.
Kamu berbohong, Sayang. Ucap Ibra dalam hati memperhatikan gerak-gerik istrinya.
"Ya sudah, kamu ikut istirahat sama Al, ya. Aku lanjutin kerja dulu. Kalau udah selesai aku samperin kesini."
"Iya, Mas," jawab Dee lembut. Dee ikut berbaring di sebelah Al.
"Cup, cup, aku kerja dulu, ya," ucap Ibra mencium lembut kening Al dan Dee bergantian.
"Iya, Mas," jawab Dee tersenyum mengelus lembut rahang Ibra.
Ibra berjalan keluar dari ruangan pribadi menuju meja kerjanya. Ibra mendudukkan tubuhnya di kursi dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
"Ada apa sebenarnya? Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Dee. Apa ini ada sangkut pautnya dengan Kevin juga. Aku harus memastikan semuanya," ucap Ibra pada dirinya sendiri. Ibra mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi detektif kepercayaannya.
"Halo, Lan. Gue butuh bantuan Lo," ucap Ibra setelah sambungan telfonnya terhubung.
"Bantuan apa, Ib?" tanya detektif yang bernama Akan tersebut. Selain detektif, Alan juga merupakan rekan bisnis Ibra. Tidak banyak orang tahu bahwa Alan adalah seorang detektif. Ibra mengetahuinya karena Alan merupakan rekan bisnis Ibra yang dekat dengannya.
"Gue mau, Lo mencari tahu tentang sesuatu. Gue akan kirim fotonya, dan Lo harus cari tahu tentang mereka semua."
"Lo kirim fotonya ke gue," ucap Alan. Tidak berapa lama pesan masuk dari Ibra. Alan membelalakkan matanya melihat foto orang-orang yang di kirim Ibra.
"Lo gila, itu kan istri dan sahabat-sahabat Lo. Gue harus cari tahu tentang apa? Lo udah kenal dekat mereka semua," jawab Alan setelah melihat foto Dee, Kevin, Agam, dan Naina.
Akhirnya Ibra menceritakan semua kecurigaannya.
"Oke, gue pastiin semuanya terjawab dalam satu Minggu," ucap Alan pasti.
"Gue tunggu hasil kerja, Lo," jawab Ibra.
"Oke," setelah itu panggilan sambungan terputus.
Ibra berdiri dan berjalan menuju ruangan pribadinya kembali. Fokusnya untuk bekerja benar-benar hilang. Ibra membuka pintu ruangan dan ikut berbaring di sebelah Dee. Tangannya memeluk erat tubuh Dee.
"Semoga kecurigaan aku nggak benar. Dan semoga selalu ada ketenangan dan saling percaya dalam rumah tangga kita, Sayang," gumam Ibra pelan memandang lekat wajah istrinya.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
__ADS_1
Author sayang kalian 🌹🌹😘