
🌹HAPPY READING🌹
Ibra keluar dari ruangan Dee setelah mereka resmi menjadi mantan suami istri.
Semua yang menunggu di luar langsung berdiri begitu melihat Ibra.
"Gimana, Ib?" tanya Kevin khawatir. Saat ini Kevin benar-benar khawatir dengan rumah tangga sahabatnya itu.
Ibra hanya diam dengan pandangan kosong. Wijaya yang melihat ekspresi Ibra langsung mendekati Ibra.
"Ibra," panggil Wijaya memegang bahu Ibra.
Ibra yang menyadari Papanya memanggil langsung menolehkan wajahnya kepada Wijaya. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis. Wijaya langsung membawa tubuh tegap anaknya ke dalam pelukannya.
Tangis Ibra pecah dalam pelukan Wijaya. Bagaikan seorang anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya. Ibra benar-benar rapuh. Wijaya mengusap lembut bahu Ibra yang bergetar. "Semuanya berakhir, Pa," ucap Ibra lirih.
"Dia memilih meninggalkan Ibra," ucap Ibra mengadu kepada Wijaya. Untuk pertama kalinya, Wijaya dan Kevin melihat Ibra mengadu, menangis seperti anak kecil kepada Wijaya.
Kevin yang melihat Ibra seperti itu ikut merasakan bagaimana hancurnya Ibra. Sedangkan Sofia sudah menangis di pelukan Kiyai Rozak yang sedang duduk di kursi tunggu ruang rawat Dee.
Berkali-kali kata maaf keluar dari mulut Wijaya ketika memeluk Ibra. Ini semua benar-benar diluar kendalinya.
.....
Dua hari berlalu sejak Dee dirawat di Rumah Sakit. Kini di ruang rawat Dee sudah ada Al dan Bi Nini yang menemaninya. Bin Nini sudah mengetahui bahwa Dee dan Ibra sudah tidak lagi menjadi suami istri. Awalnya tentu saja Bi Nini syok, tapi mendengar penjelasan Dee, Bi Nini memahami perasaan majikannya itu.
Sedangkan Al? Dia belum mengetahui bahwa Umi dan Abinya akan berpisah.
"Al," panggil Dee pada anaknya. Kini Al sudah duduk di pangkuan Dee di atas ranjang. Tangan Dee juga sudah bebas dari infus. Karena rencananya Dee akan pulang dari Rumah Sakit hari ini.
Al yang semula fokus pada iPad ditangannya kini beralih menatap Uminya. "Iya Umi," jawab Al.
"Al, Al ikut Umi ya, Nak," ucap Dee lembut.
"Kita pelgi kemana, Umi?" tanya Al penasaran.
"Al, jika Umi mengatakan sesuatu, Al jangan marah, ya," ucap Dee hati-hati.
"Iya Umi," jawab Al.
"Promise?" tanya Dee mengacungkan jari kelingking nya kepada Al. Dee berfikir lebih baik dia memberitahu Al. Karena jika anaknya tahu dari orang lain, itu akan membuatnya menjadi lebih terluka.
"Plomise," jawab Al tersenyum mengaitkan jari kelingkingnya dengan jadi Dee. Bi Nini yang melihat itu hanya memandang sendu anak dan Ibu tersebut. Bi Nini benar-benar tidak menyangka jika hubungan Dee dan Ibra berakhir sampai disini. Mengingat begitu mesra dan cintanya Ibra kepada Dee, begitu juga sebaliknya.
Semoga suatu hari nanti, Nyonya dan Tuan bersatu kembali dengan perasaan cinta yang lebih besar. Batin Bi Nini berharap untuk hubungan Dee dan Ibra.
Baru Dee akan membuka mulutnya, pintu ruangan Dee terbuka. Tampak Ibra, Wijaya, Kevin. Sedangkan Kiyai Rozak dan Sofia sudah kembali ke Pesantren. Sofia dan Pria paruh baya itu meminta maaf kepada Ibra atas segala keegoisannya. Dia benar-benar menyesal telah mendahului takdir Tuhan. Dia sangat malu dengan ilmu agama yang dia miliki.
__ADS_1
"Abi," ucap Al ketika melihat Ibra datang.
Ibra langsung berjalan ke arah Al. Dia memeluk anaknya dan mencium seluruh wajah Al. Dee reflek menjauhkan sedikit badannya ketiak Ibra mencium anaknya. Karena posisi Al yang duduk di pangkuan Dee. Ada kecanggungan pada diri Dee.
Ibra yang mengetahui itu hanya tersenyum kecut, mengingat status mereka sekarang hanyalah mantan suami istri.
"Al," panggil Dee setelah Ibra berdiri sedikit menjauh dari Al dan Dee. Ibra berdiri di kaki ranjang memandang Al dan Dee.
"Sebenarnya Umi sama Abi sud-"
"Abi akan pergi kerja jauh, Nak. Jadi untuk sementara Al tinggal sama Umi dulu, ya," ucap Ibra memotong perkataan Dee.
Dee memandang Ibra, menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ibra. Ibra yang melihat Dee menatapnya menggelengkan kepala. Meminta agar Dee tidak memberitahu yang sebenarnya kepada Al.
"Abi kelja kemana?" tanya Al.
Ibra ikut mendudukkan dirinya di atas ranjang Dee. Setelah itu membawa tubuh Al kepangkuannya.
"Abi harus mengurus cabang perusahaan kita yang di Turki. Jadi untuk sementara Al tinggal sama Umi dulu, ya," jawab Ibra.
"Berapa lama, Abi?" tanya Al lagi.
"Hanya sebentar, Boy," jawab Ibra.
"Iya, Abi. Kan masih ada Umi, Kakek dan Nenek di rumah," ucap Al.
"Tapi-"
"Ayo, Boy," ajak Kevin mengambil tubuh Al dari pangkuan Ibra.
Al hanya menurut. Setelah itu mereka semua keluar dari ruangan meninggalkan Ibra dan Dee berdua.
"Dee," panggil Ibra setelah mereka semua keluar.
Dee menoleh mendengar Ibra memanggilnya. Ibra tersenyum kecut. "Dua hari yang lalu aku masih memanggilmu Sayang, tapi sekarang lidahku terasa asing memanggil nama mu saja," ucap Ibra.
"Ada apa?" tanya Dee datar.
"Tetap lah tinggal di rumah, biar aku yang keluar. Rumah itu adalah hak mu," ucap Ibra.
Dee menggeleng. "Rumah itu adalah hasil kerja kerasmu sebelum menikah denganku. Tidak ada hak ku lagi di sana. Jadi itu adalah hak istrimu yang sekarang," jawab Dee.
"Kamu sudah berjanji untuk selalu ada dalam pandanganku, Dee," ucap Ibra.
Dee hanya diam tidak menjawab perkataan Ibra. Maafkan aku Mas. Tapi berada di dekatmu mengingatkan aku pada penghianatan yang sudah kamu lakukan. Sekarang biarkan aku bahagia dengan anakku. Batin Dee.
"Aku anggap diam mu adalah iya," ucap Ibra menyerahkan kunci rumah mereka kepada Dee. Setelah itu Ibra langsung berdiri dan keluar dari ruangan Dee.
__ADS_1
Ini adalah pertemuan terakhir kita, Mas. Batin Dee melihat Ibra yang berjalan keluar dari ruangannya.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dee sudah membereskan semuanya dan bersiap untuk meninggalkan Rumah Sakit sebelum kedatangan Ibra untuk menjemput mereka.
"Bi, Dee titip ini, ya, Bi," ucap Dee memberikan kunci rumah yang tadi di berikan oleh Ibra.
"Ini apa, Nyonya?" tanya Bi Nini bingung.
"Ini kunci rumah, Bi. Dee mohon Bibi jaga rumah, ya. Dee nggak bisa tinggal di rumah lagi. Dee mau mencari kebahagiaan Dee dengan anak Dee, Bi. Mohon bantu Dee, Bi," ucap Dee memohon kepada Bi Nini.
"Tapi Nyonya, Tuan-"
"Dee mohon, Bi," ucap Dee sendu.
"Tapi Nyonya akan kemana?" tanya Bi Nini.
"Dee akan pergi ke tempat Dee dan Al bisa memulai hidup kami berdua, Bi," jawab Dee.
"Apa tidak bisa Nyonya tegap tinggal saja, Nyonya?" ucap Bi Nini dengan mata yang berkaca-kaca.
Dee langsung membawa tubuh Bi kepelukannya. "Maaf, Bi. Dee ingin hidup tenang dengan anak Dee, Bi. Terimakasih selama ini Bibi sudah menganggap Dee sebagai anak Bibi," ucap Dee mengusap lembut punggung Bi Nini yang sudah bergetar.
"Jaga diri Nyonya baik-baik. Dan Bibi sangat berharap Kita akan bertemu kembali Nyonya," ucap Bi Nini setelah mereka melepaskan pelukannya.
Dee mengangguk dan tersenyum menjawab perkataan Bi Nini. Dee berdiri dari duduknya dan mengangkat tubuh Al yang sedang tidur di atas ranjang rumah sakit.
"Jaga diri baik-baik dan jangan lupakan Bibi, Nyonya," ucap Bi Nini. Kini mereka sudah berada di luar Rumah Sakit. Bi Nini membantu Dee membawa tas berisi pakaiannya dan juga pakaian Al yang tidak terlalu banyak.
Dee kembali memeluk tubuh Bi Nini. "Hati-hati disini, ya, Bi. Dee titip Mas Ibra, Mama dan Papa sama Bibi. Jaga mereka untuk Dee, Bi," ucap Dee.
Bi Nini mengangguk. Setelah itu Dee masuk kedalam taksi. Dia memangku Al yang masih tertidur. "Hati-hati, Nyonya," ucap Bi Nini. Setelah itu, taksi yang ditumpangi Dee melaju meninggalkan area Rumah Sakit.
Semoga secepatnya kita kembali bertemu, Nyonya. Ucap Bi Nini dalam hati memandangi taksi yang sudah menjauh.
......................
Aku kasih visual, Abi, Umi sama Al ya
Semoga cocok sama selera kalian ya. Maaf jika visual aku merusak imajinasi kalian
__ADS_1
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹🌹