
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Ibra telah sampai di sekolah Al. Dia berjalan ke arah taman sekolah dan melihat punggung anaknya yang tengah duduk sendirian sambil mengayun-ayunkan kakinya.
"Boy," panggil Ibra setelah sampai di tempat Al.
Al menoleh dan mendapati Ibra yang duduk di sebelahnya dengan senyum tanpa dosa. Al kesal, tanpa menghiraukan Ibra Al langsung berdiri dan berjalan menuju mobil. Beruntung mobil tidak di kunci. Al langsung membuka pintu mobil begitu sampai di mobil Ibra. Al yang biasanya duduk di sebelah kemudi, kini memilih duduk di kursi belakang.
Ibra hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat wajah kesal anaknya. Nampak lucu dan menggemaskan.
"Kenapa duduk di belakang, Boy?" tanya Ibra begitu dia sudah menaiki mobil.
"Hmm," gumam Al menjawab pertanyaan Ibra. Anak itu melipat kedua tangan di dada dengan pandangan yang dialihkan keluar.
Gawat! Kalau ngambeknya sampai rumah, bisa abis gue dimarahin Dee. Batin Ibra tidak tenang.
Tanpa pikir panjang Ibra memutar badannya ke belakang dan langsung mengangkat tubuh mungil Al untuk di dudukan di depan sebelah kemudi.
"Abi bukan supir, Boy," ucap Ibra.
Al kesal, dia menghentakkan kakinya di bawah sana. Menunggu Abinya selama dua jam membuatnya jengkel.
"Boy, Abi minta maaf, ya?" ucap Ibra dengan wajah menyesalnya.
"Abi jahat. Kenapa telat jemput Al? Kalau Al di culik olang jahat gimana? Kalau Al celaka gimana? Abi nggak dengal apa kata Umi? Al halus nunggu Abi dulu balu boleh pulang. Abi nggak sayang Al. Al mau aduin sama Umi," omel Al mengeluarkan unek-unek nya kepada Ibra.
Ibra menahan senyum melihat wajah kesal anaknya. Bukannya takut, Al malah nampak lebih menggemaskan. "Al lagi malah Abi!" ucap Al ketus melihat senyum Ibra.
Ibra membawa tubuh Al ke pangkuannya. "Abi minta maaf, ya. Tadi Abi ada keperluan sebentar, jadi telat jemput Al. Besok nggak Abi ulangi lagi deh. Maaf ya?" ucap Al memohon kepada Al.
"Ada syalatnya," jawab Al.
"Apa?"
"Ice Klim," jawab Al.
Ibra tersenyum senang dan mengangguk. Syarat ini begitu mudah untuknya. "Itu hal yang mudah, Boy."
__ADS_1
"Ice Klim buatan Abi sendili. Al nggak mau yang dibeli!" ucap Al tegas.
Mata Ibra melebar mendengar permintaan anaknya. Membuat Es Krim? Yang benar saja. Bahkan dia sangat jarang makan Es Krim.
"Boy," rengek Ibra seperti anak kecil kepada Al.
Al menggeleng sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri tepat didepan wajah Ibra. "Ice Klim buatan Abi atau celamah Umi?" tanya Al memberi pilihan kepada Ibra.
"Huh, baiklah," ucap Ibra pasrah. Dia lebih baik membuatkan Es Krim untuk Al daripada diceramahi Dee. Bisa-bisa jatahnya untuk bermesraan akan berkurang.
"Abi yang pintal," ucap Al mengusap rambut Ibra seperti seorang Ayah yang mengusap rambut anaknya.
"Abi, Al duduk dipangkuan Abi ya?" pinta Al.
"Tapi Abi harus nyetir, Boy."
"Abi kan pelnah pangku Al sambil nyetir."
"Tapi, B-"
"Pangku Al atau celamah Umi?" potong Al cepat mengancam Abinya.
Dengan pasrah Ibra memutar tubuh Al ke depan. Setelah itu, Ibra menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya dengan Al yang duduk di pangkuannya. Ini memang tidak sulit, karena Al tidak menghalangi pemandangan Ibra ke jalan. Tapi paha Ibra serasa kebas memangku anaknya selama perjalanan.
Ini anak benar-benar anak gue, jahil banget. Mungkin dulu Papa gini kali ya, waktu gue jahilin. Batin Ibra menggerutu karena sikap anaknya.
.....
Sedangkan dirumahnya, Dee uring-uringan karena anaknya belum juga kembali dari sekolah. Berpindah dari satu sofa ke sofa yang lain. Dari berdiri, duduk dan berdiri lagi. Mondar-mandir seperti setrikaan menunggu kepulangan anaknya.
"Tenanglah, Nak. Mungkin Al ikut ke Kantor sama Ibra," ucap Wijaya menenangkan menantunya.
"Tapi nggak biasanya seperti ini, Pa. Pasti Mas Ibra bilang kalau mau bawa Al ke Kantornya," ucap Dee cemas.
Tidak berselang lama, terdengar suara mobil berhenti di depan teras rumah. Dee langsung berlari keluar untuk menghampiri suami dan anaknya.
"Jangan lari-lari, Sayang!" teriak Ibra melihat Dee yang berlari dari dalam rumah.
Dee tidak menghiraukan perkataan suaminya. Dee langsung berjongkok dan memeriksa setiap inci tubuh anaknya.
"Al nggak kenapa-napa kan, Nak?" tanya Dee cemas kepada Al.
"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Al.
"Waalaikumsalam. Al nggak kenapa-napa, kan?" tanya Dee sekali lagi.
__ADS_1
Al mendongak menatap Abinya. Alis anak itu naik turun menggoda Ibra. Ibra yang melihat tingkah Al memasang wajah permohonan agar Al tidak mengatakannya pada Dee.
"Al baik-baik saja, Umi," jawab Al tenang.
"Terus kenapa baru pulang? kenapa kalian baru pulang, Mas?" tanya Dee kepada Al dan Ibra bergantian.
"Tadi Al main dulu sama teman balu Al, Umi. Makanya lama," ucap Al memberi alasan kepada Dee.
"Benar, Mas?" tanya Dee memastikan kepada Ibra.
"Iya, Sayang," jawab Ibra mengangguk pasti. Anak dan Abi ini benar-benar kompak.
Setelah itu mereka masuk ke rumah. Ibra duduk di ruang keluarga bersama Papanya sedangkan Dee membantu Al mengganti pakaian seragam sekolahnya.
Sampai di kamar Al, Dee langsung membantu anaknya untuk mengganti pakaian.
"Umi, bahan untuk buat Ice Klim ada kan, Umi?" tanya Al pada Dee yang sedang membuka ikat pinggangnya.
"Kayaknya ada, Nak. Buat apa?" tanya Dee.
"Abi mau buatin Ice Klik untuk Al, Umi," ucap Al senang memberitahu Ibra.
"Wah, benarkah?"
Al mengangguk pasti mengiyakan pertanyaan Uminya. Setelah selesai melepas seragam Al, Dee segera berdiri untuk mengambil baju ganti Al di lemari. Tapi belum Dee melangkahkan kakinya, perutnya kembali terasa nyeri dan keram.
"Aw," rintih Dee menahan nyeri di perutnya.
Ya Allah, ini kenapa nyeri banget. Batin Dee menahan sakitnya.
"Umi kenapa?" tanya Al melihat wajah Uminya yang pucat dan mengeluarkan keringat.
Dee menggeleng dan berusaha tersenyum agar anaknya tidak khawatir. Dee berusaha untuk melangkahkan kakinya menuju lemari Al.
"UMI," pekik Al melihat Dee yang terduduk di lantai sambil memegang perutnya.
"Al, panggil Abi, Nak," ucap Dee lemah kepada Al.
Al mengangguk dan langsung berlari keluar kamar, dengan kolor dan singlet yang melekat di tubuhnya untuk memanggil Ibra yang duduk di ruang keluarga.
......................
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹
Jangan lupa juga untuk baca Novel aku "MEMAKSA CINTA" terimakasih 😍😍🌹
__ADS_1