
🌹HAPPY READING🌹
Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore. Saat ini Dee sedang dalam perjalanan kembali pulang dari rumah Naina. Kali ini Dee pulang dengan kemenangannya. Dia berhasil membujuk Naina agar mau ikut bersamanya untuk menemui Bram.
Di mobil itu kini tidak hanya Dee sendiri sebagai penumpangnya, tapi juga ada Naina dan Bella.
"Dee, biar aku dan Bella tinggal di paviliun belakang rumahmu saja, ya," ucap Naina memohon.
"Kenapa di paviliun, Nai?" tanya Dee heran.
"Dee, di rumahmu tidak hanya kamu sendiri. Ada Ibra dan yang lainnya," ucap Naina.
"Memangnya kenapa?" tanya Dee.
"Dee, tidak semua orang memiliki hati ikhlas dan tulus sepertimu. Kamu memang sudah memaafkan aku, Dee. Tapi bagaimana dengan Ibra. Jangan buat aku kembali menjadi alasan kamu bertengkar dengan Ibra, Dee," ucap Naina
"Bunda benar, Umi. Bella sama Bunda tinggal di paviliun belakang saja. Itu akan lebih baik untuk kita semua," ucap Bella membantu Naina meyakinkan Dee.
Meskipun Bella tidak tahu banyak mengenai masa lalu mereka, tapi gadis itu mengerti. Bundanya pasti punya alasan kenapa bersikeras untuk tidak tinggal di rumah Dee.
Dee berpikir sejenak. Setelah itu dia mengangguk. "Baiklah, kalian akan tinggal di Paviliun," ucap Dee memenuhi permintaan Naina dan Bella.
Naina tersenyum. "Terimakasih, Dee," ucap Naina tulus. Sedangkan Bella hanya tersenyum senang.
Satu jam kemudian, Dee sampai di rumahnya. Sebelum kerumahnya, Dee terlebih dahulu mengantar Naina dan Bella ke Paviliun. Karena pagar masuk Paviliun berbeda dengan pagar rumah. Dee juga sengaja mengantar Naina dan Bella terlebih dahulu agar Ibra tidak mengetahuinya.
"Pak, jangan bilang suami saya kalau ada orang tinggal di Paviliun, ya," ucap Dee sebelum turun.
"Ba-baik, Nyonya," ucap Sopir ragu. Karena bagaimanapun nanti, dia tidak akan pernah bisa menjawab bohong pada Tuan Besarnya.
Setelah itu Dee turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
"Bibi," panggil Dee ketika melihat Bi Nini yang duduk di ruang tamu.
"Eh, Nak Dee sudah pulang," ucap Bi Nini tersenyum.
"Iya, Bi," jawab Dee ikut mendudukkan badannya di sebelah Bi Nini.
"Nak Ibra sudah menunggu kamu pulang dari tadi," ucap Bi Nini.
Mata yang sudah bulat itu semakin bulat ketika mendengar penuturan Bi Nini. "Mas Ibra udah pulang, Bi?" tanya Dee.
Bi Nini mengangguk. "Saat jam makan siang tadi sudah pulang," jawab Bi Nini yang membuat Dee semakin cemas. Itu artinya Ibra sudah menunggunya dari tadi.
"Tapi mobil Mas Ibra nggak ada di luar, Bi," ucap Dee yang tidak melihat mobil Ibra.
Bi Nini menggeleng pertanda tidak tahu mengenai mobil Ibra.
"Kina sudah pulang juga, Bi?" ucap Dee menanyakan Kina.
"Sudah, Nak. Sekarang lagi istirahat di kamar," ucap Bi Nini.
"Kalau begitu Dee ke kamar dulu, Bi. Assalamu'alaikum," ucap Dee pamit dan sedikit berlari menaiki tangga agar segera sampai di kamarnya.
Sampainya di depan pintu kamar, Dee berhenti sebentar. Menormalkan detak jantungnya yang sudah berlari maraton didalam sana.
Masuk nggak ya? Tapi takut. Batin Dee benar-benar cemas akan kemarahan Ibra.
Tangan Dee dengan perlahan menggapai handle pintu. Baru akan memegang, pintu terbuka dari dalam.
Tubuh Dee memegang melihat Ibra yang berdiri di depannya dengan tatapan datar.
"Masuk!" ucap Ibra dingin dan tegas.
Dee pasrah. Dengan patuh Dee masuk ke kamar dengan pandangan menunduk.
__ADS_1
Setelah memastikan Dee masuk, Ibra menutup pintu dan menguncinya.
Ibra berjalan dan duduk di sofa sambil menatap Dee yang menunduk dengan posisi berdiri di depannya. Dee benar-benar seperti anak kecil yang takut dimarahi orang tuanya. Padahal mereka sudah paruh baya saat ini.
"Udah bandel sekarang?" tanya Ibra dingin.
Dee menggeleng dengan kepala menunduk.
"Angkat kepalanya," tegas Ibra.
Dengan perlahan Dee mengangkat kepalanya dan menatap Ibra.
"Darimana?" tanya Ibra.
"Pesantren," cicit Dee takut.
"Lalu?"
Dee menggeleng menandakan dia tidak kemana-mana lagi selain ke pesantren.
"Satu kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan pertama," ucap Ibra.
Dee memandang Ibra dengan wajah memelasnya. "Maaf," ucap Dee.
Dee berjalan pelan untuk mendekati Ibra.
"Berdiri dan diam," ucap Ibra menghentikan langkah Dee.
Percayalah, saat ini Dee benar-benar seperti anak kecil yang patuh pada Ayahnya.
"Ini alamat siapa?" tanya Ibra menunjukan foto sebuah alamat yang ditulis di kertas.
Mata Dee melotot sempurna. Darimana Ibra mendapat foto tersebut? Itu adalah foto alamat rumah Naina yang tadi dia dapat dari Ustazah Arum.
"Rumah Naina," cicit Dee pelan. Dia sudah tidak bisa berkilah sekarang. Mengelak akan menambah masalah untuknya.
Ibra menghela nafas pelan. Dia sudah tebak, pasti istrinya ini akan kekeuh dengan pendapatnya untuk meminta Naina kembali.
"Apakah berhasil?" tanya Ibra.
Dengan ragu Dee mengangguk. "Sekarang Naina dan Bella tinggal di Paviliun belakang," jawab Dee.
"Lakukan sesuka kamu," ucap Ibra dingin.
Setelah mengucapkan itu, Ibra berdiri dan hendak berjalan keluar kamar.
"Mas," ucap Dee memegang tangan Ibra dari belakang.
Ibra menghentikan langkahnya. "Kenapa?" tanya Ibra.
"Maaf," ucap Dee menyesal.
"Iya," ucap Ibra melepaskan tangan Dee dan segera berjalan cepat menuju pintu.
Dee menghela nafas kasar melihat punggung Ibra yang menjauh. Malam ini dia akan sedikit nakal untuk merayu suaminya itu. Lagi pula, dia akan dapat pahala juga dengan memuaskan suaminya sendiri.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ibra tidak keluar barang sebentar dari ruang kerjanya setelah tadi mengintrogasi Dee.
Ibra tidak marah pada Dee. Tapi dia kesal dengan dirinya sendiri yang masih belum bisa berdamai dengan masa lalu.
Karena orang-orang terdekatnya, Dee dan anak-anaknya memiliki masa lalu yang sangat menguras air mata. Sahabat yang dia percaya melukai anak dan istrinya, termasuk Omnya sendiri yang membantu menambah luka fisik istrinya dulu. Sungguh, Ibra ingin mengutuk kebodohannya sendiri.
Ibra malu pada Dee, dia tidak marah. Dia hanya malu, karena istrinya itu dengan mudah memaafkan dan ikhlas atas semuanya. Sedangkan dia, bukannya melupakan, tapi kesalahan itu seakan menjadi memori mutlak dalam kepalanya.
__ADS_1
Sedangkan di meja makan, Kina hanya makan bertiga dengan Dee dan Bi Nini.
"Umi, Abi kemana?" tanya Kina.
"Abi lagi di ruang kerja, Sayang," ucap Dee.
"Biar Adek panggil dulu."
"Jangan, Nak. Biar nanti Umi yang bawa makanan untuk Abi. Adek lanjut makan, ya," ucap Dee lembut. Dia tidak ingin anaknya tahu kalau saat ini Ibra sedang marah padanya.
Dengan patuh Kina mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.
.....
Dee mematut penampilannya di cermin. Lingerie seksi berwarna hitam itu menambah kecantikan Dee yang tidak luntur.
"Saatnya nakal, Dee," gumam Dee.
Dee mengambil jubah tidur untuk menutupi tubuhnya dan segera keluar kamar untuk menyusul Ibra. Tapi sebelum itu, Dee ke dapur terlebih dahulu mengambil makan untuk Ibra.
Setelah selesai, Dee melangkahkan kakinya ke ruang kerja Ibra. Dee langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dia dapat melihat Ibra yang memejamkan mata dengan kepala bersandar pada sandaran kursi empuknya.
Dee meletakkan nampan di meja kerja Ibra dan tanpa aba-aba langsung duduk di pangkuan Ibra.
Ibra terperanjat kaget mendapat perlakuan mendadak dari Dee.
"Kamu ngapain?" tanya Ibra.
"Minta maaf," ucap Dee dengan wajah polosnya.
Ibra memandangi penampilan istrinya yang duduk di pahanya itu. "Udah mulai nakal?" tanya Ibra.
"Cuma sama kamu aja," jawab Dee manja.
Dee menatap dalam mata Ibra dengan tangan yang melingkar di leher Ibra. "Mas, maaf ya. Aku nggak maksud buat mengungkit masa lalu. Aku cuma mau kita semua bahagia tanpa ada yang terluka lagi," ucap Dee.
"Maaf, Sayang," ucap Ibra.
"Aku yang minta maaf karena udah bohong sama suami," ucap Dee tersenyum.
Dee bangkit dari paha Ibra dan membuka jubah tidurnya. Mata Ibra nampak berbinar melihat pemandangan indah didepannya. Tapi Ibra memalingkan wajah berusaha untuk jual mahal.
"Jangan jual mahal, Mas," ucap Dee meledek Ibra.
"Belajar darimana kayak gini?" tanya Ibra merapatkan tubuhnya dan Dee hingga tak ada jarak diantara mereka.
"Pengalaman dari suami sendiri," ucap Dee.
"Hari ini bohong berapa kali?" tanya Ibra.
Dee nampak berpikir sebentar. "Dua kali," jawab Dee.
"Sekarang bulan berapa?" tanya Ibra.
"Bulan tiga," jawab Dee. Dia tidak mengerti kenapa suaminya itu bertanya bulan.
"Dua dikali tiga?"
"Enam."
"Ditambah empat?"
"Sepuluh."
"Sepuluh ronde untuk bayar kesalahan kamu malam ini," ucap Ibra langsung menyambar bibir Dee yang sudah sejak tadi ingin dia lahap.
__ADS_1
Inilah yang harus diterima Dee akibat kebohongannya. Tapi dengan iklhas Dee menerima. Ini adalah hukuman yang paling menyenangkan dan nikmat baginya. Lagi pula dia akan mendapat pahala karena hukumannya ini.
......................