
🌹HAPPY READING🌹
Saat Al menangis dengan menelungkup kan wajahnya di kedua lipatan tangannya, dia merasakan usapan lembut di kepalanya. Al mengangkat kepalanya. "Ba-Bapak."
Al melihat Kiyai Rozak yang tersenyum di balik oksigennya. Dengan perlahan Kiyai Rozak membuka oksigen tersebut.
"Jangan dibuka, Pak. Nanti sesak," ucap Al polos. Karena setahunya, alat itu digunakan oleh orang sakit yang sudah bernafas.
Kiyai Rozak tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak," ucap Kiyai Rozak tersenyum.
"Al panggil Abi dulu, Pak," ucap Al langsung berlari ke ruangan Uminya.
"Abi!" pekik Al sedikit tertahan.
"Jangan teriak, Boy," ucap Ibra memperingati Al dengan suara sedikit berbisik.
"Maaf, Abi," ucap Al menyesal.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibra lembut mengangkat Al kepangkuannya.
"Abi, Bapak Rozak sadar," ucap Al memberitahu.
"Kita ke sana, Boy," ucap Ibra menggendong Al yang tadi duduk di pangkuannya.
Ibra dan Al memasuki ruangan Kiyai Rozak. Benar saja, Kiyai Rozak sedang memandangi langit-langit kamar. Entah apa yang ada di pikiran lelaki paruh baya itu, pandangannya nampak kosong.
"Pak," panggil Ibra.
Kiyai Rozak menoleh. Senyum terbit di bibir tipis Kiyai Rozak. "Ibra," panggil Kiyai Rozak.
"Iya, Pak," jawab Ibra mendekat.
"Al mau turun, Abi," ucap Al meminta turun dari gendongan Ibra. Ibra menurunkan Al dari gendongannya.
"Ibra, tolong berikan keikhlasan hati kamu untuk memaafkan saya," ucap Kiyai Rozak.
Ibra menggeleng. "Bukan hanya Bapak, tapi saya juga minta maaf karena menyeret Bapak dalam kehidupan saya," ucap Ibra.
"Apa kamu ikhlas memaafkan saya, Ibra?" tanya Kiyai Rozak lagi.
Ibra mengangguk dan tersenyum. "Saya, ikhlas, Pak," jawab Ibra.
Kiyai Rozak tersenyum dan mengucap syukur. Setelah itu pandangannya beralih kepada Al yang berdiri di sebelah Ibra.
"Al," panggil Kiyai Rozak.
"Iya, Pak," jawab Al.
"Kamu tidak perlu minta maaf kepada saya. Kamu adalah anugrah terindah dari Allah untuk orang tua mu, Al. Tidak ada yang salah denganmu. Kamu hanya melakukan apa yang dilakukan oleh seorang Abang kepada adiknya," ucap Kiyai Rozak.
Mata Al melotot mendengar penuturan Kiyai Rozak. "Bapak dengar perkataan Al tadi?" tanya Al.
Kiyai Rozak mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Selalu bersikap dewasa seperti ini, Nak. Jangan pernah berubah. Selalu jadikan Umi mu ratu dalam hidupmu," ucap Kiyai Rozak.
Al mengangguk. "Insyaallah, Pak," ucap Al.
"Dan terimakasih untuk segala kemudahan hatimu menerima Zahra, Nak," ucap Kiyai Rozak.
"Bisakah kita sama-sama ikhlas, Al?" lanjut Kiyai Rozak.
Al maju lebih dekat dan menggenggam tangan Kiyai Rozak. "Al memaafkan Bapak dengan ikhlas. Dan Zahra adalah adik Al sama seperti Zahra," ucap Al lirih.
Ibra dan Kiyai Rozak tersenyum melihat reaksi Al yang sungguh sangat dewasa.
"Pak," panggil Al.
"Iya, Al."
"Bantu doakan Umi Al agar cepat bangun," ucap Al dengan suara bergetar.
Kiyai Rozak tersenyum. "Percaya Allah, Nak. Selalu ada keajaiban dari-Nya," ucap Kiyai Rozak.
Al mengangguk dan tersenyum, begitu juga dengan Ibra Disela pembicaraan Mereka, Adam datang memasuki ruangan Kiyai Rozak.
"Bang," panggil Adam.
Mereka semua menoleh dan melihat kepada Adam. Adam yang melihat Kiyai Rozak sudah membuka matanya ikut tersenyum senang. "Saya senang Bapak sudah sadar," ucap Adam.
"Terimakasih," ucap Kiyai Rozak.
"Bang, Bang Kevin dan istrinya sudah sadar," ucap Adam memberitahu.
.....
Sudah tiga hari sejak kejadian kecelakaan tersebut, hanya Dee yang belum membuka matanya. Wanita cantik itu nampak betah dengan dunianya saat ini.
Kevin, Sofia, Kiyai Rozak dan Zahra di tempatkan dalam satu ruangan yang sama. Karena ini rumah sakit milik keluarga Hebi, jadi ini sangat mudah untuk Ibra. Sedangkan Dee berada di sebelah ruangan mereka.
Agam juga sudah kembali dari Kota Padang. Polisi mengatakan bahwa kecelakaan yang dialami mobil Kevin merupakan kecelakaan tunggal dikarenakan rem mobil Kevin yang mengalami masalah.
Sebelum kembali ke Jakarta, Ibra meminta Adam untuk memberitahu kepada Joni agar menjaga dan tetap menjalankan Toko Dee. Semua karyawan Dee sangat sedih mendengar kabar mengenai Buk Bos mereka, beribu doa mereka haturkan untuk keselamatan Dee.
Bi Nini yang bisa kembali bertemu dengan Dee hanya bisa menangis ketika mendengar kabar bahwa majikannya itu harus ke Jakarta dalam keadaan seperti ini.
Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Setelah sholat isya di mesjid rumah sakit bersama Al, Ibra dan Al kembali ke ruangan Dee. Di sana ada Kina yang sedang duduk di kursi sebelah ranjang Dee ditemani Bi Nini.
"Adek," panggil Al.
"Iya, Aban," jawab Kina.
"Udah sholat?" tanya Al.
Kina mengangguk. Sedetik kemudian air mata jatuh dari mata bulat gadis kecil itu.
"Anak Abi kenapa?" tanya Ibra lembut bersimpuh di dekat Kina.
__ADS_1
"Abi, tapan Umi banun?" tanya Kina lirih.
Ibra hanya diam. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk anaknya.
"Yan lainna cudah banun, Abi. Tenapa Umi macih tidul. Apa Umi ndak tangen Ina?" tanya Kina.
Percayalah, siapapun yang mendengar kata yang terlontar dari mulut gadis kecil ini akan tersayat hatinya.
"Apa di mimpi, Umi puna anak yan lebih tantik dali Ina, Abi. Apa di mimpi anak Umi lebih toleha dali Ina, Abi?" tanya Kina beruntun.
Ibra tidak sanggup lagi, segala kata yang keluar dari mulut Kina seakan membuat hati Ibra tersayat. Ibra memeluk tubuh kedua anaknya yang sudah menangis. Memberikan kekuatan untuk kedua buah hatinya.
Bi Nini yang menyaksikan itu ikut menitikkan air mata. Sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati.
Hingga beberapa saat, Bi Nini merasakan ranjang Dee yang bergerak.
"ASTAGFIRULLAHALAZIIM, NYONYA!" pekik Bi Nini melihat Dee yang kejang-kejang.
Ibra, Al dan Kina yang mendengar pekikan Bi Nini menoleh. Dengan cepat Ibra menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.
"Ya Allah, Sayang. Bertahan Sayang," ucap Ibra dengan suara bergetar nya.
Sedangkan Dee berlari ke sisi lain tempat tidur Dee untuk melihat keadaan Uminya dengan tangis yang tak kunjung berhenti. Sedangkan Kina kini sudah menangis di gendongan Bi Nini.
Tidak berapa lama, Tim Dokter datang untuk memeriksa Dee.
"Dokter, selamatkan istri saya," ucap Ibra kepada Dokter.
Dokter hanya mengangguk dan segera memeriksa Dee.
"Pasang oksigen, pasien kesulitan bernafas," ucap Dokter.
"Detak jantung pasien melemah, Dokter," ucap salah satu suster.
Ibra menggeleng kuat mendengar perkataan suster tersebut. "Dokter, tolong lakukan apapun untuk istriku!" teriak Ibra.
"Hiks, Umi," tangis Al dan Kina pecah melihat bagaimana kondisi Umi mereka.
Mereka semua yang ada di ruang rawat sebelah segara keruang rawat Dee begitu mendengar keributan. Adam, Wijaya dan Agam terkejut melihat Dokter dan beberapa pasien yang sudah ramai di ruangan Dee. Tanpa perlu dijelaskan, mereka tahu apa yang terjadi, semua mata memanas melihat apa yang terjadi.
"Siapkan defibrilator," ucap Dokter.
Suster dengan sigap memasang segala macam kabel di tubuh Dee. Terdengar suara detak jantung Dee yang mulai melemah dari monitor pendeteksi.
Dengan peluh bercucuran Dokter menekan dada Dee dengan alah tersebut. Beberapa kali percobaan hingga terdengar bunyi nyaring yang membuat dunia Ibra runtuh dalam sekejap.
Tiiiiiiiiittttttt ............
......................
Jangan hujat author dulu, ya. Kita tunggu akhir kisahnya 🤗🤗
Author sayang banget sama kalian 🤗🤗🤗🤗🌹🌹🌹
__ADS_1
Maaf jika nama alat medis dan penggunaan kurang tepat ya, soalnya author bukan orang medis, jadi nggak tahu, bagi yang mengerti silahkan koreksi 🙏🙏