Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 143


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Waktu Subuh sudah menjelang. Adzan subuh di Mesjid Rumah Sakit memanggil setiap umat Islam untuk melaksanakan kewajibannya. Begitu juga dengan Sofia. Wanita itu langsung terbangun ketika 'Allahuakbar' menggema ke seluruh Rumah Sakit.


Dengan hati-hati Sofia bangun dan menarik kursi roda yang ada di sebelah ranjangnya. Turun dari kasur dengan perlahan dan duduk di kursi roda. Sofia mendorong kursi rodanya ke ranjang Kevin untuk membangunkan suaminya tersebut.


Dengan sekali panggilan Kevin bangun dari tidurnya. "Kamu ambil wudhu duluan, Mas. Biar aku yang bangunin Abah," ucap Sofia.


"Iya Sayang," jawab Kevin dengan suara khas bangun tidur.


Kevin berdiri dan berjalan dengan pelan ke kamar mandi, sedangkan Sofia ke ranjang Kiyai Rozak.


Sofia tersenyum melihat wajah Kiyai Rozak yang tampak sangat damai. "Abah tenang dan nyenyak banget tidurnya," gumam Sofia.


Dingin.


Itulah yang dirasakan Sofia saat tangannya menyentuh kulit tangan Kiyai Rozak.


"Abah," ucap Sofia lembut sambil menggoyang badan Kiyai Rozak.


"Abah, bangun," ucap Sofia lagi dengan suara yang sudah bergetar.


Dengan berusaha tenang, Sofia mendekatkan jari telunjuknya ke hidung Kiyai Rozak untuk memeriksa apakah Kiyai Rozak masih bernafas atau tidak.


Tangis Sofia pecah saat tangannya tidak merasakan hembusan nafas Kiyai Rozak.


"Innalillahi Wainnailaihi Raji'un, hiks," ucap Sofia dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Kevin yang baru keluar dari kamar mandi kaget melihat Sofia yang sudah menangis di atas kursi rodanya sambil memeluk tubuh Kiyai Rozak.


"Sayang, kenapa?" tanya Kevin lembut.


"Mas, Abah," ucap Sofia menunjuk Kiyai Rozak.


Kevin mendekat dan memeriksa denyut nadi Kiyai Rozak. "Innalillahi wainnailaihi Raji'un," gumam Kevin.

__ADS_1


"Mas, Abah, hiks," tangis Sofia pecah dalam pelukan Kevin.


"Sayang sabar, ya. Mungkin ini yang terbaik untuk Abah. Kita doakan saja, ya," ucap Kevin membujuk Sofia.


"Kenapa Abah nggak nunggu kita dulu, Mas? Kenapa Abah pergi tanpa izin sama kita?" ucap Sofia menangis.


"Sayang, jodoh, maut dan rezeki itu sudah urusan Allah. Tidak ada yang tahu mengenai itu semua. Kita hanya bisa ikhlas, Sayang," ucap Kevin.


Tangis Sofia semakin kencang hingga membangunkan mereka semua, termasuk yang ada di ruangan Dee.


Kini mereka semua berada di sekeliling ranjang Kiyai Rozak. Awalnya mereka terkejut melihat Dee yang sudah bangun dan keadaan Dee yang tidak bisa melihat. Tapi Ibra menjelaskannya dengan baik hingga mereka semua mengerti.


Al yang melihat Uminya telah sadar ada rasa senang sekaligus sedih. Senang dengan kesadaran Uminya, dan sedih karena Uminya sudah tidak bisa lagi melihatnya. Begitu juga dengan Kina.


"Tidak ada yang tahu waktu pastinya Abah pergi, Dokter. Tapi saya mengetahuinya tadi saat mau membangunkan Abah untuk Sholat Subuh. Tapi Abah udah seperti ini, hiks," ucap Sofia menjelaskan ketika Dokter bertanya waktu Kiyai Rozak menghembuskan nafas terakhirnya.


Kevin mengusap bahu Sofia yang bergetar. Mencoba memberi ketenangan untuk istrinya. Sedangkan Zahra sudah menangis di gendongan Agam. Mereka semua tampak sedih. Pasalnya, Kiyai Rozak pergi tanpa sepengetahuan mereka semua.


Saat memandang wajah Kiyai Rozak, mata Ibra tidak sengaja melihat kertas yang terselip di bawah Keranjang buah.


Mereka semua menggeleng. Ibra berjalan dan mengambil kertas tersebut. Dengan pasti tangan Ibra membuka lipatan kertas tersebut.


"Ini surat untuk kita semua," ucap Ibra begitu melihat isi kertasnya.


"Bacakan, Ib," ujar Kevin.


Ibra mengangguk dan membaca isi surat tersebut.


Untuk Semua Keluargaku


Teruntuk anakku Sofia, maaf jika Abah pergi terlebih dahulu. Waktu Abah di dunia sudah selesai, sekarang saatnya Abah mengunjungi dunia akhirat. Sofia anakku, selalu doakan Abah, ya. Karena doamu yang akan mengantarkan Abah ke Surganya Allah.


Untuk Kevin menantuku, aku titipkan dua wanita yang sangat berharga di hidupku. Tolong sayangi Sofia dan selalu bimbing dia menjadi makmum yang baik untukmu. Sayangi Zahra sebagai anakmu, didik dia agar menjadi anak yang baik dan berhati tegas seperti Bundanya dan juga berhati ikhlas seperti Umi nya. Jika nanti dia bersalah, tegur dia. Jika kamu sudah tidak mencintainya, tolong tetap jaga dia, karena saya sudah tidak ada jika kamu ingin mengembalikannya. Tolong jaga mereka untuk saya.


Teruntuk Zahra cucu Kakek. Tumbuh menjadi anak yang baik ya, Nak. Jadilah wanita Sholeha seperti Bunda dan Umi. Jadilah anak berbakti untuk orang tua. Jadi adik yang baik untuk Abang Zahra. Jadi kakak yang baik juga untuk adik Zahra, Kina. Maaf jika Kakek sudah tidak bisa lagi mengajarkan Zahra untuk mengaji, tapi percayalah, Abang Zahra akan melakukan itu untuk Zahra.

__ADS_1


Teruntuk Pak Wijaya dan Ibra, maafkan atas keegoisan saya sehingga membuat kalian hancur. Maafkan saya.


Teruntuk Al dan Kina, maaf telah membuat kalian menerima luka yang sangat dalam. Untuk Al, terimakasih atas keikhlasan yang telah kamu berikan, Nak. Keikhlasan mu mempermudah jalan ku menuju surga. Terimakasih banyak atas hatimu yang sangat besar, Al.


Dan untuk Dee, wanita yang sangat terluka karena kesalahan saya. Terimakasih untuk setiap kata maaf yang telah kamu terima, Nak. Terimakasih untuk semua ajaran baik yang kau berikan pada anakmu sehingga mereka memiliki hati yang begitu besar. Hingga keikhlasan itu akhirnya mereka berikan beserta dengan kata maaf yang di terima. Nak Dee, dengan lapang dada kamu menerima takdir Allah. Kamu menerima kekurangan yang Allah berikan dengan ikhlas, Nak. Untuk itu, saya memberikan penglihatan saya untuk kamu, Nak. Tolong jaga pemberian saya. Semoga ini bisa mengurangi sedikit dosa yang telah saya lakukan kepada kamu, Nak. Tolong terima pemberian saya. Saya akan kecewa jika kamu menolaknya.


Tanganku sudah tidak sanggup lagi untuk menulis, maaf jika tulisan ini jelek. Dada saya semakin sesak. Dan satu lagi pesan saya untuk Al, jika nanti berkunjung ke makam saya, tolong panggil saya dengan panggilan Kakek, Nak.


Begitulah isi surat yang di baca Ibra. Tangis Sofia semakin pecah setelah mendengar isi surat Abah nya. Begitu juga dengan Dee. Dia tidak menyangka bahwa Kiyai Rozak begitu baik dengan mendonorkan kornea matanya.


Ibra mendekati Dee dan memeluk wanita tersebut. "Semua adalah jalan Allah, Sayang," ucap Ibra.


"Dee, tolong terima pemberian Abah ku dan jaga dengan baik, Dee," ucap Sofia menangkup kedua tangan di Dada nya.


Dee melihat ke sembarang arah. "Terima, Sayang. Mungkin ini jalan dari Allah," ucap Ibra membisikan ke telinga Dee.


Mendengar perkataan Ibra, Dee menganggukkan kepala entah kepada siapa.


"Baik, Mbak. Aku akan menerima dan menjaganya. Terimakasih," ucap Dee dengan tangisnya.


Setelah itu Ibra segera meminta Dokter untuk melakukan donor mata untuk Dee. Dengan segala persiapan yang langkah-langkahnya, akhirnya Dee kembali mendapatkan penglihatannya melalui jalan yang tidak pernah mereka duga sama sekali.


Ya Allah, kau memang maha Adil. Jalan ceritamu memang sangat tidak terduga, Ya Allah. Dalam sekejap kau berikan kami suka dan juga duka. Semoga Abah dapat kebahagiaan di sisimu, Ya Allah. Ternyata benar, keikhlasan adalah obat yang ampuh untuk semua penyakit hati. Terimakasih, Ya Allah. Ucap Sofia dalam hati.


Walaupun Kiyai Rozak pergi, tetapi dia masih bisa merasakan keberadaan Abah nya melalui Dee. Sungguh, skenario Allah sangat tidak terduga. Dalam waktu sekejap mata, suka dan duka itu bisa datang dalam waktu yang bersamaan.


*Flashback Off*


......................


Maaf jika ada penulisan yang salah teman-teman.


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote nya yaa.


Jangan lupa baca juga novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO", TERIMAKASIH 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2