Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 170


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah menempuh perjalanan yang lama, kini Al sudah kembali beristirahat di apartemen yang sudah dia tinggalkan beberapa hari karena kembali ke Negara asalnya.


Al disambut baik oleh Aksa yang selama ini memang selalu menginap di apartemen Al atas permintaan Al.


"As," panggil Al pada Aska yang sedang duduk di meja belajar sambil memainkan ponsel. Kini mereka sedang bersantai di kamar Al. Al yang rebahan di kasur dan Aska yang duduk di sofa yang ada di kamar Al.


Aska mengalihkan pandangannya kepada Al. "Kenapa?" tanya Aska.


"Gimana apartemen Runa?" tanya Al. Aska memang sudah mengetahui semuanya. Al menceritakan semuanya lewat telfon saat dia masih di Indonesia. Hingga akhirnya, Al meminta Aska untuk menyelidiki yang terjadi disini.


Aska menghela nafas pelan dan menegakkan punggungnya yang semula bersandar. Aska berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil beberapa barang yang dia ambil secara diam-diam dari apartemen Runa.


"Semoga Lo nggak semakin menyesal, Al," ucap Aska memberikan beberapa barang yang dibungkus dengan kain. Setelah memberikan itu, Aska berjalan keluar kamar dan meninggalkan Al sendiri.


Setelah Aska keluar, dengan perlahan Al mengambil barang yang terbungkus kain tersebut. Tangan Al membuka ikat kain tersebut.


Benda pertama yang Al lihat adalah dirinya sendiri yang sudah dibingkai. "Jadi kamu simpan foto aku sejak dulu, Runa. Andai kamu jujur lebih awal, sudah lama kita bahagia," gumam Al.


Al membalikkan bingkainya. 'Harapan' kata yang tertulis di belakang bingkai tersebut. "Tapi aku juga yang menghancurkan semua harapan kamu Runa," ucap Al sendu.


Al meletakkan foto tersebut dan mengambil barang berikutnya. Al mengambil sebuah baju yang ada di sana. Hati Al berdenyut sakit melihat darah yang sudah mengering di baju tersebut.


Al segera berjalan keluar kamar dengan membawa baju tersebut.


"As," panggil Al kepada Aska yang sedang duduk manis di depan televisi dengan segelas jus di depannya.


"Hem," ucap Aska tanpa mengalihkan pandanganya dari layar televisi.


"Ini apa, As?" tanya Al memperlihatkan baju tersebut.


Al menoleh. "Itu baju Bella," jawab Aska cuek.


"Iya gue tahu ini baju Runa. Tapi darah ini-"


"Darah Bella saat disiksa karena melakukan kewajibannya kepada Allah," jawab Aska memotong perkataan Al.

__ADS_1


DEG


Jantung Al serasa ingin keluar dari tempatnya. Segala perkataan kasarnya karena telah mengatakan Bella adalah wanita yang sangat buruk kembali memenuhi kepalanya.


"Sebanyak ini As?" tanya Al sendu memperlihatkan baju penuh noda merah itu kepada Aska.


Aska mengangguk. "Duduk Al. Gue harus bilang sesuatu sama Lo," ucap Aska.


Al menurut dan duduk di sebelah Aska. "Ada seorang gadis kecil yang dibawa ke Inggris oleh Papanya. Sampainya disini, sang anak tinggal sendiri dan hidup dengan segala kekuatan yang dia miliki. Papanya meninggalkannya sendiri disini, Al. Setiap kali dia melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, maka suruhan Papanya yang diminta untuk memantau keadaan dan setiap gerak geriknya akan memberikan pelatihan mental. Bahkan dia pernah di pasung karena ketahuan melaksanakan sholat malam Al," ucap Aska menjelaskan.


"As."


"Dan Lo tahu Al, demi meraih kasih sayang Papanya agar segera kembali, dia rela meninggalkan kepercayaannya dan memilih mengikuti keinginan Papanya. Hingga akhirnya siksaan itu sedikit berkurang. Hingga suatu hari, Papanya datang menemuinya dan memberikan kabar bahwa dia akan dinikahkan dengan orang pilihan Papanya. Dia menolak, Al. Hingga akhirnya memilih mendatangkan harapannya dan mengungkap semuanya. Tapi sayang, orang yang dia harapkan kembali memberi luka," lanjut Aska menjelaskan.


"As, gue benar-benar nggak tahu mengenai ini As," ucap Al.


Aska mengangguk. "Kita berdua salah, Al. Harusnya kita peka sebagai sahabatnya. Tapi kita malah menganggap setiap perkataannya sebuah lelucon," ucap Aska ikut merasa bersalah. Karena Bella sudah sering memberi kode kepada mereka, tapi mereka malah.meganggap semuanya lelucon dan bercanda.


"Lo tahu semuanya darimana, As?" tanya Al penasaran.


"Salah satu orang suruhan Papanya Bella yang ikut menyiksa Bella, Al," jawab Aska.


"Bingkai foto," jawab Aska singkat yang mampu dimengerti oleh Al.


"Kita temuin sekarang, As," ucap Al. Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju sebuah dinding yang ditutupi oleh sebuah bingkai foto besar Ibra dan Dee yang memang sengaja dipajang oleh Al di sana.


Al dan Aska melepaskan foto tersebut dan membuka sebuah pintu yang ada di balik foto tersebut. Mereka berjalan memasuki ruangan rahasia di apartemen Al. Hanya Aska dan Al yang mengetahui tempat ini. Al sengaja membuat tempat ini untuk ruang rahasianya menyimpan segala lukisan yang dia buat. Masih ingat bukan, bahwa Al sangat ahli dalam melukis.


"Lepaskan aku, bajingan!" ucap pria berbadan tegap tersebut.


"Dia dari Indonesia?" tanya Al pada Aska ketika mendengar pria tersebut berbicara dengan bahasa Indonesia.


Aska mengangguk menjawab pertanyaan Al.


Al berjalan mendekati lelaki tersebut dan mencengkram kuat rahangnya. Kedua tangan lelaki tersebut di rantai pada tiang di sisi kiri dan kanannya.


"Kita sama-sama bajingan," ucap Al dingin. Jangan lupakan sikap sadis Ibra yang juga menurun pada diri Al.

__ADS_1


Al menampungkan tangannya pada Aska. Aska yang mengerti maksud Al memberikan sebuah cambuk kepada Al.


Al menajamkan matanya sebelum memulai aksinya. Maafkan Al, Umi. Batin Al mengingat Dee.


CETAR.


"Aaakhh "


CETAR.


"Aaakhh. Kau benar-benar bajingan bangsat," teriak lelaki tersebut menahan sakitnya.


"Ini tidak seberapa daripada kesakitan gadisku," ucap Al menatap tajam lelaki tersebut.


"Sekarang katakan padaku, dimana Bosmu itu bersembunyi?" lanjut Al menanyakan keberadaan Bima, Papa Runa.


Lelaki tersebut tersenyum miring. "Jika kau bertemu dengannya, maka kematian akan mendatangimu," ucap lelaki tersebut.


CETAR.


Cambuk itu kembali mengenai perut lelaki tersebut. Al mencoba meredakan emosinya agar tidak kelewat batas. Dengan kasar Al melempar cambuk tersebut ke lantai dan beralih mencengkram kuat rahang lelaki tersebut.


"Bilang sama saya, dimana Bosmu?" tanya Al sekali lagi.


Lelaki itu tetap kekeh tidak ingin memberitahu.


"Baiklah, berarti kau ingin mereka semua yang ada difoto itu menderita," ucap Al menunjuk sebuah foto keluarga yang dipegang oleh Aska dengan dagunya. Aska benar-benar melakukan semua yang diperintah Al padanya dengan sangat baik. Dengan bekal kekuasaan dan nama besar Alan beserta Ibra, Al dan Aska bisa melaksanakannya dengan halangan yang tidak berarti.


Lelaki tersebut langsung gemetar melihat foto keluarganya ada ditangan Aska.


"Jangan sakiti keluarga saya," ucap Lelaki tersebut berubah sendu.


"Masih sayang keluarga ternyata," ucap Al menggertak. Tentu saja itu hanya gertakan, Al tidak akan melakukan hal sekeji itu.


"Saya akan beritahu, tapi jangan libatkan keluarga saya."


......................

__ADS_1


Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku


Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹


__ADS_2