Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 131


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"A-Abang," cicit Zahra takut mencoba untuk memanggil Al.


Mereka semua yang ada di sana mengangkat kepala mendengar Zahra memanggil Al.


Al melepaskan pelukannya dari Dee ketika mendengar suara Zahra. Al berjalan mendekat ke kursi roda Zahra. Tidak lupa, Al juga menggandeng tangan Kina mendekat kepada Zahra.


"Kau memanggil ku apa?" tanya Al.


"A-Abang," ucap Zahra guguk sambil menunduk takut.


Al mengalihkan pandanganya kepada mereka semua yang ada di sana. "Kalian lihat kan, karena perbuatan kalian, Al, Kina dan dia yang menjadi korbannya. Tidak bisakah orang dewasa bersikap sebagaimana mestinya? Mereka selalu menasehati kami anak kecil, tapi kenapa tidak berlaku juga untuk diri mereka sendiri?"


Mereka semua yang mendengar perkataan Al bungkam. Tidak ada yang mencela. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya adalah benar. Sebagai orang dewasa seharusnya mereka bisa berpikir lebih baik lagi.


"Umi, maaf jika hati Al belum bisa se ikhlas Umi. Al memang memaafkan mereka seperti yang Umi katakan, tapi Al belum bisa melupakannya, Umi," lanjut Al melihat Dee.


"Abi, Al memang menerima Abi kembali. Abi adalah Abi Al dan Kina, sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Tapi jangan paksa Al dan Kina untuk terima semuanya Abi," ucap Al dan langsung menggandeng tangan Kina pergi ke kamar mereka.


Mereka semua hanya memandang sendu Al yang pergi bersama Kina. Dee mengerti, anaknya masih butuh waktu untuk bisa menerima semua ini.


Air mata Zahra jatuh ketika Al pergi bersama Kina. Sofia yang melihat anaknya menangis langsung berlari dan memeluk tubuh bergetar anaknya.


Dee yang melihat semua itu mendekat ke arah Sofia dan Zahra. Dee memegang punggung Sofia hingga membuat Sofia mendongak. Sofia yang yang mengerti tatapan Dee memberikan ruang untuk Dee agar bisa mendekati Zahra.


Dee bersimpuh di depan kursi roda Zahra. Zahra mengangkat kepala ketika merasakan kulit lembut menyentuh tangan mungilnya.


Dee tersenyum lembut melihat wajah cantik Zahra yang memerah karena menangis. Anak ini tidak bersalah, tapi dia harus menerima akibat dari perbuatan orang tuanya.


"Bolehkah Ala memanggil Umi?" ucap Zahra dengan suara sesegukan.


Dee mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Zahra.


"Maaf jika kehadilan Ala membuat Abang dan Adek menangis, Umi," ucap Zahra sesegukan.


Dee menggeleng pelan mendengar perkataan yang terlontar dari mulut mungil Zahra.


"Buka salah Zahra. Abang dan Adek hanya butuh waktu untuk menerima semuanya. Zahra sayang Abang sama Adek?" tanya Dee.


Dengan antusias anak itu mengangguk. "Zahra harus selalu berdoa untuk Abang dan Adek, ya," ucap Dee.


"Ala selalu doain Abang dan Adek. Kata Abi, Umi, Abang dan Adek adalah orang yang sangat baik dan kalian sangat menyayangi Ala. Ayah juga bilang begitu," ucap Zahra kepada Dee.

__ADS_1


"Anak pintar," ucap Dee mencolek hidung merah Zahra.


"Umi, Ala tidak tahu apa kesalahan Buna, tapi telimakasih kalena sudah maafin Buna, Umi," ucap Zahra memandang lembut Dee yang mampu membuat Sofia kembali mengeluarkan air matanya.


Dee tertegun. Bagaimana mungkin anak sekecil ini bisa berbicara seperti itu. Dee hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Zahra.


"Boleh minta peluk, Umi?" tanya Zahra.


Dee mengangguk dan tersenyum memeluk Zahra. "Telimakasih, Umi," ucap Zahra.


"Sama-sama, Sayang," ucap Dee mengusap lembut punggung Zahra.


Setelah beberapa lama, Dee mengajak mereka semua untuk makan bersama di rumahnya. Mereka semua berjalan menuju meja makan.


"Dee permisi dulu, mau panggil Al sama Kina," ucap Dee.


"Nggak usah, Sayang, biar aku yang panggil anak-anak," ucap Ibra menahan tangan Dee yang akan pergi. Dee menurut dan kembali duduk.


.....


Ibra melangkahkan kakinya menuju kamar Al. Dengan perlahan Ibra membuka pintu kamar Al. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah kedua anaknya yang sedang menghadap jendela dengan kepala menengadah memandangi langit malam.


Al dan Kina yang belum menyadari kedatangan Ibra masih asik dengan pembicaraan mereka.


"Iya, Dek," ucap Al tanpa mengalihkan pandangannya dari bintang.


"Ina mau jadi Bulan, Ban," ucap Kina.


"Kenapa?" tanya Al.


"Talena Ina mau jadi catu-catuna di antala Bintan," celetuk Kina.


"Aban, Apa yan di bawah tadi anak Abi yan lain?" tanya Kina sendu. Sedari tadi anak itu hanya diam tidak berani bertanya. Sekarang disaat dia hanya berdua dengan Al, Kina memberanikan diri untuk mengeluarkan isi hatinya.


Al mengangguk menjawab pertanyaan Kina.


"Apa nanti Abi ndak cayang Ina lagi? Tapi Ina tacian, Ban. Dia ndak bica jalan," ucap Kina sendu.


Hati Ibra tersayat mendengar perkataan anaknya.


Baru Al akan membuka suara, tapi Ibra lebih dulu membuka mulutnya.


"Adek," panggil Ibra lirih.

__ADS_1


Al dan Kina berbalik ketika mendengar suara Ibra. Dengan perlahan Ibra maju dan memeluk kedua anak kesayangannya.


"Kalian tidak akan terganti oleh apapun, Nak," ucap Ibra lirih.


"Abi," ucap Al dalam dekapan Ibra.


"Maaf jika tadi perkataan Al menyakiti orang lain," ucap Al.


"Al tidak salah, Nak," ucap Ibra. Ibra melepaskan dekapannya kepada Kina dan Al. Setelah itu dia memandang lekat wajah kedua anaknya.


"Terimakasih karena masih mau menerima Abi. Terimakasih telah menjadi anak-anak Abi. Terimakasih telah menjaga Umi dan Kina, Boy. Dan terimakasih karena telah menjadi penyemangat Umi dan Abang, Girl," ucap Ibra sendu.


"Abi, bolehkah Al meminta sebuah janji?" tanya Al.


Ibra mengangguk pasti mengiyakan perkataan Al.


"Jangan pernah tinggalkan kami lagi, Abi. Al tidak marah kepada anak lain Abi. Lakukan tugas yang baik sebagai seorang Ayah, Abi," ucap Al.


"Pasti, Nak," jawab Ibra cepat memeluk kedua buah hatinya.


"Abi," panggil si imut Kina.


"Iya, Sayang," jawab Ibra.


"Ina cayang, Abi, Aban dan Umi," ucap Kina dengan senyumnya.


"Kami juga sayang Kina," ucap Ibra dan Al bersamaan. Setelah itu mereka semua berpelukan erat mencurahkan segala kasih sayangnya.


.....


Sedangkan di meja makan. Semuanya sedang menunggu kedatangan Ibra bersama Al dan Kina. Wijaya yang sedari tadi hanya diam langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ada hal yang harus segera dia selesaikan. Dia tidak bisa terus-terus melihat air mata yang keluar dari semua orang yang dia sayangi, karena semua ini bermula dari semua kecerobohan dan ketidak tegasannya.


Besok datanglah ke Padang. Kabari saya jika sampai disini. Mari kita selesaikan semuanya dan bayar kesalahan kita demi anak dan cucu kita.


isi pesan yang di kirim Wijaya kepada orang tersebut.


Aku berjanji akan mengembalikan kembali senyum yang sudah aku renggut tanpa sengaja. Batin Wijaya memandangi setiap anggota keluarga.


......................


Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote dari kalian ya.


Jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2