
🌹HAPPY READING🌹
"Panggil saja saya Ibu Naina, Nak," ucap wanita paruh baya tersebut.
Ya, dia adalah Naina. Delapan tahun yang lalu, Naina keluar dari penjara. Dia memilih menjauh dari kehidupan lamanya dan membuka lembaran baru dengan hidup sebatang kara. Karena kebodohannya, dia menyia-nyiakan cinta seorang lelaki tulus kepadanya.
"Boleh aku memanggilmu Bunda?" tanya Bella antusias. Bella melihat ketulusan dari Naina. Naina terlihat sangat cantik dengan hijabnya.
Naina mengangguk dan tersenyum kepada Bella. "Boleh, Nak," ucap Naina.
Bella tersenyum senang. "Terimakasih, Bunda," ucap Bella memeluk Naina.
Naina mengangguk dan tersenyum. Setelah itu Naina mengajak Bella untuk ikut ke rumahnya. Tempat ini cukup terpencil, jadi Bella yakin, siapapun akan sulit untuk menemukannya, termasuk Papanya sendiri.
Sepuluh menit berjalan kaki, mereka sampai di depan sebuah Rumah yang sangat sederhana, tapi terlihat sangat bersih.
"Maaf jika rumah Bunda biasa saja, ya," ucap Naina gak enak.
"Tidak apa, Bunda. Bella suka," ucap Bella.
Mereka memasuki rumah Naina. Rumah Naina hanya memiliki satu kamar, ruang tamu dan dapur.
"Kita sekamar saja, ya Bel," ucap Naina.
"Iya, Bunda," jawab Bella.
Bella meletakkan kopernya di kamar Naina, sedangkan Naina membuat minum untuk Bella.
Terimakasih telah mempertemukan aku dengan orang baik. Batin Bella senang.
.....
Kini Bella dan Naina sedang duduk bersama di kamar Naina.
Naina terus memperhatikan Bella yang mengingatkannya pada seseorang.
"Kamu mengingatkan aku pada seseorang, Nak," ucap Naina.
"Siapa, Bunda?" tanya Bella dengan terus melipat pakaian yang baru dia keluarkan dari koper.
Naina tersenyum kecut, rasa nyeri kembali ada di hatinya ketika mengingat masa lalu.
"Seorang anak kecil yang dulu selalu aku sakiti," ucap Naina sendu.
Bella menghentikan kegiatannya dan menatap Naina. "Sekarang dia bagaimana, Bunda?" tanya Bella.
Naina menggeleng. "Bunda berharap dia selalu bahagia dengan kehidupannya," ucap Naina.
"Bunda orang baik," ucap Bella tersenyum.
Naina menggeleng. "Dulu Bunda sangat buruk, Nak. Dan orang menjadi baik karena penyesalan atas dosanya," ucap Naina.
"Bella, apapun kesalahanmu, kembalilah ke jalan yang baik dan benar," lanjut Naina.
Bella mengangguk yakin. "Iya, Bunda," ucap Bella tersenyum.
__ADS_1
Hati kecil Bella selalu mengingat pencipta Bella, Bunda. Lanjut Bella dalam hati.
Naina tersenyum melihat Bella. Dengan adanya Bella, dia menjadi punya teman dan tidak sendiri lagi.
"Mau bantu Bunda masak?" tanya Naina.
Dengan antusias Bella mengangguk. Mereka pergi keluar kamar dan berjalan menuju dapur.
.....
Sedangkan ditempat lain, kini Al sudah berada diruang kerja Ibra.
"Selamat menjalankan tugasmu, Boy," ucap Ibra kepada Al.
Al hanya mengangguk dan memilih duduk di sofa. Ruangan Ibra dipenuhi oleh foto Uminya. Jelas saja, karena Ibra sangat mencintai istrinya itu.
"Abi benar-benar jadi budak cintanya Umi," celetuk Al.
Ibra mengangguk menyetujui perkataan Al. "Mau bagaimana lagi, Umimu itu terlalu mempesona," ucap Ibra.
"Al mulai kerja kapan, Abi?" tanya Al.
"Hari ini," ucap Ibra. Ibra berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil tumpukan file yang ada disana.
Ibra meletakkannya file tersebut di depan Al.
"Ini semua harus kamu pelajari. Semua berkas kerjasama yang akan kita lakukan, yang sedang berjalan dan yang sudah selesai, semuanya ada disini," ucap Ibra.
Al hanya mengangguk tenang. Itu bukan hal yang sulit untuknya. Bahkan saat masih duduk di bangku sekolah, dia sudah ahli mengenai ini.
"Apa Abi?" tanya Al.
"Jangan buat perusahaan bangkrut karena kau selalu memikirkan gadismu itu," ucap Ibra.
Al mendengus kesal mendengar perkataan Ibra. "Al tidak sebodoh Abi," ucap Al.
"Dasar anak durhaka," jawab Ibra. Sedangkan Al hanya cuek melanjutkan kegiatannya.
"Kalau begitu Abi keluar dulu. Ada beberapa hal yang harus Abi bicarakan dengan sekretaris Abi," ucap Ibra.
"Hem," jawab Al yang mulai fokus dengan file ditangannya.
Ibra menggeleng kepala melihat kelakuan anaknya. Tapi walaupun begitu, dia sangat menyayangi anak lelakinya ini.
.....
Waktu malam telah menjelang. Setelah selesai makan bersama, kini Naina dan Bella duduk bersama di ruang tamu.
"Bunda, boleh Bella tidur disini?" tanya Bella ragu menunjuk paha Naina.
Naina tersenyum dan mengangguk. Dengan segera Bella merebahkan kepalanya di pangkuan Naina. Naina dengan lembut mengusap kepala Bella.
"Melihat Bunda, Bella jadi teringat Bunda sama Umi," ucap Bella memandangi Naina dari bawah.
"Bunda dan Umi?" tanya Naina.
__ADS_1
Bella mengangguk. "Benda itu orang tua kandung Bella yang udah meninggal," ucap Bella sendu.
"Umi?" tanya Naina. Dia kembali teringat seorang wanita tangguh yang memberinya banyak pelajaran.
"Umi adalah wanita hebat yang memberikan Bella pelukan saat Bella menangis sendiri," ucap Bella tersenyum.
"Bella beruntung memiliki orang-orang yang sayang sama Bella," ucap Naina tersenyum.
"Dan Bella lebih beruntung lagi, karena sekarang bertemu Bunda," ucap Bella.
"Papa Bella dimana?" tanya Naina yang sejak tadi menahan hatinya.
Bella menggeleng. "Bella nggak mau ketemu Papa lagi," ucap Bella sendu.
Naina hanya diam menunggu Bella melanjutkan ceritanya.
"Dulu Papa sangat sayang sama Bella. Papa selalu memanggil Bella dengan panggilan Princess. Tapi sejak Bunda pergi, Papa menjadi kasar dan selalu melarang Bella melaksanakan kewajiban Bella sebagai muslim, Bunda," lanjut Bella menceritakan masa kecilnya.
"Kenapa bisa seperti itu, Nak?" tanya Naina.
"Dulu, Bunda ikut kegiatan kemanusiaan untuk membantu Palestina, Bunda. Dan karena kecintaannya pada saudara muslim di sana, Bunda pergi ke sana. Hingga akhirnya Bunda tewas dibunuh disana. Sejak saat itu, Papa selalu melarang Bella untuk menyembah pencipta kita, Bunda," ucap Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Bella harus selalu doakan, semoga hati Papa Bella terbuka untuk berpikir jernih. Papa Bella hanya belum bisa menerima kenyataannya," ucap Naina.
Bella mengangguk dan tersenyum. "Besok kita jadi ke pesantren, Bunda?" tanya Bella.
Dengan senyum manisnya Naina mengangguk. "Kita akan belajar banyak disana, Nak," ucap Naina.
"Iya, Bunda. Bunda?"
"Iya, Nak," jawab Naina.
"Bagaimana dengan masa lalu Bunda?" tanya Bella. Karena jika diperhatikan, Naina tidak terlihat seperti wanita miskin. Dia seperti wanita berkelas dengan badan bagus, kulit bersih dan wajah yang cantik.
"Bunda hanya berharap masa lalu Bunda tidak terjadi pada siapapun," ucap Naina.
Bella mengerti, mungkin Naina tidak ingin mengungkap masa lalunya.
"Apa Bunda pernah menikah dan punya anak?" tanya Bella lagi.
Naina menggeleng. "Bunda bukan wanita sempurna, Nak. Bunda hanya menjalankan takdir yang sudah Allah gariskan. Jika saatnya nanti tiba, maka Bunda akan seperti wanita lainnya," ucap Bella.
"Umi pernah bilang sama Bella, Bunda. Tidak ada manusia yang sia-sia di dunia ini. Jadi, seburuk apapun hidup kita, selalu ada kebaikan yang pencipta berikan untuk kita," ucap Bella tersenyum.
"Sekarang Bunda sudah punya Bella sebagai anak Bunda," ucap Naina mengusap lembut pipi Bella.
Bella mengangguk dengan senyum mengembangnya. Sungguh, dia bersyukur bertemu dengan Naina.
Dimanapun cintaku berada, semoga kau baik-baik saja. Batin Naina sendu mengingat seseorang yang dulu selalu menjadikannya nomor satu.
......................
Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku
Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹
__ADS_1