Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 115


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah memastikan sudah tidak ada lagi tangis dan isakan dari kamar istrinya, Ibra berjalan menjauhi kamar Dee dan bersembunyi di balik tangga. Dan benar saja, Ibra melihat Dee keluar dan menuju ke dapur. Dalam cahaya yang remang itu, Ibra dapat melihat wajah Dee yang sembab karena menangis. Mata Ibra tidak pernah lepas dari Dee yang sedang mengambil air di dapur.


Setelah selesai mengambil air, Dee kembali ke kamar. Waktu masih menunjukan pukul dua malam. Karena rasa kantuknya Dee kembali melanjutkan tidurnya. Sedangkan Ibra yang sudah memastikan wanitanya masuk kamar dengan selamat, kembali menaiki tangga menuju kamar Kina untuk segera meninggalkan rumah Dee.


Sebelum benar-benar pergi, Ibra mengecup lama dahi Kina. "Abi sangat menyayangi dan merindukan Kina. Tunggu sebentar lagi, Nak. Hari-hari menyenangkan itu akan datang," gumam Ibra pelan.


Setelah puas, Ibra segera berjalan menuju pintu balkon dan kembali mengunci pintu tersebut. Ibra menuruni tangga dengan mulus. Setelah itu dia kembali meletakkan tangga pada tempatnya. Ibra benar-benar terlihat seperti maling yang sangat handal.


.....


Kini Ibra sudah merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Badannya sangat lelah, tapi matanya enggan untuk tidur. Pikirannya terus bekerja tentang apa yang harus dia lakukan besok.


"Apa besok aku datang ke rumah Dee dan menemui mereka langsung? Atau aku akan sembunyi terlebih dahulu dan mencari tahu semuanya? Oh Tuhan, ini lebih sulit dari membuat proposal kerjasama dengan perusahaan terkenal," gumam Ibra frustasi.


"Besok masih hari Jumat, dan Al masih sekolah. Luluh kan dulu hati ke dua anakku, baru setelah itu hati wanitaku," ucap Ibra tersenyum senang.


Dengan senyum mengembangnya, Ibra mencoba untuk menutup mata berharap rasa kantuk itu datang. Badan dan hatinya benar-benar lelah untuk sekarang ini.


.....


Sedangkan di kamarnya, Kina terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup mata indah milik Kina mulai terbuka.


"Apa tadi Ina mimpi Indah? Apa tadi ada olan yan datan?" tanya Kina pada dirinya sendiri. Wajah bingung anak itu nampak sangat menggemaskan dengan rambutnya yang berantakan.


Tak ingin pusing sendiri, Kina kembali tidur karena matanya masih sangat mengantuk. Hingga akhirnya dengkuran halus kembali terdengar dari mulut mungilnya.


.....


Pagi telah menjelang, saat ini Dee tengah disibukkan oleh anak laki-lakinya yang sudah marah-marah dari tadi karena tidak menemukan peci kesayangan yang biasa dia gunakan saat hati Jumat.


"Abang taruh dimana pecinya?" tanya Dee untuk kesekian kalinya.


"Kemaren Al taruh di lemari, Umi. Tapi sekarang nggak ada. Pergi kemana sih?" ucap Al kesal karena tidak kunjung menemukan peci yang dia cari. Semua isi lemarinya keluar karena ulahnya.


"Abang jangan di acak-acak semua, Nak. Bajunya jadi berantakan kan," ucap Dee lembut menasehati Al.


"Tapi pecinya nggak ketemu, Umi," ucap Al yang sudah mulai menangis. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat empat lima. Dan dia masuk pukul tujuh pagi, dan gawatnya lagi, Al tidak bisa jika tidak memakai peci itu waktu hari Jumat.


"Abang pakai peci yang lain aja, ya. Kan sekolah nggak wajib pake peci putih," ucap Dee membujuk Al.


"Abang nggak suka kalau nggak putih, Umi. Yang lainnya cuma warna hitam. Abang nggak mau," ucap Al kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


"Abang mau sekolah atau enggak?" tanya Dee dengan suara tegasnya.


Mendengar suara tegas Uminya, Al segera membalik badan dan menghadap Dee.


"Iya, Umi," cicit Al.


"Sekolah nggak harus pake peci putih, Bang. Semua peci itu sama aja manfaatnya. Abang nggak boleh memaksakan sesuatu di saat seperti ini, yang bisa nanti Abang telat ke sekolahnya," ucap Dee menasehati Al.


Al mengangguk lesu mendengar perkataan Uminya.


"Ini, peci hitam ini juga buat Abang ganteng kok," ucap Dee sambil memasangkan peci hitam tersebut di kepala Al.


Al tersenyum melihat wajah Uminya, walaupun sedikit kesal karena harus memakai peci hitam tersebut, tapi senyum Uminya selalu mengobati rasa kesalnya.


"Terimakasih, Umi," ucap Al.


"Sama-sama, Nak. Sekarang Al turun dan sarapan, ya," ucap Dee mengelus lembut pipi anaknya.


Al menggeleng. "Nggak usah, Umi. Al sarapan di sekolah aja. Nanti telat kalau sarapan di rumah," ucap Al sambil memasang tas di pundaknya.


Dee mengangguk menyetujui perkataan Al. "Ya sudah, disekolah hati-hati dan jangan bandel," ucap Dee menasehati Al sebelum pergi sekolah.


"Iya, Umi. Kalau gitu Al pergi dulu, Umi. Assalamu'alaikum," ucap Al menyalami tangan Dee.


Setelah itu Al keluar kamar dan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.


Lima menit berjalan kaki, Al sampai di sekolahnya. Saat memasuki gerbang, Al berpapasan dengan Pak Anton, Kepala Sekolahnya.


"Assalamu'alaikum, Pak," ucap Al menyalami tangan Pak Anton.


"Waalaikumsalam, Nak," jawab Pak Anton.


"Tumben sekali peci mu warna hitam, Nak?" tanya Pak Anton. Karena setahunya, Al adalah pencinta warna putih. Seluruh murid laki-laki di wajibkan memakai peci di hari Jumat, dan Al tidak pernah memakai peci selain peci berwarna putih.


"Walaupun hitam, Al tetap ganteng kan, Pak?" tanya Al bangga.


"Ya, kau memang tampan, Nak," jawab Pak Anton malas.


"Tentu, tidak seperti bapak, harus selalu pakai peci hitam. Karena kalau pakai peci hitam, wajah bapak nampak cerah kan? Kalau gitu Al pergi dulu, Pak. Assalamu'alaikum," ucap Al berlari meninggalkan Pak Anton yang terbengong mendengar penuturan Al.


Pak Anton mengusap dada sabar dengan sikap muridnya itu. Tapi setelahnya dia tersenyum. "Kau memang anak ajaib, Nak. Kau pandai menyembunyikan luka, dan kau handal membawakan suasana," gumam Pak Anton melihat Al yang berlari menuju kelasnya.


Sejak kejadian di tempat lomba itu, Pak Anton mengetahui masa lalu anak itu walau tak sepenuhnya. Yang dia tangkap, Al memiliki masa lalu yang tak mengenakkan. Dan anak itu tetap tersenyum walaupun hatinya kadang menangis.

__ADS_1


.....


Waktu terus bejalan. Hingga tak terasa jam pulang sekolah telah datang. Al dan teman-temannya tidak langsung pulang, mereka pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan Ibra. Sejak dari pagi Ibra sudah mengikuti Al dari rumah. Ibra juga mendengar saat Al berbicara dengan Kepala Sekolahnya. Ibra tergelak ketika mendengar Al mengerjai Kepala Sekolahnya. Sifat jahil anak itu ternyata masih ada, pikir Ibra.


Ibra memasuki mesjid yang sama dengan Al untuk ikut melaksanakan sholat Jumat. Ibra mengambil posisi bagian belakang untuk menjaga jarak dengan Al.


Tak terasa, waktu sholat Jumat telah selesai. Ibra terus mengikuti Al yang berjalan bersama dengan teman-temannya untuk segera pulang.


Tidak sanggup lagi menahan dirinya, Ibra mendekat dan mencekal tangan Al dari belakang.


Al yang merasa tangannya di pegang seseorang langsung berbalik badan. Mata Al membola ketika melihat Ibra yang memegang tangannya.


"Abi," gumam Al lirih.


"Om siapa? Kenapa pegang-pegang teman kami?" ucap Azka mewakili teman-temannya.


Ibra diam. Dia tidak mendengar perkataan teman-teman Ibra. Mata asik memandangi wajah anaknya dengan tatapan sendu.


"Kalian duluan saja, ya. Aku mau bicara sebentar dengan dia," ucap Al menunjuk Ibra dengan dagunya.


"Apa kau yakin Al?" ucap Azka.


Al mengangguk yakin. "Kalian tenang saja, aku pasti pulang dengan selamat," ucap Al meyakinkan teman-temannya.


Teman-teman Al mengangguk dan berlalu meninggalkan Al dengan Ibra.


Disinilah Al dan Ibra sekarang. Di taman mesjid tempat mereka sholat Jumat.


"Apa yang Abi inginkan?" ucap Al langsung tanpa basa-basi.


"Apa Al tidak pernah merindukan Abi?" tanya Ibra sendu tanpa menjawab pertanyaan Al.


"Sejak Abi mengkhianati Umi, rasa rindu sudah tidak ada di sini, Abi," ucap Al memegang dadanya.


Tapi itu bohong, Abi. Lanjut Al dalam hati. Ingin sekali dia memeluk Ibra. Tapi dia masih belum melihat perjuangan Ibra untuknya, Kina dan Dee.


"Izinkan Abi berjuang, Boy?"


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa kasih semangat buat Abi Ibra ya teman-teman.

__ADS_1


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2