Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 70


__ADS_3

"UMI," teriak Al dan Ibra bersamaan ketika tubuh mereka mulai turun dari perosotan. Senyum mengembang sempurna di bibir mereka.


Dee yang berada di luar pagar melambaikan tangan kearah anak dan suaminya. Dee kagum dengan dua laki-laki yang menjadi nyawa dalam hidupnya. Mereka berdua nampak sangat tampan dengan rambut yang tertiup angin karena main perosotan. Banyak mata yang melihat kagum keluarga kecil itu.


Puas bermain wahana, Al meminta kepada Abi dan Uminya untuk masuk ke kebun binatang. Dengan senang hati Ibra dan Dee menyetujuinya. Karena hari ini adalah hari anaknya.


Sebelum masuk, Ibra memesan tiket lebih dulu. Dia meminta anak dan istrinya untuk duduk di kursi yang ada di sana. Setelah selesai memesan tiket, Ibra langsung menemui Dee dan Al untuk mengajak mereka masuk ke Kebun Binatang.


"Waah, anak monyetnya manja, Abi," ucap Al menunjuk monyet beserta anaknya yang ada di kandang.


"Sama kayak Al yang manja sama, Umi."


"Beda Abi, itu Monyet."


"Tapi sama manja kayak Al."


"Iih. Umi, Abi bilang Al anak Monyet," ucap Al mengadu pada Uminya.


Dee melototkan matanya kepada Ibra. Bisa-bisanya suaminya ini mengatakan anaknya sendiri anak monyet.


Ibra hanya tergelak tanpa dosa melihat raut wajah istrinya. Terlihat sangat menggemaskan bagi Ibra. Jika saja di sini tidak ramai, Ibra sudah melahap istrinya saat ini juga.


Setelah melewati kandang Monyet, Keluarga kecil itu berhenti di kandang Jerapah. Dengan ide jahilnya Ibra menggendong tubuh Al. Al yang merupakan anak polos sangat senang digendong Abinya. Kakinya juga sudah capek berjalan terus dari tadi.


Ibra mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga tubuh Al yang berada di gendongannya sedikit masuk ke kandang Jerapah yang hanya dibatasi besi besar.


"AAAAA ABI," teriak Al takut karena Jerapah itu mendekat kearahnya. Ibra semakin mencondongkan tubuhnya. Dia senang mengerjai anaknya.

__ADS_1


"AAAA ABI, AL TAKUT ABI. JELAPAHNYA KESINI, ABI," teriak Al ketakutan.


Jerapah tersebut sudah mendekat, kepalanya hampir sejajar dengan kepala Al. Karena kandang Jerapah berada sedikit di bawah, hingga kepala Jerapah bisa menyamai pengunjung.


"ABI, HIKS, ABI AL TAKUT, ABI," teriak Al menangis kencang karena ketakutan.


"HIKS, HIKS ABI. MAU PULANG, HIKS ABI," ucap Al memohon kepada Ibra.


Ibra semakin semangat mengerjai anaknya. Dee yang melihat itu merasa kasihan kepada anaknya. "Udah, Mas. Anaknya udah ketakutan."


"Ini menyenangkan, Sayang," jawab Al santai kepada Dee.


"Hiks, Umi mau pulang. Nggak mau disini. Mau pulang, hiks, takut," ucap Al mengadu kepada Dee. Kepala Jerapah itu sudah ada didekatnya.


"AAAA ABI, AL TAKUT ABI. HIKS, ABI," teriak Al menangis kepada Ibra. Wajah anak itu sudah memerah karena menangis. Pipinya penuh dengan air mata.


"Hiks, Al mau pulang. Nggak mau lagi di Zoo. Hiks, mau pulang Abi. Hiks, hiks," ucap Al terisak meminta pulang kepada Abinya.


Al beralih menatap Uminya. Al merentangkan tangan meminta agar Dee menggendongnya.


"Mau pulang hiks, Umi. Nggak mau hiks lagi di hiks Zoo," ucap Al sesegukan kepada Dee.


Ibra tertawa senang telah mengerjai anaknya. Dee yang melihat kelakuan Ibra menatapnya tajam.


"Hahaha, abisnya seru, Sayang," ucap Ibra tanpa dosa kepada istrinya.


Dee benar-benar kesal dengan suaminya. Sudah tahu anaknya takut masih saja dikerjai. Setelah Al sudah mulai tenang, Ibra mengajak anak dan istrinya untuk makan.

__ADS_1


Ibra memilih untuk makan di salah satu warung pinggir jalan yang ada di sana.


"Nggak mau lagi kesini, Umi. Jelapahnya jahat," ucap Al mengadu kepada Uminya.


"Abi juga jahat!" ucap Al memandang Abinya kesal.


"Kita uji nyali, Boy," ucap Ibra santai.


Al mendengus kesal mendengar perkataan Abinya. Dia masih kecil dan dibilang uji nya oleh Abinya. Benar-benar menyebalkan, pikir Al.


Setelah selesai makan, Al meminta kepada Abi dan Uminya untuk pergi ke taman bermain. Dia Ingin bermain bersama dengan teman-teman baru yang mungkin mau berteman dengannya.


Dee dan Ibra duduk di kursi yang ada di teman sambil memperhatikan Al yang asik bermain.


"Terimakasih, ya, Mas," ucap Dee menggenggam tangan Ibra yang duduk di sebelahnya.


Ibra menoleh, "untuk apa, Sayang?" tanya Ibra heran.


"Karena sudah menciptakan senyum bahagian untuk aku dan Al," ucap Dee dengan senyum tulus.


"Tidak ada terimakasih. Ini tugas aku sebagai suami untuk kamu dan Abi untuk Al," ujar Ibra merangkul bahu Dee.


"ABI, HIKS."


Ibra dan Dee kaget mendengar Al yang menangis kencang di tempat bermainnya.


......................

__ADS_1


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹


__ADS_2