Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 178


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Bunda, dia meminta Bella menjadi Istrinya."


BRAAK


DEG


Bella, Bram dan Naina menoleh ketika mendengar suara benda jatuh dari arah pintu. Mata Bella membulat sempurna melihat Al yang berdiri mematung di ambang pintu bersama Dee, Ibra dan Aska.


Bella langsung berdiri begitu juga dengan Naina dan Bram.


"Al," ucap Bella lirih.


"Assalamu'alaikum, Bel," ucap Al mencoba tersenyum.


"Waalaikumsalam, Al," jawab Bella dengan wajah sendunya. Dia yakin Al pasti mendengar apa yang tadi dia bicarakan bersama Naina dan Bram. Terbukti dari tas ransel Al yang tergeletak di lantai setelah Bella mengucapkan apa yang tadi dia katakan.


"Al mau bicara berdua sama Runa," ucap Al pada mereka semua dengan pandangan yang tak lepas dari wajah cantik Runa.


Mereka semua saling pandang. Hingga akhirnya Ibra mengangguk pada semuanya.


"Jangan pernah mengambil keputusan disaat emosi, Nak," ucap Dee lembut kepada Al dan Bella. Setelah itu dia berjalan keluar menyusul Ibra dan Aska yang sudah lebih dulu keluar ruangan.


Naina memegang bahu Bella sebelum keluar. "Kata hati akan membawa kamu pada kebahagiaan, Nak," ucap Naina. Setelah itu dia berjalan keluar diikuti Bram dari belakang.


Kini diruangan itu hanya ada Al dan Bella.


"Apa kabar Runa?" tanya Al lembut.


"Baik Al," jawab Bella dengan segala kegugupannya.


Al tersenyum kecut. Bahkan Bella tidak berbalik menanyakan kabarnya.


"Apa kamu merindukan aku, Runa?" tanya Al lagi.


Bella menggeleng. Gerakan kepalanya sangat bertolak belakang dengan teriakan hatinya yang mengatakan bahwa dia sangat merindukan lelaki didepannya ini.


Lagi-lagi Al hanya tersenyum kecut melihat jawaban Bella. "Kamu begitu berusaha untuk menjawab tidak, Runa. Padahal mata dan hatimu berkata lain," ucap Al menatap dalam mata Al.


Runa mengalihkan pandangannya dari Al. Dia berharap Al tidak melihat air bening yang keluar dari sudut matanya.


Al berjalan agar lebih dekat dengan Bella. Bella berjalan mundur ketika Al mendekatinya.


Hati Al sakit sekali. Bahkan sangat sakit. Bella membalas setiap perkataan kasarnya dulu dengan sikapnya.


"Apa penolakan yang dulu aku berikan begitu menyakitkan hingga kamu menghindar, Runa?" tanya Al.


"Tidak Al. Lagi pula tidak ada yang salah dengan sebuah penolakan. Itu hakmu untuk bisa memilih hidup yang lebih baik bersama orang pilihanmu," jawab Bella mencoba tersenyum.


"Benar sekali, Runa. Dan sekarang pilihan itu sudah ada digenggaman ku," ucap Al memandang lekat Runa.


Hati Bella sakit. Rasanya sangat sesak sekali. Penolakan dari Papanya bahkan tidak pernah sesakit ini.


Bella mencoba tersenyum menatap wajah Al. "Selamat, Al. Semoga kelak kau bahagia," ucap Bella.

__ADS_1


Al mengangguk. "Aku bahagia jika kau bahagia. Kita akan bahagia bersama," jawab Al.


"Runa, mari menikah," lanjut Al tanpa ingin banyak drama yang tercipta diantara mereka. Rasanya dia lelah jika terus-terusan seperti ini.


Bella langsung menatap Al dengan dalam. "Aku sudah memiliki pilihan, Al," jawab Bella.


"Dan itu Aku," jawab Al yakin.


"Kau berhak berbicara, Al," ucap Runa.


"Dan apa yang aku bicarakan, itu yang akan menjadi kenyataan. Kita akan menikah, Runa!" ucap Al tegas.


"Apa sekarang kamu yang memegang takdirku, Al?" tanya Runa.


Al menggeleng. "Bukan aku yang memegang takdirmu. Tapi takdirmu adalah hidup bersamaku," jawab Al.


"Kemana perginya Albarra yang dulu begitu menghinaku?" tanya Runa yang dapat menusuk Hati Al dengan sangat dalam.


Al terdiam mendengar perkataan Bella. Dia sadar, ucapannya dulu sangat melukai hati Bella. Bahkan dia mendahului Allah dalam menilai salah satu hamba-Nya.


Bella tersenyum getir melihat Al yang terdiam. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Al. Kamu bisa hidup dengan pilihanmu, dan aku akan bahagia dengan pilihanku, Al," ucap Bella berjalan meninggalkan Al.


Namun langkah Bella terhenti ketika Al menahan lengan Bella yang melewatinya.


"Satu hal yang pasti, kita akan menikah bagaimanapun keadaannya," ucap Al menatap Bella tajam.


Bella melepaskan tangan Al dari lengannya. Lalu Bella menggeleng sambil menatap Al. "Aku sudah punya pilihanku sendiri, Al," jawab Bella.


"Ustad yang tadi kau sebutkan?" tanya Al.


Bella mengangguk. "Dia akan membimbingku ke jalan yang lebih baik," jawab Bella.


Bella menggeleng. "Tidak, Al. Jadilah diri sendiri. Jangan memaksakan diri untuk menjadi yang lebih baik menurut orang lain," jawab Bella.


"Lalu kenapa kamu memilihnya daripada aku, Runa?" tanya Al.


"Hatiku memilihnya," jawab Runa.


"BOHONG!" teriak Al yang membuat Bella terkejut mendengar suara Al yang menggelegar dalam ruangan itu. Beruntung ruang tersebut kedap suara, jadi mereka yang menunggu diluar tidak mendengar suara Al.


"Kamu mengatakan itu hanya untuk menghindari aku, Runa. Jangan menjadi orang munafik untuk mempertahankan harga dirimu," jawab Al.


"Berbicaralah sesuatu apa yang hatimu katakan, Runa!" lanjut Al.


Bella terkesiap melihat Al yang tegas seperti ini. Tidak pernah sebelumnya dia melihat sosok lain dari diri Al yang seperti ini.


"Tapi itu pilihan hatiku, Al," jawab Bella kekeuh.


BRAK.


Al menendang meja yang ada disebelahnya. Meluapkan emosi yang sejak tadi dia tahan. Bagaimanapun juga, Al tetap seorang lelaki biasa yang memiliki batas sabar.


Bella beringsut mundur ketika Al menendang meja tersebut. Matanya berkaca-kaca melihat Al yang seperti ini. Sungguh, bukan maksudnya membuat Al menunjukkan sisi lainnya.


Al memejamkan mata dengan tangan yang terkepal kuat. "Jangan menguji kesabaranku, Runa," ucap Al pelan.

__ADS_1


"Izinkan aku pergi, Al," ucap Runa pelan.


"Tidak sebelum kamu mengatakan iya untuk menikah denganku," ucap Al.


"Sudah aku katakan bahwa aku tidak memilihmu. Hidupku bukan denganku, aku sudah memiliki pilihan sendiri. Aku yakin seorang ustad bisa membimbingku. menjadi orang yang lebih baik," ucap Runa menatap Al berani.


"PERSETAN DENGAN PROFESI DIA SEBAGAI USTAD, RUNA!" ucap Al membentak Bella.


Air mata Bella jatuh begitu mendengar Al yang meninggikan suaranya. Bella berjongkok didepan Al menutup wajah dengan kedua tangannya. Menyembunyikan tangis yang sejak tadi dia tahan.


Al memejamkan matanya sebentar menahan segala emosinya. Entahlah, kali ini Al tidak bisa menahan luapan emosinya.


Dia tidak percaya bahwa profesi akan menunjukkan bagaimana sifat seseorang. Dia tidak suka Bella selalu menyebut lelaki pilihannya itu yang merupakan seorang Ustad. Al memiliki pengalaman yang tidak mengenakan dengan seorang Kiyai dimasa lalunya yang menyebabkan di harus berpisah dengan Abinya sendiri.


Al ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Bella.


"Runa, aku tidak bermaksud membentakmu. Mari kita menikah, Runa. Aku tahu, kamu belum menjawab ajakan dari Ustad itu kan? Turuti kata hatimu Runa," ucap Al lembut.


"Kamu membuatku takut, Al," ucap Bella dengan suara bergetar.


"Maaf," ucap Al menyesal.


Bella mengangkat kepalanya menatap mata Al yang sudah memerah.


"Aku tidak bisa, Al," ucap Bella pelan.


Sungguh, Al tidak percaya ini. "Aku harus bagaimana lagi untuk membuatmu bisa menerimaku, Runa?" tanya Al frustasi.


"Cari wanita yang lebih suci, Al."


"Berhenti menyuruhku mencari wanita yang lebih suci, Runa. Kamu adalah wanita pilihanku," jawab Al.


"Tapi Aku tidak mau, Al. Aku tidak bisa," ucap Bella memandang Al lekat.


Tubuh Al terasa lemas melihat Runa yang berkata sangat yakin kepadanya. "Kenap Runa?" jawab Al lirih.


Bella diam. Dia menunduk dalam menyembunyikan air mata kepedihannya.


"Aku bahkan rela ke Inggris untuk meminta restu Papamu, Runa. Aku memperjuangkan kebahagiaan mu. Aku memperjuangkan hakmu sebagai seorang anak, Runa. Aku memperjuangkan keinginan hatimu menjadi seorang muslim yang baik, Runa. Berharap restu Papamu akan membawa restu Allah untuk ikut meridhoi kita, Runa. Tapi apa semua itu akan sia-sia, Runa?" ucap Al pilu.


Bella tersikap mendengar penuturan Al. Jadi masa depan yang dimaksud Al itu adalah dirinya sendiri? Air mata Bella kembali jatuh mengingat bagaimana keadaanya. Sekarang dia mengerti, Al sangat pantas mendapat yang lebih baik daripada dirinya.


"Tapi aku tidak pantas untukmu, Al. Aku tidak pantas," ucap Bella


"Apalagi masalahnya Runa? Aku tahu kesalahanku sangat menyakitkan karena telah menghinamu, Runa. Aku menyesal," ucap Al mencoba meyakinkan Runa dengan air bening yang sudah menganak sungai di pelupuk matanya.


Bella menggeleng dengan tangisnya. "Maaf, Al. Aku tidak bisa, aku tidak pantas," ucap Bella sendu.


"Kenapa Runa? Jawab aku kenapa Runa? JAWAB RUNA!"


"KARENA AKU SUDAH BUKAN SEORANG GADIS, AL!"


......................


Maksud Bella apa ya????? 😱😱😱

__ADS_1


Jangan lupa kasih aku like, komentar, dan votenya juga yaa. Mau kasih bunga juga nggak papa. Bukti kalian cinta aku, karena Aku sayang kalian semua 🌹🌹😚🤗


Terimakasih selalu nungguin part demi part novel ini ya, jangan bosan-bosan 🤗🤗🌹


__ADS_2