
🌹HAPPY READING🌹
Naina yang melihat kedatangan sahabat lamanya senang bukan main. Sahabat yang selalu menganggapnya sebagai seorang adik dan selalu melindunginya.
"Kevin," panggil Naina lirih.
Kevin yang mendengar namanya dipanggil menoleh ke sumber suara.
"Naina," balas Kevin.
Naina tersenyum senang dan berhambur ingin memeluk sahabatnya itu. Tapi langkahnya terhenti karena Bram menahan tubuh Naina.
"Bukan Muhrim, Sayang," ucap Bram. Tidak ada yang salah dengan apa yang dia katakan, tapi sebenarnya bukan karena itu dia melarang Naina. Tentu saja dia tidak rela Naina memeluk lelaki lain. Meskipun itu Kevin sekalipun.
"Ck, Naina sudah seperti adikku, Om," ucap Kevin.
Bram hanya diam. Tangannya terus memeluk erat pinggang Naina.
Puas melepas rindu dan saling menanyakan kabar, Dee mengajak mereka semua untuk masuk dan berkumpul di ruang tamu.
Dee merasakan ada yang aneh dengan sikap suaminya. Karena disaat semuanya berkumpul di ruang tamu dengan canda tawa dan obrolan ringan, Ibra hanya diam dan sesekali menyahuti.
Aku akan menanyakan nanti. Batin Dee. Dia tidak ingin mengganggu suasana hangat yang tercipta saat ini.
Dee memperhatikan satu persatu anggota keluarganya. Ini adalah kebahagiaan yang sangat nyata. Dulu dia hidup dengan banyak air mata dan luka, tapi sekarang, senyum dan tawa mewarnai hari-harinya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bram memilih untuk mengajak Naina pulang kerumahnya yang berjarak beberapa rumah saja dengan rumah Ibra. Dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Sedangkan Bima memilih kembali ke rumahnya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama kenangannya. "Al, malam ini aku ikut Papa boleh, ya?" pinta Bella memohon kepada Al.
Al menghela nafas kasar. "Kita nginap di rumah Papa Bima," jawab Al tersenyum lembut. Dia akan melakukan apapun untuk istrinya sekarang. Dia tidak ingin berpisah dengan istrinya itu. Yang benar saja, ini harus menjadi malam pertama mereka, masa harus berpisah.
Bella tersenyum senang dan mengangguk. Setelah pamit pada Ibra dan Dee, mereka pergi ke rumah Bima yang berada disebelah rumah Ibra.
"Umi, kenapa semuanya pulang sih?" ucap Kina kesal karena merasa rumahnya sudah sepi.
"Mereka punya privasi masing-masing, Nak," jawab Dee.
"Kak Zahra, tidur disini sama Kina, ya. Jangan ikut Uncle Kevin sama Bunda Sofia pulang," bujuk Kina merengek kepada Zahra.
Zahra mendongak menatap Kevin dan Sofia. "Ayah, Bunda, Ara tidur sama Adek, ya," ucap Zahra.
Kevin mengangguk dan tersenyum. "Iya, Sayang," jawab Kevin.
Kina san Zahra bertos senang mendapat izin dari Kevin.
"Ib, gue balik dulu," ucap Kevin. Dia dan Sofia akan pulang ke rumah mereka yang sudah lama tidak mereka tempati.
"Hati-hati, Vin," jawab Ibra.
__ADS_1
Kevin mengangguk. "Assalamu'alaikum," ucap Kevin dan Sofia.
"Waalaikumsalam," jawab Ibra, Dee, Kina dan Zahra.
Setelah itu mereka semua memasuki rumah dan bersiap untuk istirahat.
"Adek, kita tidur di kamar bawah aja, ya," ucap Zahra. Karena dia tidak mungkin menaiki tangga dengan kursi rodanya. Mengingat dirumah Ibra tidak disediakan lift. Berbeda dengan rumahnya yang ada di Turki, Kevin memfasilitasi lift dirumah mereka demi kemudahan anaknya.
"Biar Abi gendong," ucap Ibra langsung mengangkat Zahra.
Zahra hanya pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Ibra. Sedangkan Kina dan Dee mengikuti langkah Ibra disisi kanan dan kirinya.
.....
Kini Dee dan Ibra sudah berada di kamar mereka. Dee menunggu suaminya yang masih berada dikamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Lima belas menit, Ibra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kamu mandi malam-malam gini, Mas?" tanya Dee.
"Iya, Sayang. Gerah," jawab Ibra sambil berjalan ke walk in closet untuk memakai pakaian tidurnya.
"Ini nggak kayak biasanya," gumam Dee heran melihat tingkah suaminya.
Dee bangun dan mengikuti Ibra ke walk in closet.
"Mas," panggil Dee.
"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Dee tak tahan melihat tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya.
Ibra tersenyum dan menatap Dee. "Aku nggak apa, Sayang," jawab Ibra lembut.
"Bohong," jawab Dee cepat.
Ibra menghela nafas pelan. Setelah itu mendorong tubuh istrinya dari belakang. "Kita tidur yuk. Udah malam," ucap Ibra.
Dee pasrah. Dia menuruti Ibra yang menggiringnya menuju kasur. Dee merebahkan tubuhnya di kasur dan disusul Ibra disebelahnya.
Dee masuk kepelukkan Ibra dan membenamkan kepalanya di dada bidang Ibra. "Mas, usap-usap aku, ya. Udah lama banget nggak diusap-usap kamu," ucap Dee manja pada suaminya.
Ibra terkekeh pelan mendengar permintaan manja istrinya. "Makin tua, istri aku makin manja," ucap Ibra.
"Aku nggak tua, tau. Cuma udah berumur aja. Sama kayak kamu," jawab Dee.
Tangan Ibra mengusap lembut punggung Dee. Setalah beberapa menit, terdengar dengkuran halus dari mulut Dee. Ibra yang melihat istrinya sudah tertidur melepaskan pelukannya. Ibra bangun dan berjalan menuju balkon. Menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya.
Banyak hal yang terjadi hari ini. Ada sedih dan bahagia yang dia rasakan.
Al menikah dengan seorang wanita yang bahkan bukan seorang gadis. Apa ini karma karena dulu aku menyakiti hati istriku? Batin Ibra sedih. Dalam hati kecilnya, dia sangat berharap Al mendapat yang terbaik.
__ADS_1
Semua orang dimasa lalu kembali. Tuhan, satu pintaku, jangan sampai kejadian masal lalu juga kembali terulang. Batin Ibra sendu sambil menutup matanya. Tak terasa setitik air bening keluar dari sudut mata Ibra.
Ibra tersentak kaget saat merasakan tangan melingkar di pinggangnya. Ibra berbalik dan mendapatkan Dee yang tengah memeluk punggungnya.
"Kenapa bangun, Sayang?" tanya Ibra.
"Mas, ada apa?" tanya Dee langsung tanpa basa-basi.
"Tidak ada apa-apa, Sayang," jawab Ibra.
"Mas, jangan bohong," ucap Dee menatap dalam suaminya.
"Ini apa?" tanya Dee ketika menghapus air bening disudut mata Ibra.
"Sayang," ucap Ibra lembut.
"Apa ini semua karma atas perbuatan aku dimasa lalu?" tanya Ibra sendu.
"Karma apa, Mas?" tanya Dee bingung.
Ibra berbalik dan menatap langit malam. Dee ikut berdiri di samping suaminya dan menatap Ibra dari samping.
"Al harusnya bisa mendapat wanita yang lebih baik, Sayang," ucap Ibra. Hati kecilnya sangat berharap akan itu.
"Mas, jangan bicara gitu," ucap Dee.
"Apa ini akibat dari perbuatan aku dulu yang menyakiti kamu, Sayang?" ucap Ibra.
"Mas, liat aku!" ucap Dee tegas.
Ibra memandang dalam mata teduh istrinya. "Mas, ini sudah sangat lama. Bahkan anak-anak sekarang sudah besar, Mas," ucap Dee.
"Tapi Sayang-"
"Tidak ada tapi, Mas. Aku sama Al juga udah ikhlas sama semuanya. Kamu harus memaafkan diri kamu sendiri. Berdamai sama masa lalu, Mas," ucap Dee.
"Mas, jangan sampai kamu menyesali pernikahan anak kamu, Mas," lanjut Dee.
Ibra menggeleng. "Aku tidak menyesal, Sayang. Aku bahagia melihat Al bahagia bisa menikah dengan orang yang dia cintai," jawab Ibra.
"Lalu apa yang kamu masalahkan?" tanya Dee.
Ibra mengalihkan pandangannya ke langit malam. "Orang-orang masa lalu sudah kembali. Aku hanya takut semuanya kembali terjadi," ucap Ibra sendu. Tak setetes air mata jatuh di pipi Ibra.
Tangan Dee terulur menghapus air mata suaminya. "Mas, mereka memang kembali. Naina, Om Bram, Sofia, mereka memang orang yang sama. Tapi mereka kembali dengan jiwa dan hati yang baru. Mereka sudah berubah, Mas," ucap Dee mencoba memberi pemahaman kepada Ibra.
Ibra menoleh kepada Dee. "Melihat Zahra yang sampai saat ini masih di kursi roda, membuat hati aku sakit. Melihat Kina yang selalu menganggap aku lelaki terbaik, aku rasanya tidak pantas, Sayang," ucap Ibra sendu.
"Abi."
__ADS_1
......................