Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 152


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Di Indonesia, waktu masih menunjukkan siang hari. Ibra sedang bermanja-manja dengan sang istri tercinta di depan televisi. Kina, gadis cantik yang sudah berusia tujuh belas tahun itu berdecak kesal melihat Abinya.


"Abi, awas dong. Ina mau tidur dipangkuan Umi," rengek Kina berusaha menjauhkan tubuh Al dari Dee.


"Kamu udah besar nggak boleh manja, Nak," ucap Ibra dengan terus memeluk erat pinggang Dee. Dee hanya diam mendengarkan perdebatan Anak dan Abi itu. Ini adalah hal yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari Dee.


Dee yang tadi hanya fokus pada siaran televisi menoleh mendengar rengekan Kina.


"Umi," ucap Kina merengek.


"Mengalah sama anak, Abi," ucap Dee memperingati Ibra.


"Masih ada sisi yang satunya lagi, Sayang. Adek aja yang berlebihan," ucap Ibra menepuk pelan paha Dee yang bebas dari kepalanya.


"Adek nggak berlebihan, Abi. Awas," ucap Kina manja. Gadis itu memang tumbuh menjadi anak yang manja. Kasih sayang yang sangat berlimpah dari Abi, Umi dan Abangnya membuatnya tumbuh menjadi pribadi manja. Tapi Kina juga bisa menjadi anak dewasa saat waktu yang tepat. Ketegasan Abi dan Abangnya mengajarinya untuk ikut tegas dan bisa mengikuti alur hidup sesuai kondisi dan situasinya.


Ibra memilih mengalah dan mendudukkan badannya disebelah Dee. Melihat Ibra yang mengalah, Kina langsung merebahkan kepalanya di paha Dee. Tangan Kina melingkar erat di pinggang Uminya.


"Dasar manja," cibir Ibra.


"Biarin, wle," ucap Kina meledek Ibra.


"Umi, Abang kapan pulang?" tanya Kina sendu. Dia sangat rindu kepada Al.


"Nanti kalau pulang pasti Abang kasih kabar, Nak," ucap Dee lembut mengusap rambut tebal Kina yang tidak tertutup hijab.


"Kapan Umi? Lama banget," ucap Kina dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Ibra yang melihat anaknya akan menangis langsung mengeluarkan suara. "Anak Abi jangan cengeng. Nanti Kina juga akan melakukan hal sama kayak Abang," ucap Ibra mengusap air mata di pipi Kina.


"Adek?" tanya Kina menunjuk dirinya sendiri.


Ibra mengangguk. "Saat Adek sudah menikah nanti, Adek akan ikut suami dan ninggalin Abi sama Umi," ucap Ibra.


"Kalau gitu Adek nggak mau nikah," ucap Kina enteng.


Pletak.


Satu sentilan mendarat di dahi Kina.

__ADS_1


"Sakit, Abi," ucap Kina cemberut mengusap dahinya.


"Menikah itu ibadah yang harus kita segerakan, Nak. Menikah itu menyempurnakan agama kita," ucap Ibra.


"Kalau begitu Adek akan minta suami Adek untuk tinggal bareng Umi, Abi dan Abang," jawab Kina enteng.


"Tidak seperti itu konsepnya, Nak. Menikah tidak semudah itu. Saat Adek sudah menikah nanti, maka surga Adek ada pada suami Adek. Kemanapun dan apapun keputusan suami Adek, Adek harus mematuhinya. Dosa besar jika sang istri tidak menuruti perkataan baik suaminya," ucap Dee menjelaskan.


Kina tampak berpikir, jari telunjuk gadis itu mengetuk-ngetuk dagunya. Ibra yang gemas dengan tingkah anaknya langsung mencium dahi Kina.


"Tapi sekarang Adek belum mau menikah, jadi kita lanjutkan pembicaraan nanti. Oke Umi," ucap Kina menunjukkan jarinya membentuk huruf O.


Dee tergelak melihat tingkah anaknya. "Umi sayang banget sama Adek dan Abang," ucap Dee mengusap lembut pipi anaknya.


"Sayang," rengek Ibra manja mendengar Dee tidak menyebut namanya.


Dee tersenyum kepada Ibra. "Sama Abi juga," ucap Dee mengusap pipi Ibra dengan sebelah tangannya.


"Abi lebih sayang kedua bidadari dan satu pangeran Abi," jawab Ibra mengecup dahi Dee dan Kina secara bergantian.


"Abi ke ruang kerja dulu, ya. Ada sedikit kerjaan untuk Al," ucap Ibra berlalu pergi.


.....


"Abi benar-benar keterlaluan. Apa Abi lupa kalau disini sudah malam, masih saja memberi pekerjaan," gerutu Al.


Al tampak mulai fokus dengan laptop dipangkuannya. Walaupun dia menggerutu kesal, tapi Al tetap melaksanakan perintah Ibra.


Meskipun Al baru menyelesaikan pendidikannya, tapi Ibra sudah mengajarkan bisnis kepadanya sejak masih duduk di bangku SMA. Abi kesayangan Al dan Kina itu benar-benar mendidik Al untuk melanjutkan perusahaan.


Pernah Dee meminta Ibra untuk membiarkan Al menikmati masa mudanya terlebih dahulu, tapi Ibra malah menjawab dengan santainya. "Al nggak keberatan kok, Sayang. Ini semua demi kamu juga biar waktu untuk bermesraan terus sama aku jadi lebih banyak," alasan yang selalu diucapkan Ibra. Semakin tua Ibra malah semakin manja kepada Dee.


Disaat Al sedang sibuk dengan kerjaannya, terdengar pintu apartemennya terbuka.


"Hai, Al," panggil kedua teman Ibra yang berbeda jenis itu.


"Tumben kesini malam-malam, mau ngapain?" tanya Al kembali fokus pada layar laptopnya.


"Udahlah Al, kita rayain kelulusan dulu. Jangan kerja terus," ucap teman wanita Al.


"Ini masih sedikit lagi, Bel," ucap Al pada temannya yang dia panggil Bella.

__ADS_1


"Kita bawa cemilan banyak, Al," ucap teman lelaki Al.


"Hem," jawab Al singkat.


Al memang memiliki sahabat disini, Bella dan Aska. Aska adalah teman Al dulu sewaktu tinggal di Kota Padang. Takdir mempertemukan mereka kembali saat kuliah. Bahkan Al dan Aska juga kuliah dengan jurusan yang sama.


Sedangkan Bella? Setahu Al dan Aska, Bella sudah sejak kecil tinggal di Inggris, tapi dia sering ke Indonesia mengunjungi saudaranya. Bella merupakan teman Al yang dia ketahui beragama Non Muslim. Al tidak banyak tahu, hanya itu saja yang dia tahu. Al memang berteman dengan siapa saja. Sesuai dengan perkataan Uminya 'Kamu boleh berteman dengan siapa saja, Nak. Tapi jangan pernah ikuti kepribadiannya' nasehat yang selalu Dee berikan kepada anak-anaknya.


"Kok bisa barengan kesini?" tanya Al setelah pekerjaannya selesai.


"Tadi gue jemput Bella dulu di lantai bawah. Kan satu gedung sama Lo," ucap Aska.


Al hanya mengangguk mendengar jawaban Aska.


"Kapan balik ke Indonesia, Al?" tanya Bella.


Al menggeleng. "Belum tahu, Bel," jawab Al.


"Masih mencarinya?" tanya Aska.


Al mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Aska. Aska dan Bella memang mengetahui mengenai gadis yang dicari Al, karena Al juga meminta bantuan Aska dan Bella.


"Kamu benar-benar lelaki setia, Al. Beruntungnya wanita itu," ucap Bella.


Al tersenyum. "Ada janji yang harus aku tepati, Bel," jawab Al.


"Jika tidak mampu, kita boleh untuk menolaknya, Al," ucap Bella.


Al menggeleng. "Lelaki itu yang dipegang omongannya, Bel. Dan janji itu sudah terucap, jadi aku harus memenuhinya," jawab Al.


Bella hanya mengangguk dan tersenyum. "Semoga gadismu itu cepat datang, Al," ucap Bella.


Al mengangguk menjawab perkataan Bella. Mereka melanjutkan pembicaraan dengan mengobrol ringan. Hingga suara adzan keluar dari ponsel Al.


"Bel, As, gue sholat dulu," ucap Al pamit.


"Gue juga, Al," ucap Aska ikut berlari menuju Al yang sudah berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Bella yang melihat punggung Al dan Aska yang menghilang dibalik pintu kamar Al hanya tersenyum sendu. Hatinya terasa sesak setiap kali mendengar Adzan berkumandang dari ponsel Al.


......................

__ADS_1


Dukung aku dengan like, vote dan komentarnya. Aku sayang kalian, Terimakasih 🌹🥰🤗


Jangan lupa juga baca novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO."


__ADS_2