Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 127


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Hari ini adalah hari dimana Dee dan Ibra akan resmi kembali menjadi sepasang suami istri. Pernikahan akan dilaksanakan di rumah Dee. Tenda pernikahan telah berdiri dengan hiasan yang indah di halaman rumah Dee.


Pernikahan hanya dihadiri oleh tetangga terdekat dan para karyawan yang bekerja di Toko Dee. Sedangkan dari pihak Ibra hanya di wakili oleh wali hakim. Ibra sengaja belum mengabari keluarganya di Jakarta, katanya ingin memberi kejutan untuk Papa dan Mamanya.


Saat ini Dee sedang berada di dalam kamarnya bersama dengan perias pengantin yang telah dia sewa. "Wah, Kakak Dee tetap cantik meski nikah untuk yang ke dua kalinya, ya," ujar perias tersebut kagum melihat kecantikan Dee.


Dee tersenyum lembut kepada perias pengantin tersebut. "Ini karena sentuhan tangan kamu," jawab Dee.


"Hehe kalau itu pasti Kak Dee. Tapi Kakak benar-benar cantik loh. Pasti bapaknya anak-anak akan kagum dan makin cinta sama Kakak," ucap perias tersebut. Dia memang mengetahui bahwa Dee akan menikah kembali dengan mantan suaminya dulu. Karena perias Dee kali ini cukup dekat dengan Dee. Dia merupakan salah satu pelanggan di Toko Dee.


Saat asik bercerita dan bercanda, pintu kamar Dee terbuka. Terlihat tubuh mungil yang sangat cantik dengan pakaian yang sama dengan Uminya, tapi ini versi kecil. Siapa lagi kalau bukan si imut Sakinah.


"Umi," panggil Kina bahagia.


"Wah anak Umi cantik banget," ucap Dee melihat Kina.


Kina tersenyum malu mendapat pujian dari Uminya. "Timakaci, Umi," ucap Kina.


Anak itu berjalan mendekati Dee. Kina menyuruh Dee sedikit membungkuk dan mendekatkan mulutnya ke telinga Dee. "Di bawah, Abi canat tampan, Umi," ucap Kina berbisik, tapi masih bisa didengar oleh perias wajah yang berdiri di sebelah Dee.


Perias wajah tersebut tersenyum dan sedikit terkekeh mendengar perkataan Kina. Sedangkan Dee, wajahnya semakin merona.


Sedangkan di ruang tamu, Ibra berusaha mengurangi rasa gugupnya. Al yang melihat Abinya gugup langsung menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Ibra.


"Abi gugup?" tanya Al.


Ibra tersenyum dan mengangguk kepada Al. "Suatu saat kamu juga akan merasakan kegugupan ini, Boy," ucap Ibra.


"Masih sangat lama, Abi," jawab Al ketus. Karena jawaban yang dia inginkan tidak sesuai dengan yang diberikan Ibra.


"Haha jodoh tidak ada yang tahu, Boy," ucap Ibra.


Al memalingkan wajahnya dari Ibra. Pikirannya kembali mengingat teman lama yang sudah lama tidak pernah bertemu. Kenzo, Kinzi sama Alania sekarang apa kabar, ya? Batin Al merindukan teman-temannya dulu di Jakarta. Anak itu tampak sangat tampan dengan pakaian yang sama dengan Ibra. Kemeja putih dan jas hitam. Mereka seperti dua manusia kembar dengan usia yang berbeda.

__ADS_1


"Bisa kita mulai, Nak Ibra?" tanya penghulu kepada Ibra. Al yang mendengar suara Penghulu langsung memutuskan khayalannya.


Ibra mengangguk pasti. "Bisa, Pak," jawab Ibra.


"Silahkan Nak Adam dan Nak Ibra saling berjabat tangan," ucap Penghulu menginstruksi Adam dan Ibra. Kali ini Adam yang akan menikahkan Ayang nya sendiri.


Ibra dan Adam saling berjabat tangan. Adam tersenyum mengejek ketika merasakan tangan Ibra yang dingin dan basah karena keringat. Sedangkan Ibra yang melihat senyuman mengejek Adam hanya menatap sinis .


"Silahkan dimulai, Nak Adam," ucap Penghulu.


Adam mengangguk dan menatap Ibra. "Saudara Ibrahim Rubino Hebi, saya nikah dan kawinkan engkau dengan kakak saya Haidee Tsabina Binti Muhammad Haidar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Haidee Tsabina Binti Muhammad Haidar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Ibra lantang mengucap Ijab kabul nya.


"Sah."


"Sah."


Semua orang mengucapkan kata Sah ketika Ibra selesai mengucapkan Ijab kabul nya.


Dee yang mendengar kata Sah terucap dari dalam kamarnya langsung meneteskan air mata. Salah satu Karyawan wanita Dee memasuki kamar Dee dan membawanya keluar. "Ayok Buk Bos, saatnya permaisuri keluar," ucap Ayu, karyawan Dee.


Dee tersenyum dan mengangguk. Ayu menggandeng tangan sebelah Kiri Dee, sedangkan sebelah kanan Dee digandeng oleh Kina.


Mata Ibra tak lepas dari bidadari nya yang berjalan kearahnya. Dee duduk di tempat yang sudah di sediakan tepat di sebelah Ibra.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Untuk Nak Dee, silahkan menyalami tangan suaminya," ucap Penghulu.


Dee mengangguk. Dee memutar tubuhnya menghadap Ibra. Senyum mengembang terbit di bibir dua insan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri itu.


Tangan Dee terulur untuk menyalami tangan Ibra. Darah Ibra berdesir ketika bibir lembut Dee menyentuh punggung tangannya.


Air mata Dee tidak bisa dia tahan untuk tidak keluar. Rasa haru menyelimuti hatinya. Bahagia itu akhirnya datang. Entah ini akan abadi atau tidak, tapi untuk saat ini dia sangat bersyukur atas kehidupannya.


Setelah menyalami tangan Ibra, Ibra menangkup kedua pipi Dee dengan tangannya. Ibra mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


CUP


Akhirnya untuk pertama kalinya setelah kembali sah, bibirnya menyentuh kulit wajah wanita yang sangat dia cintai. Setetes air mata Ibra jatuh ketika bibirnya mencium kening Dee. Inilah kebahagiaan yang dulu dia sia-siakan, inilah bidadari dan malaikat yang dia beri luka karena egoisnya.


Sedangkan Kina dan Al yang duduk tepat di belakang Ibra dan Dee ikut tersenyum senang. Terimakasih, Ya Allah. Batin Al bersyukur atas kebaikan Allah dalam hidupnya.


Allah, timakaci udah tasi Abi buat Ina. Batin Kina bersorak bahagia melihat Abi dan Uminya.


Setelah acara ijab kabul selesai, para tamu yang hadir dipersilahkan untuk menikmati makanan yang sudah disajikan. Selain itu, para tamu juga diberikan souvenir berupa Al-Qur'an kecil dan juga sajadah yang sudah di kemas dalam Tote bag yang sudah dipesan oleh Dee. Ini semua adalah keinginan Dee. Dia ingin pernikahannya memberikan pahala kepada keluarganya dan manfaat untuk para tamu undangannya.


.....


Malam telah menjelang. Sepasang suami istri yang baru sah itu kini sudah berada di kamar Dee. Sedangkan Al dan Kina sudah tidur di kamar Al bersama dengan Adam. Mereka nampak kelelahan karena seharian mengikuti acara pernikahan orang tuanya.


"Mas," panggil Dee pada Ibra yang duduk di tepi ranjang. Sedangkan dia duduk di kursi riasnya.


Ibra mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di genggamannya. "Iya, Sayang," jawab Ibra tersenyum.


"Terimakasih atas mahar yang sangat indah ini," ucap Dee menunjukkan sajadah yang ada di tangannya.


Ibra berdiri dan bersimpuh dengan kedua lututnya menjadi tumpuan. "Ini tidak seberapa dengan kebahagiaan yang aku dapatkan," ucap Ibra menggenggam kedua tangan Dee.


"Dengan keringatku sendiri aku mampu membelinya. Aku ingin sajadah ini selalu kau gunakan. Jadikan sajadah ini sebagai tempat kau mengadu kepada Allah. Selalu sebut namaku di atas sajadah ini, Sayang," lanjut Ibra menatap mata Dee.


Dee tersenyum dan mengangguk. Matanya nampak berkaca-kaca mendengar penuturan Ibra. "Tanpa sajadah ini pun, namamu selalu ada dalam doa ku, Mas," jawab Dee.


"Terimakasih," ucap Ibra memeluk pinggang Dee.


......................


Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote dari kalian ya.


Jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2