
🌹HAPPY READING🌹
"Tinggalkan Tuhanmu, maka aku akan menuruti keinginanmu!" ucap Bima.
Al terkekeh pelan mendengar perkataan Bima. "Wanita itu pasti sangat tidak beruntung memiliki suami sepertimu di dunia ini," ucap Al menunjuk foto dengan dagunya.
"Jaga ucapanmu!"
"Kau yang harus menjaga ucapanmu!" ucap Al berani.
"Kau memintaku untuk meninggalkan Tuhanku hanya karena dirimu? Ck, in your dream, Calon Mertua," ucap Al lembut namun menusuk bagi Bima.
"Jika saja wanita di foto itu masih hidup, dia akan lebih memilih mati daripada hidup bersama lelaki menjijikan sepertimu! Tapi untungnya dia sudah di surga. Jadi, dia tidak harus repot menyembunyikan malunya karena memilikimu sebagai suami!" lanjut Al.
"Kau terlalu banyak bicara!" bentak Bima menunjuk wajah Al.
"Aku tahu hatimu baik. Jika kau jahat, sudah dari tadi kau menembakku dengan pistol itu," ucap Al melirik pistol ditangan Bima.
"Tapi kenapa hidupmu tidak terarah seperti ini, Calon Mertua? Kembalilah dan jadi Ayah yang baik bagi Runa. Jadilah tempat untuknya mengadu," lanjut Al tenang.
Bima mengalihkan pandangannya menghindari kontak mata dengan Al.
"Setidaknya lakukan demi istri yang sangat kau cintai," lanjut Al. Al benar-benar mempermainkan emosi Bima.
"Tapi aku tidak bisa menikahkan putriku," ucap Bima sendu.
"Kenapa?" tanya Al.
Bima terkekeh pelan. "Aku manusia hina. Pernikahannya tidak akan sah jika aku menikahinya," ucap Bima.
"Maka kembali seperti dulu," ucap Al.
"Apa kau juga bisa menghidupkan kembali istriku seperti dulu?" tanya Bima.
Al menggeleng. "Bukan aku yang memiliki kuasa untuk itu. Tidak ada orang yang sudah meninggal akan hidup lagi," ucap Al.
"Kalau begitu jangan harap aku kembali seperti dulu," ucap Bima.
"Penciptaku memang tidak menjanjikan orang mati akan hidup lagi, Calon Mertua. Tapi Penciptaku menjanjikan tempat yang sangat indah dan nyaman untuk istrimu, Surga. Demi membela saudara muslimnya, dia mempertaruhkan nyawanya. Harusnya kau bangga dengan keberanian dan ketulusan istrimu, c
__ADS_1
Calon Mertua," ucap Al.
Tidak terasa setitik air mata keluar dari sudut mata Bima. "Kau tidak mengerti arti rasa sakit akibat kehilangan, Nak," ucap Bima sendu dan lembut kepada Al.
Al dan Aska saling pandang melihat sisi lain Bima yang sangat rapuh seperti ini.
"Aku memang tidak pernah merasakan kehilangan, Calon Mertua. Tapi aku pernah memberi luka kecewa kepada seseorang, dan itu sangat tidak menyenangkan. Itu juga yang dirasakan istrimu atas kecewa yang kau berikan padanya," ucap Al.
"Keluarlah. Kau terlalu banyak bicara," ucap Bima menunjuk pintu keluar. Telinganya sudah tidak sanggup lagi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Al.
"Aku belum mendapat restu yang aku inginkan," ucap Al.
"Pergilah sebelum aku bersikap keras," ucap Bima.
"Aku yakin kau tidak sekejam itu. Jika kau memang kejam, harusnya kau sendiri yang menyiksa putrimu, tapi kau malah meminta anak buahmu yang melakukannya. Jika kau kejam, sudah dari tadi kau membunuhku, Calon Mertua," Al.
"Keluarlah!" ucap Bima pelan namun tegas.
"Tidak sebelum aku mendapat restumu," jawab Al kekeuh dengan pendiriannya.
"Bawa dia dan temannya pergi," ucap Bima pada anak buahnya yang berada di sana.
"Ingat satu hal, Calon Mertua. Jika ingin istrimu bahagia di Surga, ikhlaskan dia dan obati rasa kecewanya dengan menyayangi anakmu," ucap Al. Setelah mengucapkan itu, Al dan Aska benar-benar pergi meninggalkan ruangan tersebut.
.....
Setelah kepergian Al dan Aska, Bima terduduk lemas dilantai merenungi setiap perkataan Al. Anak buahnya yang ada di sana hanya memandangi Bos mereka dengan tatapan iba.
"Kalian keluarlah," ucap Bima pelan pada anak buahnya.
Para anak buah Bima mengangguk patuh dan mereka segera keluar meninggalkan Bima dengan kesendiriannya diruang tersebut.
"Aku harus bagaimana?" tanya Bima memandangi salah satu foto besar yang terpanjang di dinding.
"Aku harus bagaimana? Jawablah. Sekali saja, bicaralah," lanjut Bima sendu.
Bima bangun dan berjalan dengan lunglai menuju lemari besar yang ada di sana. Bima membuka lemari tersebut dan mengambil sebuah baju pengantin yang nampak sangat indah.
Dengan lembut dan penuh cinta, Bima mencium gaun pengantin itu. "Anak kita akan menggunakan ini, istriku. Sesuai permintaanmu," ucap Bima lirih dan mencium berkali-kali gaun tersebut.
__ADS_1
.....
Al dan Aska kini sudah kembali ke apartemen Al.
"Lo hebat, Al," ucap Aska kagum dengan keberanian Al. Kini mereka berdua sudah merebahkan diri di sofa apartemen Al.
"Gue harus berani, As," ucap Al.
Aska mengangguk setuju. "Lo bisa banget mempermainkan emosi Papanya Bella, Al," ucap Aska.
"Gue tahu dia orang baik, As. Cuma hatinya saja yang belum menerima semuanya. Kalau dia memang suka kekerasan, maka dia akan menembak dan menghajar kita saat baru pertama kali datang, As. Jika dia memang kejam, maka dia sendiri yang akan turun tangan menyiksa Runa, tapi dia malah menyuruh anak buahnya. Gue percaya, dia masih memiliki nurani sebagai Ayah, As," ucap Al.
"Lo benar, Al. Ternyata semua tidak harus dengan kekerasan," ucap Aska.
Al mengangguk setuju.
"Senjata ini jadi nggak berguna," ucap Aska melempar pistol yang tadi dia bawa ke atas meja.
"Simpan lagi, As," perintah Al.
Aska mengangguk dan kembali menyimpan pistol tersebut ketempat semula. Setelah itu mereka mengistirahatkan tubuh dari rasa lelah dan rasa kantuk yang juga menyerang.
.....
Di Indonesia, waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Ibra sudah berangkat ke kantor sejak satu jam yang lalu. Kini di rumah hanya ada Dee dan Bi Nini. Sedangkan Kina pergi bersama teman-temannya.
Dee berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan ponsel yang selalu digenggamnya. "Aku izin sama Mas Ibra nggak ya?" tanya Dee pada dirinya sendiri.
"Tapi nanti kalau izin pasti nggak bakal diizinkan," jawabnya pula sendiri.
Dee sangat ingin rasanya pergi menemui Naina dan bicara mengenai kondisi Bram. Dee yakin, mereka berdua akan hidup bahagia jika bersatu.
"Ini masih pagi. Kalau pergi sekarang bisa sampai dirumah agak siangan. Mas Ibra pasti nggak bakal tahu. Maaf, Mas. Untuk pertama kalinya aku pergi tanpa izin kamu, ya," ucap Dee dan segera mengambil tasnya. Setelah itu Dee keluar kamar dan menemui Bi Nini yang duduk di ruang keluarga.
Dengan alasan ingin ke pesantren, Bi Nini mengizinkan Dee pergi dengan supir pribadinya. Dee tidak sepenuhnya berbohong kepada Bi Nini. Dia memang akan ke pesantren untuk menanyakan alamat Naina yang tidak sempat dia tanyakan saat mereka bertemu.
......................
Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku
__ADS_1
Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹