
🌹HAPPY READING🌹
Sesuai perkataan Al kepada Ibra dan Dee, siang ini mereka mengantar Al ke Bandara. Ternyata Al sudah memesan tiket saat ia kembali dari pesantren. Tekadnya sudah kuat untuk mencari keberadaan Papa Runa dan meminta restunya.
Kina yang tidak rela dengan kepergian Abangnya tidak melepas pelukan mereka sama sekali.
"Abang disini aja. Jangan pergi, suruh orang-orang Abi aja yang cari Papa Kak Bella," ucap Runa merengek sedari tadi.
"Dek, ini berhubungan sama masa depan Abang. Ini tanggung jawab yang harus Abang selesaikan sendiri," jawab Al mengusap lembut punggung Kina.
Dee yang melihat anak gadisnya seperti itu mendekat dan membantu untuk melepaskan pelukannya dengan pelan. "Adek, udah ya. Nanti Abang pasti pulang lagi, kok. Jangan kayak gini," ucap Dee membujuk Kina.
Kina menghapus air mata yang ada di pipinya dan menatap Al. "Abang janji, harus pulang bersama Papa Kak Bella," ucap Kinaa mengajukan kelingkingnya layaknya seorang anak kecil yang sedang berjanji.
Al mengaitkan jarinya pada jari Kina. "Abang janji," ucap Al tersenyum.
"Abi, Umi, Al pamit, ya," ucap Al beralih pada Ibra dan Kina.
"Hem," jawab Ibra. Dia masih kesal dengan anaknya itu. Bisa-bisanya dia meninggalkan urusan pekerjaan dan mengembalikan jabatan kepada Ibra. Tentu saja itu membuat segala rencananya untuk berduaan dengan sang istri terganggu.
Al tergelak melihat tingkah Abinya. "Jangan kesal, Abi. Anak Abi itu pergi berjuang untuk masa depannya," ucap Al.
"Jangan sampai buat Abi malu dengan kegagalanmu," ucap Ibra memeluk anaknya.
"Iya, Abi," jawab Al membalas pelukan Ibra.
Puas berpelukan dengan Ibra, Al beralih pada Dee yang berdiri diam ditempatnya.
"Umi," panggil Al lembut.
Dee tersenyum melihat Al dengan mata berkaca-kaca. " Anak Umi harus kuat apapun yang terjadi nanti. Bagaimanapun hasilnya, mungkin itu yang terbaik. Yang penting selalu libatkan Allah dalam usaha kamu, ya, Nak," ucap Dee lembut.
Al tersenyum dan mengangguk. "Restui Al, Umi," ucap Al mencium punggung tangan Dee.
"Restu Umi selalu di setiap langkah Al," ucap Dee lembut.
"Kalau begitu Al pergi, Umi," ucap Al pamit.
Dee mengangguk dan tersenyum. Al menyalami Ibra dan Dee secara bergantian. Terakhir memeluk Kina dengan erat.
"Al pamit dulu, Assalamu'alaikum," ucap Al.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua memandangi Al yang pergi memasuki pintu keberangkatan.
"Adek, mau ikut Umi dan Abi atau pulang?" tanya Ibra setelah Al hilang dari pandangan mereka. Karena hari ini dia akan memenuhi janji kepada Dee untuk bertemu dengan Bram.
"Emang Abi sama Umi mau kemana?" tanya Kina.
"Umi sama Abi ada keperluan sebentar," jawab Dee.
"Adek pulang aja. Kalau pergi sama Abi dan Umi, pasti jadi nyamuk," ucap Kina.
__ADS_1
Dee tergelak mendengar perkataan anaknya. Memang benar apa yang disampaikan Kina. Jika mereka pergi bertiga, anak itu hanya akan menjadi nyamuk dan menonton kemesraan Abi dan Uminya.
"Kalau gitu Abi pesenin taksi," ucap Ibra.
Kina mengangguk menyetujui perkataan Ibra. Ibra memesan taksi dari ponselnya. Tidak berapa lama, taksi datang.
"Adek hati-hati. Kabarin Abi atau Umi kalau udah sampai di rumah," ucap Ibra membuka pintu taksi untuk Kina.
"Iya, Abi. Adek pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucap Kina pamit dari dalam taksi dan mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Waalaikumsalam," jawab Dee dan Ibra.
.....
Kini Dee dan Ibra dalam perjalanan untuk bertemu dengan Ibra. Sudah setengah jam, namun mereka tak kunjung sampai.
"Mas," panggil Dee.
"Iya Sayang," jawab Ibra fokus dengan jalan didepannya.
"Ini kok nggak sampai-sampai sih, Mas?" tanya Dee heran.
"Bentar lagi, Sayang," jawab Ibra. Dee hanya diam dan mengangguk mendengar jawaban Ibra.
Selang beberapa menit, mobil Ibra sampai di depan sebuah rumah sakit.
"Mas, kenapa kesini?" tanya Dee.
Ibra dan Dee turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit.
Tangan Ibra tidak lepas dari pinggang Dee. Sama halnya dengan Dee yang tidak melepaskan rangkulan tangannya pada Ibra.
"Mas, ngeri," ucap Dee takut melihat sekelilingnya.
"Mereka punya dunia sendiri, Sayang," ucap Ibra santai.
Dee benar-benar takut. Mereka berjalan melewati orang-orang yang tertawa sendiri, bicara sendiri, bahkan ada yang hanya duduk sambil memain-mainkan bonekanya.
Ya, Ibra membawa Dee ke rumah sakit jiwa. Setelah menyusuri lorong yang cukup panjang, Ibra dan Dee sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu besi yang sangat besar dan tertutup rapat. Dengan perlahan, Ibra membuka pintu.
Dee menutup mulut tak percaya melihat apa yang ada didepannya. Pemandangan pertama yang ditangkap oleh Dee dan Ibra adalah seorang lelaki dengan tubuh kurusnya sedang duduk dengan sebuah guling yang ada dipelukannya.
"Om," panggil Ibra.
Bram mengangkat kepalanya ketika mendengar suara.
"Kamu datang, Ibra," ucap Bram.
Dahi Dee berkerut bingung melihat Bram yang mengenali Ibra. Padahal yang dia lihat, Bram seperti orang tak waras.
Bram tersenyum kecil melihat Dee. "Om tidak gila, Dee. Guling ini adalah kesukaan seorang wanita yang selalu dia peluk dalam tidurnya," ucap Bram.
__ADS_1
"Maaf, Om. Dee tidak bermaksud," ucap Dee menyesal atas sikapnya.
"Tidak apa, Dee. Setiap orang yang melihatku pasti akan berpikiran sama seperti kamu," ucap Bram.
"Tapi kenapa disini, Om?" tanya Dee penasaran.
"Aku hanya ingin sembunyi dari dunia," jawab Bram tenang.
"Tapi tidak harus di tempat seperti ini, Om," ucap Dee.
"Ini tempat yang pantas untukku sebelum aku resmi ke akhirat, Dee," ucap Bram sendu.
"Om-"
"Aku minta maaf atas kesalahanku, Dee," ucap Bram. Memang selama hidupnya, dia tidak pernah meminta maaf kepada Dee. Sedangkan Ibra hanya diam, membiarkan istrinya berbicara dengan Bram.
"Bahkan sudah lama Dee memaafkan Om," jawab Dee.
"Maafkan juga wanitaku, Dee," ucap Bram tiba-tiba sendu. Matanya berkaca-kaca mengingat Naina yang kini tidak dia tahu bagaimana keadaannya.
Dee mengangguk mengiyakan perkataan Bram. Dee terharu. Bahkan sudah sangat lama, Bram masih mengingat dan mencintai Naina.
"Ayo kita kembali, Om," ajak Dee.
Bram menggeleng. "Aku lebih suka disini dengan kesendirianku," ucap Bram.
Dee hanya diam dan terus memperhatikan setiap sudut ruangan yang ditempati Bram. Ini seperti ruangan khusus yang sudah disediakan secara sengaja. Hingga akhirnya pandangan Dee berhenti pada sebuah sajadah yang terbentang dan Al-Qur'an yang ada di meja kecilnya.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk meminta maaf kepada Tuhan atas segala kesalahanku, Dee," ucap Bram mengerti isi pikiran Dee.
"Om, mau tahu satu hal?" tanya Dee.
Bram menaikan sebelah alisnya mendengar perkataan Dee.
"Allah itu lebih dekat dengan pendosa yang bertaubat daripada orang baik yang sombong," ucap Dee.
Bram tersenyum kecil mendengar perkataan Dee. "Kamu tahu Dee, terkadang aku bersyukur atas semua kejahatan ku. Karena dengan kejahatan itu, aku bisa kembali kejalan-Nya," ucap Bram.
"Terkadang kita harus sadar setelah teguran itu datang, Om," ucap Dee.
Bram mengangguk dan menyetujui perkataan Dee. "Dengan aku kembali pada Tuhan, aku bisa mendoakan wanitaku agar dia selalu dalam keadaan baik dimanapun keberadaanya, Dee," ucap Bram sendu.
Benar-benar cinta yang sangat kuat. Batin Dee takjub dengan Naina dan Bram yang menyatakan cinta dalam doa mereka.
"Om, ayo kita bertemu Naina."
......................
Maaf atas keterlambatannya teman-teman. Ada kesibukan dunia nyata yang membuat kita terpisah sebentar 🙏
Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku
__ADS_1
Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹