
Jangan lupa like nya ya teman-teman π
Jangan lupa komentarnya π¬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
πΉHAPPY READINGπΉ
Ibra kembali ke kamarnya setelah memastikan, bahwa tanah liat kesayangan istrinya benar-benar sudah tidak ada di rumahnya.
Ibra membuka perlahan pintu kamar, dan dia melihat Al yang tertidur memeluk perut Dee. Anak itu benar-benar sangat posessive terhadap Uminya. Ibra duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut kepala istrinya agar tidur lebih nyenyak. Tangan Ibra turun mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Anak Abi yang anteng, ya. Jangan buat Umi sakit. Anak Abi harus jadi penguat untuk Umi. Harus sehat-sehat didalam sana, Abi sangat menantikan kehadiran Anak Abi," ucap Ibra lembut mengusap perut Dee.
Setelah itu, Ibra berjalan keluar kamar dan turun menuju ruang kerjanya. Karena tadi dia mendapat pesan dari Kevin bahwa ada beberapa file yang harus di periksa. Saat asik dengan kegiatan memeriksa beberapa file melalui email nya, ponsel Ibra berdering. Setelah melihat nama Agam tertera di sana, Ibra langsung menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.
"Halo, Gam," ucap Ibra setelah panggilan terhubung.
"Gue mau lo ke kantor polisi sekarang, Ib," ucap Agam tanpa basa-basi.
"Ngapain?" tanya Ibra.
Terdengar helaan nafas kasar dari Agam. "Gue mau lo bicara sama Om Bram. Bujuk dia agar mau menjenguk Naina disini, Ib," ucap Agam.
"Kenapa harus gue?" tanya Ibra. Karena dia sangat tidak Ingin bertemu dengan Bram. Sakit hatinya masih belum hilang atas apa yang dilakukan oleh Om nya itu.
"Gue yakin lo bisa, Ib. Om Bram pasti mau kalau lo yang bujuk," ucap Agam.
"Gue nggak mau!" ucap Ibra tegas menolak permintaan Agam.
"Ayolah, Ib. Ini demi Naina. Demamnya tinggi. Dari tadi dia terus aja sebut nama Om Bram. Demi sahabat lo, Ib. Gue tahu lo masih kecewa sama Naina dan Om Bram. Tapi setiap orang punya kesempatan kedua, Ib. Kayak lo yang masih bisa dimaafkan oleh Dee setelah apa yang lo perbuat," ucap Kevin telak kepada Ibra.
Kevin sangat kasihan melihat Naina yang seperti ini. Naina memang bersalah, tapi dia juga sahabat yang selama ini mereka jaga. Dalam hati kecil mereka tersimpan kasih sayang yang sangat dalam untuk Naina.
__ADS_1
Ibra menghela nafas sebentar sebelum menjawab ucapan Kevin. Kali ini Kevin benar-benar telak menyindirnya. "Oke. Gue bakal coba bujuk Om Bram. Tapi kalau dia tetap nggak mau bukan salah gue," ucap Ibra menerima permintaan Kevin.
"Oke. Gue tunggu kedatangan lo dan Om Bram di ruang rawat Naina."
"Hem," guman Ibra mengakhiri sambungan telepon mereka.
.....
"Lho, kamu mau kemana, Ibra?" tanya Wijaya yang baru keluar dari kamarnya bersama Reina yang duduk diam di kursi roda. Dia melihat Ibra yang keluar dari ruang kerja dengan sedikir tergesa-gesa.
Ibra berjalan mendekati Papa dam Mamanya. Ibra bersimpuh dengan ke dua lutut sebagai tumpuannya di depan kursi roda Reina.
"Ibra ada urusan sebentar, Pa," ucap Ibra menjawab pertanyaan Wijaya.
Ibra mengalihkan pandangannya kepada Reina yang ada didepannya. "Mama cepat sembuh, ya. Biar bisa main bareng Al lagi. Dia kangen banget sama Mama. Dan satu lagi, Ibra mau punya anak lagi. Dan Mama nanti harus gendong anak Ibra kalau udah lahir," ucap Ibra memandang lembut Reina.
Reina mengedipkan matanya sekali dan bibir yang tersenyum menjawab perkataan Ibra.
Ibra tersenyum senang melihat respon Mamanya. "Kalau gitu Ibra pergi dulu, Ma, Pa. Assalamu'alaikum," ucap Ibra mengambil tangan Reina untuk menyalaminya dan bergantian menyalami Wijaya setelahnya.
Sedangkan di dalam kamar, dengan perlahan kelopak mata indah Dee terbuka. Dia merasakan sesuatu melingkar di perutnya. Dee menunduk dan melihat putranya yang memeluk perutnya dengan erat. Dee tersenyum melihat wajah Al yang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Anak Umi sehat-sehat di dalam perut Umi, ya. Abi sama Abang saangat menantikan kehadiran kamu, Nak," ucap Dee mengelus perutnya. Dee memindahkan tangan Al dengan perlahan. Dia beranjak dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil.
.....
Ibra kini sudah sampai di kantor polisi. Ibra duduk diruang tunggu untuk menunggu Bram yang sedang di panggil oleh Polisi jaga.
"Ada apa?" tanya Bram langsung setelah dia duduk di depan Ibra.
"Apa kabar, Om?" tanya Ibra. Bagaimanapun, seseorang yang sedang duduk berhadapan dengannya ini adalah Om nya. Orang yang pernah menggendongnya sewaktu kecil. Orang yang pernah dia jadikan tempat mengadu sewaktu kecil jika dimarahi Papa dan Mamanya.
Bram tersenyum miring mendengar pertanyaan peduli keluar dari mulut Ibra. "Apa kabarku sekarang masih penting setelah apa yang telah aku lakukan?"
"Bagaimanapun juga, dalam tubuh kita mengalir darah yang sama."
__ADS_1
Bram mengangguk mendengar perkatan Ibra. "Ternyata benar, bahwa keluarga tidak akan pernah meninggalkan keluarga yang lainnya. Ada apa kau datang kesini, Ibra?" tanya Bram.
"Jenguk Naina. Setidaknya dengan kedatanganmu dia bisa menghentikan mulutnya yang terus menyebut nama mu," ucap Ibra memberitahu maksud kedatangannya.
Bram menggeleng. "Aku tidak bisa?" ucap Bram menolak ajakan Ibra.
"Tapi kenapa, Om?" tanya Ibra.
Bram hanya diam.
"Apa Om lupa? Dia adalah wanita yang bahkan Om rela melakukan apapun untuknya. Bahkan menghancurkan keluarga keponakan Om sendiri. Walaupun buruk, tapi jangan sia-siakan perjuangan Om," lanjut Ibra melihat Bram yang masih bergeming.
"Semuanya telah selesai, Ibra. Mungkin itu hukuman untuknya," jawab Bram.
Ibra terkekeh kecil mendengar jawaban Bram. "Aku tahu dia memang buruk. Tapi jangan lupakan satu hal Om. Dia pernah memberikan pelangi dalam hidupmu. Jika bukan karena Naina, kau tidak akan pernah merasakan nikmatnya surag dunia," ucap Ibra dengan sedikit menyentil Bram.
"Huft. Mengapa semuanya terjadi saat aku berusaha menyembuhkan luka. Bahkan dia belum sepenuhnya kering, Ibra," ucap Bram memandang sendu Ibra.
"Aku mohon jenguklah sahabatku walau hanya sebentar, Om. Damaikan hatimu," ucap Ibra.
"Baiklah," ucap Bram memutuskan untuk menemui Naina. Mungkin akan lebih baik jika dia sedikit berbicara dengan wanita itu.
.....
Dengan dikawal oleh dua orang polisi, Bram pergi ke rumah sakit untuk menemui Naina. Ibra tidak ikut. Dia memilih pulang untuk menemui istri dan anaknya. Lagi pula tugasnya sudah selesai untuk membujuk Bram.
......................
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah ππΉ
Jangan lupa juga untuk baca Novel aku "MEMAKSA CINTA" terimakasih πππΉ
Hai teman-teman, aku mau bilang kalau aku ganti nama pena jadi "Yus Kiz". Nama itu aku ambil dari nama orang tua dan ada sedikit bahasa Turki nya, dan insyaallah artinya baik. Semoga setiap usaha yang ditujukan untuk orang tua kita menjadi berkah yang berlimpah ya teman-teman. Semangat !!!!! πͺπͺ
Dan untuk aku IG aku, aku udah ganti nama juga @yus_kiz. Jadi yang belum follow, ayok follow, wkwkwk. Yang udah follow aku ucapkan banyak terimakasih ππΉ
__ADS_1