
🌹HAPPY READING🌹
Waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Mereka semua kini sudah terlelap dalam mimpi masing-masing setelah mengalami kejadian yang membuat jantung mereka seakan ingin terlepas.
Al, Kina, Raina dan Bi Nini idur di atas kasur yang sudah Ibra sediakan. Sedangkan Agam dan Wijaya tidur di sofa kasur yang ada di ruang rawat Dee. Sedangkan yang lainnya tidur di ruang sebelah tempat Kevin, Kiyai Rozak dan Sofia di rawat.
Ibra selesai dengan sholat tahajudnya. Ibra berdiri dan memandangi satu persatu keluarganya. Setelah itu pandangannya terhenti pada wanita yang kini masih terbaring di depan Ibra. Dengan perlahan Ibra ikut naik ke ranjang Dee dan berbaring di sebelah tubuh lemah Dee. Dengan lekat Ibra memandangi wajah cantik Dee.
"Sayang, bangun yuk. Kenapa tidur terus?" ucap Ibra pelan sambil mengelus pipi Dee.
Ibra membenamkan kepalanya di ceruk leher Dee yang tertutup jilbab. Sebelah tangannya menggenggam tangan Dee. Sedangkan yang lainnya mengelus lembut pipi Dee.
Setitik air mata Ibra jatuh mengenai jilbab Dee. "Sayang, bangun yuk. Aku kangen," ucap Ibra lirih.
Selang beberapa menit, tangan dalam genggaman Ibra terasa bergerak. Ibra mengangkat kepalanya dan melihat ke bawah. Setelah itu dia kembali melihat wajah Dee. Benar saja, mata indah itu dengan perlahan terbuka. Dee memandang ke segala arah, namun yang dia lihat hanya kegelapan.
"Mas," panggil Dee lemah.
"Sayang, kamu sadar," ucap Ibra senang. Ibra mengecup seluruh wajah Dee menyalurkan rasa bahagianya.
"Terimakasih sudah kembali," ucap Ibra.
"Kenapa lampunya mati, Mas?" tanya Dee lemah.
"Lampunya nyala, Sayang," jawab Ibra.
"Tapi kenapa gelap?"
DEG
Pikiran Ibra sudah tak tenang. Baru dia bahagia atas kesadaran istrinya, dan kini dia harus menerima kabar buruk lagi. Sungguh, Ibra sudah tidak kuat rasanya.
"Sa-Sayang, aku panggilan Dokter, ya," ucap Ibra bangun dari tidurnya dan menekan tombol darurat yang berada di dinding. Ibra sengaja meminta Dokter agar tetap standby untuk terus memantau istrinya.
Selang beberapa menit, Dokter datang bersama dengan seorang perawat dibelakangnya.
"Dokter, periksa istri saya," ucap Ibra cepat.
Dokter mengangguk dan segera memeriksa Dee. Mereka semua yang tertidur di sana tidak terganggu sama sekali. Mungkin di karenakan lelah menangis dan lelah hati, membuat mereka nyaman dalam tidurnya.
"Ibu bisa dengar saya?" tanya Dokter wanita tersebut.
Dengan lemah Dee mengangguk.
__ADS_1
Setelah itu Dokter mengayunkan tangannya di depan mata Dee. "Apa Ibu bisa melihat tangan saya?" tanya Dokter tersebut.
Sekali lagi Dee menggeleng. "Do-Dokter, apa saya buta?" ucap Dee takut.
Ibra segera memeluk Dee untuk memberi kekuatan. "Maaf, Bu. Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan ini. Akibat dari benturan keras di kepala Ibu, penglihatan Ibra terganggu. Ini diluar dugaan saya, karena menurut prediksi saya, Ibu akan mengalami amnesia. Tapi benturan itu malah berakibat kepada penglihatan Ibu," ucap Dokter tersebut.
"Dokter, apa saya buta?" tanya Dee lagi. Dia merasa tidak puas dengan jawaban dokter tersebut. Dia hanya membutuhkan jawaban Ya dan Tidak.
"Iya, Bu," jawab Dokter tersebut.
Ibra memandangi wajah istrinya demi melihat bagaimana reaksi Dee. Dia takut Dee akan marah atau tidak terima. Tapi diluar dugaannya Ibra, Dee malah tersenyum dengan tulus.
"Kalau begitu terimakasih, Dokter," ucap Dee.
Dokter tersebut hanya mengangguk, setelah itu dia beralih menatap Ibra. "Pak, besok pagi tolong temui saya diruangan. Ada hal yang harus saya bicarakan dengan Bapak," ucap Dokter tersebut.
Ibra mengangguk. "Baik Dokter," ucap Ibra.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Ibra hanya diam tak menjawab. Setelah kepergian Dokter tersebut, Dee mengangkat tangannya mencari tangan Ibra. Ibra yang mengerti segera mendekatkan tangannya ke tangan Dee. "Iya, Sayang," ucap Ibra.
"Adek haus," ucap Dee.
"Sayang," panggil Ibra lembut setelah Dee selesai minum.
"Iya, Mas," jawab Dee pelan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ibra.
"Terus Adek harus gimana, Mas?" ucap Dee bertanya balik.
Kedua tangan Ibra tergerak menangkup ke dua pipi Dee. "Sayang, bagaimanapun keadaan kamu, kita akan selalu bersama, ya. Aku yang akan menjadi mata untuk kamu, Sayang," ucap Ibra lembut.
"Apa Mas malu?" tanya Dee.
Ibra menggeleng walau Dee tidak bisa melihatnya. "Aku bangga memiliki bidadari sekaligus malaikat sepeti kamu, Sayang," ucap Dee.
"Mas, anak-anak-" ucap Dee tercekat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anaknya bisa tumbuh baik dengan keadaannya yang seperti ini.
"Kita akan rawat mereka bersama. Anak-anak kita adalah anak yang kuat dan tangguh, Sayang. Mereka yang akan menjadi jalan kita menuju surga," ucap Ibra.
Dee tersenyum. "Terimakasih banyak, Mas," ucap Dee tulus.
__ADS_1
Ibra hanya diam. Tapi sedetik kemudian, Dee merasakan bibirnya dilahap dengan lembut. Dee hanya diam memberikan Ibra dengan kegiatannya.
"Sekarang tidur lagi, ya," ucap Ibra setelah selesai melahap bibir yang sudah sangat dia rindukan.
Dee mengangguk. Ibra ikut merebahkan diri di sebelah Dee. Dengan lembut Ibra memeluk tubuh istrinya.
"Tutup matanya, Sayang," ucap Ibra ketika melihat Dee terus membuka matanya.
"Mau tutup mata atau enggak, sama aja kan Mas," ucap Dee.
Ibra terdiam mendengar perkataan Dee. Ibra tahu istrinya sedih dengan keadaan ini. Tapi dia mencoba untuk menjadi wanita yang tegar.
"Sayang, tutup matanya ya. Nanti mata kamu kelelahan," ucap Ibra lembut.
Tidak ingin menjawab lagi, Dee menurut dan menutup matanya.
Rasanya aku sangat tidak pantas mendampingi malaikat seperti kamu, Sayang. Tapi Allah begitu baik, hingga malaikat seperti kamu diberikan kepada manusia dengan berjuta kekurangan sepertiku. Ucap Ibra dalam hati.
.....
Sedangkan di sebelah ruang rawat Dee. Kiyai Rozak kini menulis sebuah surat yang dia tunjukan untuk semua keluarganya. Tadi Kiyai Rozak merasakan sedikit sesak di dadanya. Karena tidak ingin membangunkan keluarganya, Kiyai Rozak mencoba bangun dari tidurnya dan berniat untuk memanggil perawat.
Saat akan membuka pintu, Kiyai Rozak mendengar suara langkah kaki diruangan tempat Dee dirawat. Dengan perlahan, Kiyai Rozak melihat dari pintu penghubung ruangan mereka yang tidak terlalu tertutup.
Ya, Kiyai Rozak mendengar semuanya. Dia mengetahui apa yang terjadi pada Dee. Ada kesedihan mendalam di hati Kiyai Rozak mendengar bahwa Dee mengalami kebutaan. Niat yang tadinya ingin memanggil perawat akhirnya diurungkan.
Kiyai Rozak kembali ke ranjangnya. Dengan tenaga yang tersisa, Kiyai Rozak mengambil kertas yang ada di laci nakas sebelah ranjang dan menuliskan sesuatu di sana. Sesak nafasnya menemani Kiyai Rozak menulis surat untuk keluarganya.
Setelah surat selesai, Kiyai Rozak meletakkan surat tersebut di bawah keranjang buah agar tidak hilang. Setelah itu dia kembali berbaring di ranjang.
Satu tangan Kiyai Rozak memegang dadanya yang terasa sangat sesak. "Ya Allah, jika waktu ku sudah datang, aku siap untuk itu, Ya Allah," ucap Kiyai Rozak lirih. Hingga disaat merasa tidak kuat lagi, kata terakhir itu terucap dari mulut Kiyai Rozak.
"La ilaha illal Lah, Muhammadur Rasulullah."
Pada pengucapan ketiga, mata Kiyai Rozak tertutup dengan sempurna. Lelaki tua itu meninggal tanpa memberi pertanda kepada keluarganya dan hanya meninggalkan selembar kertas yang berisi kata hatinya untuk keluarga tercinta.
......................
Maaf jika ada penulisan yang salah teman-teman.
Dikit lagi flashback nya selesai. Siap-siap buat cerita Al beberapa hari lagi ya teman-teman. Terimakasih buat kalian yang udah setia. Aku sayang kalian 😘😍🌹🌹🤗
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote nya yaa.
__ADS_1
Jangan lupa baca juga novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO", TERIMAKASIH 🙏🤗