Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 52


__ADS_3

Bismillah. Batin Ibra menguatkan hatinya.


Perlahan tangan Ibra bergerak membuka kancing piyama Al. Sampai pada kancing paling bawah dan Ibra dengan segera melepaskan piyama Al.


DEG


"Al," ucap Ibra lirih memandangi wajah anaknya.


Al menunduk tidak berani melihat Abinya. Matanya sudah sangat berair. Al menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan menyembunyikan tangisnya.


"Maaf, Abi. Jangan malah," cicit Al pelan meminta maaf kepada Ibra.


"Boy," ucap Al dengan suara bergetar menahan agar air matanya tidak tumpah. Dengan cepat Ibra membawa tubuh Al kepelukannya. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Ibra hanya mampu menggumamkan kata maaf melihat bekas luka di punggung dan perut Al.


Al melepaskan pelukan Ibra. Tangan mungilnya terulur menghapus air mata yang ada di sudut mata Ibra. "Jangan menangis, Abi," ucap Al kepada Ibra.


Ibra menggeleng, "maafkan Abi, jangan benci pada Abi, nak," ucap Ibra sendu.


"Ini bukan salah Abi. Al nakal, makanya Al dapat hukuman," ucap Al masih memberi alasan kepada Ibra.


"Kalau saja Abi tidak bodoh, Al dan Umi tidak akan tersiksa seperti ini. Maafkan Abi," ucap Ibra memandang lekat wajah Al.


"Abi," ucap Al menangis.


"Maafkan Abi karena tidak peka dan tidak perhatian kepada anak Abi. Maaf jika Abi larut dalam keegoisan Abi. Maaf, Boy," ucap Ibra menunduk didepan Al.


Al mengangkat wajah Ibra. Tangan mungilnya mengusap kedua pipi Ibra. "Ibu gulu bilang, tidak ada olang tua yang meminta maaf kepada anaknya, Abi. Al ingin menjadi anak Sholeh untuk Abi dan Umi. Agal di akhilat nanti Abi sama Umi menjadi olang yang kaya, kalena pahala sudah belhasil mendidik Al jadi anak yang belbakti," ucap Al menenangkan Ibra di sela tangisnya. Dia sungguh tidak tega melihat Abinya seperti ini. Ini lah yang ditakutkannya, Abinya akan hancur jika mengetahui keadaannya.


Al hanya diam tidak tahu harus berbicara bagaimana kepada anaknya.


Subhanallah, satu kata yang bisa Ibra ucapkan untuk melihat amanah Tuhan yang dititipkan kepadanya. Bahkan ia merasa menjadi orang tua yang buruk.


"Maafkan Abi, nak," ucap Ibra semakin menyesal.

__ADS_1


Al hanya mengangguk dan mencoba tersenyum di dalam tangisnya. Saat teringat sesuatu, Al mengehentikan tangisnya dan menyeka air matanya.


"Apa Abi tahu tentang Aunty Naina?" tanya Al kepada Ibra.


"Abi tahu semuanya. Kita akan katakan pada dunia bahwa Umi bukan orang jahat. Dan tidak akan ada lagi orang yang menghina Umi sebagai narapidana. Al setuju?" jawab Ibra pasti kepada Al.


Al mengangguk senang, tapi setelah itu wajahnya kembali terlihat sedih. "Jangan membalas pelbuatannya Abi. Umi bilang, Allah tidak suka olang pendendam," ucap Al meminta kepada Ibra.


Lagi-lagi Ibra hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Ajaran Dee benar-benar melekat pada jiwa Al. Ibra membawa kembali Al kedalam dekapannya. Mendekap erat tubuh kecil yang berjiwa malaikat itu.


Maafkan Abi, Nak. Mungkin Al dan Umi bisa memaafkannya, tapi tidak dengan Abi. Perbuatannya sudah sangat melukai kita. Maafkan Abi. Seribu luka lebih pedih akan dia dapatkan. Ya Allah, maafkan aku jika aku tidak mampu memaafkan. Tekad Ibra dalam hati membalas semua perbuatan Naina.


"Ya sudah, sekarang kita mandi dan siap-siap buat sekolah," ucap Ibra setelah melepaskan pelukannya dengan Ibra.


"Mandi baleng, Abi?" ucap Al dengan riang.


Ibra tersenyum senang melihat anaknya yang begitu senang, ternyata ini selalu diinginkan anaknya. Karena wanita sialan itu, Al harus menahan segala keinginannya untuk bermanja-manja dengannya, pikir Ibra.


"Yeay," sorak Al senang. Akhirnya Al dan Ibra pun mandi bersama. Setelah selesai mandi, Ibra membantu Al untuk menggunakan pakaian sekolahnya terlebih dahulu. Setelah selesai, Ibra menyuruh Al turun untuk sarapan dan barulah dia bersiap-siap untuk ke kantor.


"Abi lagi siap-siap, Umi," jawab Al. Anak itu nampak agak kesulitan naik ke kursi karena tas sekolah di punggungnya.


Dee tersenyum dan menggeleng melihat tingkah anaknya. Dia berjalan menghampiri Al dan membantu anak itu untuk duduk di kursi.


"Telimakasih, Umi," ucap Al. Dengan tenang anak itu duduk di kursinya.


Dee mengangguk, "umi ke kamar dulu mau panggil Abi. Al makan duluan, ini sarapannya udah Umi siapin," ucap Dee meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas susu di depan Al.


"Iya, Umi. Telimakasih," jawab Al dengan senyum mengembangnya. Dee mengusap lembut kepala Al dan setelah itu Umi cantik itu berlalu menuju kamarnya.


"Mas," panggil Dee setelah masuk ke kamarnya. Dee tidak melihat Ibra di dalam kamar, tapi dia melihat pintu balkon yang terbuka. Dee berjalan menuju balkon dan dapat melihat suaminya yang berdiri hanya menggunakan kimono mandinya dan segelas air putih di tangannya.


"Mas," panggil Dee sekali lagi.

__ADS_1


Ibra menoleh, "Sayang," jawab Ibra langsung membawa tubuh mungil Dee kepelukannya.


Dee heran dengan sikap suaminya ini. Tidak biasanya Ibra bersikap seperti ini. "Apa ada masalah di kantor, Mas?" tanya Dee. Karena dia ingat semalam Ibra pergi bertemu Kevin dengan alasan pekerjaan.


Ibra menggeleng menjawab pertanyaan Dee. Bodohnya aku menyiakan bidadari yang kau berikan untukku, Tuhan. Maafkan Aku. ucap Ibra dalam hati sambil terus memeluk Dee.


"Mas nggak kerja?" tanya Dee.


"Nanti, Sayang. Aku mau ikut antar Al jalan kaki ke sekolah. Kekantor nya nanti jam sepuluh," jawab Ibra.


Dee melepaskan pelukannya dan memandang lekat wajah Ibra. "Mas serius?" ucap Dee memastikan perkataan Ibra.


Ibra tergelak melihat reaksi istrinya ini. "Sangat serius, Sayang. Tidak ada kata becanda untuk kesenangan anak dan istriku," jawab Ibra pasti.


Ibra merengkuh pinggang ramping Dee untuk mendekatkan tubuh mereka. Perlahan tapi pasti Ibra mengecup lembut dan ******* bibir yang menjadi candu baginya. Dee dengan senang hati melingkarkan tangannya di leher Ibra dan membalas ciuman Ibra.


Setelah puas melepas candunya, Ibra mengusap lembut bibir Dee yang basah karena ulahnya. Dee menundukkan wajah karena malu.


"Jangan malu, kita bahkan udah sering lebih daripada ini," ucap Ibra.


Dee tersenyum dan mengangguk senang. "Sekarang Mas ganti baju dulu, Adek tunggu sama Al di bawah, ya."


"Iya," ucap Ibra dan memberikan kecupan singkat di dahi Dee sebelum Dee pergi dari hadapannya.


Aku akan menjadi malaikat untuk anak dan istriku. Menjadi pahlawan untuk mempertahankan derajat rumah tanggaku, dan aku akan jadi iblis untuk orang yang membuat mereka terluka. Batin Ibra memandangi punggung Dee yang semakin menjauh.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa

__ADS_1


Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2