Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 62


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Dee dan Al berjalan memasuki ruang inap Raina. Sampainya di dalam, Dee dapat melihat mertuanya yang hanya terbaring dengan mata terbuka memandangi langit-langit kamar.


"Ma," panggil Dee lembut.


Raina yang bisa mendengar seseorang memanggilnya hanya menggerakkan mata menatap Dee. Mata Reina berkaca-kaca melihat Dee yang memanggilnya. Tangan Dee terulur mengambil tangan kanan Reina dan menyalaminya.


"Al, salam dulu sama Nenek, Nak," ucap Dee kepada Al yang berdiri di sampingnya. Dee menggendong Al dan membantunya agar bisa menyalami Reina.


"Umi, kenapa Nenek diam aja? Al mau ngomong banyak sama Nenek, Umi," tanya Al karena Neneknya hanya diam dan tidak bergerak sama sekali.


Reina yang mendengar pertanyaan cucunya, ingin sekali dia berteriak mengatakan bahwa dia juga sangat merindukan cucu kesayangannya itu. Dia juga ingin menyampaikan kata maaf kepada menantunya atas segala kesusahan yang sudah Dee alami karenanya.


Sedangkan Dee yang mendengar pertanyaan Al memandang lembut anaknya seraya tersenyum. "Nenek nggak boleh gerak banyak dulu, Nak. Nenek kan baru bangun, jadi harus istirahat dulu. Nanti kalau Nenek udah benar-benar sembuh, pasti Nenek akan bermain sepuasnya dengan Al. Makanya, Al harus selalu kasih semangat sama Nenek biar main bisa cepat juga. Iya kan, Ma?" ucap Dee menjelaskan kepada Al dan memastikan kepada Reina.


Reina hanya mengedipkan matanya sekali mengiyakan perkataan Dee.


"Al akan selalu semangati Nenek bial cepat sembuh," ucap Al semangat kepada Dee dan Reina. Dee dan Reina tersenyum lembut melihat semangat Al. Reina sangat bersyukur karena dia bisa kembali dan melihat tawa bahagia keluarganya.


Dee mengalihkan pandangannya kepada Raina. Tangannya mengusap lembut punggung tangan Reina yang tidak di infus. "Mama harus cepat sembuh, ya. Disini kami sangat merindukan, Mama," ucap Dee tersenyum. Dee membungkukkan badan untuk mengecup singkat dahi Reina.


"Umi, Al juga mau cium Nenek," rengek Al kepada Dee.


Dee mengangguk, dia mengangkat Al dan membantu anak itu agar mudah untuk mencium wajah Neneknya.


Terimakasih, Ya Allah. Engkau masih memberikan aku kesempatan untuk melihat senyum keluargaku. Terimakasih. Batin Reina senang.


Sedangkan di luar ruangan, Ibra masih duduk berdampingan dengan Papanya. Tidak ada yang mengeluarkan suara sejak tadi. Hanya keheningan yang menemani mereka.


"Pa," panggil Ibra memecah keheningan antara dia dan Papanya.


"Hem," jawab Wijaya tanpa melihat Ibra.


"Sebenarnya ada apa, Pa?" tanya Ibra.

__ADS_1


Wijaya yang tadi menyandarkan kepalanya ke dinding sambil membuka mata menoleh ketika mendengar Ibra memanggilnya. "Maksud kamu?" tanya Wijaya heran.


"Pasti ada sesuatu yang papa sembunyikan dari Ibra."


Wijaya hanya menggeleng menjawab pertanyaan Ibra.


"Papa tidak bisa bohong sama Ibra!" ucap Ibra tegas.


Wijaya menghela nafas kasar. Pandanganya menatap lurus ke depan. "Mama mu tidak lumpuh di kaki saja, tapi seluruh tubuhnya. Mama hanya bisa berinteraksi dengan kita lewat matanya saja. Mama bisa sembuh tapi akan sangat sulit," ucap Wijaya memberitahu Ibra.


Ibra tidak terkejut mendengar perkataan Papanya. "Sudah Ibra duga, Pa," ucap Ibra.


"Maksud mu?" tanya Wijaya.


"Naina."


Satu nama yang di ucapkan Ibra mampu membuat tangan Wijaya terkepal. Dari awal dia sudah menduga bahwa sahabat anaknya itu memang tidak baik, tapi dia bisa apa. Anaknya dulu sangat mempercayai sahabatnya itu.


"Maaf, Pa," ucap Ibra menyesal menyadari kebodohannya dulu.


"Minta maaf pun kamu sudah terlambat. Menyesal juga sudah tidak ada gunanya. Papa harap kamu bisa belajar dari semua ini. Tidak semua yang terlihat di mata kita menunjukkan apa yang sebenarnya," ucap Wijaya tenang menasehati Ibra.


"Lalu bagaimana dia sekarang?" ucap Wijaya menanyakan keberadaan Naina.


Wijaya langsung menoleh mendengar jawaban Ibra. "Ingin sekali Papa memberikan kematian padanya, tapi itu semua adalah hak Tuhan. Berikan pelajaran yang dapat membuat dia menyesali perbuatannya."


Ibra hanya mengangguk patuh mendengar perkataan Papanya. Setelah lama berbincang, Wijaya dan Ibra memutuskan untuk masuk ke ruang rawat Reina menyusul Dee dan Al.


Saat memasuki ruang rawat Reina, Ibra dan Wijaya melihat Dee yang menyuapi Reina untuk minum dengan menggunakan sendok. Tampak Al yang sudah duduk di atas ranjang Reina.


"Ma," panggil Ibra saat sudah di samping Reina. Dee yang tadi menyendokkan air minum ke mulut Reina memberhentikan kegiatannya.


"Nenek kalau sakit sama kayak Al, Abi. Minumnya juga pake sendok," celetuk Al kepada Ibra.


Ibra tersenyum mendengar ucapan polos anaknya. "Al harus bantu Nenek biar cepat sembuh," ucap Al.


"Pasti, Abi," ucap Al dengan kepala mengangguk pasti.


Dee yang mengerti jika Ibra ingin berbicara dengan Reina langsung berdiri dan menyuruh Ibra untuk duduk. Setelah itu Dee mengajak Al untuk duduk di sofa meninggalkan Ibra, Reina dan Wijaya.


Ibra duduk di kursi. Tangannya menggenggam lembut tangan Reina yang tidak di infus.


"Mama harus semangat sembuh, ya. Ada Ibra, Papa, Al dan juga Dee yang merindukan Mama," ucap Al sendu menatap Reina.

__ADS_1


"Papa akan selalu bersama Mama apapun yang terjadi," sambung Wijaya menyemangati istrinya.


Reina berteriak senang dalam hatinya. Syukur yang teramat sangat di ucapkan atas kehadiran keluarga yang sangat menyayangi dan menunggu kedatangannya. Tidak sia-sia rasanya jika dia bangun dari koma.


"Mama harus sembuh, ya. Bantu Ibra membuktikan kalau istri Ibra nggak bersalah. Bantu Ibra mengatakan pada dunia bahwa istri dan ibu dari anak Ibra bukan seorang narapidana," ucap Ibra lirih.


Reina mengedipkan matanya sekali menjawab permintaan Ibra. Ibra dan Wijaya tersenyum senang melihat respon Reina.


Ponsel Ibra berdering ketika dia sedang asik bercerita kepada Reina. Ibra mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan melihat nama Agam tertera di layar ponselnya.


"Ya, Gam," ucap Ibra setelah mengangkat panggilannya.


"Kantor Polisi sekarang, Ib. Gue tunggu di ruangan gue," ucap Ibra dari seberang sana.


"Oke," jawab Ibra singkat.


"Ma, Ibra pamit dulu, ya. Nanti Ibra balik lagi kesini," ucap Ibra pamit kepada Reina. Reina mengedipkan mata sekali mengizinkan Ibra pergi.


Ibra berdiri dari duduknya dan menghampiri Dee yang duduk di sofa bersama Wijaya. Al sudah tertidur di pangkuan Dee.


"Sayang, aku pergi sebentar, ya. Kamu sama Al disini dulu. Aku mungkin akan lama, jadi nginap disini aja. Besok pagi sekali kita pulang," ucap Ibra memberitahu Dee.


"Kemana, Mas?" tanya Dee.


"Ada perlu sebentar sama Kevin sama Agam, Sayang," ucap Ibra bohong. Dia tidak ingin mengatakan kepada Dee bahwa dia akan ke kantor polisi.


"Mas hati-hati, ya. Jangan ngebut."


"Iya, Mas berangkat dulu," Ucap Ibra sembari mencium pucuk kepala Dee dan Al bergantian.


"Papa ikut," ucap Wijaya yang langsung berdiri dari duduknya dan tidak menunggu izin Ibra. Mereka berdua langsung meninggalkan ruangan dan pergi ke Kantor Polisi.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya


Author sayang kalian 🌹🌹😘

__ADS_1


__ADS_2