Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 75


__ADS_3

Ceklek


Pintu kamar terbuka. "Astagfirullahalazim, SAYANG!" teriak Ibra yang kaget karena mendapati tubuh Dee yang terbaring lemah tidak sadarkan diri di lantai.


Ibra berlari mendekati Dee dan langsung mengangkat tubuh istirnya ke kasur. Saat membaringkan tubuh istrinya di kasur, Ibra melihat sedikit bercak darah di spray nya. Apa Dee lagi datang bulan? Batin Ibra bertanya mengenai darah tersebut.


Ibra menepuk-nepuk pelan pipi Dee membangunkan istrinya. Tapi Dee tidak kunjung bangun dari pingsannya.


"Kenapa Abi?" tanya Al yang masuk ke kamar Abinya dengan nafas yang tidak beraturan, diikuti oleh Bi Nini, Agam dan juga Kevin. Mereka semua kaget mendengar teriakan Ibra yang terdengar sampai ke dapur. Tanpa pikir panjang mereka segera berlari melihat apa yang terjadi.


"Kenapa Ib?" tanya Agam dan Kevin serentak.


"Kenapa Tuan?" tanya Bi Nini.


Ibra menoleh ke arah pintu. "Vin, cepat panggil dokter, Vin. Dee pingsan," ucap Ibra panik. Tanpa pikir panjang Kevin mengeluarkan ponselnya dan menelpon dokter.


Sedangkan Al berlari dan menaiki kasur Uminya dengan tergesa-gesa. "UMI!" pekik Al melihat Uminya dengan wajah pucat tak sadarkan diri.


Kevin dan Agam juga kaget melihat wajah Dee yang benar-benar pucat. Mata Kevin tidak sengaja melihat bercak darah yang ada kasur Ibra. "Ib, Lo-. Astaga benar-benar Lo ya," ucap Kevin tak habis pikir. Seberapa kuat temannya itu sampai istrinya sendiri pingsan dan mengeluarkan darah.


Ibra mengabaikan Kevin. Dia fokus menatap wajah pucat istrinya. "Abi, Umi kenapa Abi, hiks?" tanya Al yang sudah menangis di sebelah Uminya. Tangan mungilnya memegang erat tangan Dee.


"Tenang ya, Boy. Sebentar lagi dokter datang buat periksa Umi," jawab Ibra menenangkan Al.


Sedangkan Agam hanya geleng-geleng kepala melihat keadaan ini.


Lima belas menit kemudian, seorang Dokter wanita muda datang untuk memeriksa Dee. "Bisakah kalian tunggu di luar, biar saya periksa dulu pasiennya," ucap Dokter tersebut meminta mereka semua keluar terlebih dahulu.


"Al mau sama Umi Doktel," ucap Al memohon kepada Dokter wanita tersebut.


"Ya, kami akan disini kau periksa saja. Kami tidak akan menganggu!" ucap Ibra tegas kepada Dokter tersebut. Dia juga ingin mengetahui langsung keadaan istrinya.


Dokter itu pasrah. Dia mulai memeriksa kondisi Dee. Saat akan menyingkap baju Dee, suara Ibra menghentikan pergerakannya. "Tunggu dulu, kami akan keluar!" ucap Ibra langsung mendorong Kevin dan Agam keluar. Dia tidak ingin aurat istrinya dilihat oleh laki-laki lain. Sehingga di sana menyisakan Al, Dokter, dan Bi Nini.


Sepuluh menit sudah berlalu, Dokter keluar dari kamar Ibra. Ibra, Kevin dan Agam yang menunggu di depan kamar menoleh begitu mengetahui Dokter keluar. "Apa semalam pasien mengalami pemerkosaan?" tanya Dokter itu langsung tanpa basa-basi.

__ADS_1


Ibra, Kevin dan Agam melongo. Apa maksud Dokter ini? pemerkosaan? Mana mungkin.


Agam dan Kevin memandang Ibra dengan wajah mengejek mereka. Ibra? Jangan ditanya. Wajahnya sudah merah karena malu.


"Ekhem, Semalam aku dan istriku melakukan hubungan suami istri," ucap Ibra santai menghilangkan kegugupannya.


"Apa kau memaksanya?"


"Tentu saja tidak!" ucap Ibra cepat menjawab pertanyaan Dokter tersebut.


Dokter muda itu menghela nafas sebentar. "Istri mu mengalami sedikit pendarahan, Tuan. Dia pingsan karena daya tahan tubuhnya yang lemah. Aku harap kau memperlakukan istrimu lebih lembut lagi. Jangan seperti binatang kelaparan," ucap Dokter muda itu sedikit sinis kepada Ibra. Dia benar-benar tidak suka dengan suami yang tidak lembut pada istrinya.


Ibra hanya diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena semalam dia memang menggempur istrinya tanpa ampun.


"Dan satu lagi, saat ini istrimu sedang hamil. Usia kandungannya masih sangat lemah. Saya anjurkan anda untuk jangan berhubungan dulu sampai janinnya kuat. Jika tidak itu akan membahayakan janin yang ada di perut istri anda. Dan satu lagi, tolong jaga pola makannya, istri anda memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Perbanyak istirahat untuknya," lanjut Dokter menjelaskan kepada Ibra.


"Ha-hamil," ujar Ibra terbata-bata.


"Wah gila, ponakan gue nambah lagi," ucap Agam senang mendengar kehamilan Dee.


Ibra masih termenung. Hingga beberapa detik senyum terbit di bibir seksinya. "Terimakasih, Dokter," ucap Ibra senang.


Dokter mengangguk, "tolong jaga istri anda sebaiknya. Selalu perhatikan pola makan dan waktu istirahatnya. Jangan sampai dia kelelahan," ucap Dokter menasehati Ibra.


Ibra mengangguk semangat mengiyakan perkataan Dokter.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Segera bawa istri anda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit. Saya permisi," ucap Dokter tersebut meninggalkan Ibra, Kevin dan Agam.


Ibra langsung membuka pintu kamar dan menerobos masuk. Dia melihat Al yang mengusap lembut rambut Uminya uang masih pingsan. "Umi, ayo bangun," rengek Al karena Dee gak kunjung bangun.


"Boy, sebentar lagi Umi akan bangun," ucap Ibra.


"Umi kenapa Abi?" tanya Al. Karena tadi Dokter tidak mengatakan apa-apa sewaktu memeriksa Uminya.


Ibra tersenyum. "Sebentar lagi, Al akan jadi Abang," ucap Ibra memberitahu.

__ADS_1


Mata Al berbinar senang mendengar kata Abang. Itu artinya dia sudah besar karena sebentar lagi akan dipanggil Abang. "Benalkah Abi?"


Ibra mengangguk yakin, "Iya, Boy," jawab Ibra.


"Wah, selamat Tuan," ucap Bi Nini senang mengucapkan selamat kepada Ibra.


"Terimakasih, Bi," jawab Ibra ramah.


"Vin, bulan ini kasih semua karyawan bonus. Ini bentuk syukur gue karena sebentar lagi ada anggota baru di rumah ini. Dan sampaikan juga sama sopir dan satpam, Bi, bulan ini kalian semua dapat bonus," ucap Ibra senang kepada Kevin dan Bi Nini.


"Aman, Pak Bos," ucap Kevin senang.


"Terimakasih, Tuan," ucap Bi Nini.


"Gue nggak Lo kasih?" tanya Agam menunjuk dirinya sendiri.


"Lo dapat tiket liburan di pulau yang udah gue pesan. Minta sama Kevin," ucap Ibra.


Kevin mendengus kesal. Kenapa bukan dia yang dapat tiketnya. Ini malah sahabatnya yang tidak melakukan apa-apa yang dapat. Padahal kan dia yang memesannya. Kevin mengeluarkan dua tiket dari saku celananya dan memberikan kepada Agam yang sudah memasang wajah sombongnya. Niat Kevin datang kesini juga ingin memberikan tiket ini kepada Ibra untuk bulan madunya bersama Dee. Tapi gagal karena Dee sudah hamil duluan.


"Mas," lirih Dee dengan suara lemahnya.


Semua mata tertuju pada Dee yang mulai membuka mata. "Iya, Sayang," jawab Ibra lembut.


"Umi bangun?" tanya Al senang.


Dee mengalihkan pandangannya ke samping ke tempat anaknya duduk. Dee tersenyum, "Iya, Nak," ujar Dee lemah.


"Umi tahu, sebentar lagi Al mau jadi Abang," ucap Al antusias memberitahu Dee.


Dee langsung mengalihkan pandangannya kepada Ibra. Ibra yang mengerti raut wajah istrinya mengangguk mengiyakan maksud Dee.


Senyum mengembang sempurna di bibir mungil Dee yang pucat. Tangannya terulur mengusap lembut perutnya. "Alhamdulillah," ucap Dee bersyukur dengan sudut mata yang sudah berair karena senang. Semua yang ada di sana ikut tersenyum haru melihat kebahagiaan keluarga kecil itu.


......................

__ADS_1


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹🌹


__ADS_2