Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 114


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Anakku sudah tumbuh besar sekarang. Batin Ibra mengusap lembut rambut Kina.


Ibra memajukan wajahnya untuk mengecup seluruh wajah Kina. Keberuntungan kembali datang padanya. Kina sama sekali tidak merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Ibra. Anak itu nampak betah dengan dunia mimpinya.


Ibra melihat setiap sudut kamar Kina. Banyak foto-foto kebersamaan Kina bersama Al dan Dee. Pandangan Ibra terhenti ketika matanya tak sengaja melihat bingkai kecil yang terletak di atas nakas sebelah ranjang. Didalam bingkai tersebut ada foto hasil USG. Ibra yakin ini hasil USG Kina sewaktu masih dalam kandungan.


Begitu banyak momen berharga yang aku lewati. Aku mohon Tuhan, sebesar apapun dosa ku, tolong maafkan aku. Batin Ibra menangis sambil mengusap lembut foto tersebut.


Ibra kembali berjongkok dan memandangi wajah Kina yang damai dalam tidurnya. Anak nya ini seperti boneka hidup. Mirip sekali dengan istrinya.


Ibra naik ke kasur Kina dengan perlahan. Dia memeluk erat tubuh Kina yang sedang tertidur. Ibra tidak ikut memejamkan mata. Karena dia takut nanti akan ketiduran. Ibra mengusap lembut rambut Kina agar gadis kecilnya bisa tidur dengan nyenyak.


Kina berbalik badan dalam tidurnya dan memeluk erat Ibra seperti guling. Anak itu sama sekali tidak merasa terganggu. Malah tidurnya tampak lebih nyenyak. Ibra yang merasakan pelukan hangat gadis kecilnya tersenyum senang.


Setengah jam Ibra menemani Kina tidur, kini Ibra dengan pelan dan lembut melepaskan pelukan Kina dari tubuhnya. Setelah itu mengambil guling untuk menggantikan dirinya.


Ibra kembali memandangi wajah Kina. "Untuk sekarang sama guling dulu, ya, Nak. Setelah usaha Abi berhasil, Kina boleh sepuasnya memeluk Abi," gumam Ibra pelan.


Setelah puas memandang wajah Kina dan menciuminya, Ibra berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia keluar dari kamar Kina dan melangkah ke pintu kamar yang ada di sebelah kamar Kina. Ibra yakin itu kamar anak laki-lakinya. Karena di pintu tersebut ada gantungan dari kayu yang bertuliskan 'Pangeran'. Tanpa pikir panjang, Ibra membuka pintu kamar Al dengan perlahan.


Hal pertama yang Ibra lihat adalah anaknya yang tidur dengan memeluk erat guling nya. Ibra berjalan mendekati ranjang. Sama seperti yang dia lakukan pada Kina, Ibra berjongkok di depan Al.

__ADS_1


"Wajah kamu memang sangat mirip dengan Abi, Nak. Sangat tampan," gumam Ibra sangat pelan dengan percaya dirinya.


Saat asik memandangi wajah Al, Ibra kembali teringat dengan segala perkataan Al saat di tempat lomba. Air mata Ibra keluar dengan sendirinya tanpa bisa dia cegah.


Sungguh besar kesalahan Abi hingga kamu mendapat kekecewaan yang sangat dalam dari Abi. Abi mohon maafkan Abi. Izinkan Abi berjuang untuk kebahagiaan kita kembali. Abi janji, seberapapun susahnya jalan yang harus Abi lalui, Abi akan terus berusaha untuk keluarga kita bersatu kembali, Nak. Izinkan Abi membayar semua luka yang Abi ciptakan. Izinkan Abi mengganti air mata kepedihan itu dengan air mata kebahagiaan, Nak. Izinkan Abi. Batin Ibra menangis.


Ibra menghapus air matanya dengan kasar. Setelah itu Ibra mencondongkan tubuhnya untuk dapat mengecup seluruh wajah Al. Terakhir Ibra mengecup dahi Al sangat lama.


Abi sangat menyayangi anak-anak Abi. Batin Ibra sendu. Setelah itu Ibra berdiri dan melangkah kakinya keluar kamar Al.


Setelah keluar kamar anaknya, Ibra melangkahkan kakinya menuruni tangga. Karena Ibra hanya melihat ada dua kamar di lantai dua. Itu berarti kamar Dee ada dilantai satu. Dan benar saja, Ibra melihat sebuah kamar di sebelah ruang keluarga. Yang Ibra yakini itu adalah kamar Dee. Dengan perlahan Ibra berjalan mendekati pintu tersebut.


Tangan Ibra yang tadinya terulur untuk membuka handle pintu terhenti ketika mendengar suara tangis beserta isakan dari dalam kamar Dee. Ibra yakin, itu adalah tangis wanita kecintaanya.


Hati Ibra sakit, rasa cemas memenuhi hatinya. Dengan penuh hati-hati, Ibra menggunakan jepit rambut lidi untuk membuka pintu kamar Dee. Dia takut wanitanya kenapa-napa.


Dengan perlahan, Ibra membuka pintu. Hal pertama yang ditangkap oleh indera penglihatannya adalah Dee yang menangis dan terisak dalam doanya dengan posisi membelakangi pintu. Sunyi dan gelap kamar menemani Dee dalam sujud malamnya.


Air mata Ibra kembali jatuh membasahi pipinya. Hanya ada tangis dan isakan dalam doa wanitanya. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Dee. Tapi tangis itu seolah mewakili segala perasaanya.


Ya Allah, sakit hatiku melihat ini. Apapun Doa wanitaku, tolong kabulkan segala kata semoga yang terucap dihatinya. Batin Ibra.


Sedangkan Dee saat ini sangat khusyuk dalam doanya. Tangisnya pecah dalam setiap doanya.

__ADS_1


Ya Allah. Mengapa perasaan cinta itu masih ada. Rindu ini semakin bertambah seiring waktu, Ya Allah. Aku mohon, dimanapun dia berada, beri kebahagiaan untuk dia dan keluarga barunya. Sampaikan padanya bahwa aku dan anak-anakku disini baik-baik saja. Maafkan hatiku yang masih mengharapkan dia untuk kembali dan berjuang demi cintaku, Ya Allah. Ya Allah, terimakasih karena sudah memberi dua malaikat dalam hidupku. Terimakasih karena mengirim anak-anakku sebagai semangat ku Ya Allah.


Ya Allah, jika nanti mulutku sudah tidak mampu lagi mengucapkan doa kepadamu, tolong dengarkan saja kata hatiku, Ya Allah. Ucap Dee berdoa dalam hatinya.


Tanpa Dee ketahui, Ibra ikut menangis mendengar tangis dalam doa Dee.


Cukup. Ibra sudah tidak sanggup lagi. Ibra segera menutup pintu kamar Dee dan kembali menguncinya. Badan Ibra merosot di balik pintu kamar Dee.


Ibra menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Dadanya sesak, sakit melihat wanitanya. Ibra kecewa pada dirinya sendiri. Ibra marah pada dirinya sendiri yang sudah bodoh, dan ceroboh. Ibra mengumpati dirinya yang tidak memiliki kejujuran dan kepercayaan dalam rumah tangganya sendiri. Ibra benci dengan semua yang ada pada dirinya.


Dalam diamnya, Ibra menumpahkan segala tangisnya. Kedua makhluk Allah yang masih saling mencintai itu menangis menumpahkan kerinduan. Dee dengan sholat dan doanya, sedangkan Ibra dengan segala penyesalannya.


Hiks, bantu aku memperjuangkan mereka kembali, Ya Allah. Bantu aku dan restui setiap langkahku. Hiks, maafkan kebodohan ku, Sayang. Maafkan Aku. Batin Ibra menangis dalam diamnya.


Sedangkan di dalam kamar, Dee masih betah duduk di atas sajadahnya dengan khusyuk. Dia merasa sangat nyaman dan lega jika menyampaikan segala keluh kesahnya kepada Sang Pencipta.


Malam yang sunyi menjadi saksi bagaimana Ibra meyaksikan sendiri akibat dari segala kebodohannya. Anak-anaknya yang tumbuh tanpa kasih sayangnya, serta wanita yang dia cintai harus banting tulang untuk bangkit demi anak-anak mereka.


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa kasih semangat buat Abi Ibra ya teman-teman.

__ADS_1


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


Maaf karena belum bisa crazy up seperti permintaan kalian semua. Karena disini aku terhalang kesibukan dunia nyata 🙏


__ADS_2