Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 71


__ADS_3

"ABI, HIKS," teriak Al menangis memanggil Abinya.


Ibra dan Dee yang tadinya asik bercerita kaget dan langsung berlari ke tempat Al.


"Kenapa, Nak?" tanya Ibra pada Al yang terduduk di atas rumput sambil menangis.


"Al, nggak kenapa-napa kan, nak?" ucap Dee memeriksa seluruh tubuh anaknya.


"Tangan Al di gigit lebah Abi, Umi. Hiks," ucap Al mengadu sambil memperlihatkan telapak tangannya yang bengkak.


"Ya Allah kenapa bisa di gigit, Nak?" tanya Dee cemas.


"Tadi Al mau tangkap kupu-kupu disini. Waktu kupu-kupunya hinggap di bunga, ternyata ada lebah di sana Umi, tangan Al di gigit. Sakit Umi" ucap Al menangis menceritakan kronologinya.


"Kita ke dokter, ya," ucap Ibra dan langsung menggendong Al.


Mobil Ibra berhenti sempurna di depan sebuah klinik yang ada di dekat taman. Ibra turun dari mobil dan mengambil Al yang ada dipangkuan Dee untuk segera menggendongnya.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Dee cemas setelah Al diperiksa Dokter. Pasalnya, tangan Al sangat bengkak karena bisa lebah tersebut.


"Tenang, Sayang. Al nggak akan kenapa-napa," ucap Ibra menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Ini tidak apa-apa. Untung bisa yang masuk tidak terlalu banyak, jadi kami bisa mengeluarkan bisanya dengan mudah. Ini saya berikan salep untuk menghilangkan rasa nyerinya. Dalam beberapa hari bengkak ditangannya akan segera hilang," ucap Dokter menjelaskan.


Ibra dan Dee menyimak penjelasan dokter. Dee menerima salep yang diberikan oleh dokter. Al yang duduk dipangkuan Ibra terus memandangi telapak tangannya yang bengkak.


"Terimakasih, Dokter," ucap Dee tersenyum kepada Dokter tersebut. Ibra sangat tidak suka melihat ini, Pasalnya Dokter laki-laki itu selalu memperhatikan istrinya.


"Ayo, Sayang kita pulang!" ucap Ibra tegas.


Dee mengangguk dan kembali tersenyum. "Kalau begitu saya permisi dulu, Dokter," ucap Dee pamit.


"Baik, silahkan," ucap Dokter tersebut ramah kepada Dee.


Mereka keluar dari klinik dan segera naik ke mobil. Al duduk di pangkuan Dee dengan manja.


"Iya, nanti pasti akan hilang bengkaknya. Tadi kan udah dikasi obat sama Dokternya," ucap Dee menghibur Al.


Al hanya mengangguk patuh. Untung bukan tangan kanannya yang digigit lebah, kalau tidak dia tidak akan bisa menulis dan menggambar lagi.


"Jangan cengeng, Boy. Itu obat besar," ucap Ibra.


"Obat besal?" tanya Al bingung.

__ADS_1


"Iya, obat besar. Itu artinya Al ditambah kekuatannya sama Allah buat nahan sakit. Berarti Al sudah tambah besar sekarang," ucap Ibra kepada Al. Dee hanya menyimak perkataan suaminya. Karena sejak keluar dari klinik Ibra tidak mengajaknya bicara sama sekali.


"Waah, belalti Al udah gede ya, Abi?" tanya Al dengan wajah senang nya.


"Iya, Boy," jawab Ibra.


"Kalau begitu Al mau di gigit lebah terus," celetuk Al dengan girangnya.


"Nggak gitu juga, Boy. Kalau tiap hari di gigit lebah itu nggak baik juga."


"Abi ini gimana sih. Tadi bilangnya obat besal, sekalang bilang nggak baik. Abi nggak jelas," gerutu Al kesal dengan Abinya.


Ibra hanya diam, dia tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan pada anaknya.


"Maksud Abi bukan gitu, Nak. Al hanya harus hati-hati lagi kalau main. Nggak boleh sembarangan," ucap Dee menjelaskan.


"Iya, Umi," ucap Al patuh.


Ibra melongo. Dengan istrinya Al sangat patuh dan tidak banyak tanya, sedangkan dengan dirinya sendiri harus melalui perdebatan terlebih dahulu. Benar-benar anaknya ini, pikir Ibra.


......................

__ADS_1


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹


__ADS_2