Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 126


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah kejadian yang sangat menguras air mata tadi, kini Ibra, Kina, Al dan Adam duduk di ruang keluarga, sedangkan Dee pergi ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil beberapa cemilan. Dee memperbolehkan Ibra masuk karena di sana juga ada Adam, jadi tidak akan menimbulkan fitnah nantinya.


"Gala," panggil Ibra. Kini mereka duduk di karpet berbulu di depan televisi. Kina yang tiduran dengan paha Ibra sebagai bantalan, Al yang duduk dengan kepala yang di sandarkan di lengan Ibra, dan Adam yang duduk di sebelah Al.


Adam mengalihkan pandangannya dari televisi ketika Ibra memanggilnya.


"Hem," jawab Adam.


"Maafin Abang," ucap Ibra.


Al yang juga mendengar permintaan maaf keluar dari mulut Abinya juga ikut melihat Adam. Berharap jika adik Uminya itu memaafkan Abinya.


"Asal Abang berjanji untuk tidak mengulanginya," ucap Adam.


"Abang takut untuk berjanji, tapi Abang akan sangat mengusahakan semua nya tidak akan terulang, Gala," ucap Ibra. Harusnya dari awal dia bertanya terlebih dahulu siapa Adam. Tidak langsung marah dan emosi sehingga menimbulkan masalah baru.


Adam tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Ibra. Al yang melihat itu juga ikut senang.


"Kapan pernikahan Abang dan Ayang dilaksanakan?" tanya Adam.


"Abang maunya tiga hari lagi. Tapi tanya Ayang mu nanti," jawab Ibra.


Al yang mendengar itu bersorak senang dalam hati. Tiga hari lagi? Wah ulang tahun Al tiga hari lagi. Berarti Umi dan Abi nikah lagi saat ulang tahun Al. Wah, ini kado terindah. Batin Al bersorak senang.


"Al kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Adam heran melihat Al yang senyum-senyum sendiri.


Al menoleh kepada Adam. "Nggak ada Ayah, senyum kan ibadah," jawab Al dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Abi tahu kamu membayangkan apa, Boy. Batin Ibra ikut senang melihat senyum Al. Anak yang sudah terlalu banyak dia berikan luka, kini berubah menjadi lelaki kecil yang sangat bertanggungjawab dan sangat menyayangi keluarganya.


Al dan Kina memang memanggil Adam dengan sebutan Ayah. Adam sendiri yang memintanya. Dee juga tidak masalah dengan itu. Toh Adam juga orang tua bagi mereka.


"Abi," panggil Kina dengan suara mungilnya.


"Iya, Nak," jawab Ibra mengusap lembut kepala Kina yang tertutup jilbab.


"Nanas," rengek Kina manja mengibaskan jilbabnya.


Ibra bingung karena Kina menyebut 'Nanas', tapi setelah itu dia paham melihat Kina yang mengibaskan jilbabnya.


"Jilbab Adek dibuka aja, ya," ucap Ibra.

__ADS_1


"Tapi nanti aulat, Abi. Doca," ucap Kina.


Ibra tersenyum mendengar perkataan anak perempuannya itu. "Adek, disini semua keluarga Adek, jadi boleh kalau jilbabnya di buka," ucap Ibra.


Kina langsung duduk dari rebahan nya, menatap Ibra dengan tatapan berbinar. "Iya tah, Abi?" ucap Kina.


"Iya, Nak. Ya sudah, sekarang buka jilbabnya," ucap Ibra.


Kina mengangguk. Ibra membantu tangan mungil Kina untuk membuka jilbabnya dan meletakkan jilbab itu di sofa.


"Adek benar-benar Umi versi kecil," ucap Ibra mencium gemes pipi gembul Kina.


Kina terkekeh geli mendapat ciuman bertubi-tubi dari Abinya. Disela canda tawa mereka, Dee datang membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Wajah wanita cantik itu nampak masih sedikit sembab karena menangis tadi.


"Wah setelobeli," ucap Kina dengan mata berbinar melihat buah stoberi yang ada di dalam piring. Semua yang ada di sana ikut terkekeh mendengar ucapan Kina yabg tidak lurus dalam menyebutkan kata strowberry


Dee tersenyum senang melihat Kina yang sangat antusias jika melihat stroberi. "Ini khusus buat Adek," ucap Dee meletakkan piring yang berisi stowberry ke pangkuan Kina.


"Timakaci, Umi," ucap Kina senang. Dee mengangguk sambil tersenyum melihat tingkah Kina.


Mereka semua duduk bersama di depan Televisi menikmati siaran yang ada di layar datar tersebut. Tapi tidak dengan Ibra, dia sibuk melihat wajah wanita kesayangannya. Dan semua itu tidak lepas dari penglihatan Adam. Adam paham, ada sesuatu yang ingin Ibra sampaikan kepada Dee mengenai pernikahan mereka.


"Al, Kina, kita ke atas, yuk," ucap Adam kepada Kina dan Al.


"Tenapa Ndak cini aja?" tanya Kina mengerjap lucu.


"Karena di atas lebih tenang," ucap Adam mengangkat badan Kina tanpa menunggu persetujuan si empunya.


Kina yang digendong dan di ayunkan sepeti pesawat terbang oleh Adam tertawa senang, begitu juga dengan Al.


.....


Kini tinggal Dee dan Ibra berdua di ruang keluarga. Kecanggungan masih terasa diantara mereka.


Duh, kenapa gue gugup gini, sih. Berasa kayak anak remaja aja. Batin Ibra merutuki kegugupannya.


"Em ... Sayang," panggil Ibra lembut.


"Dee!" ucap Dee tegas mengoreksi panggilan Ibra untuknya. Dee masih tidak enak jika Ibra memanggilnya seperti itu. Belum ada ikatan di antara mereka, jadi Dee tidak mau.


"Huh, ya Dee," ucap Ibra sedikit lesu.


"Ada apa Mas?" tanya Dee.

__ADS_1


"Em ... itu, kitamenikahtigaharilagi," ucap Ibra tanpa jeda.


"Kamu ngomong apa?" tanya Dee bingung. Dia tidak mendengar jelas perkataan Ibra.


Ibra menarik nafasnya sebentar lalu membuangnya perlahan. "Kita menikah tiga hari lagi, ya. Tepat di hari ulang tahun Al. Bagaimana?" tanya Ibra hati-hati. Dia takut Dee tidak akan mengabulkannya.


Tapi di luar dugaan Ibra, Dee tersenyum dan mengangguk. Mata Ibra berbinar dengan senyum mengembang di bibirnya. Baru Ibra akan memeluknya, tapi Dee sudah menjauhkan tubuhnya. "Belum boleh," ucap Dee menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan tepat di depan wajah Ibra.


Dengan cemberut Ibra menarik kembali tangannya. Saat Ibra menarik tangannya, Dee melihat telapak tangan sebelah kanan Ibra robek cukup besar.


"Tanganmu kenapa?" tanya Dee khawatir.


Ibra tersenyum. "Apakah calon istriku ini khawatir?" ucap Ibra menggoda Dee.


"Ck, jawab saja tanganmu kenapa?" tanya Dee kesal.


"Ini nggak sengaja kena gergaji waktu kerja," jawab Ibra santai.


Tapi lain dengan Dee yang mengangakan mulutnya tidak percaya. Dee melapisi tangannya dengan jilbab panjangnya lalu mengambil tangan Ibra yang sakit agar kulit mereka tak bersentuhan. "Apa ini sakit?" ucap Dee meniup telapak tangan Ibra.


Hati Ibra menghangat mendapat perlakuan seperti ini. Sudah sangat lama dia merindukan waktu-waktu seperti ini. "Sangat sakit. Tapi terobati dengan kebahagiaan yang sangat besar ini," ucap Ibra memandang lembut Dee.


"Dee, terimakasih karena sudah memberi kesempatan," ucap Ibra.


Dee tersenyum dan mengangguk. "Semua demi kebaikan kita. Tidak ada gunanya mengemukakan ego masing-masing kan? Aku hanya meminta keseriusan mu kali ini. Luka ku memang belum sembuh, tapi aku mengusahakannya untuk segera kering. Jadi jangan pernah menabur garam lagi," ucap Dee.


Ibra mengangguk yakin. "Aku terlalu brengsek untuk berjanji, jadi jangan terlalu berharap pada setiap ucapan ku. Tapi percayalah, tindakanku akan selalu mengusahakan kebahagiaan untuk kita semua," ucap Ibra.


Dee mengangguk dan tersenyum kepada Ibra. "Bersiaplah tiga hari lagi, kita akan menikah dan memulai ibadah panjang dengan cinta dan raga yang sama untuk kedua kalinya," lanjut Ibra.


"Aku menantikan bibirmu menyentuh keningku saat kata sah itu terucap untuk kedua kalinya dalam hidupku," ucap Dee tersenyum lembut.


Mata Ibra berkaca-kaca mendengar perkataan Dee, tapi senyum di bibirnya menunjukkan bahwa semua ini adalah kebahagiaan mereka. "Terimakasih banyak," ucap Ibra tulus.


Dee hanya mengangguk dan tersenyum tulus menjawab ucapan Ibra. Kepalanya kembali menunduk dan meniup luka di telapak tangan Ibra.


Terimakasih telah mengembalikan bidadari ku, Tuhan. Untuk pangeran surga, semoga kalian tidak iri dengan keberuntunganku mendapatkan bidadari seperti ini. Batin Ibra senang memandang Dee yang meniup telapak tangannya.


......................


Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote dari kalian ya.


Jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2