Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 45


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Tidak ingin larut dalam pikirannya, Ibra segera mengambil sarung Al dan bergegas kembali ke kamarnya. Sampainya Di kamar, Ibra melihat Istri dan anaknya telah siap untuk segera melaksanakan sholat subuh. Ibra memberikan sarung Al dan membantu memakaikannya. Setelah itu mereka sholat subuh berjemaah.


Saat ini Ibra, Dee dan Al tengah menikmati sarapannya. Suara peraduan sendok dan piring mengisi suasana hening di meja makan.


"Abi, Al mau belangkat sekolah dengan Umi, ya," ucap Al meminta izin kepada Ibra.


Ibra mengangkat sebelah alisnya menjawab pertanyaan Al.


"Al mau diantal Umi jalan kaki, Abi. Sepelti teman-teman Al yang lain. Meleka hanya diantal jalan kaki saja. Lagian sekolah kan dekat dengan komplek, Abi," ucap Al menjelaskan permintaan nya kepada Ibra.


"Abi terserah Umi saja, Boy," jawab Ibra.


Al mengalihkan pandangannya kepada Dee. "Umi," ucap Al dengan nada merengek berusaha membujuk Dee.


Dee tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan Al. "Yeay," teriak Al girang melihat Umi dan Abinya. "Telimakasih, Umi, Abi," ucap Al.


"Apapun untuk, anak Umi," ucap Dee mengusap lembut pipi Al. Sedangkan Ibra hanya tersenyum melihat kegirangan anaknya.


Setelah meyelesaikan sarapannya, Ibra berangkat ke kantor mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan Al dan Dee pergi ke sekolah Al dengan berjalan Kaki.


Ibra sampai di kantornya. Dia menyerahkan kunci mobil kepada salah satu satpam untuk menyuruhnya memarkirkan mobilnya. Ibra berjalan dengan langkah panjangnya menuju lift. Dengan ekspresi dingin dan tegasnya Ibra tidak membalas setiap sapaan karyawannya. Dia hanya melihat sekilas dan sedikit mengangguk.


Ting


Ibra keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Sampai didepan ruangannya, Ibra melihat Naina yang sudah duduk mejanya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Naina sedikit membungkukkan badan menyapa Ibra.


"Pagi, Nai," jawab Ibra dan langsung memasuki ruangannya.

__ADS_1


Sampai di ruangannya, Ibra menghela nafas pelan melihat banyaknya file yang bertumpuk di meja kerjanya. Tiga hari tidak masuk kantor membuat kerjaannya sedikit menumpuk. Untung ada Kevin yang selalu membantunya.


Tok, tok, tok


Suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk!" jawab Ibra dari dalam ruangannya.


Tampaklah tubuh tegap dan gagah Kevin memasuki ruangan Ibra. "Selamat pagi, Ib," sapa Kevin.


"Hmm," jawab Ibra tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertas di tangannya.


"Gimana kabar Dee dan Al, Ib?"


"Ngapain Lo tanya-tanya anak istri gue?"


"Kumat lagi posessivenya," gerutu Kevin tapi masih di dengar oleh Ibra.


"jangan ngatain gue."


"Hehe, gue cuma nanya aja," jawab Kevin cengengesan.


"Bagaimana penyelidikan kita, Vin?" tanya Ibra mulai serius kepada Kevin.


"Masih belum ada kemajuan, Ib. Terlalu sulit untuk buat tiga tahanan itu buka mulut. Agam juga sedang meminta bantuan komandannya untuk mempermudah penyelidikan kita," ucap Kevin setengah berbohong dan setengah jujur.


"Lo nggak bohong, kan?" tanya Ibra mengintimidasi kepada Kevin.


"Mulut gue terbiasa berucap jujur, ya," jawab Kevin santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Maafin gue dan Agam, Ib. Gue dan Agam belum bisa memberitahu mengenai Naina yang sebenarnya kepada Lo sampai kita dapat bukti yang lebih kuat lagi. Gue harap Lo bersabar sebentar lagi. Ucap Kevin dalam hati.


Gue harap Lo nggak bohongin gue, Vin. Ucap Ibra dalam hati memandang lekat Kevin.


Ditengah perbincangan mereka, Naina datang menghampiri Kevin dan Ibra.


"Ada apa, Nai?" tanya Ibra ketika melihat Naina.


"Bolehkan aku izin untuk menjemput Al sekolah, Ib?"

__ADS_1


"Menjemput Al?" tanya Ibra memastikan.


Naina mengangguk menjawab pertanyaan Ibra.


"Tidak perlu, Nai. Sudah ada Dee yang mengantar dan menjemput Al," jawab Ibra lembut.


"Benarkah? aku senang mendengarnya. Waktu ku berkurang untuk menghukum anak itu," lanjut Naina dalam hati karena kesal mendengar perkataan Ibra.


Dasar lalat hijau. MUNAFIK. Umpat Kevin dalam hati dengan memasang wajah tanpa dosanya.


"Kalau begitu, aku permisi kembali, Ib, Vin," izin Naina kepada Ibra dan Kevin.


Ibra dan Kevin mengangguk mengizinkan Naina pergi.


"O iya, Ib, lima belas menit lagi kita akan meeting dengan perusahaan dari Italia," ucap Kevin setelah melihat kepergian Naina.


"Lo duluan ke ruang meeting, sebentar lagi gue nyusul," jawab Ibra berdiri dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


Kevin keluar dari ruangan Ibra. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat Naina sedang menelfon seseorang di ujung lorong. Kevin berjalan perlahan dan mencoba menguping pembicaraan Naina.


Naina membalikkan badan dan terkejut karena kedatangan Kevin. "Kevin," ucap Naina kaget karena Kevin tiba-tiba ada di depannya.


"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi jangan pernah mencoba menyiksa Al dan Dee. Jika sampai rencana busuk mu terjadi, kau bisa lihat apa yang terjadi pada mu," ucap Kevin memperingati Naina.


"Oohh, jadi kau menjadi pahlawan untuk anak dan ibu sialan itu?" ucap Naina dengan santai.


"Jika kau berani, silahkan saja. Karena aku sudah menggenggam senjata utamaku, Ibra," ucap Naina tepat di wajah Kevin dengan suara lembut namun tajam. Tatapan tajam mereka saling bertemu.


"Kevin, Naina."


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Author sayang kalian 🌹🌹😘

__ADS_1


__ADS_2