Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 101


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Ala mimpi Abang," jawab Zahra senang.


"Benarkah, Nak?" ucap Ibra antusias.


Zahra mengangguk senang. "Iya Abi. Dalam mimpi Ala, Abang lagi main bola sama teman-teman nya. Abang teltawa bahagia, Abi," ucap Zahra dengan semangat menceritakan kepada Ibra, Wijaya dan Reina.


"Nenek tahu, Abang ganteng banget di mimpi Ala, Nek," lanjut Zahra menceritakan mimpinya.


"Dilihat secara langsung Abang lebih ganteng, Sayang. Kan Abang anak Abi, sama cantiknya kayak Zahra," ucap Ibra mencolek hidung mungil Zahra.


"Ala pengen ketemu Abang, Abi. Bial bisa ajak Ala main," ucap Zahra sendu.


"Ara jangan sedih, ya. Doakan sebentar lagi kita ketemu sama Abang," ucap Reina mengusap lembut rambut Zahra.


"Iya, Nenek. Ala selalu doain Abang dan Umi," ucap Zahra. Ibra, Wijaya dan Reina yang melihat sikap antusias Zahra membicarakan Al ikut tersenyum senang sekaligus bersyukur. Karena anak itu sangat menyayangi Al.


Zahra memang sudah mengetahui tentang Al dan Dee. Karena saat dia ke rumah Ibra, dia melihat begitu banyak foto Dee dan Al di sana. Dan saat Zahra bertanya kepada Ibra, Ibra langsung menceritakan semuanya. Bahwa Al adalah Abangnya dan Dee adalah Uminya. Ibra tidak memberitahu kejadian yang sebenarnya, takut itu akan berpengaruh pada kesehatan mental Zahra.


.....


Waktu terus berjalan. Saat jam istirahat, Al di panggil ke ruangan Kepala Sekolah.


"Assalamu'alaikum, Pak Kepala Sekolah," ucap Al yang masih berdiri di ambang pintu.


Kepala Sekolah yang mendengar suara seseorang langsung mengangkat kepalanya. "Waalaikumsalam, Nak. Kau sudah datang. Ayo masuk dan duduk lah," ucap Kepala Sekolah ramah.


Al masuk dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja kepala sekolah.


"Maaf, Pak. Apa Al membuat kesalahan?" tanya Al takut.


Anton selaku Kepala Sekolah tersenyum hangat kepada Al. "Tidak, Nak. Al tidak membuat kesalahan. Bapak memanggil Al kesini karena ingin menyampaikan sesuatu," ucap lelaki paruh baya tersebut.


"Sesuatu apa, Pak?" tanya Al penasaran.


"Begini, Bapak mau Al mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan melukis Nasional untuk seluruh Indonesia. Sekolah kita terpilih untuk mewakili kota kita, Nak," ucap Anton.


"Wah, benarkah Pak? Al ikut senang mendengarnya. Tapi kenapa harus Al, Pak?" tanya Al.


"Karena Al mempunyai bakat melukis yang baik. Guru-guru juga merekomendasikan Al untuk ikut," ucap Anton memberitahu.


"Em, maaf Pak. Kegiatannya dilaksanakan dimana, Pak?" tanya Al lagi.

__ADS_1


"Perlombaan akan dilaksanakan di Jakarta, Nak. Nanti Bapak akan ikut mendampingi Al ke sana. Bagaimana? Al setuju?" ucap Pak Anton menanyakan persetujuan Al.


Al terdiam mendengar nama Kota Jakarta. Itu adalah tempat tinggalnya dulu bersama Abinya. Dan untuk saat ini dia belum siap jika nanti bertemu Ibra di sana.


"Em ... maaf, Pak Kepala Sekolah. Bolehkan Al meminta izin terlebih dulu sama Umi di rumah?" ucap Al hati-hati. Karena dia takut Kepala Sekolah akan memarahinya.


"Iya. Al boleh izin dulu kepada orang tua. Ini bapak ada suratnya. Ini nanti Al berikan kepada Orang tua. Jika orang tua mengizinkan, maka dia harus tanda tangan di surat ini nanti," ucap Anton memberikan amplop berisi surat kepada Al.


Al menerima surat tersebut. "Baik, Pak. Nanti akan Al sampaikan," jawab Al.


"Iya, Nak. Bapak beserta guru lainnya berharap agar Al bisa mengikuti perlombaan Ini," ucap Anton. Karena sayang, jika bakat bagus yang dimiliki Al tidak digunakan.


"Iya, Pak. Kalau begitu Al permisi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Al pamit.


"Waalaikumsalam," jawab Kepala Sekolah. Setelah itu Al menyalami tangan Anton dan pergi kembali ke kelasnya.


Al memiliki bakat melukis yang sangat bagus. Ingat bukan bagaimana dulu dia selaku melukis wajah Uminya di kertas. Al yang kini masih berusia tujuh tahun sudah duduk di bangku kelas tiga. Karena kecerdasannya, Al hanya menjalani kelas satu dan kelas duanya hanya satu semester saja.


.....


Waktu pulang sekolah telah tiba. Anak-anak SD tempat Al sekolah sudah berhamburan keluar kelas. Al berjalan kaki bersama teman-teman satu kompleknya untuk pulang. Jarak komplek mereka dari sekolah hanya menempuh waktu sepuluh menit. Jadi Al dan teman-temannya memilih berjalan kaki daripada di jemput orang tua mereka.


Sepanjang perjalanan pulang, Al hanya diam. Dia memikirkan apa yang di bicarakan Kepala Sekolah tadi. Haruskah dia memberikan surat itu kepada Uminya atau tidak? Pikirannya terus bertanya-tanya.


"Eh, tidak. Aku tidak apa-apa," ucap Al. Setelah itu Azka hanya diam dan kembali bicara dengan teman-teman mereka yang lain.


Tidak berselang lama, kini Al sudah sampai di toko Dee. "Assalamu'alaikum," ucap Al.


"Waalaikumsalam," jawab beberapa karyawan yang ada di sana.


"Uda Joni, Umi sama Kina kemana?" tanya Al kepada salah satu karyawan Dee yang masih berumur sekitar dua puluh tahun.


"Umi sama Kina ada di rumah Al. Tadi Kina habis jatuh dari kursi," jawab Joni memberitahu.


"Kina nggak apa-apa kan, Uda?" tanya Al khawatir.


"Tadi lututnya sedikit berdarah, Al," ucap Joni.


"Kali gitu Al susul Umi sama Kina dulu, Uda. Assalamu'alaikum," ucap Al dan langsung berlari ke rumahnya.


"Waalaikumsalam," jawab Joni geleng-geleng kepala melihat Al yang sangat khawatir kepada Kina.


Al berlari masuk kerumahnya. Sampai di rumah, dia mendengar suara Kina menangis dari arah dapur.

__ADS_1


"Umi, Adek," panggil Al.


"Al sudah pulang, Nak?" tanya Dee yang sedang menggendong Kina untuk menenangkannya.


"Iya, Umi. Adek kenapa Umi?" tanya Al melihat Kina yang masih menangis di gendongan Dee.


Kina yang mendengar suara Abangnya langsung berbalik badan.


"Aban, hiks," rengek Kina menangis kepada Al.


"Cup, cup, Adek jangan nangis lagi, ya," ucap Al mengusap lembut punggung Kina.


Kina merentangkan tangannya meminta gendong kepada Al. Dengan senang hati Al mengambil Kina dari gendongan Dee. Al memang sudah biasa menggendong Kina, jadi dia tidak kesusahan menggendong Adiknya itu.


"Umi buat susu dulu buat Kina ya, Al. Al bawa Adek ke ruang keluarga dulu," ucap Dee.


"Iya, Umi," jawab Al patuh. Setelah itu Al pergi ke ruang keluarga. Sampainya di sana, Al mendudukkan Kina di Sofa, kemudian di menyalakan Televisi.


"Adek udah jangan nangis lagi, ya," ucap Al setelah menyalakan Televisinya.


"Tati Ina catit, hiks," ucap Kina menangis memperlihatkan lututnya kepada Al.


Al langsung meniup Lutut Kina yang sudah di perban dan menciumnya sekilas. "Dah sembuh," ucap Al tersenyum senang kepada Kina.


Kina tersenyum dalam tangisnya kepada Al.


"Adek, jatuh ini obat besar," celetuk Al.


"Obat besal?" beo Kina.


Al terdiam. Dia kembali mengingat kenangan bersama Abinya. Dimana dia tersengat lebah dan Ibra mengatakan bahwa itu adalah obat besar.


Sadar dari lamunannya, Al kembali tersenyum kepada Kina. "Iya, obat besar. Dulu seseorang pernah bilang sama Abang, kalau kita jatuh atau digigit sesuatu, itu artinya Allah menambah kekuatan untuk kita. Kita akan menjadi semakin kuat, kalau semakin kuat, itu berarti kita akan tumbuh besar," ucap Al.


"Ina atan besal dong Ban?" tanya Ina antusias.


Al mengangguk semangat dan memeluk adiknya itu. Sumpah demi apapun, Al sangat menyayangi Adiknya ini.


......................


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹

__ADS_1


__ADS_2