Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 97


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Ibra sampai di rumah sakit selepas magrib. Tadi saat pergi dari rumah sakit, dia mengatakan akan menjemput Dee dan Al pulang. Ibra berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Sesekali lelaki itu tersenyum ketika ada Suster atau Dokter yang lewat menyapanya.


Ibra sampai di depan ruangan Dee.


Ceklek


Pintu terbuka. Pemandangan pertama yang Ibra lihat adalah ranjang rumah sakit yang sudah bersih.


"Nggak, Dee pasti belum pulang," ucap Ibra cemas. Ibra berjalan ke kamar mandi, tapi Nihil. Kamar mandi kosong. Ibra keluar dari ruangan dan pergi ke meja suster jaga.


"Suster," panggil Ibra. Dia mencoba tenang meski pikirannya sudah kemana-mana.


"Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Suster bername tag Feni itu ramah.


"Pasien atas nama Haidee Tsabina apakah sudah keluar?" tanya Ibra hati-hati.


"Oh iya, Pak. Ibu Haidee sudah pulang dari tadi sore, Pak," jawab Suster tersebut. Karena tadi dia yang membantu mengurus kepulangan Dee.


"Tadi sore?" tanya Ibra memastikan


Suster Feni mengangguk. "Iya, Pak," jawabnya.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Ibra langsung berlari keluar rumah sakit. Pikirannya saat ini adalah rumah. Ibra berlari menuju parkiran dan naik mobil dengan tergesa-gesa.


Ibra menggeleng kuat mengusir pikiran buruknya. "Enggak-enggak. Tenang Ibra, Dee pasti pulang ke rumah," ucap Ibra meyakinkan dirinya. Sungguh dia takut jika Dee pergi meninggalkannya.


Ibra melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Waktu dari Rumah Sakit menuju Rumah yang harusnya di tempuh tiga puluh menit, hanya di lalui Ibra sepuluh menit. Mobil Ibra sampai di depan rumah. Dengan langkah panjangnya Ibra memasuki rumah.


"DEE," teriak Ibra begitu sampai di rumah.


"DEE," teriaknya sekali lagi. Tapi rumah seperti dalam keadaan kosong.


"AL," kali ini Ibra memanggil anaknya. Karena sama sekali tidak mendapat jawaban, Ibra melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Pertama Ibra memasuki kamar Al.


Kamar Al nampak bersih dan rapi. "Al," panggil Ibra.


Hening. itulah yang dirasakan Ibra.


Ibra berjalan ke lemari pakaian Al. Dengan tangan gemetar dia mencoba untuk membuka lemari pakaian Al.


"Huft," Ibra bernafas lega karena pakaian Al masih tersimpan di dalam lemari. Tapi Ibra tidak melihat sisi kemari Al lainnya.


"Mungkin di kamar Dee," gumam Ibra. Ibra menutup kembali lemari baju Al dan berjalan keluar menuju kamarnya dan Dee dulu.


Ceklek


Pintu kamar terbuka.

__ADS_1


Hening.


Itulah yang kembali di dapati Ibra. "Ini nggak mungkin kan?" gumam Ibra pada dirinya sendiri. Dadanya naik turun setara dengan nafasnya yang mulai memburu.


"Dee," panggil Ibra.


Tidak mendapat jawaban, Ibra berjalan kearah kamar mandi. Tapi tetap kosong. Setelah itu dia berjalan ke arah walk in closet. Pandangan Ibra tertuju pada tempat pakaian Dee. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Ibra mendekat. Tangannya sudah gemetar membuka lemari kaca pakaian Dee.


"Huft," Ibra bernafas lega karena pakaian Dee masih ada. Tapi tunggu dulu, Ibra mengedarkan pandangannya ke sudut bagian atas.


DEG


Koper kecil yang biasa Dee gunakan untuk berpergian tidak ada di sana. Ibra berjalan ke bagian baju gamis Dee.


Berkurang.


Itu lah yang ada dibenak Ibra. Baju gamis Dee berkurang tidak banyak seperti dulu. Ibra menggeleng kuat. Matanya sudah memerah menahan tangis.


Ibra berlari keluar kamar dan turun ke lantai satu. "Bi, Bi Nini!" teriak Ibra memanggil Bi Nini.


"Bi Nini!" teriak Ibra sekali lagi.


"Iya, Tuan," jawab Bi Nini yang datang tergopoh-gopoh dari kamar Reina.


"Bi, kemana Dee dan Al?" tanya Ibra tanpa basa-basi.


"A-anu Tuan. I-itu," ucap Bi Nini gagap.


"Ada apa, Ibra?" tanya Wijaya yang baru datang bersama Kevin dibelakangnya.


"Bi, jawab Ibra Bi!" teriak Ibra, karena Bi Nini tidak kunjung membuka mulutnya. Badan Ibra sudah berkeringat dingin. Dia tidak menghiraukan Kevin dan Wijaya.


"Ib, tenang dulu. Lo kenapa?" tanya Kevin tenang. Dia berusaha agar Ibra menenangkan dirinya dulu.


"DEE DAN AL NGGAK ADA DI RUMAH, VIN!" teriak Ibra kepada Kevin.


Kevin dan Wijaya terkejut mendengar penuturan Ibra. "Kamu jangan bercanda Ibra!" tegas Pak Wijaya.


"Ibra tidak pernah bercanda mengenai anak dan istri Ibra, Pa!" tegas Ibra menatap Wijaya.


Ibra kembali menatap Bi Nini yang masih setia menunduk. "Bi, jawab Ibra?" tanya Ibra sekali lagi.


Bi Nini tidak bersuara. Tapi tangannya mengambil sesuatu dari saku rok yang dia gunakan. Setelah itu menyerahkannya kepada Ibra. "Ini, Tuan," ucap Bi Nini.


"Darimana Bibi dapat kunci ini?" tanya Ibra kepada Bi Nini. Pasalnya itu adalah kunci rumah yang tadi siang Ibra berikan kepada Dee.


"Maafkan Bibi, Tuan. Nyonya memberikan kunci ini kepada Bibi sebelum pergi," jawab Bi Nini tidak berani melihat Ibra.


"Tatap Ibra, Bi. Kenapa Dee memberikan kunci ini kepada Bibi? Dee pergi kemana Bi? Kemana anak dan istri Ibra, Bi?" tanya Ibra bertubi memegang kedua bahu Bi Nini dengan kedua tangannya. Suara Ibra sudah bergetar menahan tangis menanyakannya kepada Bi Nini.

__ADS_1


Bi Nini memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Ibra. Matanya pun sudah berkaca-kaca. "Maaf, Tuan. Nyonya bilang dia sudah tidak ada hak lagi untuk tinggal disini. Jadi Nyonya memberikannya kepada Bibi, Tuan," ucap Bi Nini.


"Jadi Dee benar-benar pergi, Bi?" tanya Ibra lirih.


Bi Nini mengangguk menjawab pertanyaan Ibra. Air mata yang sedari tadi Bi Nini tahan akhirnya keluar sudah. "Maaf, Tuan," ucap Bi Nini menyesal karena tidak bisa menahan Dee untuk tetap tinggal.


Badan Ibra lemas. Jantungnya serasa akan keluar mendengar semuanya. "Kenapa Bibi tidak menahan Dee dan Al, Bi? Kenapa tidak menahan anak dan istri Ibra agar tidak pergi?" tanya Ibra sendu kepada Bi Nini. Air matanya lirih tanpa bisa dia cegah. Tidak ingatkah Ibra bahwa Dee sudah menjadi mantan istrinya.


Kevin dan Wijaya yang mendengar itu langsung memeluk Ibra. "Ib," ucap Kevin menenangkan Ibra.


"Tenangkan diri kamu Ibra," ucap Wijaya. Mereka berdua memberi ketenangan kepada Ibra.


"Semuanya selesai, Pa. Dalam waktu singkat semuanya selesai karena kebodohan Ibra, Pa," ucap Ibra sendu kepada Wijaya.


"Ibra harus bagaimana tanpa anak dan istri Ibra, Pa?" tanya Ibra menangis kepada Wijaya. Wijaya dan Kevin ikut menitikkan air mata melihat bagaimana hancurnya Ibra.


"Maafkan Papa, Nak," kata yang selalu terucap dari mulut Wijaya.


"Ib, Lo harus tenang dulu, Ib," ucap Kevin menenangkan Ibra.


"GIMANA GUE TENANG, VIN. LO NGGAK NGERTI DAN NGGAK AKAN PERNAH NGERTI, VIN!" teriak Ibra menjawab Kevin.


Kevin bungkam. Untuk saat ini lebih baik memberikan Ibra waktu meluapkan segala emosi, kecewa dan sesak di dadanya.


......................


Sedangkan di tempat lain, Dee dan Al mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Ya, Dee membawa Al pergi ke kota Padang. Dee memilih Kota Padang, karena tempat ini jauh dari Ibra. Dan seingat Dee, Ibra tidak pernah pergi ke kota ini. Baik untuk liburan atau bekerja. Dengan modal tabungan dan keyakinan kuat untuk meninggalkan masa lalunya, Dee memberanikan diri hidup di tempat asing bersama anaknya.


"Umi kita ada dimana, Umi?" tanya Al. Anak itu bingung, karena saat bangun dari tidurnya mereka sudah berada dalam pesawat tadi. Dia ingin bertanya sedari tadi kepada Dee, tapi dia urungkan entah karena apa.


"Kita ada di Kota Padang, Nak. Al mau kan tinggal di tempat baru bersama Umi?" tanya Dee.


"Telus Abi gimana, Umi?" tanya Al.


"Nanti Abi menyusul, ya," jawab Dee bohong.


"Kita kemana, Umi?" tanya Al. Karena sedari tadi mereka selalu berjalan kaki.


"Kita cari kontrakan, ya, Nak," jawab Dee.


"Al capek, Umi," rengek Al. Kakinya sudah terasa pegal karena berjalan.


"Umi gendong, mau?" tawar Dee.


Al mengangguk. Dee menggendong Al dengan sebelah tangannya dan satu tangannya lagi menyeret koper kecil mereka.


......................


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹🌹


__ADS_2