
🌹HAPPY READING🌹
Mobil yang dinaiki Dee sampai di gerbang Pesantren. Dee segara turun dan menyuruh sopirnya untuk menunggu sebentar.
Dee memasuki lingkungan pesantren dan segera menuju kediaman Ustad Zaki.
"Assalamu'alaikum," ucap Dee sambil mengetuk pintu.
Sampai salam yang ke tiga, pintu dibuka dari dalam.
"Waalaikumsalam," jawab Ustazah Arum.
"Dee, ayo masuk," ucap Ustazah Arum lembut.
Dee tersenyum dan mengangguk. Mereka masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Saya buatkan minum dulu, Dee," ucap Ustazah Arum.
"Tidak usah, Ustazah. Saya hanya sebentar. Ada sesuatu yang mau saya tanyakan sama Ustazah," ucap Dee mencegah Ustazah Arum yang hendak berdiri dan pergi ke dapur.
Ustazah Arum kembali duduk ditempatnya. "Kamu mau menanyakan apa, Dee?" tanya Ustazah Arum lembut.
"Ustazah, boleh saya minta alamat rumah Naina?" tanya Dee.
Ustazah Arum tersenyum. "Sebentar, saya catatkan dulu, ya," ucap Ustazah Arum.
Dee mengangguk. Ustazah Arum pergi ke kamarnya untuk mengambil kertas dan mencatatkan alamat rumah Naina dan memberikannya kepada Dee.
"Ini Dee," ucap Ustazah Arum.
Dee menerima kertas tersebut dan melihatnya. "Ini tidak jauh dari sini kan, Ustazah?" tanya Dee.
"Dekat jika kamu menggunakan mobil, Dee. Paling sepuluh menit sudah sampai. Kalau jalan kaki baru bisa dua puluh menit atau setengah jam," ucap Ustazah Arum menjelaskan.
"Terimakasih banyak, Ustazah," ucap Dee.
"Sama-sama, Dee."
"Ustazah, boleh saya bertanya lagi?" ucap Dee ragu.
Ustazah Arum tersenyum ramah dan mengangguk mengizinkan Dee untuk kembali bertanya.
"Apa Naina memang belum pernah menikah dan berkeluarga seperti yang dia katakan?" tanya Dee.
"Setahu saya, Naina memang belum menikah, Dee. Sebelum kedatangan Bella, Naina hanya hidup sendiri. Dia bahkan banyak menghabiskan waktunya disini setelah selesai mengantar pesanan nasi kotaknya," ucap Ustazah Arum menjawab.
Dee tersenyum bahagia. Dia semakin yakin akan meminta Naina bertemu dengan Bram.
"Baiklah, Ustazah. Kalau begitu saya pamit dulu, ya," ucap Dee.
"Iya. Hati-hati."
"Assalamu'alaikum," ucap Dee.
"Waalaikumsalam," jawab Ustazah Arum.
.....
Sekarang Dee sudah kembali berada di dalam mobilnya.
"Pak, kita cari alamat ini, ya. Dekat dari sini, Pak," ucap Dee menyerah kertas yang dia terima dari Ustazah Arum kepada Sopirnya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," jawab Sopir.
Mobil kembali melaju mencari alamat Naina. Dua puluh menit, mobil Dee sampai di depan sebuah rumah yang sangat sederhana. Tapi nampak bersih dan terjaga.
"Ini alamatnya, Nyonya," ucap Sopir.
"Bapak ikut turun atau tunggu disini?" tanya Dee.
"Saya tunggu di mobil saja Nyonya," ucap Sopir tersebut ramah
"Baiklah," ucap Dee dan turun dari mobil.
Kaki Dee melangkah mendekati pintu rumah Naina.
Dee mengetuk pintu. Tiga kali tidak ada jawaban. Dee kembali mencoba dengan sedikit keras.
"Iya, sebentar," teriak dari dalam.
Ceklek.
"Dee," ucap Naina pelan ketika membuka pintu.
Dee tersenyum melihat raut terkejut Naina. "Assalamu'alaikum, Nai," ucap Dee.
"Waalaikumsalam. Ayo masuk, Dee," ucap Naina mempersilahkan Dee masuk.
Dee menurut dan ikut masuk. Dee memandangi setiap sudut rumah Naina. Sangat sederhana, tapi Naina merawat rumahnya dengan bersih. Di ruang tamu itu hanya ada sofa yang sudah nampak lusuh dan kainnya yang sudah koyak.
"Maaf, Dee. Disini tidak nyaman," ucap Naina tak enak. Karena rumahnya ini sangat berbeda sekali dengan istana Ibra.
"Tidak apa, Nai," ucap Dee ramah.
Dari arah dapur, Bella datang melihat siapa yang datang.
Bella menyalami tangan Dee dan duduk disebelah Naina.
"Bella apa kabar?" tanya Dee.
"Baik, Umi," jawab Bella ramah. Bella mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang biasanya menemani Uminya. Tapi dia tidak menemukan siapapun.
Dee yang mengerti gerak-gerik Bella tersenyum. "Al tidak ikut, Nak," ucap Dee memberitahu Bella.
Bella gelagapan karena isi hatinya diketahui Dee. "Tidak, Umi. Bella tidak mencari siapa-siapa," ucap Bella bohong.
Naina ikut tersenyum melihat Bella yang salah tingkah.
"Al kembali ke Inggris, Nak," ucap Dee.
Bella langsung menoleh kepada Dee. Nampak sorot kekecewaan di sana. Padahal dia sangat berharap Al berusaha untuk kembali memikat hatinya, tapi Bella berusaha menutupinya. "Al melanjutkan pendidikannya ya, Umi?" tanya Bella ragu.
Dee menggeleng. "Al mengejar masa depannya, Nak," jawab Dee.
Nampak jelas raut sedih dari wajah Bella. Dee dapat melihat itu. Anak-anak ini saling cinta, tapi mereka masih tidak mau mengaku. Batin Dee.
"Em ... Bella mau buat minum dulu, Umi, Bunda," ucap Bella pamit pada Naina dan Dee. Bella tidak ingin kesedihannya diketahui oleh Dee dan Naina.
Sampai di dapur, Bella menguap dadanya yang terasa sesak. "Semoga masa depanmu bahagia disana, Al," gumam Bella lirih. Setelah itu Bella memanaskan air untuk membuat teh.
Kini hanya tinggal Dee dan Naina berdua di sana. Dee duduk mendekat dan memegang kedua tangan Naina.
"Nai," panggil Dee lembut.
__ADS_1
Naina yang tadinya menunduk mengangkat kepala begitu merasakan tangan Dee menyentuh kulit tangannya. Walaupun Dee sudah memaafkannya, tapi Naina masih merasa tidak pantas menerimanya.
"Iya, Dee," jawab Naina.
"Kembali dan bertemu dengan Om Bram, Nai," ucap Dee langsung tanpa basa-basi.
Naina tersenyum kecut. "Jangan mengatakan sesuatu yang tak mungkin Dee," jawab Naina.
"Kalian saling membutuhkan. Kenapa harus menimbulkan rasa sakit sendiri seperti ini," ucap Dee.
"Bram pasti sudah bahagia dengan keluarganya, Dee," jawab Naina.
"Kamu berbicara seolah kamu tahu semuanya, Nai. Yang kamu pikirkan itu belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Dee.
"Dee, aku bukan wanita sempurna. Bram pantas mendapat perempuan lebih layak dariku. Jika aku hidup bersamanya, mungkin aku hanya akan menjadi beban. Aku wanita cacat, Dee. Setiap orang menikah pasti ingin keturunan, Dee. Dan aku tidak bisa memberikannya," ucap Naina sendu.
"Aku tidak memintamu menikah dengan Om Bram. Aku memintamu kembali bertemu dengannya, Nai. Jika saling mencintai, kenapa harus saling menyakiti seperti ini," ucap Dee.
Naina langsung memandang lekat mata Dee. "Apa maksudnya Dee?" tanya Naina.
"Om Bram tidak seperti yang kamu bayangkan, Nai. Dia tidak bahagia seperti yang kamu pikirkan," ucap Dee.
"Dee-"
"Om Bram mengurung dirinya sendiri," ucap Dee memotong perkataan Naina.
"Maksudmu?" tanya Naina.
"Om Bram hidup di rumah sakit jiwa" ucap Dee.
Naina menutup mulutnya tak percaya mendengar apa yang Dee katakan. "Jangan bercanda, Dee," ucap Naina.
"Jik aku bercanda, aku tidak akan jauh datang kesini, Nai," ucap Dee.
"Apakah Bram ..."
"Tidak, Nai. Om Bram tidak gila. Dia hanya mengurung diri dari dunia luar. kamu tahu Nai, sama seperti kamu, Om Bram menyampaikan cintanya lewat doa kepada Pencipta, Nai," ucap Dee.
"Temu Om Bram, Nai. Walaupun hanya sekali," ucap Dee. Dia yakin, jika Naina sudah bertemu Bram, mereka akan menyampaikan isi hati masing-masing.
Tugas Dee hanya mempertemukan. Selebihnya biar Naina dan Bram yang memutuskan. Meskipun dihatinya Dee sangat berharap mereka kembali bersama.
.....
Waktu makan siang telah tiba. Ibra sampai dirumahnya untuk makan siang bersama sang Istri. Tapi dia tidak menemui keberadaan istrinya.
"Bi," tanya Ibra pada Bi Nini yang sedang di dapur bersama pembantu lainnya.
"Iya, Nak Ibra," jawab Bi Nini.
"Dee kemana, Bi?" tanya Ibra.
"Loh, bukannya sudah izin sama Nak Ibra, ya," ucap Bi Nini bingung.
Dahi Ibra berkerut mendengar perkataan Bi Nini. "Izin kemana, Bi?" tanya Ibra.
"Nak Dee tadi izin pergi ke pesantren, Nak Ibra," ucap Bi Nini.
Ibra mengangguk dan pergi meninggalkan dapur. Ibra berjalan menuju kamarnya. Dia akan menunggu kedatangan Dee dan memberi kejutan untuk istinya itu.
"Kamu bandel, Sayang," gumam Ibra kesal sambil terus menaiki tangga.
__ADS_1
......................