
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
"Pindah sekolah?" tanya Dee heran mendengar perkataan anaknya. Pasalnya, secara tiba-tiba Al mengatakan bahwa dia ingin pindah ke Sekolah dekat kantor Abinya.
"Iya, Umi. Al mau pindah sekolah. Boleh ya, Umi?" ucap Al dengan wajah memelas nya.
"Kasih izin aja, Sayang," ucap Ibra ikut membantu Al.
Kini orang tua dan anak itu sedang duduk bersama di kamar Al. Dee yang tadinya berniat membacakan dongeng untuk Al, tidak jadi karena mendengar perkataan anaknya yang tiba-tiba.
"Kenapa mau pindah Sekolah, Nak?" ucap Dee menanyakan alasannya kepada Al.
Bukannya tidak mengizinkan Al untuk pindah sekolah. Jika Al sekolahnya jauh sari rumah, bagaimana dia bisa menjemput anaknya nanti.
"Mau suasana balu, Umi," ucap Al memberi alasan kepada Dee.
"Suasana baru?" beo Dee.
Al mengangguk, "iya, Umi. Al udah bosan sekolah di sana. Boleh ya, Umi?" kekeh Al membujuk Dee.
"Tapi nanti yang antar jemput Al siapa, Nak?" ucap Dee.
"Biar aku yang antar jemput Al, Sayang. Lagian sekolahnya juga dekat sama kantor," ucap Ibra menjawab keraguan istrinya.
"Tapi kan kamu kerja, Mas."
"Aku yang punya perusahaan, Sayang. Aku bisa keluar masuk kapan aja," jawab Ibra santai.
Dee menghela nafas sebentar, "ya sudah, Al boleh pindah sekolah. Yang penting nanti Al nyaman di sekolahnya," ucap Dee menyetujui permintaan anaknya.
"Yeay, telimakasih Umi," ucap Al senang memeluk Uminya.
Dee sedikit meringis saat Al memeluknya. Perutnya sedikit terhimpit oleh tubuh Al. Kehamilannya saat ini memang sangat lemah.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ibra cemas melihat istrinya yang seperti menahan sakit.
Dee tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak apa, Mas," jawab Dee.
"Al sini sama Abi, Nak," ucap Ibra mengambil Al yang masih memeluk Uminya.
"Al tidur disini atau di kamar Abi dan Umi?" tanya Ibra saat Al sudah duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Al tidur disini aja, Abi," jawab Al yang sudah menguap karena mengantuk.
"Ya, sudah. Sekarang tidur, ya," ucap Ibra merebahkan tubuh Al dan mengusap kepala anak itu agar cepat tertidur.
Selang beberapa menit, Al sudah sampai pada dunia mimpinya. Ibra dan Dee keluar dari kamar Al dan segera masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.
Dee dan Ibra langsung merebahkan diri di kasur begitu mereka sampai di kamar. Dee tidur dengan sebelah lengan Ibra sebagai bantalnya. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ibra. Sedangkan sebelah tangan Ibra yang lainnya memeluk pinggang Dee.
Ya Allah, kenapa masih nyeri. Batin Dee merasakan nyeri di perutnya.
Dee mendingan melihat Ibra. "Mas," panggil Dee.
Ibra yang sudah memejamkan mata kembali membuka matanya saat mendengar panggilan istrinya. "Iya, Sayang," jawab Ibra.
"Usap-usap perut Adek, ya," ucap Dee menuntun tangan Ibra ke perutnya.
Ibra menurut. Tangannya masuk ke balik baju tidur Dee dan mengusap lembut perut istrinya. "Nyeri, ya?" tanya Ibra memperhatikan wajah Dee.
Dee menggeleng. Dia tidak ingin Ibra terlalu khawatir. Nyerinya memang sedikit berangsur hilang karena usapan Ibra.
"Besok kita ke Dokter, ya?" tanya Ibra lembut mengajak Dee. Dia takut terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya.
"Nggak usah, Mas. Adek sama anak kita baik-baik aja kok," ucap Dee lembut menolak ajakan Ibra.
"Tapi kalau nanti bahaya gimana, Sayang?"
"Tapi nanti kalau nyeri lagi bilang aku, ya. Kita periksa ke Dokter."
"Iya," jawab Dee dan langsung mencoba untuk memejamkan matanya.
Dengan telaten, Ibra mengusap lembut perut Dee. Ya Allah, kuatkan anak dan istriku. Batin Ibra berharap anak dan istrinya baik-baik saja.
.....
Sedangkan di sebuah bilik tahanan, Naina termenung menatap kosong ke depan. Sejak dipenjara, Naina selalu diam dan tidak berbicara dengan siapapun. Rasa penyesalan dan rasa bersalah memenuhi hatinya. Dia lega bisa mendapatkan hukuman atas semua kejahatannya. Tapi penyesalan karena telah memperalat seseorang yang tulus memberikan cinta memenuhi dadanya.
Naina duduk bersandar di tembok penjara. Naina diletakkan di sel yang berbeda dengan tiga wanita yang dulu menyiksa Dee. Itu semua atas permintaan Dee. Dan mau tidak mau Ibra meminta Agam untuk mengurus semuanya.
Naina sekarang sudah menerima hukumannya. Dan Dee tidak mau jika nanti dia mendapatkan penyiksaan juga seperti dirinya.
Andai aku tidak buta karena cinta pada sahabatku sendiri, pasti aku sudah bahagia hidup bersama mu. Kau lelaki baik. Aku terlalu bajingan karena telah memanfaatkan mu. Maafkan aku, Bram. Batin Naina menangis mengingat ketulusan Bram padanya. Air matanya jatuh menyalurkan sesak di dadanya.
Tuhan, beri aku kesempatan untuk bisa menikmati manisnya cinta. Izinkan aku merasakan indahnya cinta sejati. Beri aku kesempatan untuk membalas cinta seorang lelaki tulus yang menyerahkan hidupnya untuk kebahagiaanku. Izinkan aku, Tuhan. Batin Naina selalu berdoa meminta agar dia memiliki waktu untuk hidup bahagia merasakan indahnya cinta sejati.
Sedangkan di bilik tahanan yang lain, Bram melakukan hal yang sama seperti yang Naina lakukan. Kini dia tahu, bahwa cinta sepihak nya tidak bisa membuka hati Naina.
Hatiku sakit mengingat perjuanganku yang sia-sia, Ya Tuhan. Jika boleh aku meminta, tutup lah hati ku untuk kata cinta. Jangan biarkan dia masuk dengan cara apapun. Ini benar-benar menyakitkan. Batin Bram.
......................
__ADS_1
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹
Hai teman-teman, jangan lupa ikuti juga novel baru aku, ya. Judulnya MEMAKSA CINTA. Akan terbit besok jam 11.30 di aplikasi ini, ya. Jangan lupa singgah. Ini aku kasih sedikit ceritanya.
Nasytiti Khadijah, seorang gadis cantik yang bekerja menjadi sekretaris di sebuah perusahaan terkenal. Nana terjebak oleh perasaan cinta kepada CEO tempat ia bekerja, yang tak lain adalah bosnya sendiri. Imagenya sebagai sekretaris nakal kepada bosnya sudah melekat pada diri Nana. Pasalnya, gadis ini rela melakukan seribu cara untuk mendapatkan CEO tampan tersebut. Nana selalu mencari perhatian bosnya, bahkan bisa dikatakan bahwa Nana adalah gadis yang centil dan manja jika berada di dekat bosnya. Tapi tidak ada yang tahu, dibalik sikap Nana yang centil, manja dan suka mencari perhatian, tersimpan banyak luka dan kesedihan yang memaksanya untuk tetap tegar.
Arya Khalifano Bumi, seorang CEO muda sukses yang memiliki paras bak Dewa Yunani dengan tubuh atletisnya. Arya adalah bos yang selalu di ganggu oleh sekretarisnya, Nasytiti Khadijah. Ada satu alasan yang membuat Arya tidak bisa memecat Nana. Arya selalu menolak perasaan Nana, karena ia masih terjebak dengan cinta masa kecil yang selalu dinantikannya.
Nana datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Entah apa yang wanita ini pikirkan, dia terlalu bersemangat pagi ini. "Pagi, Pak bos yang handsome," sapa Nana dengan gaya centilnya ketika melihat kedatangan Arya.
"Selamat pagi, Nana yang cantik," bukan Arya yang menjawab, melainkan Gilang. Asisten pribadi sekaligus sahabat Arya. Arya hanya diam tidak peduli dengan keberadaan Naina.
"Eh, selamat pagi pak Gilang," jawab Nana ramah kepada Gilang.
Meskipun manja dan centil, tapi Nana adalah orang yang ramah kepada semua orang. Jika orang yang tidak mengetahui kehidupan Nana, maka orang akan menilai bahwa Nana adalah wanita yang sempurna. Tapi entah mengapa hal itu tidak berlaku untuk seorang Arya Khalifano Bumi.
Arya memasuki ruangannya diikuti Gilang di belakang.
"Lo enggak mau coba buka hati untuk Naina, Ar?" tanya Gilang dengan gaya bicara santainya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Arya. Jika hanya berdua, Arya meminta Gilang untuk bersikap dan bicara seperti biasa layaknya seorang sahabat.
"Jangan pernah bertanya tentang sesuatu yang jawabannya tetap sama, Lang!" jawab Arya menegaskan setiap ucapannya kepada Gilang.
"Ayolah, Ar. Dunia akan terlalu sempit jika Lo selalu terpaku sama cinta masa kecil Lo yang sepihak itu," ucap Gilang memberi pengertian kepada Arya.
Arya berdiri dari duduknya, menghadap jendela kaca yang besar di ruangannya. "Buat Lo dunia sempit, Lang. Tapi buat gue, dia dunia gue!" jawab Arya memandang jauh pemandangan kota pagi hari yang ramai.
Nana yang kini sudah duduk manis di kursinya, sedang tersenyum manis memandangi foto seorang pria yang ada di meja kerjanya. Tiga tahun dia mengejar cinta bosnya ini, tapi masih saja penolakan yang dia terima.
Naya tersentak ketika ada seseorang yang secara tiba-tiba mengetuk meja kerjanya.
"Foto saya lagi?" tanya seseorang yang datang tiba-tiba ke meja Nana. Arya bingung, entah dimana dan bagaimana caranya gadis itu bisa mendapatkan fotonya. Jika ditanya, Nana hanya akan menjawab i love you to. Sangat tidak sinkron antara pertanyaan dan jawabannya.
"Eh, Pak Arya? Hehehe, biar setiap hari saya semakin semangat kerja, Pak," jawab Nana cengengesan karena ketahuan lagi memasang foto Arya di meja kerjanya.
"Ini foto yang ke berapa?" tanya Arya dingin kepada Nana.
Nana terdiam. Mengetuk jari telunjuknya di dagu seraya berpikir, "Ini foto yang kesembilan puluh empat, Pak," jawab Nana dengan memperlihatkan wajah tanpa dosanya.
Tidak tahukah Nana, bahwa saat ini Arya tengah menahan rasa jengkelnya untuk tidak mengumpati Nana.
"Sampai pada foto yang keseratus, kamu pergi dari hidup saya!" ucap Arya berlalu menyusuri lorong menuju lift.
Nana terdiam mendengar perkataan Arya. Dia hanya memandangi punggung kokoh Arya yang semakin menghilang dari pandangannya. Penolakan ini sudah biasa ia dapatkan, tapi mendengar kata pergi, Nana merasa tidak nyaman. Hatinya selalu menolak kata pergi, karena kata pergi baginya berarti tidak akan pernah kembali.
Sedangkan Gilang yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Nana dan Arya hanya merutuki kebodohan Arya yang secara terang-terangan menolak Nana. Gue berdoa, semoga Lo enggak akan pernah menyesal menolak Nana, Ar. Jangan sampai Lo termakan omongan sendiri. Ucap Gilang dalam hati melihat kepergian Arya.
Gilang salah satu orang yang sangat mendukung Nana untuk mengejar Arya. Karena Gilang dapat melihat ketulusan yang dalam dari cara Nana memandangi Arya. Gilang tidak mau jika sahabatnya itu terus-terusan terjebak dalam cinta masa kecilnya yang tidak jelas bagaimana akhirnya.
jangan lupa baca besok ya teman-teman 🌹🌹
__ADS_1