
🌹HAPPY READING🌹
Setelah pertemuan yang penuh haru itu, Dee memilih untuk pamit meninggalkan Naina, Bram dan Bella. Dia ingin pergi ke kantor suaminya untuk makan siang bersama. Sedangkan Naina dan Bella membantu Bram mempersiapkan segala keperluannya untuk kembali pulang. Dee memilih pergi menggunakan taksi dan meminta sopirnya untuk membantu Naina.
Kini taksi yang dinaiki Dee telah sampai di kantor Ibra. Dee turun dari taksi setelah membayarnya. Dengan langkah pasti Dee memasuki kantor suaminya. Sepanjang perjalanan, banyak Karyawan yang menyapa Dee dan dibalas senyuman serta anggukan kepala oleh wanita itu.
"Apa suami saya ada didalam?" tanya Dee pada Sekretaris Ibra.
Lelaki muda tersebut menunduk dan tersenyum kepada Dee. "Bapak ada didalam, Bu," ucapnya ramah.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dee tak kalah ramah dan berjalan memasuki ruangan suaminya.
.....
Ibra yang sedang berada di dalam ruangannya sibuk sendiri dengan banyak file di atas mejanya. Hingga dia tidak menyadari bahwa Dee telah memperhatikannya dari ambang pintu.
"Mas," panggil Dee.
Nampak raut keterkejutan di wajah Ibra. "Sayang," ucap Ibra berdiri dan berjalan mendekati istrinya.
"Aku ganggu, ya?" tanya Dee tak enak melihat banyaknya tumpukan file di meja Ibra.
Ibra tersenyum dan mengangguk. "Enggak, Sayang," jawab Ibra menggiring Dee duduk di sofa bersamanya.
"Tapi ini udah waktunya makan siang, Mas. Berhenti dulu, ya," ucap Dee memandang Ibra.
Ibra membalas pandangan Dee. Dia menatap istrinya dengan mata memicing. Dee yang melihat tatapan Ibra mengernyit bingung. "Wajah aku kenapa, Mas?" tanya Dee meraba-raba wajah dengan telapak tangannya.
"Mata kamu kenapa bengkak gitu? Kamu habis nangis? Kenapa? Siapa yang jahat?" tanya Ibra beruntun.
Dee menghela nafas lega mendengar perkataan suaminya. "Aku kirain kenapa," ucap Dee lega.
"Ini mata kenapa bengkak kayak habis nangis?" tanya Ibra lagi.
"Aku terharu tau," ucap Dee memulai ceritanya.
Ibra menaikkan alisnya bingung mendengar jawaban Dee.
"Aku terharu melihat Naina sama Om Bram. Cinta merek indah banget," ucap Dee mengingat kembali kejadian haru yang tadi dia saksikan.
"Memangnya mereka kenapa?" tanya Ibra penasaran. Beginilah jika sudah bersama istrinya, pekerjaan akan terlupakan demi mendengar celoteh sang istri.
Lalu Dee menceritakan apa yang terjadi tadi saat mereka bertemu Bram. Bagaimana Bram dan Naina yang saling rindu dan melepaskannya lewat doa, dan juga Naina yang selalu memberi makan untuk Bram.
"Bella juga udah manggil Om Bram Ayah, Mas," ucap Dee mengakhiri ceritanya.
Ibra hanya diam dan sesekali mengangguk mendengar cerita istrinya.
"Menurut kamu gimana, Mas?" tanya Dee.
"Apanya?" tanya Ibra.
"Naina sama Om Bram, iihhh," ucap Dee kesal melihat reaksi suaminya yang biasa saja.
"Biasa saja, Sayang. Tidak ada yang lebih mengharukan dari kisah cinta kita," ucap Ibra memeluk Dee dari samping.
__ADS_1
Dee tersenyum hangat mendengar jawaban suaminya. Jika diingat-ingat, kisah mereka melewati jalan yang lebih berliku, penuh air mata dan luka. Tapi dengan ikhlas semua bisa bahagia.
Ditengah kemesraan pasangan yang tidak lagi muda itu, pintu ruangan Ibra terbuka dengan lebar.
"Ck, selalu kayak gitu," ucap seorang pemuda yang memasuki ruangan Abinya.
Dee melebarkan matanya dengan senyum mengembang melihat kedatangan anak sulungnya.
"Al," pekik Dee senang dan langsung berdiri menghampiri dan memeluk Al. Meninggalkan Ibra yang kesal dengan kedatangan anaknya itu diwaktu yang tidak tepat.
"Selalu mengganggu," gerutu Ibra.
"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Dee lembut.
Al tersenyum dan mengangguk. "Assalamu'alaikum, Umi," ucap Al.
"Waalaikumsalam," jawab Dee lembut.
Dee mengajak anaknya untuk ikut duduk di sofa.
Al tersenyum remeh melihat Abinya yang memasang wajah kesal. "Assalamu'alaikum, Bapak Tua," sapa Al.
"Ck, Waalaikumsalam," jawab Ibra ketus.
"Terima takdir, Abi," ucap Al terkekeh pelan.
Dee ikut tertawa melihat suaminya. Ini yang dia rindukan, suasana pertengkaran kecil Al dan Ibra yang memberi hiburan dalam keluarga kecilnya.
"Al," panggil Dee lembut.
"Iya, Umi," jawab Al.
Al tersenyum dan mengangguk. "Papa Runa ikut Al, Umi," jawab Al.
Senyum lebar terbit di bibir Dee. Sedangkan Ibra ikut tersenyum tipis melihat anaknya yang nampak sangat senang.
"Sekarang dimana calon Besan, Umi?" tanya Dee celingak-celinguk ke arah pintu.
"Calon Mertua Al memilih pergi ke rumah lamanya, Umi," ucap Al.
"Disebelah rumah kita?" tanya Dee lagi.
"Iya Umi," jawab Al.
Dee mengangguk. "Teman kamu?" ucap Dee menanyakan Aska.
"Di mobil, Umi," jawab Al.
"Kenapa nggak dibawa masuk, Nak?" tanya Dee.
"Al nggak lama, Umi. Umi sekarang antar Al ketemu Runa," ucap Al dengan semangatnya.
"Kita makan siang bersama dulu, ya," ajak Dee.
"Nanti bareng-bareng sama Runa, Umi," ucap Al.
__ADS_1
"Ayo, Umi," ucap Al tak sabaran. Dia benar-benar layaknya anak kecil saat bersama Uminya.
"Umi sama Abi," ucap Ibra.
Al mengangguk. Setelah itu mereka bertiga keluar dari ruangan Ibra untuk segera ke tempat Runa.
.....
Mobil yang dinaiki Al dan Aska mengikuti mobil Ibra yang melaju didepannya.
"Ini seperti bukan arah ketempat Aunty Naina waktu itu," gumam Al heran melihat jalan yang mereka lewati.
Sedangkan Aska yang duduk di bangku sebelah kemudi sudah tidur sejak tadi. Al hanya geleng kepala dan membiarkan Aska tidur. Perjalanan jauh mungkin membuatnya lelah.
Lima belas menit, kedua mobil itu sampai di depan sebuah rumah sakit jiwa.
"Kenapa kesini, Umi?" tanya Al heran saat mereka sudah melangkah memasuki rumah sakit.
"Runa disini, Nak," jawab Dee santai.
"Apa?" teriak Al dan Aska yang sudah bangun dari tadi secara bersamaan. Ibra berdecak kesal melihat kedua pemuda itu.
"Turuti dan jangan banyak tanya," ucap Ibra tegas.
Dengan patuh mereka mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ibra dan Dee.
.....
Diruangan Bram, Naina, Bram dan Bella duduk bersama di sofa yang ada disana. Mereka telah selesai beres-beres dan mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
"Ayah, Bunda," panggil Bella lembut.
Bram yang tadi sibuk pada ponselnya yang sudah lama tidak dia hidupkan dan Naina yang sibuk merapikan bekas makan menoleh kepada Bella.
"Iya, Nak," ucap Naina. Sedangkan Bram menghentikan kegiatannya bermain ponsel.
"Ayah, Bunda, waktu Bella belajar bersama Ustad Zaki, ada seseorang yang datang, Bunda," ucap Bella.
"Seseorang?" tanya Naina.
Bella mengangguk. "Bunda ingat salah satu Ustad muda yang waktu itu menjadi saksi Bella saat mengucap dua kalimat syahadat?" tanya Bella.
Naina nampak berpikir dan menerawang. "Ah iya, yanga tampan itu," ucap Naina.
Bram langsung melihat Naina tajam mendengar perkataan Naina. Naina yang dipandang Bram hanya tersenyum polos. "Bahkan dia cocok jadi anakku, Bram," ucap Naina.
Bram tetap saja kesal. Walaupun sudah tidak muda lagi, tapi Naina tetap terlihat cantik, tidak menutup kemungkinan anak muda akan jatuh hati padanya.
"Bunda, dia meminta Bella menjadi Istrinya."
BRAAK
DEG
......................
__ADS_1
Jangan lupa kasih aku like, komentar, dan votenya juga yaa. Mau kasih bunga juga nggak papa. Bukti kalian cinta aku, karena Aku sayang kalian semua 🌹🌹😚🤗
Terimakasih selalu nungguin part demi part novel ini ya, jangan bosan-bosan 🤗🤗🌹