Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 118


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Al melihat bahu Uminya yang sedikit bergetar dari belakang. Al langsung menghampiri Dee yang bersembunyi di balik tembok Ruang Tamu.


Dee tersentak kaget ketika ada tangan mungil yang menggenggam tangannya. Dee menoleh menunduk dan melihat Al yang tengah melihatnya dengan senyum tampannya.


"Umi," panggil Al.


"Iya, Nak," jawab Dee.


"Ayo kita temui Abi sama Kina, Umi," ucap Al mengajak Dee untuk segera menemui Ibra.


"Al duluan saja, ya. Biar Umi langsung buat minum untuk kalian dan ambil cemilan," ucap Dee mengelak. Sebenarnya dia hanya belum siap jika harus bertemu dengan Ibra. Dia rindu, tapi entah kenapa hatinya belum siap menerima pertemuan dengan Ibra.


Al mengangguk. "Baik, Umi," ucap Al patuh.


Setelah itu Al pergi menyusul Kina dan Ibra. sedangkan Dee bergegas ke dapur untuk membuat minum.


"Abi," panggil Al kepada Ibra yang masih memeluk Kina.


Ibra dan Kina menoleh ketika mendengar Al memanggil.


Kina langsung berlari ke arah Al dan memeluk tubuh Abangnya.


"Aban, Abi datan. Abi tenal Ina," ucap Kina senang kepada Al.


Lagi-lagi hati Ibra teriris mendengar pertanyaan Kina. Terdengar polos, tapi itu sangat menampar bagi Ibra.


"Itu karena Abi sayang Adek," ucap Al membalas pelukan Kina.


"Boy, girl, hug me," ucap Ibra merentangkan tangannya kepada Al dan Kina.


Al berjalan pelan memeluk Ibra. Sedangkan Kina hanya diam.


"Adek nggak mau peluk Abi?" tanya Ibra.


"Gil itu ciapa, Abi?" ucap Kina bingung.


Ibra tersenyum lembut. Lalu Ibra bangun dari bersimpuhnya dan menggandeng tangan Al berjalan mendekati Kina. Tanpa aba-aba, Ibra langsung menggendong Kina Dan Al secara bersamaan.


"Boy itu panggilan kesayangan Abi untuk Abang. Girl itu panggilan kesayangan Abi buat Adek," ucap Ibra mengecup pipi Al dan Kina secara bergantian.


"Turunin Al, Abi. Al sudah besar," ucap Al.


"Bagi Abi masih kecil, Boy," ucap Ibra.


"No. Turunin Al, Abi," ucap Al sedikit merengek kepada Ibra.


Ibra rindu suara manja Al yang seperti ini. Merengek kepadanya untuk meminta sesuatu, sangat dirindukan Ibra. Akhirnya Ibra menurunkan Al dengan Kina yang tetap di gendongan anak itu.


Al berjalan duduk di ruang tamu diikuti Ibra. Kina duduk di pangkuan Ibra. Tangan anak itu terus memeluk erat badan Ibra tidak ingin lepas.


"Abi," panggil Kina manja kepada Ibra.


"Iya, Nak," jawab Ibra lembut.

__ADS_1


"Ina cayan Abi," ucap Kina. Anak itu masih memeluk Ibra dengan sangat erat.


Ibra membalas pelukan Kina tak kalah erat. "Abi juga sangat sayang dan cinta sama Anak Abi," ucap Ibra.


Ditengah perbincangan mereka, Dee datang dengan nampan berisi minuman dan cemilan untuk mereka.


Jantung Dee serasa akan lepas jika harus bertemu dengan Ibra dalam keadaan seperti ini. Dia masih sangat belum siap, tapi kenyataan sudah ada di depan matanya tanpa bisa dia cegah.


Sama halnya dengan Ibra, lelaki tampan itu tidak melepaskan pandangannya dari Dee barang sedikitpun.


"Silahkan diminum," ucap Dee lembut. Ada rasa canggung dalam dirinya saat berhadapan dengan Ibra.


Ibra mengangguk mengiyakan perkataan Dee.


"Umi," suara mungil Kina memanggil Dee yang duduk di Sofa single. Sedangkan Al, Ibra dan Kina duduk di sofa panjang.


"Iya, Nak," jawab Dee lembut.


"Cetalang Ina tahu tenapa Aban dan Ina cantik," ucap Kina dengan senyum bahagia nya.


Mereka semua yang ada di sana memfokuskan pandangannya kepada Kina.


"Emang kenapa, Dek?" tanya Al. Sedangkan Ibra dan Dee hanya diam.


"Talna Abi danteng, Umi cantik," ucap Kina dengan menangkup kedua pipinya sendiri. Centil anak ini menjadi-jadi saat di dekat Ibra.


Dee dan Ibra tergelak mendengar perkataan Kina, sedangkan Al hanya tersenyum dan mencium pipi gembul adiknya yang ada di gendongan Ibra.


Al dapat melihat suasana canggung antara Abi dan Uminya. Anak itu berinisiatif mengajak Kina untuk meninggalkan Dee dan Ibra berdua saja.


"Ndak mau! Nanti Abi pelgi," ucap Kina mengeratkan pelukannya pada Ibra.


"Abi nggak akan pergi, Dek. Biar Abi bicara sama Umi dulu, ya," bujuk Al.


Kina menatap Ibra. "Abi ndak atan pelgi, tan?" tanya Kina memastikan.


Ibra menggeleng. "Abi akan selalu bersama Kina. Sekarang main sama Abang dulu, ya. Abi mau bicara sama Umi," ucap Ibra melirik Dee.


Kina dengan patuh mengangguk. Anak itu turun dari pangkuan Ibra.


"Abi, cini," ucap Kina menyuruh Ibra menunduk.


Ibra menurut. Dia membungkukkan badannya.


"Cup, cup," Kina mencium kedua pipi Ibra secara bergantian. "Ina te Toko dulu, Abi," lanjut Kina kepada Ibra.


Ibra tersenyum senang mendapat perlakuan seperti ini dari anaknya. Sungguh tidak ada lagi hal yang paling membahagiakan dari ini.


"Hati-hati, Nak. Jaga adik, Boy," ucap Ibra kepada Kina dan Al.


Dengan patuh Al dan Kina mengangguk. Setelah itu mereka berdua keluar rumah dan pergi ke Toko.


Kini tinggal Dee dan Ibra berdua di ruang tamu. Suasana canggung sangat terasa diantara mereka.


"Em ... mari bicara di luar. Tidak baik lelaki dan wanita bukan muhrim berdua di dalam ruangan seperti ini," ucap Dee kepada Ibra.

__ADS_1


Ibra mengangguk. Mereka berdiri dan berjalan keluar untuk duduk di kursi yang ada di depan rumah Dee.


"Apa kabar, Sayang?" ucap Ibra memandang sendu wajah Dee.


Deg


Dee langsung menoleh kepada Ibra. Tatapan matanya memandang Ibra dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Tapi satu hal yang dapat dilihat oleh Ibra, kekecewaan.


"Tidak patut rasanya seorang suami memanggil wanita lain dengan panggilan seperti itu. Apalagi wanita itu bukan siapa-siapanya," ucap Dee.


Hati Ibra sakit. Ibra tersenyum kecut mendengar penuturan Dee.


"Tapi bagiku istriku hanya ada satu," ucap Ibra.


"Tentu, dan dia sedang berada di tempat lain untuk membesarkan anakmu yang lainnya," ucap Dee. Perkataan Ibra seperti memancing emosinya. Tapi Dee berusaha untuk tenang.


Pandangan Ibra tak lepas dari wajah Dee. Katakanlah dia zina mata, tapi demi rindunya dia reka melakukannya.


"Dia ada di depan ku sekarang," celetuk Ibra.


Dee langsung menoleh melihat Ibra. Berusaha setenang mungkin walaupun telinga di balik jilbabnya sudah merah karena malu.


"Hubungan Kita selesai saat kamu mengkhianatiku," ucap Dee.


"Apa ada tersisa kata maaf untukku?" tanya Ibra.


"Setiap orang berhak menerima kata maaf. Dan terimakasih karena telah memberikan kebahagiaan untuk anak gadisku," ucap Dee.


Ibra tersenyum kecut mendengar perkataan Dee. "Dia anakku yang kau sembunyikan keberadaannya," ucap Ibra.


"Aku tidak menyembunyikannya, aku hanya memberi kesempatan kepada anakmu yang lain untuk mendapat kasih sayang mu. Karena kasih sayangku saja cukup untuk membesarkan anak-anakku," ucap Dee menjawab perkataan Ibra.


Tidak ada Dee yang lembut dan manja untuk saat ini. Hanya ada ketegasan dari dirinya. Hati Ibra sakit, wanita yang dulu sangat manja dengannya kini berubah menjadi wanita mandiri dan tegas.


"Apa kesalahanku begitu besar?" tanya Ibra sendu.


"Hanya kau yang mengetahui semua kesalahanmu. Aku dan anak-anakku hanya menerima dampaknya. Karena kau kau yang melakukan kesalahan itu," jawab Dee.


Lagi-lagi Ibra tersenyum kecut. "Adakah maaf untukku?" tanya Ibra.


"Semua orang berhak mendapat maaf," ucap Dee.


"Jika mungkin maafkan aku," ucap Ibra memandang lekat mata Dee.


"Tujuan mu datang untuk bertemu anak-anakku bukan, dan kamu sudah menemuinya. Sekarang pergilah," ucap Dee tanpa menghiraukan permintaan Ibra.


"Aku kesini juga datang untuk cintaku," ucap Ibra.


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


__ADS_2