
🌹HAPPY READING🌹
Astagfirullahalazim, apa Al benar-benar berbuat macam-macam sampai membawa gadis itu pulang? Batin Ibra dengan pikiran yang sudah kemana-mana.
"Kita samperin aja, Mas," ucap Dee menarik tangan Ibra.
Ibra menahan tangan Dee. "Kita langsung ajak Al sekalian, Sayang," ucap Ibra.
Dee mengangguk. Mereka berdua berjalan memasuki kamar Kina.
"Al," panggil Dee lembut.
Al yang tadi memejamkan mata sambil mengusap kepala Kina membuka matanya. "Iya, Umi," jawab Al.
"Dibawah siapa, Nak?" tanya Dee pelan karena takut akan membangunkan Kina.
"Astagfirullah, Al lupa, Umi. Itu teman Al," ucap Al menepuk pelan jidatnya.
"Ayo kita temui," ucap Dee langsung berjalan mendahului Ibra dan Al.
Al dengan perlahan mengganti pahanya dengan bantal untuk menyangga Kela Kina. Setelah mengecup singkat dahi adiknya, Al berjalan keluar kamar Kina bersama Ibra.
"Kamu tidak berbuat macam-macam kan, Boy?" tanya Ibra mengintimidasi.
"Ck, tidak Abi," jawab Al kesal.
"Abi percaya," ucap Ibra.
Al dan Ibra segera berjalan dengan sedikit cepat menyusul Dee yang sudah ke bawah duluan.
.....
Dee memperhatikan Bella yang sedari tadi menunduk takut. Ibra duduk di sebelah Dee dengan tangannya yang terus melingkar di pinggang Dee dengan posessive. Sedangkan Al duduk di sofa singel, dan Bi Nini yang duduk di sebelah Bela. Hingga akhirnya Dee tersenyum agar Bella merasa nyaman dengan keberadaanya.
"Jangan takut, Nak," ucap Dee lembut.
Bella dengan sedikit ragu mengangkat kepalanya. Melihat senyum Dee, Bella juga tersenyum membalasnya.
"Em ... Umi, izinkan Bella tinggal disini, Umi," ucap Al.
Dee dan Ibra langsung menatap Al penuh tanda tanya.
Al yang melihat tatapan orang tuanya mulai menjelaskan. "Bella teman kuliah Al di Inggris, Umi. Dia sudah tidak punya keluarga. Jadi daripada dia sendiri di sana, Al mengajaknya kesini, Umi," ucap Al beralasan.
Al beralih menatap Bella dengan tersenyum. "Kamu bisa panggil Umi. Sama seperti Al dan adiknya," ucap Dee lembut.
"Terimakasih, Umi. Maaf sudah merepotkan," ucap Bella tak enak.
__ADS_1
"Tidak apa. Bi, tolong tunjukkin Bella kamar tamu ya, Bi," ucap Dee kepada Bi Nini.
Bi Nini mengangguk. Setelah itu mengajak Bella untuk mengikutinya.
"Jelaskan kepada Umi lebih detail, Al," ucap Dee tegas.
Ibra yang melihat istrinya mulai serius pun akhirnya angkat bicara. "Jangan disini, Sayang. Kita bicara di ruang kerjaku," ucap Ibra.
Dee mengangguk dan berdiri. Diikuti Ibra dan Al. Mereka berjalan menuju ruang kerja Ibra.
"Sekarang jelaskan, Nak," ucap Dee lembut namun tegas.
Kini mereka sudah duduk di sofa ruang kerja Ibra. Al duduk di depan kedua orang tuanya seperti orang yang kena sidang.
Al yang tadi menunduk, mengangkat kepalanya menatap Dee. "Percaya sama Al, Umi. Bella hanya teman Al saat kuliah di Inggris. Dia sudah tidak punya siapa-siapa, maka dari itu Al mengajaknya kesini. Al berpikir mungkin dia bisa bekerja disini," ucap Al.
"Tidak bohong, Al?" tanya Dee memandang Al lekat.
Dengan yakin Al mengangguk. "Al jujur, Umi," ucap Al.
Anak itu memang jujur, hanya saja masih ada fakta yang masih belum dia katakan. Dia harus memastikan sesuatu lebih dulu sebelum memberitahu kepada Uminya.
"Yasudah, kalau begitu Umi ke tempat Bella dulu," ucap Dee.
Al mengangguk. "Iya, Umi," ucap Al.
"Ada apa ini, Al?" tanya Ibra setelah kepergian Dee.
"Tidak ada apa-apa, Abi," jawab Al.
"Kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari Abi, Boy," ucap Ibra. Dia tahu, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya itu.
Al menghela nafas pelan sebelum menjawab perkataan Ibra. "Ada sesuatu yang harus Al pastikan, Abi," ucap Al.
Ibra mengangguk. "Permintaanmu mengenai gadis itu akan kamu dapatkan besok. Datang ke kantor Abi saat makan siang. Uncle Alan akan datang juga besok," ucap Ibra.
Al mengangguk. "Terimakasih, Abi," ucap Al senang.
"Abi percaya padamu. Jadi jangan pernah kecewakan Abi seperti dulu yang Abi lakukan," ucap Ibra.
Al mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Ibra.
"Apa kau tidak merindukan Abi?" tanya Ibra merentangkan tangannya.
"Ck," Al berdecak pelan. Tapi sedetik kemudian dia memeluk erat Ibra.
"Jadilah lelaki sejati, Boy," ucap Ibra mengusap punggung Al.
__ADS_1
"Insyaallah, Abi," jawab Al.
.....
Sesuai perkataan Ibra kemarin, kini Al mendatangi kantor Ibra. Dengan langkah pasti dan wajah dinginnya, Al berjalan menuju ruangan Ibra. Dia hanya mengangguk dengan wajah dingin membalas sapaan para karyawan.
"Abi," ucap Al masuk keruangan Ibra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ibra yang sedang duduk bersama Alan di sofa mengalihkan padangan mereka.
"Wah, si tampan sudah datang," ucap Alan menyambut kedatangan Al.
Al memutar bola mata malas mendengar perkataan Alan yang lebih terdengar seperti mengejeknya. Al berjalan mendekati Ibra dan Alan dan duduk di sebelah Ibra.
"Ini, Boy," ucap Ibra memberikan sebuah map kepada Al.
"Apa semua isinya benar, Abi, Uncle?" tanya Al memastikan kepada Ibra dan Alan.
"Abi dan Uncle Alan yakin, Boy," ucap Ibra.
Al mengangguk mendengar perkataan Ibra. "Kau tidak ingin membacanya sekarang?" tanya Alan.
Al menggeleng. "Al akan lihat nanti saja," jawab Al. Dia takut bahwa informasi yang dia dapatkan membuatnya kecewa.
Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai bisnis dan sebagainya. Ditengah pembicaraan mereka, seorang OB datang membawa beberapa bungkus makanan. Setelah menerima makanannya, Mereka makan siang bersama diruangan Ibra.
Sedangkan dirumah, Kina sedang bercerita-cerita dengan Bella di depan televisi. Anak itu nampak sehat setelah kedatangan Abangnya. Walaupun masih berusia tujuh belas tahun, Kina sudah menyelesaikan pendidikan SMA nya. Gadis itu memilih untuk menghabiskan waktu di rumah untuk satu tahun ke depan, dan akan melanjutkan kuliah tahun berikutnya. Dee dan Ibra juga tidak masalah dengan itu. Mereka memberi kebebasan kepada anak-anaknya, asal itu masih dalam batas wajar. Toh itu lebih baik untuk Dee, dia menjadi punya lebih banyak waktu bersama anaknya.
"Kak, Bella," ucap Kina kepada Bella yang duduk di sebelahnya.
"Iya, Kina," jawab Bella lembut.
Mata kina menelisik setiap lekuk wajah Bella. "Kak Bella cantik, deh. Kina suka wajah Kak Bella," ucap Kina polos.
Bella hanya tergelak mendengar perkataan Kina. Anak ini memang mudah akrab dengan orang baru, berbeda dengan Abangnya. Dengan gemas Bella mencubit pelan pipi tembem Kina.
"Kina lebih cantik," ucap Bella.
"Itu pasti, Kak," ucap Kina sambil tersenyum tanpa dosa memperlihatkan deretan gigi putihnya. Setelah itu, mereka bercerita mengenai apa saja yang ada dipikiran mereka.
.....
Kini Al sudah duduk di dalam mobilnya. Dengan perlahan tangan Al membuka map yang tadi diberikan oleh Ibra.
Mata Al membola melihat kata pertama yang dia baca 'Arabella Aruna Azzahra'. "Jadi benar Bella adalah Zahra?" tanya Al pada dirinya sendiri.
Setelah itu Al membaca terus kertas tersebut, hingga hatinya berdenyut kecewa melihat kabar yang dia dapatkan. "Jadi kamu memilih mengkhianati Allah daripada mengkhianati manusia, Runa," gumam Al kecewa dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
......................