
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
"Aku bukan anak nalapidana!" ucap Al tegas kepada Jaka yang masih tersungkur di bawah.
Jaka sudah menangis. Dahinya sakit karena terbentur kaki meja dan menguarkan darah. Tapi dia tidak kapok untuk mengejek Al. "Tapi Orang tua mu itu penjahat!"
"Olang tuaku bukan penjahat!"
"Penjahat!"
"Bukan penjahat!"
"Penjahat!"
"Bukan penjahat!"
"Ada apa ini?" ucap Bu guru Siska yang baru memasuki kelas. Tadi dia meninggalkan kelas untuk pergi sebentar ke ruang guru dan menugaskan siswanya untuk mewarnai.
"Astaga, Jaka. Dahi Jaka kenapa bisa berdarah begini?" ucap Bu Siska ketika melihat dahi Jaka.
"Al dorong Jaka, Bu. Terus Dahi Jaka terbentur bawah meja," ucap Jaka mengadu kepada Bu Siska.
"Benar itu, Al?" tanya Bu Siska memastikan kepada Al.
Al hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bu Siska. Karena dia memang mendorong Jaka.
"Sekarang ikut Ibu ke ruang Kepala Sekolah!" ucap Bu Siska dan langsung mengandeng tangan Al dan Jaka ke ruang Kepala Sekolah.
.....
__ADS_1
Disinilah mereka sekarang, di ruang Kepala Sekolah. Al duduk sendiri di sofa, sedangkan di sebelahnya ada Jaka yang duduk menangis di pangkuan Ibunya. Tadi Kepala sekolah memanggil orang tua mereka untuk mendatangi sekolah. Karena tindakan yang dilakukan Al sudah melukai temannya.
Al hanya menunduk. Jari-jari tangannya saling bertaut menyalurkan kecemasannya. Dia takut Abinya akan marah karena berkelahi di sekolah.
"Assalamu'alaikum," ucap Ibra yang berdiri di depan pintu Kepala Sekolah. Saat meeting, Ibra menerima telepon dari sekolah bahwa Al berkelahi dengan temannya. Dan tanpa pikir panjang, Ibra langsung meninggalkan meeting dan menyuruh Kevin melanjutkan pekerjaannya.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam ruangan. Al tetap menunduk, dia tidak berani menatap Abinya. Ibra berjalan masuk dan duduk di sebelah Al masih setia menunduk.
"Maaf sebelumnya jika kami mengangguk waktu bekerja Bapak dan Ibu. Kami hanya ingin memberitahu bahwa Al dan Jaka telah berkelahi," ucap Kepala Sekolah memberitahu maksudnya memanggil Ibra dan orang tua Jaka ke Sekolah.
"Jaka, bisa ceritakan kenapa kepalamu bisa berdarah?" tanya Kepala Sekolah kepada Jaka.
"Al mendorong Jaka hingga jatuh dan terbentuk bawah meja, Bu Kepala Sekolah," jawab Jaka.
"Anak saya pasti punya sebab mengapa dia melakukan itu," ucap Ibra.
"Karena anak anda memang nakal. Darah narapidana mengalir dalam tubuhnya," ucap Ibu Jaka membela anaknya dan menyalahkan Al.
Ibra mencoba tenang. Dia tidak ingin melawan perempuan. Ibra mengubah posisinya menjadi berjongkok di depan Ibra.
"Al, bilang sama Abi, kenapa?" tanya Ibra lembut.
"Saya yakin akan saya tidak bersalah!" ucap Ibra tegas.
"Tapi anak anda membuat anak saya berdarah. Ibu sama anak sama jahatnya," ucap Ibu Jaka ketus.
"UMI AL BUKAN PENJAHAT!" teriak Al berani. Semua orang boleh menghinanya, tapi tidak ada yang boleh menghina Uminya.
"Al memang mendorong Jaka, Abi. Al tidak mau Umi dibilang nalapidana. Umi bukan olang jahat Abi," ucap Al menjelaskan yang sebenarnya kepada Ibra.
Tangan Ibra terkepal mendengar perkataan Anaknya. Guru dan Kepala Sekolah juga terkejut mendengar
penuturan Al.
"Al tidak takut dihukum, Bu Kepala Sekolah. Kalena Al hanya membela Umi Al. Bukankah kita tidak boleh saling menghina? Dan Jaka sudah menghina Umi Al. Al tidak terima, karena itu Al mendolong Jaka," ucap Al berani sekarang.
Ibu Jaka memandang ke arah Jaka yang kini sudah menunduk. "Tapi tetap saja dia sudah melukai anakku," ucap Ibu Jaka kekeuh.
__ADS_1
"Tenang dulu, Bu. Al sama Jaka sekarang saling minta maaf, ya," ucap Kepala Sekolah menengahi.
Jaka menggeleng dia tidak mau meminta maaf kepada Al. "Dia yang harus minta maaf. Anak saya tidak salah. Dia juga mengatakan hal yang benar kalau ibunya Al itu memang seorang narapidana," ucap Ibu Jaka.
"Saya tidak meminta Jaka untum meminta maaf. Saya menyuruh mereka untuk saling memaafkan, Bu," jawab Kepala Sekolah menjelaskan lagi kata-katanya.
"Saya bisa mengganti pengobatan anak anda. Anak anda hanya mendapatkan luka fisik dan itu bisa cepat diobati. Tapi apa anda bisa mengobati luka bathin anak saya?" ucap Ibra tajam kepada Ibu Jaka.
Ibra berdiri dan mengambil mengambil selembar cek dari saku jasnya. Ibra menuliskan nominal di sana dan melempar kasar ke depan Bu Jaka. "Ini ganti rugi atas luka anak anda. Tapi sekali lagi anak anda melukai bathin anak saya, Keluarga anda hancur ditangan sayang. Saya permisi!" ucap Ibra tegas dan langsung menggendong Al keluar dari ruangan Kepala Sekolah.
Ibra berjalan cepat membawa Al ke mobil. Emosinya masih belum reda mendengar setiap hinaan yang diberikan pada anak dan istrinya. Sedangkan di dalam ruangan, Ibu Jaka terkejut melihat nominal yang ada di cek tersebut. "Lima puluh juta?" gumam Ibu Jaka tidak percaya.
.....
Ibra dan Al sudah duduk di mobil dan bersiap untuk pulang.
"Maaf, Abi," ucap Al menunduk takut.
"Al tidak salah. Abi bangga sama Anak Abi karena berani membela Umi," ucap Al mengusap lembut kepala Al.
Al mengangkat wajahnya menatap Ibra. "Al mau pindah sekolah, Abi."
Ibra mengangguk. "Abi akan urus nanti. Al pindah ke sekolah dekat kantor Abi. Oke," ucap Ibra menyetujui permintaan Al.
"Iya, Abi," jawab Al senang.
"Al jangan bilang ini sama Umi, ya. Biar ini jadi rahasia kita berdua."
"Iya, Abi," ucap Al patuh.
"Mau ikut Abi?"
"Kemana Abi?"
"Ke suatu tempat. Al pasti senang di sana."
"Mau Abi," jawab Al senang. Ibra tidak ingin membawa Al langsung pulang. Dia ingin menghibur anaknya terlebih dahulu.
__ADS_1
......................
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹🌹