Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 148


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Sesuai perkataan Ibra, kini Dee sedang berada di dalam perjalan menuju kantor Ibra. Sedangkan Kina lebih memilih tinggal di rumah bersama Bi Nini dan Rain, karena dia akan pergi jalan-jalan bersama Abangnya nanti.


Lima belas menit kemudian, mobil yang dinaiki Dee sampai di depan kantor Ibra. Dee segera turun saat pintu mobil dibukakan oleh Sopir.


"Terimakasih, Pak," ucap Dee ramah.


"Sama-sama, Nyonya," jawab Sopir gak kalah ramah. Setelah itu Dee berjalan dengan senyum elegannya memasuki kantor Ibra.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan Ibra, banyak bisikan-bisikan yang Dee dengar. Tapi dia hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Ting.


Lift terbuka dan Dee langsung keluar menuju ruangan Ibra.


"Apa Pak Ibra ada di dalam?" tanya Dee ramah pada sekretaris sekaligus asisten pribadi Ibra yang baru.


"Silahkan masuk, Bu. Bapak sudah menunggu dari tadi," jawab lelaki muda tersebut ramah.


"Baiklah. Saya permisi," ucap Dee ramah.


Sekretaris tersebut mengangguk dan tersenyum kepada Dee.


Dengan perlahan Dee membuka handel pintu.


"Mas," panggil Dee pada Ibra yang duduk di sofa dengan seorang lelaki paruh baya.


Ibra yang tadinya fokus dengan file didepannya menoleh. Senyum terbit di bibir seksi Ibra. Ibra berdiri dan berjalan kearah Dee. Satu tangannya merangkul pinggang Dee.


Cup


Tanpa malu bibir Ibra mendarat di kening Dee. Dee yang menerima perlakuan seperti itu bersemu merah. Mengingat disini ada orang lain selain mereka.


"Duduk, Sayang," ucap Ibra menggiring Dee duduk di sebelahnya.


Dee dengan patuh duduk dan tersenyum kepada lelaki paruh baya yang duduk di depannya. Lelaki tersebut membalas senyum Dee dengan tulus.


"Sayang, kenalkan, dia Pak Angga, Pengacara perusahaan," ucap Ibra.


Dee mengatupkan kedua tangannya di dada menyapa Pak Angga.


"Mas, ini ada apa, Mas?" tanya Dee bingung.


Ibra tidak menjawab. Dia mengambil file di meja dan memberikan kepada Dee. "Tanda tangan, Sayang," ucap Ibra.


"Tanda tangan apa, Mas? Adek mana ngerti masalah perusahaan," ucap Dee bingung.

__ADS_1


"Udah, tanda tangan aja biar semuanya selesai. Pak Angga masih banyak yang mau di urus, Sayang," ucap Ibra kepada Dee.


"Tapi-"


"Tanda tangan, Sayang," ucap Ibra cepat memotong perkataan Dee. Jika Dee tahu, maka dia pasti akan menolaknya.


Dengan ragu, Dee menandatangani semua file-file yang ada di depannya. Bahkan tangannya sampai pegal karena saking banyaknya file yang dia tanda tangani.


"Udah, Mas," ucap Dee setelah selesai tanda tangan.


Ibra tersenyum dan mengambil file tersebut. Ibra menyerahkan file tersebut ke Pak Angga. "Jangan sampai ada yang keliru, Pak," ucap Ibra kepada Pak Angga.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Pak Angga pamit.


Kini hanya tinggal Dee dan Ibra berdua di ruangan.


"Mas, itu tadi apa?" tanya Dee.


"Pengalihan seluruh harta aku, Sayang," jawab Ibra santai sambil melilitkan tangannya di pinggang Dee.


Mata Dee membulat sempurna mendengar perkataan Ibra. "Mas, jangan bilang kalau semuanya atas nama aku?" tanya Dee.


Dengan senyum mengembang Ibra mengangguk.


"Mas," ucap Dee tak percaya.


Dee yang kesal melepaskan tangan Ibra dari bajunya.


"Mas, kenapa dialih atas nama aku? Itu hak kamu, Mas. Itu pencarian Papa dan kamu, Mas. Kamu harusnya tanya aku dulu," ucap Dee kesal.


"Sayang, dengar aku, ya. Harta itu nggak sebanding dengan keberadaan kamu dan anak-anak, Sayang. Harta yang aku alihkan atas nama kamu adalah jerih payah aku sendiri. Tidak termasuk pencarian Papa. Papa juga mengizinkan, Sayang. Aku nggak mau kamu menolak," ucap Ibra menjelaskan.


"Tapi Mas-"


"Sayang, dengar aku. Aku rela kehilangan semuanya asal jangan kamu dan anak-anak. Kalau sampai aku kembali berulah, kamu bisa tendang aku dan jadi gelandangan. Karena semua ini sudah milik kamu. Sekarang aku bekerja untuk istri dan anak-anakku," ucap Ibra lembut.


"Mas," ucap Dee lirih.


Ibra memeluk Dee dengan erat. "Nggak boleh nangis lagi," ucap Ibra. Dee tersenyum dalam dekapan Ibra.


Sedetik kemudian, Ibra melepaskan pelukannya. Tanpa aba-aba, Ibra melahap bibir Dee dengan lembut. Dee yang merindukan sentuhan Ibra ikut terhanyut dan membalas permainan suaminya. Satu persatu tangan Ibra bekerja membuka kancing gamis Dee.


Dee hanya pasrah menerima perlakuan lembut Ibra. Ibra mengangkat tubuh Dee dan membawa menuju kamar pribadinya tanpa melepaskan pautan bibir mereka.


Dengan lembut Ibra membaringkan Tubuh Dee di ranjang. Dee tidak tinggal diam, tangannya bekerja membuka kemeja Ibra. Kini tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang yang menutupi.


Kamar itu kini penuh dengan suara indah perpaduan suara Ibra dan Dee. Decitan ranjang akibat permainan mereka menambah keindahan bunyi tersendiri.

__ADS_1


Ibra tampak semakin tampan dengan rambut yang sudah acak-acakan dan bibir yang bengkak. Sedangkan Dee tampak seksi bibir merah nan sedikit bengkak dan tubuh yang penuh dengan tanda kepemilikan Ibra.


"Aku cinta kamu, Sayang, Ahh," ucap Ibra saat dia mencapai puncak kegiatannya.


Dee hanya diam tak menjawab. Tenaganya sudah terkuras habis oleh kenikmatan yang mereka berikan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka tertidur tanpa melepas penyatuan mereka.


Inilah kebiasaan Dee dan Ibra, mereka tidak melepas penyatuan mereka dan akan tidur dengan keadaan yang masih menyatu tersebut. Ada kenikmatan dan kebahagiaan sendiri yang mereka dapatkan. Rasanya seluruh dosa yang melekat telah luntur karena ibadah yang mereka lakukan.


.....


Sedangkan Di sebuah Mall besar, Al dan Kina nampak berjalan saling bergandengan tangan. Kedua anak itu nampak sangat menikmati waktu mereka berdua. Dibelakang mereka ada beberapa bodyguard dengan baju serba hitam memberi keamanan untuk anak bos mereka.


"Adek mau beli apa?" tanya Al pada Kina.


Kina nampak berpikir. Anak itu mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu. "Aban, Adek mau beli mutena," ucap Kina.


Dengan senyum lebar Al mengangguk. Pikirannya sama dengan adiknya itu.


Kini mereka memasuki salah satu toko perlengkapan sholat. Ina dan Al berpencar ke setiap sudut. Kedua anak itu nampak seperti orang dewasa yang sedang berbelanja.


"Aunty," panggil Al kepada salah satu karyawan.


"Iya, Dek. Mau beli apa?" ucap Karyawan tersebut ramah.


"Al mau beli mukena untuk anak perempuan, Aunty," ucap Al.


"Untuk Adiknya?" tanya Karyawan tersebut.


Al menggeleng. "Untuk calon istri Al," jawab Al mantap.


Karyawan tersebut tertawa. Tapi tak Ayal dia mengikuti langkah Al menuju mukena anak-anak. Mata Al dengan lincah memilih satu-persatu Mukena tersebut.


"Al mau itu," ucap Al pada mukena yang sangat cantik dengan warna peach dilengkapi bunga berwarna maroon yang sangat indah.


Karyawan tersebut mengangguk dan mengambil pesanan Al. "Aunty, lengkap sama Al-Qur'an, Sajadah dan tasbihnya, ya," ucap Al.


Karyawan tersebut hanya mengangguk dan menuruti permintaan Al.


Setelah memilih semuanya, Al menyusul Kina yang masih sibuk memilih Al-Qur'an lengkap dengan radionya.


......................


Kayaknya Al lagi pesan seperangkat alat sholat ya teman-teman.


Jangan bosen sama cerita aku yaa, sabar sebentar lagi kita masuk season 2.


Aku sayang kalian 🌹🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2