Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 100


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Di Taman komplek tempat tinggal Dee dipenuhi oleh anak-anak yang bermain bersama orang tuanya. Di Taman terdapat lapangan bola untuk anak-anak dan berbagai macam permainan. Al bermain bola bersama teman-teman sebayanya. Sedangkan Kina ditemani oleh Dee bermain ayunan.


"Haha lebih tencang Umi," teriak Kina ketika Dee mendorong ayunannya.


"Nanti jatuh, Nak," ucap Dee.


Angin berembus membuat jilbab yang digunakan Kana bergerak-gerak lucu. Rambut anak itu sudah kesana-kemari keluar dari jilbabnya. Setelah ayunan berhenti, Dee bertumpu dengan kedua lutut di depan Kina yang duduk di ayunan. Tangannya dengan telaten membenarkan jilbab Kana. Kana hanya diam dan membiarkan Dee memperbaiki jilbabnya.


"Umi, Aban mana?" tanya Kina celingak-celinguk mencari keberadaan Al.


"Abang lagi main bola, Sayang," jawab Dee.


Kina hanya mengangguk mengiyakan perkataan Uminya. Saat mereka asik bercerita, seorang anak menghampiri Dee dan Kina.


"Hai Tin-Tin," sapa anak kecil tersebut kepada Kina.


Kina yang mendengar seseorang menyapanya langsung memasang wajah cemberutnya. "Nama tu Ina, bukan Tin-Tin," ucap Kina kesal. (Kina belum bisa sebut huruf K).


"Itu panggilan khusus dariku untukmu," jawab anak kecil tersebut.


"Umi," rengek Kina kepada Dee. Karena teman abangnya yang satu ini selalu memanggilnya Tin-Tin.


Dee tersenyum dan menoleh kepada anak laki-laki tersebut. "Azka nggak main sama Al lagi?" tanya Dee lembut. Azka adalah teman sekolah Al. Rumahnya juga hanya beda dua rumah dengan rumah Dee. Inilah yang disuka Dee tinggal di tempat barunya. Orang-orang yang ramah dan juga saling menyayangi. Al juga lebih banyak teman disini daripada di Jakarta. Tempat tinggalnya disini sangat baik untuk perkembangan anak-anaknya.


"Lagi istirahat dulu Umi Dee. Gantian sama yang lain," jawab Azka. Seluruh teman-teman Al memanggil Dee dengan panggilan Umi. Sebagaimana Al memanggilnya. Itu atas dasar permintaannya sendiri.


"Al nya dimana, Azka?" tanya Dee melirik ke lapangan Bola.


"Di sana Umi Dee. Lagi duduk sama teman-teman yang lain," jawab Azka menunjuk ke arah sudut lapangan.


Di sana Dee melihat anaknya sedang duduk bersama anak-anak lainnya. Nampak Al tertawa dengan teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Dee senang melihat itu.


"Azka, Umi bawa minum dan cemilan. Ini Azka bawa dan kasih teman-teman yang lain, ya. Titip minum ini juga untuk Al," ucap Dee memberikan kantong berisi botol minum dan kotak bekal.


Dengan senang hati Azka menerimanya. "Wah, terimakasih, Umi Dee," ucap Azka.


"Iya, sama-sama," jawab Dee.


"Kalau begitu Azka kesana dulu, Umi. Dadah Tin-Tin," ucap Azka sambil berlari karena takut Kina akan memakinya dan menangis.

__ADS_1


Dee yang melihat Azka pergi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Umi," rengek Kina kepada Dee.


"Anak Umi kenapa cemberut?" tanya Dee mengusap lembut pipi gembul Kina.


"Ina Ndak cuka di pandil Tin-Tin," ucapnya cemberut.


Dee tersenyum melihat wajah cemberut Ina. Tampak sangat menggemaskan untuknya. "Kina jangan cemberut gitu, itu artinya Bang Azka sayang sama Kina. Seperti Abang Al yang sayang sama Kina. Sekarang Umi mau tanya, Abang Al panggil Kina apa?" ucap Dee.


"Adek," jawab Dee polos.


"Itu panggilan sayang Abang buat Kina. Begitu pula Azka. Mungkin dia nyaman memanggil Kina dengan sebutan Tin-Tin, makanya dia manggil Kina seperti itu. Itu artinya dia punya panggilan khusus untuk Kina," ucap Dee menjelaskan.


"Beditu ya, Umi?" tanya Kina mengerjapkan mata bulatnya. Sangat menggemaskan.


"Iya, Sayang," jawab Dee.


"Talau ditu, Ina Ndak malah lagi," ucap Kina senang.


"Anak Umi memang pintar," ucap Dee mengecup kedua pipi bulat Kina secara bergantian.


.....


"Papa, Mama," ucap Ibra ketika menyadari kehadiran Wijaya dan Reina.


"Sejak kapan datang?" tanya Ibra bangun dari kursinya dan berjalan menghampiri Reina dan Wijaya.


"Baru saja," jawab Wijaya sambil mendorong kuris roda Naina mendekati Sofa.


"Bagiamana cucu dan menantu Mama, Ibra?" tanya Reina.


Ibra menghembuskan nafas kasar, setelah itu di menggelengkan kepalanya kepada Reina. "Belum ada petunjuk, Ma," ucap Ibra.


"Maafin Ibra, ya, Ma," lanjut Ibra memegang lembut tangan Reina.


"Kamu tahu Dee tidak mempunyai saudara sama sekali. Bagaimana keadaannya sekarang? Dengan siapa dia akan mengadu? Cucu mama gimana keadaannya sekarang?" tanya Reina bertubi-tubi dengan mata berkaca-kaca. Andai dia tidak lumpuh, mungkin dia akan bisa berusaha mencegah Dee agar tidak pergi jauh.


"Kita juga sudah berusaha, Ma. Kita harus sabar dan tunggu hasilnya," ucap Wijaya.


"Ini semua karena kalian tau nggak. Kalau kalian nggak ceroboh dan bodoh seperti ini, cucu dan menantu Mama pasti masih ada disini. Dan mungkin sekarang Mama sudah bisa menggendong cucu kedua Mama. Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi. Bahkan cucu Mama pergi sebelum lahir," jawab Reina menyindir anak dan suaminya.

__ADS_1


Dia benar-benar kesal, tapi apa daya. Dia hanya bisa pasrah. Toh nasi sudah menjadi bubur.


"Mama berharap Dee sudah menemukan pendamping yang baru," ucap Reina memandang Ibra.


"Nggak boleh!" jawab Ibra tegas.


"Kamu siapa? Ingat! Kamu hanya mantan suaminya. Dee berhak bahagia dengan jodohnya yang baru," ucap Reina.


"Dee hanya untuk Ibra, Ma. Nggak ada yang lain!" tegas Ibra.


"Terserah kamu. Tapi jika nanti Dee kembali dengan jodoh yang baru, kamu jangan gila!" ucap Reina ketus.


"Ma, udah Ma. Yang penting kita berdoa semoga dapat petunjuk dimana keberadaan Dee dan Al," ucap Wijaya menengahi istri dan anaknya.


Reina hanya mendengus kesal. Anak dan suaminya ini memiliki kadar kecerobohan yang sangat tinggi.


Di sela pembicaraan mereka, terdengar suara tangis Zahra dari dalam kamar pribadi Ibra.


"Sebentar Ma, Pa. Ibra mau lihat Zahra dulu," ucap Ibra beranjak pergi ke kamar pribadinya.


Ibra masuk ke kamar pribadinya. Terlihat Zahra yang menangis ketika baru bangun dari tidurnya. Ibra langsung menggendong Zahra dan mengoyang-goyangkan tubuh kecil itu ke kiri dan ke kanan. Setelah Zahra sudah mulai diam, Ibra membawa Zahra ke luar untuk menemui Reina dan Wijaya.


"Eh cucu Nenek sudah bangun," ucap Reina ketika melihat kedatangan Zahra dan Ibra. Reina tidak membenci Zahra, karena anak itu tidak bersalah. Dia hanya korban dari kebodohan Ibra dan Sofia.


"Nenek," ucap Zahra senang.


"Sini Sayang, duduk di pangkuan Nenek," ucap Reina merentangkan tangannya kepada Zahra.


Ibra membantu Zahra untuk duduk di pangkuan Reina. Dengan senang hati Reina menerimanya.


"Nenek, tadi Ala mimpi waktu tidul," ucap Zahra mulai bercerita kepada Reina. Ibra dan Wijaya hanya ikut mendengarkan.


"Mimpi apa, Sayang?" tanya Reina mengusap rambut Zahra.


"Ala mimpi ketemu Abang."


......................


Waah, nggak kerasa udah BAB 100 aja. Terimakasih buat kalian yang selalu setia sama aku 😘🌹🤗


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


__ADS_2