Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 8


__ADS_3

Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa


🌹HAPPY READING🌹


Sarapan telah berakhir, Ibra, Naina dan Al bersiap untuk melakukan kegiatannya masing-masing. Sebelum pergi kekantor, Ibra dan Naina terlebih dulu mengantar Al ke sekolah. Al yang sudah berusia 4 tahun, meminta Ibra untuk memasukkannya ke playgroup. Sebelum benar-benar pergi, Ibra mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dee, karena saat ia pertama turun untuk sarapan Ibra tidak melihatnya.


"Nai, Lo duluan aja ke mobil bareng Al ya. Gue mau ke kamar dulu. Ada yang ketinggalan," Ucap Ibra menyuruh Naina untuk ke mobil terlebih dahulu.


Naina tersenyum dan mengangguk "Yuk Al, kita ke mobil duluan," ucap Naina menggandeng tangan Al.


"Abi, Al duluan ya. Jangan lama-lama, nanti Al telat sekolahnya dan ga bisa mimpin senam didepan," ucap Al sebelum pergi ke mobil. Ibra tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Al.


Lima belas menit kemudian, Ibra kembali ke mobil dan melihat Al duduk di kursi belakang dengan wajah yang ditekuk. Pipi nya menggembung, kedua tangannya dilipat di dada melihat kedatangan Ibra.


"Abi lama, Al udah telat niih," ucap Al cemberut memarahi Ibra.


"Kamu ga bakal telat Al, orang sekolah cuma didepan komplek belagu banget. Kayak sekolah jauh aja," ucap Ibra meledek Al. Al memang hanya meminta sekolah di depan kompleknya. Entah mengapa anak itu menolak untuk sekolah disekolah yang ada di dekat kantor Ibra.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Ibra berhenti didepan playgroup. Al keluar duluan disusul Ibra dan Naina.


"Al jangan nakal ya. Harus nurut sama Bu guru," ucap Ibra sambil mengusap kepala Al lembut. Al mengangguk dan mengambil tangan Ibra untuk menyalaminya. Setelah itu bergantian menyalami Naina.


"Al pamit dulu, Abi, aunty Nai. Assalamualaikum," pamit Al.


"Waalaikumsalam," jawab Ibra dan Naina bersamaan. Al pun berlari masuk ke sekolah. Setelah memastikan Al benar-benar masuk, Ibra dan Naina berlalu pergi meninggalkan sekolah dan melanjutkan mobil menuju kantor.


Kini Ibra telah berada di ruangannya. Berdiri di depan jendela kaca besar dengan kedua tangan yang dimasukan ke saku celana memandangi keramaian kota pagi ini. Ibra termenung, memikirkan apa yang ia lihat tadi pagi.


Tadi pagi setelah Naina dan Al keluar rumah, Ibra naik ke kamar melihat keberadaan Dee. Sampainya di kamar, kamar nampak kosong. Ibra berjalan ke arah kamar mandi, walk in closet, namun nihil. Ibra tidak menemukan keberadaan Dee. Tidak menemukan Dee di kamar, Ibra keluar dan berjalan ke kamar Al, namun ia masih tetap tidak menemukan Dee.


Ibra kembali turun menyusuri anak tangga. Tepat di anak tangga terakhir, Ibra melihat Bi Nini sedang membersihkan meja makan dan Ibra pun menghampiri.

__ADS_1


"Bi," panggil Ibra.


"iya Tuan. Ada yang tuan perlukan ?" jawab Bi Nini ramah.


"Apa Bibi melihat Dee? dari tadi aku tidak melihatnya," tanya Ibra.


Bi Nini pun tersenyum senang, "Nyonya ada diruangan pribadinya tuan," ucap Bi Nini. Ibra pun mengerti dan mengangguk. Sebelum pergi, tidak lupa Ibra mengucapkan terimakasih kepada Bi Nini.


Ibra berjalan menuju ruangan pribadi Dee. Saat sampai didepan pintu, Ibra langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Di sana, Ibra melihat Dee yang sedang membuat kerajinan tanah liatnya. Tangannya membentuk sembarangan tanah liat yang sedang berputar-putar dengan Alatnya.


Tangan Dee memang bekerja, tapi Ibra dapat melihat bahwa Dee memandang dengan pandangan kosong. Bahkan Dee tidak menyadari keberadaan Ibra. Tanah liat yang ia olah pun tidak ada bentuknya, nampak berantakan.


Ibra berjalan mendekat. Dapat ia lihat bahwa, Dee menangis dalam diamnya. Tidak ada isakan, hanya air mata yang menetes di pipi mulusnya. Menyadari keberadaan Ibra didepan nya, tangis yang tadinya hanya air mata kini pecah mengeluarkan suara pilu. Dee dan Ibra saling pandang. Ingin rasanya Ibra mengulurkan tangan menghapus air mata Dee, dan membawa Dee kepelukannya. Namun, lagi-lagi cintanya dikalahkan oleh Egonya sendiri. Tidak tahan, Ibra membalikkan badan dan berlalu keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Melihat kepergian Ibra, Dee menghentikan kegiatannya. Dee berdiri dari duduknya. Badannya merosot, menangis sejadi-jadinya memeluk kedua lututnya. Dada nya masih sangat sesak melihat suami dan anaknya menikmati sarapan bersama wanita lain. Apalagi itu adalah masakannya sendiri. Ingin Dee berteriak menumpahkan segala kesedihannya, tapi ia hanya beristigfar mengusap dada meminta ketenangan kepada Allah.


Lamunan Ibra buyar, saat ada seseorang masuk keruangannya dengan membuka pintu sedikit kasar.


"Bisa nggak sih masuk itu ketuk pintu dulu. Dasar ga sopan," umpat Ibra kepada asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu, Kevin Aditama.


"Yaelah, baru datang juga udah diomelin aja sama pak bos. Lo nggak tanyain kabar gue gitu? udah dua Minggu kita LDR," ucap Kevin.


"Najis," jawab Ibra ketus. Kevin hanya tergelak senang sudah menggoda pak bosnya.


Dua Minggu yang lalu Kevin harus pergi ke Paris untuk menggantikan Ibra mengurus masalah yang ada di salah satu cabang perusahaan yang ada di sana.


"Gimana?" Tanya Ibra ambigu.


"Apanya?" tanya Kevin bingung.


"Masalah di sana, gimana ?" ulang Ibra.

__ADS_1


"Udah aman terkendali itu mah," jawab Kevin santai.


Kevin kembali berbicara saat ia teringat sesuatu, "Oiya, Dee gimana ?"


"Nggak gimana-gimana," jawab Ibra santai.


"Lo nggak siksa Dee kan? ingat Ib, Dee itu istri Lo. Istri yang dengan susah payah Lo perjuangin buat dapetin dia," ucap Kevin memperingati Ibra.


"Gue nggak apa-apain kok. Dia masih utuh juga dirumah. Tapi gue nggak tau gimana keadaan hatinya," lanjut Ibra dalam hati.


"Jangan lo pikir gue nggak tau Ib. Berhenti bersikap dingin seolah Lo nggak peduli sama dia. Kalau lo bersikap dingin, buat apa lo keluarin Dee dari penjara. Jangan nambah luka bathin nya Ib," jawab Kevin yang membuat Ibra terdiam.


Luka bathin, Ibra terdiam dan menangis pilu dalam hati mengingat sikapnya kepada Dee.


"Dan satu lagi, Lo harus selidiki semuanya. Jangan hanya karena kita melihat Dee memegang pisau itu, kita menuduhnya sebagai pelaku. Belum tentu dia yang nusuk Tante Raina," lanjut Kevin.


"Entah lah, gue juga bingung. Lo juga tau sendiri, kalau dari dulu hubungan mama sama Dee nggak begitu baik. Itu menambah keyakinan gue kalau emang Dee yang udah nusuk mama. Dan sampai sekarang aja, belum ada kemajuan mengenai kondisi mama. Mama masih koma juga Vin, dan ini udah setahun," jawab Ibra lirih.


"Gue ngerti gimana perasaan Lo Ib. Tapi itu semua belum membuktikan kalau Dee emang bersalah. Dan gue yakin hati kecil Lo pasti sependapat sama gue. Kalau enggak, nggak mungkin lo bebasin Dee dari penjara. Lawan ego lo Ib."


Memang Ibra yang telah membebaskan Dee dari penjara. Dan tentunya itu tanpa sepengetahuan Dee dan yang lainnya, kecuali Kevin dan Agam. Agam merupakan salah satu sahabat Ibra dan juga Kevin yang merupakan seorang Polisi. Ibra selalu membagi segala sesuatunya dengan Kevin dan Agam, begitu juga sebaliknya.


"Gue bebasin Dee karena ngerasa nggak enak sama orang tuanya, itu aja," ucap Ibra menjawab perkataan Kevin.


Kevin tertawa kecil mendengar perkataan Ibra, "Mulut lo emang bisa bohong Ib, tapi mata sama hati lo nggak bisa. Jangan sampai nanti lo nyesel Ib. Selagi Dee masih berjuang buat dapetin lagi kepercayaan Lo, Lo juga harus bantu usahanya, cari kebenarannya. Gue rasa Lo nggak bego buat masalah ini. Jangan sampai ego Lo buat Dee nyerah dan berakhir pergi dari hidup Lo," ucap Kevin panjang lebar memberi penjelasan kepada Ibra. Setelah itu Kevin kembali keruangannya dan meninggal Ibra yang terdiam mencerna setiap ucapan Kevin.


......................


Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan temani Dee menggapai kembali cinta suaminya yaa ,,,


Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....

__ADS_1


__ADS_2