
Ibra berjalan melewati Dee yang duduk di kasur. Dia mengambil bajunya yang ada di kasur dengan berjalan masuk ke walk in closet untuk memakai bajunya.
Dee yang masih setia duduk di kasur menjadi heran. Dia mencoba mengingat-ngingat senyumnya hari ini. Dee berjalan menuju cermin. Didepan cermin Dee tersenyum. "Tidak ada yang salah," gumam Dee pada diri sendiri setelah melihat senyumnya.
Dee kembali mengingat. "Tadi Mas Ibra ngambek setelah pulang dari klinik. Aku hanya tersenyum sama Dokternya. Dokternya laki-laki dan-" gumaman Dee berhenti ketika dia mengingat sesuatu. "Apa Mas Ibra ngambek karena aku tersenyum pada Dokternya? Apa Mas Ibra cemburu?" gumam Dee pada dirinya sendiri.
Dee mengulum senyum mengetahui penyebab Ibra mendiamkannya. Tangisnya berubah menjadi senyum bahagia. Dee berjalan cepat menuju walk in closet.
Grep
Dee memeluk erat tubuh Ibra dari belakang. Jika Ibra tidak kuat menahan, mereka bisa jatuh tersungkur ke depan.
"Jadi ceritanya ada yang cemburu," ucap Dee meledek Ibra.
Ibra melepaskan tangan Dee dari pinggangnya dan memutar tubuh menghadap Dee.
"Dasar nggak peka!" ketus Ibra.
__ADS_1
Dee tersenyum senang, dia tidak marah. Itu berarti Ibra sangat mencintainya. "Jangan ngambek, Mas. Jangan cemburu gitu," ucap Dee membujuk Ibra.
"Aku nggak suka kamu senyum kayak gitu sama laki-laki lain. Mana senyumnya tulus banget lagi. Senyum kamu cuma buat aku!" ucap Ibra tegas.
"Iya-iya, nggak akan senyum lagi sama laki-laki lain," ucap Dee patuh sambil mengembangkan pipinya seperti seorang wanita yang judes.
"Didepan aku harus senyum terus, dong," ucap Ibra menarik sudut bibir Dee dengan tangannya membentuk senyuman.
Dee memeluk erat tubuh Ibra dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Percayalah, Mas. Meskipun laki-laki punya banyak kebaikan layaknya beribu bintang di langit, cinta Adek buat Mas. Karena Mas punya satu kelebihan layaknya matahari yang memberi cahaya buat Adek," ucap Dee lembut kepada Ibra.
"Terimakasih, Sayang. Aku bersyukur punya kamu disisi aku. Kamu tahu? Rasanya saat ini pangeran surga pasti iri sama aku karena bidadari aku lebih sempurna dari bidadari mereka," ucap Ibra.
"Bidadari sama pangeran surga lagi sama-sama iri lihat kita, Mas. Termasuk yang lagi baca pasti iri lihat kebahagiaan kita," ucap Dee.
Mereka berdua saling berpelukan erat seakan tidak ada hari esok untuk berpelukan.
__ADS_1
Puas berpelukan dengan istrinya, Ibra merenggangkan pelukan mereka dan menatap dalam mata istrinya.
"Kita buat Adi untuk Al, yuk," ucap Ibra.
"Tapi Adek belum mandi, Mas. Masih lengket-lengket semua badannya," ucap Dee.
"Kita mulai dari kamar mandi."
"Tapi kan Mas udah mandi," ucap Dee heran. Suaminya kalau urusan beginian paling jago.
"Nggak apa, Sayang. Biar lebih bersih lagi," ucap Ibra langsung mengangkat tubuh Dee dan membawanya ke kamar mandi.
Sampainya di kamar mandi, Ibra langsung membuka kerudung dan baju Dee. Dee hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Toh ini pahala untuknya, menyenangkan suami. Dia sangat tergiur dengan janji Allah kepada Istri yang melayani suaminya dengan ikhlas dan senang hati.
Ibra bermain dengan sangat lembut. Guyuran shower menambah kecantikan istrinya. Sesekali Ibra mengusili Dee dengan menggelitik pinggangnya. Di dalam kamar mandi itu terdengar suara desahan dan tawa bahagia dua insan yang saling menyalurkan cinta mereka. Menyalurkan nafsu memang sangat terasa nikmat dan indah dengan seseorang yang sudah halal untuk kita.
......................
__ADS_1
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹