Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 91


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Kini mereka semua telah berkumpul di apartemen Kevin yang di tinggali oleh Sofia. Kiyai Rozak telah sampai di Apartemen Kevin sepuluh menit yang lalu. Wijaya, Kevin dan Ibra duduk berdampingan di sofa panjang. Wijaya berada di tengah-tengah Kevin dan Ibra. Sedangkan Sofia duduk di depan mereka berdua dengan Kiyai Rozak.


"Ekhem," dehem Ibra sebelum memulai pembicaraannya. "Maaf sebelumnya Kiyai Rozak, saya sudah mengganggu waktu anda dengan meminta untuk datang kesini," ucap Ibra memandang Kiyai Rozak.


"Tidak apa-apa, Ibra. Saya senang, akhirnya kamu dan Sofia bisa bertemu juga setelah sekian lama tidak bertemu karena kesibukan kalian masing-masing," ucap Kiyai Rozak tersenyum kepada Ibra.


"Bagaimana kabarmu, Pak Wijaya?" tanya Kiyai Rozak beralih kepada Wijaya.


Wijaya tersenyum kepada Kiyai Rozak. "Alhamdulillah saya baik Kiyai," ucap Wijaya.


"Bagaimana istrimu?" tanya Kiyai Rozak kembali.


"Istri saya sudah sadar dan sekarang sedang dalam masa terapi untuk mengembalikan kembali kekuatan sarafnya," ucap Wijaya.


"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya," ucap Kiyai Rozak.


"Terimakasih, Kiyai," ucap Wijaya tersenyum lembut kepada Kiyai Rozak.


"Abah," panggil Sofia yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi Kiyai Rozak dan yang lainnya.


Kiyai Rozak menoleh kepada Sofia. "Iya, Nak," jawab Kiyai Rozak.


"Abah, ada sesuatu yang ingin Sofia katakan. Dan memang Abah harus tahu mengenai ini," ucap Sofia.


"Tentang apa, Nak? Apa tentang kehamilan mu? Atau kau akan ikut tinggal dengan suamimu disini?" tanya Kiyai Rozak beruntun.


Sofia menggeleng. "Bukan Abah," ucap Sofia.


Dahi Kiyai Rozak berkerut. "Lalu apa, Nak?" ucap Kiyai Rozak penasaran.


Sofia memandang Ibra, Wijaya dan Kevin secara bergantian sebelum mengatakan kepada Kiyai Rozak. Setelah itu ia kembali memfokuskan pandangannya kepada Kiyai Rozak di sebelahnya. "Abah, Sofia dengan Ibra ingin bercerai," ucap Sofia menunduk tidak berani menatap Abah nya.


"Kiyai Rozak sontak terkejut mendengar penuturan Sofia yang tiba-tiba. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba saja dia mengatakan ingin bercerai dengan Ibra. Apalagi ditambah keadaannya yang tengah mengandung.


"Kamu jangan becanda, Sofia," ucap Kiyai Rozak tidak percaya.


Sofia menggeleng. "Sofia tidak becanda, Abah. Sofia sendiri yang memutuskan untuk bercerai dengan Ibra. Setelah anak Sofia lahir, maka kami akan bercerai Abah," ucap Sofia.


"Kamu tahu perceraian itu dilarang dalam agama, Sofia!" ucap Kiyai Rozak tegas.

__ADS_1


"Sofia tahu, Abah. Tapi kami sama-sama tidak bahagia dengan pernikahan ini," ucap Sofia memberi alasan. Dia masih belum siap mengatakan kepada Abah nya bahwa sebenarnya Ibra telah memiliki seorang istri, dan sekarang juga tengah mengandung anaknya.


Kiyai Rozak mengalihkan pandangan kepada Ibra. "Apa karena alasan ini saya diminta untuk datang kesini?" ucap Kiyai Rozak bertanya kepada Ibra.


Ibra balik menatap Kiyai Rozak dan mengangguk. "Benar, Kiyai. Kiyai tentu tidak lupa mengapa kami bisa menikah. Dan dalam pernikahan ini tidak ada yang bahagia, Kiyai," jawab Ibra.


"Tapi Sofia istrimu, Ibra! Dia sedang mengandung anakmu!" ucap Kiyai Rozak tegas.


DEG


.....


Lima menit setelah kepergian Ibra, Dee tidak sengaja melihat file terletak di atas meja sebelah ranjangnya. Dee mengambil file tersebut dan melihat 'File Penting' tertera di sana. Dee membuka file tersebut dan berisi beberapa dokumen kerja Ibra yang sama sekali Dee tidak mengerti.


"Apa mungkin ini ketinggalan ya? Kan tadi kata Mas Ibra mau ada pekerjaan penting sama Kevin," gumam Dee bertanya pada dirinya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Dee langsung turun ke bawah. "Bi," panggil Dee pada Bi Nini yang tengah bermain bersama Al di ruang keluarga.


Bi Nini menoleh. "Iya, Nyonya," jawab Bi Nini ramah.


"Mas Ibra udah berangkat belum, Bi?" tanya Ibra. Mana tahu saja Ibra masih belum berangkat.


"Papa juga?" tanya Dee memastikan.


Bi Nini mengangguk membenarkan pertanyaan Dee.


File ini pasti penting buat Mas Ibra. Aku antar ke apartemen Kak Kevin aja kali ya. Batin Dee memandangi File di tangannya.


"Memang ada apa, Nyonya?" tanya Bi Nini.


"Ini, Bi, Mas Ibra ninggalin Filenya di kamar. Pasti penting file ini untuk sekarang," ucap Dee.


"Kalau begitu suruh sopir aja buat antar, Nyonya," usul Bi Nini.


"Nggak usah, Bi. Biar Dee aja yang antar ini," ucap Dee.


"Apa tidak apa-apa jika Nyonya pergi sendiri? Kalau Tuan tahu nanti pasti di marahin, Nyonya," ucap Bi Nini mencegah Dee. Karena dia ingat pesan Ibra agar tidak membuat Dee kelelahan.


Dee tersenyum mendengar nada khawatir Bi Nini. "Tidak apa-apa, Bi. Aku diantar sopir kok," ucap Dee.


"Umi mau kemana?" tanya Al yang mengalihkan pandangannya dari robot ditangannya saat mendengar Dee akan pergi.

__ADS_1


"Umi mau antar ini dulu ke Abi, Sayang," ucap Dee menunjukkan file ditangannya.


"Emang Abi dimana, umi?" tanya Al.


"Abi di apartemennya Uncle Kevin, Sayang. Al mau ikut Umi?"


Al menggeleng. "Enggak, Umi. Al di lumah aja main sama Bibi," jawab Al.


Dee tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan anaknya. Dee mencium dahi Al sebelum pergi. "Umi pergi dulu, ya," ucap Dee setelah mencium dahi anaknya.


Al mengangguk dan menyalami tangan Dee. "Hati-hayi, Umi," ucap Al.


"Iya, Nak," jawab Dee. "Bi, Dee pergi dulu, ya," ucap Dee bergantian pamit kepada Bi Nini.


"Iya, Nyonya," jawab Bi Nini.


"Assalamu'alaikum," ucap Dee.


"Waalaikumsalam," jawab Bi Nini dan Al bersamaan.


.....


Sepanjang perjalanan menuju apartemen Kevin, Dee terus memegangi dadanya yang terasa sesak. Entah itu karena apa, dia tidak tahu. "Lebih cepat ya, Pak," ucap Dee kepada sopirnya.


"Iya, Nyonya," jawab sopir patuh.


Entah kenapa perasaan Dee sangat tidak enak. Dia takut terjadi apa-apa dengan Ibra.


Sepuluh menit kemudian, mobil Dee sampai di basement apartemen Kevin. Dee langsung turun dan meminta sopirnya untuk menunggu sebentar.


Dee berjalan ke apartemen Kevin dengan terus memegangi dadanya yang tertutup hijab. Perasaannya semakin tidak enak. Jantungnya berdegup kencang tanpa dia ketahui penyebabnya.


Sampai di depan pintu apartemen Kevin, samar-samar Dee mendengar suara seorang wanita. Dee yakin itu pasti Sofia. Yang dia ketahui adalah saudara Kevin. Tanpa mengetuk pintu Dee mencoba menekan handle pintu, dan ternyata tidak terkunci. Dee melangkahkan kakinya memasuki apartemen Kevin. Tapi langkahnya terhenti mendengar perkataan tegas dari seorang laki-laki paruh baya yang ada di sana.


"Tapi Sofia istrimu, Ibra! Dia sedang mengandung anakmu!" ucap Kiyai Rozak tegas.


DEG


......................


Terimakasih Kiz ucapkan karena selalu mengikuti novel receh Kiz teman-teman. Like, vote dan komentar kalian sangat berguna bagi Kiz. Pasti indah banget kalo semua yang baca kasih Like. Semoga hati kalian terketuk untuk kasih Like ya teman-teman. Kiz doain murah rezeki dan cepat dapat jodoh bagi yang jomblo (kayak Kiz), bagi yang udah dapat jodoh biar makin kuat cintanya, Aamiin. Kiz sayang kalian 🌹🌹😍

__ADS_1


__ADS_2