Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 88


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau sudah memiliki seorang istri, Ibra?" lanjut Sofia kepada Ibra.


"Jika saat itu aku mengatakan aku sudah memiliki istri, apakah kau dan Kiyai Rozak akan berhenti untuk meminta pertanggungjawaban Papa ku?" ucap Ibra.


"Setidaknya jika kau mengatakan bahwa kau telah memiliki istri, aku tidak akan mau menerima mu, Ibra," ucap Sofia menatap sendu Ibra. Tangannya terus mengusap perut buncitnya.


Ibra tergelak mendengar perkataan Sofia. "Lalu kau akan menikah dengan Papa ku, begitu?" ucap Ibra menatap Sofia tajam.


Sofia hanya diam menggelengkan kepala mendengar perkataan Ibra. Air mata yang sejak tadi dia tahan mengalir begitu saja di pipinya.


"Sabar, Ib. Dia sedang hamil," ucap Kevin menenangkan Ibra.


"Dimana istrimu saat kau menikahi ku?" tanya Sofia.


Ibra memejamkan matanya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Sofia. Dia sakit ketika mengingat kesalahannya kepada Dee. "Dee di penjara saat itu," jawab Ibra yang mampu membuat Sofia kaget.


"Di penjara?" tanya Sofia.


Ibra mengangguk. "Karena kebodohan ku, Dee harus dipenjara dan menerima semua kepedihan yang tidak seharusnya dia terima. Karena kebodohan ku juga, anakku harus mengalami masa kecil yang begitu menyakitinya," ucap Ibra dengan mata yang sudah memerah.


Sofia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tadi dia merasa menjadi wanita yang paling tersakiti, tapi sekarang dia tahu bahwa Dee lebih menderita daripadanya.


"Kau laki-laki macam apa yang tega menyakiti istrimu sendiri? Bahkan aku tidak pernah melihat lelaki yang lebih pengecut daripadamu Ibra. Meskipun menikah tanpa cinta, tapi itu akan tetap menyakiti hati Dee. Benar-benar bajingan!" ucap Sofia tegas kepada Ibra.


"Kau pikir aku senang menyakiti Dee? Kau pikir aku bahagia melihat penderitaan anak dan istriku? begitu?" ucap Ibra yang sudah terpancing emosi.


"Tenanglah, jangan menambah masalah dengan emosi kalian. Kita disini untuk menyelesaikan semuanya," ucap Kevin menengahi Ibra dan Sofia yang sama-sama sudah terpancing emosi.

__ADS_1


Mereka bertiga diam, asik dengan pikiran sendiri. Ibra dengan segala penyesalannya, Sofia dengan segala rasa bersalahnya kepada Dee, dan Kevin merutuki kebodohannya yang tidak bisa menghentikan semuanya.


"Ceraikan aku, Ibra!" ucap Sofia tiba-tiba kepada Ibra.


Ibra dan Kevin sontak menatap Sofia dengan tatapan terkejut mendengar perkataan wanita didepan mereka ini.


"Kau yakin?" ucap Ibra memastikan.


"Aku sangat yakin. Aku seorang wanita, dan aku bisa merasakan bagaimana sakitnya jika mengetahui suami yang kita cinta dan percayai memiliki istri lain. Poligami memang di perbolehkan dalam islam, tapi tidak semua wanita mampu menerimanya, Ibra. Dan aku tidak ingin menambah luka di hati wanita lain," jawab Sofia yakin.


"Tapi kau sedang hamil anakku, Sofia," ucap Ibra.


Sofia mengangguk. "Aku akui, meski sudahi setengah tahun menjadi istrimu dan kita sangat jarang untuk bertemu, aku sudah mulai memiliki rasa terhadapmu, Ibra. Tapi untungnya rasa ini baru tumbuh dan masih bisa aku atasi. Kau tenang saja, aku memang hamil anakmu, tapi kita tidak pernah terikat hubungan badan Ibra. Kau tentu tidak lupa jika aku hamil karena proses IUI," ucap Sofia. Saat ini dia benar-benar merasa menjadi seorang wanita yang merebut kebahagiaan wanita lain, dan dia tidak ingin menambah dosa karena itu.


"Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan mu," jawab Ibra yakin.


Kevin hanya terdiam sambil terus memandangi ekspresi Sofia. Ada rasa kasihan dalam hatinya melihat Sofia yang harus berkorban saat hamil seperti ini. Tapi di sisi lain ada Dee yang lebih tersakiti jika mengetahui semua nya.


Mereka bertiga menoleh dan melihat Wijaya yang berjalan mendekati mereka.


"Waalaikumsalam," jawab Kevin, Ibra dan Sofia bersamaan.


"Pa," ucap Sofia berdiri dan menyalami tangan Wijaya.


Wijaya hanya tersenyum membalas sapaan Sofia.


Mereka semua kembali duduk bersama di ruang tamu apartemen Kevin. Saat ini ruang tamu itu menjadi saksi ketegangan mereka semua.


"Sofia, maafkan atas kesalahan Papa waktu itu," ucap Wijaya menyesali kecerobohannya.

__ADS_1


*Flashback*


Tujuh bulan yang lalu, Wijaya menyetir mobil dengan kecepatan tinggi saat mendapat kabar bahwa kondisi Reina menurun. Meeting yang tadinya sangat penting langsung dia tinggalkan begitu mengetahui keadaan istrinya.


Dari arah berlainan, Seorang lelaki mengendari motor besarnya dengan kecepatan sedang. Saat menghadapi sebuah pembelokan, Wijaya yang terkejut karena melihat motor didepannya menghantam motor tersebut tanpa bisa mengelak. Kecelakaan terjadi tanpa bisa di cegah. Mobil Wijaya menabrak pembatas jalan, tapi syukur kondisinya masih tidak apa-apa. Berbeda dengan pengendara motor yang sudah tergeletak dengan darah mengalir dari balik helm yang ia gunakan. Menandakan kerasnya hantaman Antara mobil Wijaya dan kotor tersebut.


Wijaya keluar dari mobil dan melihat keadaan lelaki tersebut. Tanpa pikir panjang Wijaya langsung saja meminta bantuan warga yang ada di sana untuk membantunya membawa lelaki tersebut ke rumah sakit yang sama dengan tempat Reina di rawat. Sampainya di Rumah Sakit, Dokter langsung menangani lelaki tersebut. Wijaya menanggung semua biaya Rumah sakit nya, hingga tiga hari setelahnya lelaki tersebut dinyatakan meninggal dunia.


"Mas Ardi!" teriak seorang wanita muda memeluk tubuh yang sudah terbujur kaku ditutupi kain putih. Wijaya yang melihat itu menjadi merasa bersalah.


"Maafkan saya," ucap Wijaya mengatupkan tangannya kepada semua keluarga Ardi yang ada di sana. Wijaya tidak hanya sendiri, ada Kevin dan juga Ibra yang menemaninya.


Wanita yang tadi menangis memeluk Ardi menghentikan tangisnya dan beralih menatap Wijaya. "Tidak bisakah anda berhati-hati dalam membawa mobil anda? Tidak hanya anda yang memiliki masalah sampai harus tergesa-gesa, orang lain juga punya. Tapi kenapa anda bersikap egois dan menjadikan calon suamiku korbannya. Mengapa harus calon suamiku?" ucap wanita itu sendu kepada Wijaya.


"Sofia sudah, Nak. Mungkin ini adalah takdir yang harus kita terima. Ikhlaskan, Nak," ucap Ibu Ardi menenangkan Sofia, calon menantunya.


"Tapi Mas Ardi, Ma. Seminggu lagi kami akan menikah, hiks," tangis Sofia kembali pecah mengingat pernikahannya yang akan dilaksanakan seminggu lagi.


Semua yang ada diruangan ikut merasakan bagaimana kesedihan wanita tersebut.


"Tenang, Nak. Semua pasti ada hikmahnya," ucap lelaki paruh baya dengan gamis muslimnya.


"Tapi Abah-"


"Semua pasti ada jalannya, Nak," ucap Lelaki itu kembali.


"Maafkan Papa saya, Pak Kiyai," ucap Ibra kepada lelaki paruh baya tersebut.


Pak Kiyai tersebut hanya mengangguk mendengar perkataan Ibra.

__ADS_1


Dua hari sudah Ardi dimakamkan. Tapi Sofia masih terlihat murung dan terus diam. Bagaimana dengan pernikahannya? Bagaimana dengan nama baik Abah nya? Bagaimana dengan undangan yang sudah di sebar? Bagaimana dia menghadapi semuanya? Segala pertanyaan itu muncul di benak Sofia.


.....


__ADS_2