Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 13


__ADS_3

Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa


🌹HAPPY READING🌹


Ibra meminta Kevin untuk mengantarnya pulang terlebih dahulu. Dia menyuruh Kevin untuk membawa mobilnya besok ke kantor. Ibra sampai di rumah pukul 02.00 dini hari. Ibra berjalan memasuki rumah. Saat sampai di anak tangga paling atas, mata Ibra melihat Dee yang tertidur sambil duduk dengan badan bersender di pintu kamar Al. Tidak ingin Dee kedinginan Ibra mengangkat tubuh Dee ala bridal style menuju kamar mereka. Dengan perlahan Ibra menidurkan Dee di kasur.


Karena badannya terasa lengket, Ibra bergegas ke kamar mandi membersihkan badannya. Setelah itu ia berjalan ke arah walk in closet untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Sampainya di sana Ibra melihat salep yang tadi digunakan Dee untuk luka ditubuhnya. Ibra mengambil salep tersebut dan membawanya.


Ibra menyingkap baju bagian punggung Dee keatas, "Ini pasti sangat sakit. Maafkan aku yang tidak mengetahui penderitaan mu. Rasanya sangat tak pantas jika Khadijah sepertimu bersuamikan iblis penuh dosa seperti ku. Maafkan aku", ucap Ibra sendu melihat banyaknya luka dipunggung Dee.


Dee yang merasakan sesuatu menyentuh punggungnya mulai terbangun dan membuka mata. Dee berbalik dan melihat Ibra yang memandangi tubuhnya. Mata Dee dan Ibra saling bertemu.


"Mas", ucap Dee dengan mata berkaca-kaca.


Ibra langsung memeluk tubuh istrinya yang bergetar menahan tangis.


"Adek bukan penjahat, Bukan Adek yang nusuk mama", ucap Dee dalam tangisnya.


Ibra mengangguk mendengar ucapan Dee. Dia tidak tahu harus mengetakan apa. Bibir nya tiba-tiba kelu saat melihat wajah istrinya.


"Tubuh Adek jelek, maaf", ucap Dee melepaskan diri dari pelukan Ibra.


"Adek iklhas kalau mas tidak mau lagi menyentuh Adek. Adek sadar diri, tubuh Adek terlalu menjijikan untuk seorang lelaki sempurna seperti mas. Maaf kan Adek".


"Dee"


"Adek siap jika mas ninggalin Adek, tapi sebelum itu tolong percaya kalau bukan Adek yang udah nusuk mama dan buat mama koma sampai sekarang", ucap Dee dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Adek tau diri kok", Ucap Dee dengan kepala tertunduk dalam tangisnya.


Tak kuat lagi mendengar segala ucapan Dee, Ibra membawa kembali tubuh Dee kedalam pelukannya. Dee sedikit memberontak, tapi Ibra semakin memperkuat pelukannya. Ibra membiarkan Dee menyalurkan segala tangisnya.


Tangis Dee mulai mereda. Ibra melonggarkan pelukannya dan mengangkat wajah Dee agar melihat kearahnya. Kedua tangan Ibra terulur memegang pipi Dee dan menghapus air mata yang ada di sana.

__ADS_1


"Udah ngomongnya ? sekarang giliran aku yang ngomong. Lihat aku Dee", ucap Ibra saat Dee berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Dee tetap menghindari kontak matanya dengan Ibra, setelah Ibra sedikit memaksa barulah Dee memberanikan diri memandangi Ibra.


"I LOVE YOU", tiga kata keluar dari mulut Ibra mampu membuat tangis Dee kembali hadir. Tapi kali ini adalah tangis bahagianya. Tidak menyangka jika suaminya akan mengucapkan tiga kata yang paling ia nantikan.


"Hiks,,hiks,,hiks,,"


"Aku minta maaf atas semuanya. Aku minta maaf jika sudah melupakan keberadaan mu, aku minta maaf sudah mengabaikan mu. Jangan pernah berfikir untuk mengatakan tentang perpisahan lagi, karena tulang rusuk tidak akan pernah berpisah dengan tubuhnya. Terimakasi sudah mau bertahan, Terimakasi sudah mau kembali pulang kesini. Terimakasi sudah kembali untuk aku dan Al", ucap Ibra dengan mata berkaca-kaca.


Secara perlahan Ibra mendekatkan wajahnya dengan wajah Dee, perlahan kedua bibir seksi itu saling bertemu dan melepas rindu satu sama lain. Saling menyalurkan cinta dan kerinduannya.


Dirasa pasukan oksigennya mulai habis, Ibra melepaskan pautan bibir mereka. Dahi mereka saling menempel dengan senyum di wajah keduanya.


"I love you",


"I love you more".


Dee sangat bahagia, akhirnya penantian dalam kesabarannya menuai kebahagiaan.


"Tapi bagaimana dengan Al mas ? Apa semua ini tidak akan melukainya?" tanya Dee mengingat sikap Al terhadapnya.


Mereka berdua tertidur dengan kepala Dee yang berbantalkan lengan Ibra. Tangan Ibra bekerja mengusap lembut kepala istrinya yang masih tertutupi hijab instannya.


Teringat sesuatu, Ibra mendudukkan dirinya, "Apa ini masih sakit ?" tanya Ibra memegang luka yang masih berair di perut Dee.


"Jangan di pegang mas, ini menjijikan", ucap Dee menjauhkan tangan Ibra dari perutnya.


Bukannya menjauh, Ibra malah mencium lembut luka tersebut, "Bau", ucap Ibra menjahili Dee. Dee memukul pelan lengan Ibra dengan wajah menahan senyumnya.


"Dengar sayang, tidak ada seorang suami yang jijik dengan istrinya sendiri. Bahkan aku lebih jijik pada diriku yang tidak memperdulikan istri baik seperti mu. Seharusnya kamu yang jijik sama aku", ucap Ibra dan dibalas senyuman oleh Dee.


"Mas tidak salah, luka ini ada memang sudah takdirnya. Tidak ada istri yang jijik dengan surganya mas. Dan Adek sangat mencintai surga Adek ini", ucap Dee tersenyum. Kedua tangannya mengusap lembut pipi Ibra.


Ibra ikut tersenyum mendengar ucapan Dee. "Jilbabnya dibuka aja ya, cuman ada kita berdua di kamar. Lagian biasanya juga kamu ga pernah make jilbab kalau dirumah cuman ada aku sama Al".

__ADS_1


ucap Al. Tangannya bergerak akan membuka hijab Dee.


"Jangan dibuka", ucap Dee menahan tangan Ibra. Matanya sudah berkaca-kaca.


Ibra merasa aneh dan semakin penasaran. Dengan sedikit paksaan Ibra melepaskan hijab Dee.


"Maaf, rambut Dee juga jelek", ucap Dee melihat Ibra yang hanya diam melihat rambutnya. Ibra terkejut, tidak pernah terpikir olehnya jika rambut istrinya juga dijadikan pelampiasan seperti ini.


"Apa mereka juga yang memotong rambut ini ?" tanya Ibra tegas. Dee menggeleng, ia sedikit takut mendengar suara tegas suaminya.


"Lalu kenapa bisa tinggal sebahu seperti ini ? dan kenapa bisa kasar seperti ini sayang ?" tanya Ibra memegangi rambut Dee. Rambutnya terasa sedikit kasar.


"Ini bukan rambut", jawab Dee sambil menunduk. Ibra mengangkat sebelah alisnya heran dengan jawaban Dee.


Dee memberanikan diri memegang rambutnya. Secara perlahan ia melepaskan wig yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya. Ibra kaget melihat kepala Dee.


"Dee udah nggak punya rambut", jawab Dee menunjuk kepalanya yang botak. "Maaf", ucap Dee dengan kepala menunduk, air mata tidak hentinya mengalir untuk malam ini. Dee tau bahwa Ibra dulu sangat menyukai rambutnya yang hitam lebat dan panjang sepinggang. Makanya Dee menggunakan Wig dibalik hijabnya.


"Kenapa bisa seperti ini ?" tanya Ibra dingin dan tegas.


"Kepala Dee di setrika disini. Rambut Dee hancur. Kepala Dee juga sakit", jawab Dee dengan bibir bergetar. Tangannya menunjuk kepala bagian belakang yang ia maksud.


Ibra menoleh dan melihat kepala Dee bagian belakang. Hatinya sakit dan teriris melihat bekas setrika di kulit kepala bagian belakang Dee. Ibra kembali memandangi wajah Dee yang sudah kembali basah karena air mata. Beribu penyesalan hinggap di hatinya. Sekuat apa istrinya ini hingga bisa menahan semua penderitaannya sendiri.


"Maaf"


"Maaf"


"Maaf", kata yang selalu terucap dari bibir Ibra sambil memeluk tubuh rapuh istrinya.


......................


Hai Teman-Teman, Terimakasi sudah mampir dan temani Dee menggapai kembali cinta suaminya yaa ,,,

__ADS_1


Jangan lupa like sama komentarnya yaa teman-teman agar novel ini tambah seru lagi,,,


Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa untuk melihat ucapan ucapan mutiara author yaa.....


__ADS_2