
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Sedangkan di kamar Al, anak itu yang nampak cemas memikirkan Uminya. Alan yang mengerti raut wajah anak sahabatnya itu mencoba menenangkan.
"Tenanglah, Boy. Umi mu tidak akan kenapa-napa," ucap Alan menenangkan Al.
"Polisi itu tidak akan membawa Umi kan, Uncle?" tanya Al cemas. Mereka berdua duduk di kasur Al dengan menyenderkan punggung ke kepala ranjang.
Alan menggeleng dan tersenyum kepada Al. "Tidak akan ada yang berani membawa Umi mu, Boy."
"Tapi waktu itu Polisi juga datang dan langsung membawa Umi, Uncle. Padahal Al sudah menahan agal Pak polisinya nggak bawa Umi. Al juga sudah minta tolong Abi waktu itu. Tapi Abi hanya diam dan akhilnya Pak Polisi bawa Umi Al, Uncle," ucap Al sendu menceritakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
Benar-benar anak yang luar biasa. Batin Alan takjub melihat betapa sayangnya dia kepada Dee.
"Dulu itu hanya kesalahpahaman, Boy. Sekarang Abi Al sudah memiliki bukti kalau Umi Al tidak bersalah. Dan Pak Polisi tidak akan berani menangkap Umi Al," ucap Alan menjelaskan kepada Al.
Al hanya mengangguk, yang dia tangkap saat ini intinya Uminya tidak akan di bawa Polisi.
Al memandang lekat wajah Alan, karena teman Abinya ini nampak asing baginya. Dia baru menyadarinya setelah sekian banyak pembicaraannya kepada Alan. Al merasa bahwa pria dewasa yang ada di depannya ini mirip seseorang yang di kenalnya.
"Kenapa, Boy?" tanya Alan heran karena Al terus memandanginya.
"Uncle?" panggil Al.
"Ya, Boy. Ada apa? kau membuat Uncle takut dengan matamu yang tajam itu," ucap Alan kepada Al.
__ADS_1
Al terus memandang lekat wajah Alan. Menelusuri setiap sudut wajah Alan dengan mata tajamnya. Alan yang di pandang seperti merasa was-was mendapat tatapan tajam anak didepannya ini.
"Uncle milip teman sebangku ku," celetuk Al dengan wajah polosnya.
Alan melongo. Jadi dari tadi anak ini memperhatikannya wajahnya karena mirip temannya. Padahal dia sudah ngeri melihat tatapan tajam Al.
"Aiiss, kau membuat Uncle deg-degan, Boy," jawab Alan.
"Apa teman sebangku mu seorang wanita?" tanya Alan setelahnya.
Al mengangguk mengiyakan pertanyaan Alan. "Tapi dia sangat celewet, tapi cantik. Tapi lebih cantik Umi," ucap Al membayangkan wajah Umi dan teman sebangkunya.
"Apa dia menggunakan jilbab?" tanya Alan lagi.
Al kembali mengangguk. "Tapi jilbabnya tidak pelnah lapi. Lambutnya selalu kelual-kelual. Beda dengan Umi," celetuk Al menyebutkan keadaan teman sebangkunya.
Astaga, kalau bukan anak sahabat gue udah gue pites-pites. Ucap Alan dalam hati.
Al terkejut, "Uncle tahu namanya?" tanya Al kaget.
"Dia anak uncle, Boy," jawab Alan santai.
Al hanya ber oh ria mendengarnya. "Pantas celewet, ketulunan Uncle," cicit Al pelan tapi masih di dengar oleh Alan.
"Uncle mendengarnya, Boy."
"Hehehe, pis Uncle," jawab Al cengengesan sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari manisnya membentuk huruf V.
Sedangkan di kamar lain, Ibra meletakkan Dee di kasur dengan pelan. Dee tidak melepaskan lingkaran tangannya di tangan Ibra. "Sayang, lepas dulu, ya," ucap Ibra lembut membujuk Dee.
"Mas, Adek nggak nusuk Mama," ucapan yang selalu keluar dari mulut Dee.
Ibra sedikit melepas paksa tangan Dee dari lehernya, setelah itu dia duduk di depan Dee. "Iya, Mas tahu kalau buka istri Mas yang nusuk Mama."
__ADS_1
"Mas percaya sama Adek?"
"Sangat percaya," jawab Ibra yakin memandang lekat mata Dee.
"Terimakasih," ucap Dee memeluk tubuh Ibra.
Tangan Ibra mengusap lembut punggung Dee yang memeluknya. "Mulai sekarang, apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya, kita harus saling jujur dan percaya. Karena itu merupakan kunci kebahagiaan rumah tangga kita," ucap Ibra lembut di telinga Dee.
Dee terharu dan air matanya mengalir mendengar penuturan lembut suaminya. Dia hanya menganggukkan kepala mendengar setiap perkataan Ibra.
Ibra melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Dee. "Maafkan Mas yang sudah menuduh kamu tanpa bukti yang jelas, Maaf. Izinkan aku menghilangkan penyesalan ini dengan membuktikan pada dunia bahwa istriku bukan seorang pembunuh," ucap Ibra lirih. Sudut matanya sudah berair, setiap waktu penyesalan selalu hinggap di hatinya. Tapi di sadar menyesali tidak ada gunanya dan dia harus mengungkap kebenaran mengenai istrinya.
"Mas tidak salah. Allah sedang menguji rumah tangga kita. Allah sedang mengangkat derajat rumah tangga kita melalui ujian-ujian Ini. Adek hanya minta agar Mas tidak pernah meninggalkan Adek dan juga Al. Derajat rumah tangga kita sedang di uji, Mas," ucap Dee kepada Ibra. Tangannya terulur mengusap air mata yang ada di sudut mata suaminya.
Rasa syukur yang teramat besar diucapkan Ibra karena Allah memberi bidadari dalam kehidupannya, dan malaikat tak bersayap bagi anaknya.
Ibra mendekatkan wajahnya ke wajah Dee hingga dahi mereka saling bertemu. Hidung mancung mereka saling bersentuhan lembut. "Thank You and I Love You," ucap Ibra mesra.
Dee tersenyum cantik mendengar perkataan Ibra. "Afwan Wa Anaa Uhibbuka Fillah," ucap Dee menjawab ungkapan cinta suaminya.
Ibra tersenyum senang dan melahap lembut bibir ranum Dee yang merupakan candu untuknya.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya
Author sayang kalian 🌹🌹😘
__ADS_1