
🌹HAPPY READING🌹
"Waalaikumsalam," jawab Dee dan Al. Mereka berdua berdiri dan melihat kedatangan ustad Zaki bersama rombongan, dan ...
DEG
Detak jantung Dee berdetak kencang melihat wanita yang dulu memberikan kenangan buruk dari masa lalunya. Sedangkan Al, tangannya sudah terkepal kuat melihat kehadiran Naina di sana. Tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa tidak suka dalam diri Al mengingat apa yang telah dilakukan Naina kepadanya dulu.
"Naina," ucap Dee pelan.
Sedangkan Naina yang melihat dua orang dari masa lalunya memandang dengan tatapan sendu dan penyesalan.
Pandangan Al berubah sendu melihat seseorang yang berdiri di sebelah Naina, Runa alias Bella. Gadis yang selalu memenuhi hatinya. Bella nampak sangat cantik dengan pakaian yang menutup auratnya. Tapi satu hal yang membuat Al tidak suka. Bella yang menggandeng tangan Naina dengan erat.
"Al, Dee, apa kalian menunggu lama?" ucap Ustad Zaki menyadarkan mereka semua.
"Eh, enggak Ustad. Saya sama Al juga baru datang," ucap Dee.
Setelah itu mereka semua memasuki rumah Ustad Zaki. Sedangan beberapa Ustad lainnya yang tadi menjadi saksi pengucapan dua kalimat syahadat Bella memilih kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
"Dee, Al, perkenalkan Naina dan Bella," ucap Ustad Zaki.
"Kami sudah saling kenal, Ustad," ucap Dee tersenyum.
Nampak sedikit raut keterkejutan dari Ustad Zaki. "Kalian saling kenal?" ucap Ustad Zaki.
Dee dengan senyum mengangguk.
"Alhamdulillah. Kalian bisa ngobrol dulu kalau begitu, saya haru ke pendopo, ada pengajian bareng santri di sana," ucap Ustad Zaki.
"Tapi dirumah Ustad tidak ada Ustadzah Arum," ucap Dee tak enak.
"Tidak apa, Dee. Sebentar lagi Arum akan datang. Dia ada sedikit keperluan dengan beberapa Ustazah baru," ucap Ustad Zaki. Ustazah baru yang dimaksud Ustad Zaki adalah para pengajar yang baru saja di terima di pesantren. Tadi setelah ikut menyaksikan Bella mengucapkan dua kalimat syahadat, Ustad Arum langsung izin untuk pamit.
Setelah pamit, kini tinggal Dee, Al, Naina dan Bella di ruang tamu rumah Ustad Zaki.
"Umi," panggil Bella lirih.
Dee tersenyum lembut menatap Bella. "Anak Umi cantik sekali," ucap Dee.
Bella tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Naina hanya diam sejak tadi. Perasaannya campur aduk saat ini. Ada perasaan takut, senang dan sedih bercampur menjadi satu.
Dee mengalihkan pandangannya kepada Naina yang diam dan menunduk. "Nai," panggil Dee lembut.
Naina mengangkat kepalanya, memandang Dee dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dee," balas Naina lirih.
Tanpa aba-aba, Naina langsung bersimpuh didepan Dee dengan kedua tangan dikatupkan di dadanya.
"Maaf, Dee," ucap Naina dengan tangisnya.
__ADS_1
Mata Dee berkaca-kaca melihat Naina. Kedua tangan Dee memegang pundak Naina memintanya untuk bangun dan duduk di sebelahnya.
"Apa kabar, Nai?" ucap Dee lembut.
Senyum terbit di bibir Naina dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Sungguh, terbuat dari apa hati wanita didepannya ini. Bahkan Naina saja masih sulit untuk memaafkan dirinya sendiri.
"Aku baik, Dee," jawab Naina. Sedangkan Bella hanya diam menyaksikan semuanya. Meskipun dalam benaknya kini memiliki banyak pertanyaan mengenai hubungan Naina dan Dee.
Al yang melihat itu memilih memalingkan wajahnya.
"Aku senang kamu seperti ini, Nai. Nampak sangat cantik dan anggun," ucap Dee.
Naina hanya mengangguk. Air matanya tidak henti mengalir di pipi mulusnya. "Boleh aku memelukmu, Dee?" tanya Naina.
Naina mengangguk. Dengan erat, Naina memeluk tubuh Dee. Dee membalas pelukan Naina dengan tulus.
"Maafkan aku, Dee. Hiks, maaf telah menjadi masa lalu yang buruk untukmu," ucap Naina menangis dalam pelukan mereka.
"Kamu memang sangat keterlaluan, Nai," ucap Dee mengelus punggung Naina.
Naina mengangguk menyetujui perkataan Dee. Kata maaf selalu terlontar dari bibir Naina.
"Tapi kamu sudah menerima semua hukuman atas segala perbuatanmu. Aku juga sudah memaafkan semuanya, Nai," ucap Dee.
"Terimakasih, Dee. Terimakasih," ucap Naina semakin mengeratkan pelukannya kepada Dee.
Dee mengangguk dan tersenyum. Setelah itu dia melepaskan pelukannya dari Naina. Tangan Dee terulur menghapus air mata di pipi Naina.
"Al kecil kita sudah besar, Nai," ucap Dee memandang Al yang duduk di sofa singel dengan memalingkan wajahnya.
"Al," panggil Naina lirih.
Al hanya diam. Rekaman masa lalu itu masih teringat jelas dalam memorinya.
"Nak," ucap Dee lembut melihat Al hanya diam tidak menggubris Naina.
Al menghela nafasnya dalam. Setelah itu dia menatap Naina dan Dee secara bergantian.
"Al mungkin tidak bisa setulus Umi, Aunty. Tapi Al hanya ingin semuanya baik-baik saja dengan memaafkan Aunty," ucap Al.
Naina mengangguk dan tersenyum. Setidaknya tidak ada dendam diantara mereka. "Terimakasih, Al," ucap Naina tulus.
Al hanya mengangguk dan diam menanggapi ucapan Naina.
"Kamu mengenal Bella, Nai?" tanya Dee.
"Bunda Naina ini, Bundanya Bella, Umi," ucap Bella menjawab pertanyaan Dee.
"Maksudnya?" tanya Dee bingung. Karena setahunya, Bunda kandung Bella sudah meninggal saat dia masih kecil.
Akhirnya Naina menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Bella, hingga mereka tinggal bersama saat ini.
__ADS_1
"Bella sangat beruntung, Nak," ucap Dee setelah mendengar cerita Naina.
Bella mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih, Umi," ucap Bella.
"Runa," panggil Al lembut.
Bella menoleh kepada Al. "Iya, Al," jawab Bella santai seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Hati Al berdenyut sakit. Hanya tatapan biasa yang dia lihat dari pandangan Bella. Sudah tidak ada tatapan penuh harap yang dulu selalu Al dapatkan.
"Bisa kita bicara berdua, Runa?" tanya Al lembut.
Bella memandang Dee dan Naina sebelum.menjawab pertanyaan Al. Dee dan Naina mengangguk saat mengerti akan tatapan Bella.
"Baiklah, Al," ucap Runa menjawab pertanyaan Al.
Setelah pamit dengan Uminya, Al dan Bella pergi keluar rumah Ustad Zaki. Kini hanya tinggal Dee dan Naina di sana. Ustazah Arum masih belum kembali dari kesibukannya.
"Kamu mengenal Bella, Dee?" tanya Naina.
Dee mengangguk. Dee menceritakan apa yang dia ketahui mengenai Bella, dan juga hubungan antara Bella dan Al.
"Aku berharap yang terbaik untuk mereka," ucap Naina setelah mendengar cerita Dee.
"Aku juga begitu, Nai," ucap Dee menyetujui.
"Apa kamu sudah menikah, Nai?" tanya Dee.
Naina tersenyum. Tapi Dee dapat melihat bahwa itu adalah senyuman sendu. Senyum untuk menutupi sebuah luka.
"Aku ini wanita tidak sempurna, Nai. Aku lebih memilih seperti ini," ucap Naina sendu.
Dee memandangi Naina dengan tatapan tak mengerti ya. Naina yang paham maksud tatapan Dee kembali membuka suaranya. "Aku sudah tidak memiliki rahim, Nai," ucap Naina dengan senyum untuk menutupi kesedihannya.
Dee menutup mulutnya tak percaya mendengar apa yang dikatakan Naina. "Nai, maaf," ucap Dee menyesal atas pertanyaannya.
Naina menggeleng. "Tidak apa, Dee. Mungkin memang ini yang terbaik untukku. Mungkin ini adalah hukuman untuk menggugurkan dosaku di masa lalu," ucap Naina.
Sedih? Sudah pasti iya. Rahim adalah sebuah keistimewaan bagi seorang wanita. Itu adalah kelebihan yang membuat wanita menjadi istimewa. Tapi Naina berusaha untuk menerima semuanya. Mungkin ini adalah hukuman atas segala kesalahannya.
"Tidakkah kamu ingin kembali bersama kami, Nai?" tanya Dee lembut.
"Aku lebih suka hidup seperti ini, Dee. Aku mendapatkan kebahagiaan dengan kehidupanku yang sekarang," ucap Naina menolak lembut permintaan Dee.
"Dee, bolehkah aku bertanya sesuatu?" lanjut Naina.
"Apa, Nai?" ucap Dee lembut.
"Bagaimana keadaan Bram, Dee?"
......................
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku
Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹