
🌹HAPPY READING🌹
"Cium kaki kedua adikku atas segala kesalahan kalian."
Mereka semua menatap Al setelah mendengar perkataan dari Al.
"Kenapa? Apa semuanya keberatan?" tanya Al menatap mereka semua.
Dengan kasar Al mengusap air mata yang ada di pipinya.
"Dengan mencium kaki Kina dan Zahra belum tentu bisa menghilangkan karma yang mereka terima atas perbuatan kalian," ucap Al.
"Abi, Zahra cacat sedari lahir. Apa Abi tahu, seumur hidup dia harus menanggung imbas dari kesalahan kalian. Dan Kina, apa Abi tahu, dia sering menangis dan mengelus dada disaat dia merindukan Ayahnya." ucap Al menatap Ibra.
"Al, kami akan lakukan apa yang kau minta," ucap Kiyai Rozak tiba-tiba.
Al mengalihkan pandangannya kepada Kiyai Rozak.
"Setelah melakukan itu, Al mohon untuk tidak muncul lagi dalam kehidupan keluarga kecil Abi dan Umi," ucap Al lirih.
Kiyai Rozak mengangguk dengan pandangan sendu. Sungguh, dia merasa sangat tidak berguna sebagai orang tua.
.....
Sesuai perkataan Al, mereka semua melakukan apa yang diperintahkan Al, kecuali Adam tentunya. Mereka berjalan menyusuri lorong hotel untuk menuju kamar tempat Zahra menginap.
Dengan perlahan mereka memasuki kamar Sofia dan Zahra. Nampak Zahra yang sudah tertidur dengan mata sembab dan wajah memerahnya.
"Apa tadi Zahra menangis, Sayang?" tanya Kevin melihat wajah Zahra.
Sofia mengangguk mengiyakan pertanyaan Kevin. Tatapannya beralih kepada Al yang hanya menatapnya diam.
"Ini ada apa?" tanya Sofia setelah dia melihat bahwa banyak yang mengikuti Kevin di belakang.
"Mereka akan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan," ucap Al dingin kepada Sofia.
Sofia bingung, tapi tak ayal dia berdiri dan mendekat kepada Kevin.
"Ada apa, Mas?" tanya Sofia.
Kevin hanya diam. Setelah itu dia berjalan mendekati ranjang dengan perlahan. Air mata Kevin jatuh melihat wajah tenang Zahra yang tertidur pulas. Dengan perlahan Kevin membungkukkan badan mencium telapak kaki Zahra.
"Maafkan Ayah, Zahra," ucap Kevin dengan suara bergetar nya. Setelah itu Kevin sedikit bangkit dan mencium wajah Zahra.
Setelah Kevin, Wijaya maju dan melakukan hal yang sama seperti yang Kevin lakukan. Dan dilanjutkan oleh Kiyai Rozak, Agam.
Kini giliran Ibra yang melakukannya. Dengan perlahan Ibra membungkuk dan mencium lama telapak kaki Zahra. Mereka semua memang sudah dewasa, tidak ada yang salah dengan orang tua yang mencium kaki anaknya. Anak ini hanya korban dari keegoisan orang tuanya.
Air mata Sofia menetes melihat itu semua. Sungguh, Al memberikan keadilan untuk anaknya.
Pandangan Al beralih kepada Sofia. "Aunty, tidak ingin melakukannya juga?" tanya Al.
Sofia menoleh dan tersenyum. "Terimakasih memberikan keadilan untuk Zahra, Al," ucap Sofia lirih. Setelah itu Sofia ikut melakukan apa yang dilakukan para lelaki tadi.
__ADS_1
"Boleh tinggalkan Al berdua dengan Zahra?" tanya Al pada semuanya.
"Kami akan menunggu di luar, Boy," ucap Ibra berjalan keluar kamar diikuti yang lainnya.
Kini tinggal Al dan Zahra yang berada di kamar itu. Dengan pelan Al duduk di tepi ranjang. Tangan Al terulur mengusap rambut Zahra yang tidak tertutup jilbab.
Air mata Al jatuh memandangi wajah Zahra yang sedikit mirip dengan Kina. Hatinya sakit mengingat segala perkataan kasar yang dia lontarkan kepada Zahra.
"Maafkan Abang, Abang bukannya tidak menerima Zahra. Bukannya Abang tidak sayang Zahra. Tapi beginilah cara Abang menunjukkan sayang Abang sama Zahra. Zahra tidak salah, Zahra anak baik. Tapi hanya dengan seperti ini Abang bisa menunjukkan sayang Abang. Sekali lagi, Abang sayang Zahra seperti Abang sayang Kina," ucap Al lirih dan mencium kening Zahra.
"Umi selalu bilang sama Abang untuk menerima Zahra jika datang kesini, karena bagaimanapun Zahra adik Abang yang juga korban karena keegoisan mereka. Tapi maaf atas semua kata kasar Abang, Zahra," ucap Al. Setelah itu Al berdiri dan berjalan keluar kamar.
Setelah Al keluar, air mata mengalir di sudut mata Zahra. Anak itu sudah terbangun sejak Al mengusap kepalanya. Tapi dia diam karena tidak mau mengganggu Al.
"Ala juga sayang Abang sama Adek. Telimakasih, Abang," ucap Kina memandang pintu yang sudah tertutup.
.....
Setelah selesai melakukannya pada Zahra, kini mereka semua pergi ke rumah Dee. Kecuali Sofia yang menjaga Zahra.
Sampainya di rumah, Dee dan Raina dibuat heran dengan kedatangan mereka semua.
"Loh, kenapa semuanya kesini, Mas?" tanya Dee pada Ibra. Dan pandangan Dee terhenti kepada Kiyai Rozak yang tersenyum kepada Dee.
Dengan kaku Dee membalas senyum Kiyai Rozak. Dee mendongak menatap Ibra meminta penjelasan
"Ada sesuatu yang harus kami lakukan Sayang," ucap Ibra lembut mencium kening Dee.
"Nanti kamu akan tahu, Sayang. Sekarang kita ke kamar Kina," ucap Ibra.
"Kina tidur di kamar kamu, Nak," ucap Dee memberitahu Al yang sudah berjalan hendak ke kamar Kina.
Al mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Mereka semua yang ada di sana mengikuti langkah Al. Kecuali Raina yang diantar ke kamarnya oleh Wijaya.
Saat memasuki kamar Al, terlihat Kina yang masih duduk di atas kasur dengan buku gambar di pangkuannya.
"Adek," panggil Al.
Kina menoleh dan melihat Al yang berjalan ke arahnya. "Aban," ucap Kina senang.
"Adek, ada yang mau ketemu Adek," ucap Al.
"Capa?" tanya Kina polos.
Kina melihat ke pintu. Dia melihat semua anggota keluarganya berdiri di tepi pintu. Dengan perlahan mereka semua berjalan mendekati Kina.
Kiyai Rozak yang melihat Kina langsung maju dan mencium telapak kaki Kina. Kina yang terkejut langsung menyembunyikan kakinya di balik bantal. Begitu juga dengan Dee yang terkejut melihat tindakan Kiyai Rozak.
"Tatek tenapa?" tanya Kina pada Kiyai Rozak. Dia melihat bahwa Kiyai Rozak yang sudah seumuran kakeknya, jadi dia memanggil Kakek.
Setetes air mata Kiyai Rozak jatuh mendengar suara Kina.
"Maafkan saya, Nak. Izinkan saya mencium kaki kamu. Kesalahan saya sungguh besar hingga membuat kamu menderita, Nak," ucap Kiyai Rozak.
__ADS_1
Kina bingung tapi anak itu tetap tidak mengeluarkan kakinya dari bantal.
"Aban, Umi, Abi," ucap Kina memandang Dee, Ibra dan Al dengan wajah bingungnya. Mereka yang dipanggil hanya diam.
"Tatek, minta maaf cama Allah, butan cama Ina," ucap Kina polos kembali menatap Kiyai Rozak.
"Tapi izinkan Saya mencium kaki kamu sebentar saja," ucap Kiyai Rozak memohon. Bahkan mungkin telapak kaki Kina lebih baik dari pada dirinya yang membuat anak ini menderita.
"Lakukan, Dek," ucap Al kepada Kina.
Kina mengangguk, dengan perlahan Kina mengeluarkan kakinya. Kiyai Rozak mencium kaki Kina dengan punggung yang bergetar. Kaki Kina nampak basah karena air mata Kiyai Rozak.
"Boleh saya peluk kamu, Nak?" ucap Kiyai Rozak kepada Kina.
Sebelum menjawab, Kina melihat Abi dan Uminya. Ibra dan Dee mengangguk mengiyakan. "Boleh, Tatek," ucap Kina kepada Kiyai Rozak.
Tanpa aba-aba, Kiyai Rozak langsung memeluk erat tubuh Kina. Kata maaf selalu terucap dari bibir lelaki baya itu.
Setelah Kiyai Rozak, kini giliran Wijaya, Kevin dan Agam. Mereka melakukan apa yang dilakukan Kiyai Rozak. Sama seperti tadi, Kina sempat menolak, tapi atas bujukan Al dia mengizinkannya. Sedangkan Dee hanya melihat dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Kini giliran Ibra yang melakukannya. Dengan perlahan Ibra membungkuk. Saat mulut Ibra akan menyentuh kaki Kina, dengan cepat Kina menarik kakinya.
Kina menggeleng menatap Ibra yang juga menatapnya. "Maaf Aban, tapi Ina ndak mau Abi cium kaki Ina," ucap Kina kepada Ibra.
"Nak," panggil Ibra lirih kepada Kina.
"Pak uctad celalu bilang, talau Ayah adalah cinta peltama anak pelempuannya. Dan tempat cinta butan di tati, Abi. Tapi disini," ucap Kina menunjuk dada sebelah kirinya.
Tanpa aba-aba, Ibra membawa Kina ke dalam dekapannya.
Tangis Dee pecah melihat semua ini. "Al," panggil Dee kepada Al dengan suara bergetar.
Al menghapus air matanya dan menetap Dee. "Iya, Umi," ucap Al.
"Terimakasih banyak, Nak," ucap Dee tulus.
Al menggeleng. "Tidak ada terimakasih dari orang tua kepada anaknya, Umi," ucap Al tersenyum. Al berdiri dan memeluk Uminya yang berdiri di sebelah Adam.
Setelah tindakan yang mengharukan itu selesai, kini mereka semua duduk di ruang tamu. Ada Ibra, Kevin, Agam, Adam, Kiyai Rozak dan Wijaya. Dee di dapur untuk membuat minum, sedangkan Al berada di kamarnya bersama Kina.
"Vin," ucap Ibra kepada Kevin.
"Ya, Ib," jawab Kevin.
"Gue mau Lo ke Turki, Vin."
......................
Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz
Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote nya ya. Kalau ada rejeki lebih, tips dari kalian juga sangat berharga.
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
__ADS_1