Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 137


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Kini mereka semua sudah berada di mobil masing-masing. Tapi tidak dengan Dee. Dee ikut mobil Zahra karena dia ingin bersama Umi nya sebelum berangkat ke Turki. Ya, Zahra memang sudah mengetahui kalau dia akan tinggal di Turki. Oleh karena itu dia ikut mobil Kevin dan Sofia. Sebenarnya bisa saja Zahra ikut mobil Ibra, tapi karena rasa bersalah Dee atas kejadian yang menimpa Zahra tadi, dia menuruti perkataan Sofia yang juga tidak ingin pisah mobil dengan anaknya. Berakhirlah Dee semobil bersama Kevin dan Sofia.


Canggung. Itulah yang dirasakan Dee saat satu mobil bersama Sofia dan Kiyai Rozak. Kevin yang mengerti situasi berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Dee bercanda. Sedangkan Zahra tidak ingin lepas dari pelukan Dee. Entah ada ikatan apa, tapi Zahra sangat nyaman bersama Dee. Anak itu merasakan ketulusan yang sangat besar dari Dee.


"Ara nempel banget sama Umi Dee, ya," ucap Kevin memecah keheningan.


"Kalna Ala sayang Umi," ucap Zahra mengeratkan pelukan kepada Dee.


"Oh, sama Bunda nggak sayang," ucap Sofia pura-pura merajuk.


"Sayang dong, kan sama-sama Ibu nya Ala," jawab Ala.


Dee dan Sofia tersenyum mendengar jawaban Zahra. Begitu juga dengan Kevin dan Kiyai Rozak.


"Jadi sama Ayah udah nggak sayang dong, Nak," ucap Kevin.


"Sayang juga. Tapi nomor dua setelah Umi dan Bunda," jawab Zahra dengan senyum polosnya. Mereka semua tertawa mendengar perkataan Zahra dan juga wajah Kevin yang pura-pura merajuk.


Wajah Kevin berubah cemas saat merasakan ada yang aneh dengan mobilnya. Tapi dia berusaha menutupinya agar semua yang ada di mobil tidak ikut khawatir.


Sedangkan di mobil Ibra, Al dan Kina duduk berdua di kursi depan sebelah Ibra. Karena badan mereka yang masih kecil, jadi mampu menampung tubuh mereka berdua di kursi itu.


"Abi, kenapa Umi nggak disini aja sih, Abi?" tanya Al kesal.


"Abi maunya juga gitu, Boy. Tapi mau bagaimana lagi," ucap Ibra. Sedangkan Kina hanya asik mengikuti setiap lantunan sholawat yang di putar di mobil Ibra.


Nyanyian kecil Kina terhenti ketika dia menoleh ke belakang. Anak itu melihat mobil Kevin yang berada di belakang mobil mereka bergerak tak tentu arah.


"Abi, mobil Om Tevin tenapa?" ucap Kina menunjuk mobil Kevin.


Ibra yang tadinya menatap lurus ke depan melirik sedikit ke arah spion. Begitu juga Al yang ikut menoleh ke belakang.


Mata Ibra serasa ingin keluar dan jantungnya berdetak cepat melihat mobil Kevin yang melaju kencang seakan akan menabrak mobilnya. Dengan cepat Ibra banting stir ke arah kanan untuk menghindari tabrakan dari mobil Kevin.


"UMI!" pekik Al dan Kina bersamaan saat mobil Kevin menabrak pembatas jalan hingga mobilnya terbalik.


"SAYANG!"


"UMI!"


Teriak Al, Ibra dan Dee ketika sebuah truk menabrak mobil yang sudah terbalik itu.


Kecelakaan terjadi tanpa bisa dielakkan. Orang-orang langsung berhamburan melihat kecelakaan yang terjadi.

__ADS_1


Ibra langsung keluar dari mobilnya dan berlari kearah mobil Kevin yang sudah sangat kacau.


Sedangkan Mobil Wijaya yang berada di belakang mobil Kevin juga langsung berhenti dan keluar dari mobil melihat apa yang terjadi. Adam dan Agam menggendong Al dan Kina yang sudah menangis.


Hati Ibra sakit, jantung serasa akan lepas melihat Dee yang sudah berlumuran darah dengan Zahra yang ada di pelukannya. Dee sudah tidak sadarkan diri. Sedangkan Zahra masih menangis dalam pelukan Dee.


"Hiks, Abi, Ayah, Bunda, Umi, Kakek, Hiks," ucap Zahra menangis memandang Ibra.


Pertahanan Ibra runtuh. Dunianya seakan hancur, dalam sekejap mata semuanya terjadi tanpa bisa dia cegah.


"Pak, ayo kita keluarkan korban, Pak," ucap Seorang warga menyadarkan Ibra.


Ibra tersadar dan mengangguk. Dengan sekuat tenaga, Ibra membuka pintu bagian belakang dan mengeluarkan Zahra terlebih dahulu. Ibra memberikan Zahra kepada salah satu warga untuk menggendongnya. Setelah itu dia berusaha mengeluarkan Dee. Hijab yang semulanya berwarna peach itu kini sudah berubah warna menjadi merah darah. Kevin, Sofia dan Kiyai Rozak sudah dikeluarkan lebih dulu oleh warga.


Air mata Ibra mengalir deras tanpa bisa dia hentikan. "Hiks, Sayang bangun Sayang. Buka mati kamu," ucap Ibra menepuk-nepuk pipi Dee.


Dengan keyakinan hatinya, Ibra terus berusaha menyadarkan Dee. Dengan perlahan, kelopak mata itu akhirnya terbuka.


"M-Mas," ucap Dee dengan tersenggal-senggal.


"Iya Sayang. Kamu bertahan, ya. Sebentar lagi ambulance datang. Bertahan ya, untuk aku dan anak-anak, bertahan, ya, hiks," ucap Ibra dalam tangisnya. Sedangkan Kina dan Al yang melihat kondisi Uminya meraung sejadi-jadinya.


"M-Mas, Za-Zah-ra," ucap Dee. Setelah itu mata Dee tertutup dengan sempurna.


"SAYANG!" pekik Ibra ketika Dee menutup matanya.


"Hiks, Umi," tangis Al memanggil Uminya. Dia turun dari gendongan Agam dan memeluk tubuh Uminya.


"Hiks, Abi, Umi baik-baik saja kan?" tanya Al dengan tangis yang sudah tak bisa di hentikan.


Sedangkan Kina, anak itu sudah menangis di gendongan Adam. Suara anak itu sampai hilang karena menangis. Begitu juga dengan Adam dan Agam, mata mereka memerah melihat semua ini.


Selang beberapa menit, empat mobil ambulance datang. Dengan segera mereka semua dibawa ke rumah sakit terdekat.


.....


Kini mereka semua sudah berada di depan pintu UGD. Raina sedari tadi menangis dipelukan Wijaya. Kina yang menatap kosong ke depan di gendongan Adam. Tangisnya sudah tidak keluar, tapi bibirnya mengeluarkan sesegukan yang sangat pilu. Sedangkan Agam ikut pihak kepolisian untuk memeriksa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut.


Al yang tadi duduk di sebelah Adam berdiri dan berjalan mendekati Abinya yang berdiri di depan UGD.


"Abi," ucap Al lirih memeluk kaki Ibra.


Al bersimpuh menyamakan tinggi badannya dengan Al.


"Doakan Umi dan yang lainnya baik-baik saja, ya Boy," ucap Ibra dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Hiks, Umi," tangis Al pecah di depan Ibra. Ibra langsung membawa tubuh Al ke dalam dekapannya. Anak itu sampai mual dan batuk karena menangis.


Kina yang mendengar tangis Abangnya kembali meraung di pelukan Adam.


Ibra menggendong Al dan berjalan mendekati Kina.


"Adek," panggil Al kepada Kina.


"Hiks, Umi, Abi," ucap Kina dalam tangisnya. Wajah anak itu sudah sangat memerah karena menangis. Bahkan air liurnya sudah menetes hingga dagu.


Ibra memeluk kedua buah hatinya yang menangis. Dia harus kuat demi anak-anaknya. Mereka bertiga berpelukan untuk memberikan kekuatan satu sama lainnya.


Raina yang melihat itu semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Wijaya.


"Pa, kenapa harus anak-anak kita yang mengalami semua ini, Pa," ucap Raina dalam tangisnya.


"Ini semua kehendak Allah, Ma. Kita harus berdoa semoga semua baik-baik saja," ucap Wijaya membujuk Raina.


Selang beberapa menit, Dokter keluar dari UGD.


"Bagaimana keadaan mereka Dokter?" tanya Ibra cepat.


"Untuk anak kecilnya, dia hanya syok dan luka di beberapa tangannya. Tapi untung lukanya tidak serius. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat," ucap Dokter menjelaskan keadaan Zahra.


"Lalu bagaimana yang lainnya, Dokter?" tanya Ibra.


Dokter menghela nafas berat. "Begini, Pak. Luka yang mereka alami sangat serius. Peralatan rumah sakit kami sangat terbatas. Jadi-"


"Bagaimana jika saya membawa mereka ke rumah sakit lain?" tanya Ibra cepat memotong perkataan Dokter.


Dokter tersebut mengangguk. "Lebih cepat lebih baik, Pak," ucap Dokter.


"Saya ingin Dokter dan tim mengurus kepindahan keluarga saya hari ini juga," ucap Ibra cepat.


Dokter mengangguk dan kembali memasuki UGD.


"Abi, talau Umi pelgi, Ina mau pelgi duga, hiks," ucap Kina.


"Umi akan baik-baik saja, Sayang. Abi akan usahakan yang terbaik untuk Umi," ucap Ibra.


Aku mohon bertahan demi anak-anak kita, Sayang. Batin Ibra sambil memeluk kedua anaknya.


Al percaya Umi wanita kuat, bertahan demi kami, Umi. Batin Al menjerit memanggil Dee.


......................

__ADS_1


Beberapa BAB lagi lagi kisahnya mau selesai teman-teman, hiks.


__ADS_2