
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Di rumah besar tempat Naina di hukum, Agam dan Kevin masih setia mengawasi Naina. Meskipun wanita licik ini sudah diikat, tapi dia wanita ular. Kevin dan Agam tidak melepaskan pandangannya dari wanita ini.
"Naina," panggil Agam kepada Naina. Agam dan Kevin duduk di kursi menghadap Naina.
Naina yang tadinya menundukkan kepala menahan segala rasa sakit yang ada di tubuhnya, mengangkat kepala melihat Agam. "Kalian sudah puas menghukum ku?" ucap Naina.
Agam tersenyum kecut mendengar pertanyaan Naina. "Kau merupakan sahabat yang selalu kami lindungi. Bahkan seperti seorang ayah yang melindungi anaknya. Kami memberikanmu kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Tapi mengapa kau merusaknya dengan sikap jahat mu?" ucap Agam sendu kepada Naina. Ada rasa kasihan melihat Naina yang seperti ini.
Naina tersenyum miring, "salahkah bila aku mempertahankan cintaku?" ucap Naina tanpa menjawab pertanyaan Kevin.
"Tidak ada yang salah dengan cinta mu. Tapi cara mu sangat tidak terhormat untuk meraihnya. Kau menodai kesucian cinta dengan perbuatan buruk mu, Naina," jawab Agam.
"Bukankah cinta harus kita perjuangkan? Bahkan aku lebih dulu memiliki perasaan ini jauh sebelum dia mengenal istrinya," ucap Naina kembali. Kini wajah nya sudah menunjukkan kesedihan.
"Kau tidak sedang memperjuangkan cintamu, Naina. Kau memaksa untuk memenuhi obsesimu kepada Ibra," celetuk Kevin menjawab pertanyaan Naina.
Naina tergelak. Dia memandang dalam mata Kevin. "Andai aku bisa memilih kepada siapa aku harus mencintai, aku tidak akan memilih untuk mencintai sahabatku sendiri yang sudah berstatuskan suami orang. Jika aku bisa memilih, aku akan mencintai orang baru di kehidupanku. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah mencoba melupakannya, tapi hatiku sudah terpaut pada sahabatku sendiri."
"Tapi caramu yang sepeti ini salah dan bahkan sangat salah, Naina. Kemana perginya sahabat manjaku yang dulu? kemana perginya sahabat ku yang polos dan selalu ceria?" ucap Kevin sendu. Mereka bertiga benar-benar terpukul kehilangan sosok diri Naina yang dulu. Gadis manja yang selalu mereka lindungi layaknya adik kini berubah menjadi ular yang berbisa.
Naina hanya diam tidak menjawab pertanyaan Kevin. Kesedihan dan kesakitan nampak jelas di wajahnya. Ada rasa tidak tega pada diri Kevin dan Agam melihat kondisi sahabatnya ini. Tapi mereka mengingat kesakitan Al yang diberikan Naina.
"Mengapa kau harus menjadi jalang, Naina?" tanya Agam tiba-tiba.
Naina langsung memandang lekat wajah Agam saat mendengar pertanyaan hang keluar dari mulut Agam. "Salahkah aku mencari kesenangan ku sendiri? salahkah aku mengisi kekosongan ku karena sahabat-sahabat ku sibuk dengan dunianya sendiri?"
"Astaga Naina. Tapi tidak dengan cara murahan seperti itu Naina," ucap Agam tidak habis pikir dengan jalan pikiran Naina.
"Lalu aku harus bagaimana Agam, Kevin? Sejak Dee datang di kehidupan Ibra, semuanya berubah. Semua orang menyanjungnya. Pernahkah kalian menanyakan bagaimana aku? Aku memang berada di dekat sahabat-sahabatku, tapi aku bagaikan tidak ada. Aku merindukan perhatian dari kalian," ucap Naina sendu dengan air mata yang jatuh mengenai pipinya, dan bercampur darah akibat goresan pisau di pipinya.
__ADS_1
Kevin dan Agam hanya diam. Mereka tidak tahu harus bagaimana mengatakan kepada Naina bahwa mereka sangat peduli dan cara yang dilakukannya adalah salah.
Sedangkan di tempat lain, Ibra sudah menenangkan Dee dari ketakutannya. Kini dia keluar dari kamar dan berniat menemui Al yang masih di temani oleh Alan.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Al yang sedang bercerita bersama Alan mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Abi," ucap Al senang dengan langsung turun dari kasur dan memeluk kaki Ibra.
Ibra melepaskan pelukan Al pada kakinya dan membawa anak itu ke gendongannya.
"Thanks, Lan," ucap Ibra ketika sudah didekat Alan hang masih duduk di kasur Al.
Alan mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, gue senang bisa bantuin Lo. Ya sudah, kalau gitu gue balik dulu, Ib," ucap Alan berdiri dari duduknya.
"Sekali lagi makasih banyak, Lan," ucap Ibra.
Alan hanya mengangguk dan dia beralih menatap Al yang ada di gendongan Ibra. "Uncle pulang dulu, Boy," ucap Alan mencolek dagu Al.
"Jangan colek-colek, Uncle," jawab Al kesal.
"Waalaikumsalam," jawab Ibra.
Setelah melihat tubuh Alan yang sudah hilang dari balik pintu, Ibra membawa Al untuk duduk di kasur anak itu.
"Abi," panggil Al kepada Ibra. Ibra duduk bersandar di kepala ranjang dengan Al yang duduk di pangkuannya.
"Iya, Nak," jawab Ibra lembut kepada Al.
"Umi tidak di bawa Pak Polisi lagi kan, Abi?" tanya Al dengan wajah khawatirnya.
Ibra tidak langsung menjawab pertanyaan Al. Dia menghadiahi banyak ciuman di wajah anaknya. "Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang berani membawa Umi jauh dari kita. Termasuk Pak Polisi," jawab Ibra pasti.
Al tersenyum cerah mendengar perkataan Ibra. "Benalkah, Abi?"
"Of course, Boy," jawab Ibra senang melihat senyum mengembang di wajah anaknya.
"Abi, Al mau ketemu Umi," pinta Al pada Ibra.
__ADS_1
"Umi sedang tidur, Boy. Biarkan Umi istirahat, ya," ucap Ibra lembut kepada Al.
"Al janji tidak akan ganggu Umi, Abi. Al hanya ingin di dekat Umi," kekeuh Al memohon kepada Ibra.
"Janji tidak ganggu Umi?"
"Plomise, Abi," jawab Al pasti.
Ibra menggendong Al ke kamarnya. Sampainya di kamar, Al meminta agar Ibra menurunkannya. Setelah turun, dengan segera Al naik ke kasur dengan hati-hati dan ikut berbaring di sebelah Dee.
"Al mau tidur disini, Abi," ucap Al dengan suara pelan kepada Ibra. karena dia takut akan membangunkan Uminya.
Ibra mengangguk, "Abi ke ruang kerja dulu," ucap Ibra pelan. Ibra membungkukkan badan untuk memberikan kecupan singkat di dahi Al dan Dee bergantian. Setelah itu, dia berjalan keluar kamar menuruni tangga dan pergi ke ruang kerjanya.
Sampainya di ruang kerja, Ibra duduk di kursinya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengubungi Agam.
"Halo, Gam. Gimana?" ucap Ibra setelah panggilannya terhubung.
"Disini aman. Bagaimana Dee dan Al?" tanya Agam dari seberang sana.
"Al sama Dee aman. Gam, gue mau Lo selalu mengawasi kepolisian selama pemeriksaan bukti yang gue kirim dan bukti yang dikirim Naina. Gue merasa ada yang nggak beres. Pasti ada orang yang mendukung Naina melakukan semua ini," ucap Ibra memberitahu Agam.
"Lo tenang aja. Gue akan selalu mengawasi pemeriksaannya. Ib, apa hukuman ini tidak terlalu kejam untuk Naina?" ucap Agam yang kasihan dengan sahabatnya itu.
Terdengar helaan nafas berat dari Ibra. "Gue kasihan, tapi gue lebih sayang anak dan istri gue, Gam."
"Gue ngerti. Kalau gitu gue tutup dulu," ucap Agam menutup panggilannya.
Kevin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Badan, hati dan pikirannya benar-benar lelah saat ini.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya
__ADS_1
Author sayang kalian 🌹🌹😘