Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 68


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Pekerjaannya yang benar-benar banyak membuat Ibra sibuk. Akhir-akhir ini dia memang lebih sering memberikan pekerjaannya kepada Kevin karena sibuk mengurus kasus istrinya.


"Astagfirullah," ucap Ibra ketika teringat sesuatu. Ibra langsung mengambil ponsel yang ada di sampingnya dan menghubungi Dee.


"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Ibra ketika Dee mengangkat teleponnya.


"Waalaikumsalam, Mas."


"Lagi dimana, Sayang?"


"Di rumah, Mas. Lagi main sama Al di ruang pribadi Adek. kenapa Mas?"


"Jadi ke makam Ayah sama Bunda?"


"Jadi, Mas. Tadi langsung pergi setelah jemput Al pulang sekolah."


"Maaf ya, Sayang. Aku nggak bisa nemenin kamu."


"Iya nggak apa, Mas. Lagian kan kemaren juga udah dibilang Dee pergi bareng Sopir aja."


"Mas lagi apa?" sambung Dee.


"Kerja, Sayang."


"Udah makan siang?"


Ibra diam sebentar. Dia bahkan lupa makan siang karena pekerjaannya yang menumpuk.


"Udah, sayang." ucap Ibra berbohong. Karena kalau dia mengatakan belum makan, siap-siap mendapat ceramah dari istrinya.

__ADS_1


"Nggak bohong kan?" tanya Dee memastikan dari balik telepon.


"Iya, Sayang. I am a bad liar," ucap Ibra meyakinkan Dee.


"Ya sudah. Aku lanjut kerja dulu, ya," lanjut Ibra ingin mengakhiri panggilannya.


"Iya, Mas. Semangat kerja, ya. Adek sama Al nungguin Mas di rumah. Assalamu'alaikum," ucap Dee.


Ibra tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Waalaikumsalam," jawab Ibra mengakhiri panggilannya.


Setelah memutus panggilannya, Ibra kembali melanjutkan pekerjaannya.


.....


Hari ini sangat melelahkan bagi Ibra. Pukul sembilan malam dia baru bisa pulang. Sampai di rumah, Ibra melihat Dee yang menunggunya di teras rumah. Ibra kembali teringat ketika dia masih belum mempercayai istrinya. Dee menunggunya pulang dan dia malah pulang bersama dengan Naina. Dan tanpa perasaan dia mengabaikan Dee saat itu. Jika mengingat itu, Ibra merasa dirinya adalah suami terbodoh.


Senyum Dee merekah melihat mobil Ibra yang sudah memasuki pekarangan rumah mereka.


"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Ibra saat menghampiri Dee.


"Waalaikumsalam, Mas," ucap Dee menyalami tangan Ibra. Ibra membalas dengan mencium pucuk kepala Dee yang tertutup hijab instannya.


Ibra merangkul Dee dan berjalan memasuki rumah. "Kenapa nggak nunggu di dalam aja, Sayang. Dingin di luar," ucap Ibra memperingati Dee.


"Aku bersihin badan dulu, Sayang. Udah pada lengket-lengket."


"Ya sudah. Mas ke kamar aja. Adek mau panasin makanan dulu."


"Iya, Sayang."


Ibra berjalan menaiki tangga menuju kamar, sedangkan Dee berjalan ke dapur untuk memanaskan makanan.


Lima belas menit kemudian Ibra turun ke dapur dan melihat istrinya yang sedang menghidangkan makanan untuknya. Ibra sangat merasa bersyukur memiliki bidadari disisinya.


"Temani aku makan, ya," pinta Ibra kepada Dee.


Dee tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan Ibra. Ibra makan dengan nikmat menggunakan tangannya. Sesekali dia memaksa Dee untuk membuka mulut dan menyuapi Dee dengan tangannya. Dee hanya pasrah menerima suapan dari Ibra.


"Dari tadi Al tanyain Mas terus," ucap Dee setelah mereka selesai makan. Mereka masih duduk di meja makan untuk mengobrol ringan.

__ADS_1


"Kerjaan di kantor lagi numpuk banget, Sayang. Jadi aku harus lembur untuk beberapa hari ini. Maaf ya," ucap Ibra menyesal kepada Dee. Ibra harus menyelesaikan segala pekerjaannya seminggu ini. Setelah itu dia pastikan akan bersenang-bersenang dengan sang istri menempuh surga dunianya.


.....


Sudah lima hari ini Ibra selalu pergi pagi dan pulang tengah malam. Al yang merindukan Abinya selalu mengeluh kepada Dee. Seperti malam ini, Al dan Dee sedang menonton bersama di ruang keluarga.


"Umi," panggil Al yang duduk dipangkuan Dee.


"Iya, Nak," jawab Dee mengusap lembut rambut Al.


"Abi malah sama Al ya, Umi?" tanya Al.


"Marah?"


"Iya. Soalnya Abi nggak pelnah temani Al main lagi, Umi," ucap Al menyampaikan isi hatinya kepada Dee.


Dee ikut sedih mendengar perkataan Al. "Al sabar, ya. Sekarang kerjaan Abi lagi banyak di kantor. Makanya Abi lembur. Kalau Abi punya waktu Abi kan selalu nemenin Al main." ucap Dee memberi pengertian kepada Al.


"Tapi Al kangen Abi, Umi," ucap Al sendu kepada Uminya.


Dee sangat mengerti perasaan anaknya. Memang sudah lima hari ini Al tidak bertemu dengan Ibra. Ibra akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang saat Al sudah tertidur.


"Al, Abi kerja buat apa?"


"Buat cali uang, Umi."


"Uang Abi buat apa?"


"Buat beli mainan Al."


"Berarti Abi lembur kerja demi Al juga. Al jangan sedih, ya. Harusnya Al kasih semangat Abi biar tambah semangat kerjanya."


"Iya, Umi. Maafin Al ya, Umi."


Dee tersenyum dan mengusap lembut kepala anaknya. Al sudah terbiasa menghabiskan waktu dengan Ibra. Tapi karena masalah yang akhir-akhir ini merenggut banyak waktu mereka hingga Ibra harus meninggalkan pekerjaannya.


Tanpa Dee dan Al ketahui, Ibra sudah berdiri di belakang mereka. Ibra mendengar semua keluh kesah anaknya. Hatinya tercubit mendengar perkataan anaknya. Dia mengejar dunia hingga tidak memikirkan perasaan anaknya. Bagaimanapun sibuknya, harusnya dia harus bisa membagi waktu untuk keluarganya.


Maafkan Abi, Nak. Batin Ibra melihat kesedihan anaknya.

__ADS_1


......................


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹


__ADS_2