
Semua anggota keluarga kini telah berada di meja makan, Berlian menyiapkan makanan untuk Amar..
"Terima kasih..." ucap Amar pelan sembari menatap Berlian...
Berlian hanya tersenyum kemudian duduk kembali..
Amar sesekali mencuri pandang ke arah Berlian, Berlian mencoba untuk tak perduli dengan keadaannya, sakit memang namun semua sudah terjadi...
"Sayang kok kamu gak makan?" ucap Bunda kepada Berlian yang berhasil membuyarkan lamunan Amar..
"Iya Bunda, Lian lagi kurang enak badan.." ucap Berlian berbohong..
Bunda Hesti seperti mengerti akan sesuatu..
"Ya sudah kamu istirahat saja sana," ucap Bunda Hesti pelan..
Sesaat kemudian Berlian berpamitan kepada semuanya dan pergi menuju kamarnya...
Sesampainya di kamar Berlian memilih untuk langsung tidur, tanpa menunggu Amar..
Satu jam kemudian Amar masuk kedalam kamarnya dan melihat berlian telah tidur dengan pulasnya di atas sofa tempatnya tidur..
"Dasar kerbau.." ucap Amar dalam hati.
Amar lalu mengambil ponselnya dan Amar menelfon Fani..
Setelah agak lama baru tersambung..
__ADS_1
"Halo cantik kamu sedang apa?" ucap Amar dengan rayuan mautnya..
"Halo juga Abang, lagi apa?" ucap Fani dengan nada manja..
Amar dan Fani saling bersenda gurau dan juga sesekali berbicara ke arah yang lebih tinggi.
Di atas sofa panjang itu menjadi saksi bisu pedihnya hati Berlian mendengarkan sang suami sedang bermanja-manja dengan wanita lain, wanita yang bukan mahramnya...
"Kenapa kamu tega Mas..." ucap Berian dalam hati..
Amar dan Fani terus saja bercanda, sehingga membuat Berlian merasa terusik dan kemudian bangun untuk menuju kamar mandi...
Amar yang melihat Berlian bangun langsung mematikan sambungan telfonnya, dan berpura pura tertidur..
"Ah sial, kenapa dia harus bangun si. Awas aja kalau berani ngadu sama Bunda." ucap Amar dalam hatinya..
Ke esokan paginya seperti biasa Berlian menyiapkan semuanya, dari mulai menyiapkan sarapan hingga menyiapkan semua keperluan sang suami.
Amar melihat ada sesuatu yang berubah di pandangannya.
"Di mana senyuman manis yang membuat jantungku berdebar." ucap Amar dalam hatinya...
Amar hanya mengangguk dan kemudian Berlian pergi meninggalkan Amar di kamar tanpa permisi..
Sesampainya di bawah Amar langsung duduk di sebelah Berlian seperti biasanya, Sebagai seorang istri Berlian menyiapkan makanan untuk Amar..
"Terima kasih.." ucap Amar ketika Berlian menaruh roti yang telah dia olesi selai kacang kesukaan Amar..
__ADS_1
Lagi lagi berlian hanya tersenyum tanpa menjawab...
Sementara itu Bunda Hesti meliat ada sesuatu di antara keduanya...
☪️☪️☪️☪️☪️
Setelah selesai sarapan Amar dan Tuan Wiguna pergi ke kantor sedangkan Berlian dan Bunda Hesti mereka pergi menuju butik..
Dalam perjalanan Bunda Hesti berbicara kepada Berlian..
"Sayang maafin anak Bunda ya, Amar memang gitu dia suka bermain wanita semenjak meninggalnya Siska.
Dia menjadi seperti itu tak percaya akan cinta dan membuatnya selalu bermain wanita. Maafin Bunda telah membawamu ke dalam masalah ini." ucap Bunda Hesti sembari menangis.
Berlian menatap ke arah Bunda Hesti dengan tatapan bingung..
"Bagaiman itu bisa terjadi Bunda?"ucap Berlian dengan polosnya..
Bunda Hesti mulai menceritakan tentang masa lalu Amar. Pada awalnya Amar adalah seorang yang hangat dan juga sangat menghargai wanita..
Namun sampai seminggu sebelum hari dimana dia akan menikah dengan tunangannya Siska, justru Siska kepergok sedang bermain gila dengan seorang lelaki yang tak lain adalah sahabatnya sendiri..
Sejak saat itu Amar memutuskan hubungannya dengan Siska dan tak lama setelah itu Siska di temukan meninggal dengan cara bunuh diri...
Amar yang sudah tak percaya lagi akan cinta membuatnya berfikir bahwa semua wanita bisa dibeli dengan uang, hal itu membuat Amar semakin menggila hingga sekarang..
Bunda Hesti bercerita dengan cucuran airmata, hatinya sedih dia ingin Amar yang dulu..
__ADS_1
Berlian dengan rinci mendengarkan semua ucapan Bunda Hesti dan dia berkata dalam hati..
"Apakah Berlian akan sanggup membuat Amar berubah Bunda, sedangkan sikapnya saja kepadaku tak pernah berubah." ucap Berlian dalam hatinya...