
Fani merasa puas karena telah berhasil menyakiti hati Berlian..
"Aku puas akhirnya aku bisa membuatmu terluka seperti dulu kau melukai hatiku." ucap Fani dalam hatinya..
Fani berdiri di belakang Berlian yang sedang mengemasi barang barangnya..
"Maafkan aku kakakku sayang jika aku yang menggantikan posisimu, aku harap kamu ikhlas." ucap Fani dengan ketus..
Berlian hanya tersenyum walau dia merasa terluka oleh ucapan Fani adik yang sangat dia sayangi...
"Jika kamu perlu apa apa kamu bilang saja sama kakak, kakak pasti akan membantumu." ucap Berlian mengalihkan pembicaraan..
Fani hanya mengangkat kedua alisnya..
Sementara itu Amar merasa sangat bersalah kepada Berlian, karena ke egoisannya istri yang begitu baik harus terluka bahkan tersingkir dari kamarnya sendiri..
Amar hanya mampu menatap Berlian dengan penuh penyesalan..
"Seandainya waktu bisa ku putar kembali, aku tak akan pernah menyakitimu dan aku akan katakan aku bahagia bisa memilikimu Berlian." ucap Amar dalam hatinya.
☪️☪️☪️
Kini Berlian telah berada di kamar tamu, kamar yang kini telah menjadi miliknya.
Berlian berbaring di tempat tidur fikirannya kembali teringat akan semua yang telah terjadi..
__ADS_1
"Mas Amar kenapa kamu melakukan ini terhadapku? Apakah aku sama sekali tak berarti untukmu?" ucap Berlian dalam hati dan kemudian airmatanya kembali membasahi ke dua pipinya..
Hingga tengah malam Berlian terjaga membayangkan apa yang telah terjadi di kamar Amar, apa yang sedang Amar dan Fani lakukan?
Berlian ingin berteriak dan melepaskan semuanya, namun Berlian tak kuasa jika harus meninggalkan Amar..
Hari pun telah berganti pagi, kini Berlian telah berada di dapur seperti biasanya dia menyiapkan makanan untuk semua orang..
"Pagi putriku..." sapa Bunda Hesti dengan tersenyum.
"Pagi Bundaku." jawab Berlian dengan pura pura tersenyum..
Bunda Hesti membantu Berlian menyiapkan sarapan, sementara Fani menjadi ratu di kediaman Wiguna.
"Lian aku kangen dengan senyumanmu." ucap Amar dalam hati..
Berlahan tapi pasti rasa cinta pun telah tumbuh di hati Amar namun Amar tak berani mengungkapkannya..
Amar beranjak dari tempat tidurnya kemudian langsung turun menyusuri anak tangga dan menuju dapur..
"Pagi Bunda... " sapa Amar sembari berpura pura mengambil air minum..
"Pagi Amar, udah bangun mana istri barumu kok jam segini belum bangun?" ucap Bunda Hesti dengan ketus..
"Masih tidur,, Lian tolong bikinin Mas kopi." ucap Amar dengan tersenyum..
__ADS_1
Lian hanya mengangguk dan tak menjawab..
Tak selang berapa lama kopi yang di minta Amar pun telah tersedia, Berlian meletakan kopi itu di meja makan tepat di depan Amar.
"Ini kopinya.." ucap Berlian tanpa memandang Amar.
Amar menatap ke arah Berlian, ada yang berubah dari sikapnya.. "Kenapa kamu berubah Lian, apa segitu bencikah kamu sehingga menatapku pun kamu enggan.."ucap Amar dalam hatinya..
Ternyata begini perasaan Berlian selama ini, begini rasanya antara ada dan tiada,sakit tapi tak berdarah..
Amar hanya mampu menerima konsekuensinya.
"Kamu masak apa, Mas udah lapar." ucap Amar sengaja ingin membuat Berlian selalu ada di sampingnya.
"Masak nasi goreng, sebentar Lian ambil dulu." ucap Berlian pelan..
Berlian pun pergi menuju dapur untuk mengambilkan nasi goreng untuk sang suami, hatinya berkecamuk tak menentu, tak berselang beberapa lama Berlian dayang dengan membawa sepiring nasi goreng di tangannya.
"Ini Mas, makanlah." ucap Berlian pelan..
"Kamu enggak makan, sini duduk dulu." ucap Amar pelan.
Berlian bingung dengan sikap Amar, dia melukai hati Berlian namun seolah dia tak merasa bersalah malah justru membuat Berlian masuk kedalam posisi bertahan sakit namun melepaskan pun sulit..
"Aku masih ada kerjaan di dapur, Mas makanlah." ucap Berlian sembari pergi kembali ke dapur untuk menghindari Amar..
__ADS_1