
Amar tak bisa konsentrasi dalam rapat yang sedang dia pimpin, ingatannya terus tertuju kepada Fani gadis yang baru saja dia temui..
"Maaf Pak Amar, ada apa dengan anda?" tanya Jaka Asisten pribadi Amar..
Amar kaget mendengar ucapan Jaka, dan kemudian..
"Maaf saya lagi gak konsentrasi bisakah kita tunda rapat kita kali ini?" ucap Amar seenak jidatnya..
Semua orang memandang ke arah Amar, mereka tidak menyangka seorang pewaris Perusahan terbesar di Indonesia bisa punya pemikiran yang dangkal..
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?" ucap Amar dengan sedikit kesal..
Jaka kemudian mendekat ke arah Amar dan membisikan sesuatu..
"Tuan,mereka merasa anda tidak bisa berkomitmen dalam bisnis, ini adalah tander miliaran rupiah." ucap Jaka setengah berbisik...
Amar lupa bahwa dia sedang rapat dengan seorang pengusaha yang cukup terkenal di negaranya dan dia pun mulai merasa canggung.
"Maaf, tadi saya lagi banyak fikiran. Mari kita lanjutkan rapat ini." ucap Amar dengan tersenyum..
Semua orang tersenyum dan pada akhirnya rapat kali ini berjalan sebagaimana mestinya ..
☪️☪️☪️☪️
Di lain tempat...
__ADS_1
Berlian masih berada di butik, Bunda Hesti memandang ke arah sang menantu dan dia merasa sangat beruntung bisa menjadi Ibu untuk Berlian..
"Lian, udah sore sayang mari kita pulang?" ucap Bunda Hesti dengan tersenyum.
"Iya Bunda.." ucap Berlian tanpa bertanya..
Tak selang beberapa lama keduanya terlihat meninggalkan butik dengan beriringan.. Semua orang menatap kagum kepada keduanya namun tak seperti Linda.. Linda merasa iri terhadap Berlian..
"Beruntung banget si nasib kamu Lian, bisa menjadi menantu orang tajir kayak Nyonya Hesti." ucap Linda dalam hatinya...
Tiga puluh menit kemudian Berlian dan Bunda Hesti sampai di rumah dengan selamat..
"Lian sayang, kamu langsung istirahat ya, jangan cape cape." ucap Bunda Hesti dengan tersenyum.
"Iya Bunda.. Bunda juga istirahat ya.." ucap Berlian dengan sopan.
Berlian langsung bergegas menuju kamarnya kemudian membersihkan diri sebelum sang suami pulang.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Berlian segera bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam..
Sesampainya di dapur, Berlian langsung mengambil beberapa bahan makanan, lalu tak lama setelah itu Bisa Ijah datang menghampirinya.
Apa yang sedang Non Muda lakukan?" ucap Bi Ijah mengagetkan kegiatan Nonanya.
"Bibi ngagetin aja..." ucap Berlian pelan..
__ADS_1
"Maaf Non, apa yang sedang Non lakukan?Biar nanti Bibi aja yang masak, Non Istirahat saja, nanti saya yang kena malah sama Nyonya besar Non." ucap Bi Ijah dengan wajah tertunduk..
Berlian hanya tersenyum dan tak menjawab ucapan Bik Ijah, Berlian lalu menyelesaikan tugasnya.
"Non, kenapa Non gak mau dengerin Bibik?" ucap Bi Ijah dengan tertunduk sedih...
"Bi,, Aku hanya ingin melakukan apa yang aku bisa. Dan tolong stop panggil aku dengan sebutan Non, geli rasanya aku mendengarnya? Panggil aja Lian, oke Bisa." ucap Berlian dengan tersenyum..
Bi Ijah tertunduk..
"Mana mungkin saya berani memanggil nama Non, biar bagaimanapun sekarang Non kan istri dari Mas Amar." ucap Bi Ijah pelan..
"Ya sudah panggilnya MBK aja jangan Non." ucap Berlian menawar..
Kini Bisa Ijah dan Berlian sedang menyiapkan makan malam buat semua orang. Karena asik bercerita tak menyadari jika Bunda Hesti telah berada di dapur..
Bunda Hesti tersenyum melihat keluguan Berlian..
"Lian Bunda kan tadi bilang kamu istirahat.. Ngapain kamu malah menyiapkan makanan." ucap Bunda Hesti yang membuat Berlian dan Bisa Ijah menoleh secara bersamaan..
"Bunda..." ucap Berlian gugup..
"Nyonya, tadi Bibi sudah menyuruh Non, eh MBK Lian untuk istirahat tapi dia menolak." ucap Bi Ijah pelan..
Berlian mendekat ke arah sang Bunda..
__ADS_1
"Bunda... Lian gak cape kok, Lian suka bisa melakukan semua ini. Lian minta Bunda jangan marahin Bibi iya." ucap Berlian dengan sopan.
"Baiklah baiklah.. Mana makanannya aku udah lapar.." ucap Bunda Hesti sembari tertawa...